September 12, 2012

Rintih Tanah Kepada Awan

Lucunya lihat tanah sedang berharap-harap cemas, akankah hujan akan menyapanya sore ini. Awan gelap sudah muncul, melebarkan permadaninya di atas hamparan tanah yang kekeringan, menantikan basuhan. Suasana sudah mendukung, gelap dan angin-angin mulai menyambut riang. Bisa di bilang kerinduan itu sudah di ujung lelahnya. Sudah berbulan-bulan tanah di telantarkan tanpa sekalipun di tengok. Dan mari kita lihat sebentar lagi, senyuman tanah itu akan mengembang sempurna atau ia kembali akan menggigit-gigit bibirnya sendiri. Mengingat kemarin   langit lagi-lagi hanya memberi harapan kosong yang terpaksa ia telan pahit. Mari sama-sama kita lihat, sambil menanti senja berjingga di ujung temaramnya.

Pernah aku lihat, suatu ketika tanah menengadahkan pandangannya ke langit, terlihat mentari sedang terik-teriknya merajai bumi. Dengan payung-payung awan berarak di bawahnya. Tak sabar tanah mengutarakan keluh hatinya kepada awan. "Hai awan putih, sampai kapan kamu akan berarak di atas ku? apa kamu tidak lihat di sini aku sudah kering, lusuh berdebu bahkan retak dan sekarat. Lihat pohon-pohon kecil itu ikut pula mengering karena akarnya kekurangan serapan air. Boleh aku tahu temanmu awan gelap sedang berpatroli ke mana? kenapa ia tak kunjung datang menaungi singgasana ku di sini? membawa oleh-oleh air sejuk dari langit, lalu menaburnya menjadi rintik-rintik hujan yang lama aku rindukan. Sungguh aku membutuhkan basuhannya. Sampai kan salam pada raja mentarimu, sudikah ia mau sedikit berbagi teduhnya di sini."

"Tanah... tanah... bagaimana aku beranjak dari sini, aku saja masih mencari serapan air dari bumi. Lihat, semenjak pohon-pohon besar tak lagi tumbuh di singgahsana suburmu itu, aku tidak lagi leluasa menyerap air-air bumi untuk aku jadikan bahan-bahan pembentuk gerimis. Aku pun sedang berpikir keras, kenapa semakin hari semakin susah saja aku menguapkan air dari dasar bumi, sungai-sungai kecil dan genangan air lainnya. Dan awan gelap yang kamu tanyakan, mungkin ia sedang menyapa langit sebelahmu. Tunggu saja pada waktunya ia akan mampir ke tempatmu. Sang mentari sudah adil, ia sangat tunduk kepada aturan Tuhannya, tidak lelah bertasbih mengadu, membawa persoalan bumi yang tak sehijau dulu. Terus berdoa saja! Allaahumma agits-naa, Allaahumma agits-naa, Allaahumma agits-naa."

Dan kembalilah tanah tertunduk lesu, tidak berputus asa atas Rahmat-Nya. Dan bersabar sebentar lagi Allah menurunkan karunia-Nya, menggembirakan hati dengan menurunkan hujan sesuai kebutuhan. Tanah sangat yakin itu.

***

Sebenarnya takdir langit dan bumi itu berputar, langit untuk bumi, bumi untuk langit, saling menopang. Seperti halnya proses hujan. Dan mungkin saja manusia lah dengan keteledorannya secara tidak langsung memutuskan satu mata rantai perputaran itu. 

22 komentar:

  1. lagi lagi gara gara penebangan hutan nie.
    wah wah, emang perlu di tindak lanjutin :D

    BalasHapus
  2. tanah yang sabar saja tidak berkenan mendapat amanat untuk menjadi khalifah di jagad raya.

    prosa liris nih.. saya ijin copy ya, untuk file rujukan saya

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Ya Allah turunkan hujan, turunkan hujan, turunkan hujan..

      Hapus
  4. semoga hujan segeran turun :)
    sumur dirumah Nay udeh keciiiilll banget aernye #hikss #curhattt :p

    BalasHapus
  5. mudah mudahan cepat turun hujannya.....

    BalasHapus
  6. kesabaran dalam menunggu hujan ....
    mudah2xan cepet turun hujan biar tidak menambah lama kekeringan, kasihan.

    BalasHapus
  7. ya aLLAH CARA MENGURAIKANNY asik deh, salam kenal yah. betapa tak merindunya tanah pada hujan. AKu juga rindu sekaleee.. rindu tanamanku tak kekeringan.

    betapa indahnya hujan turun di bulan september ini masya Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama-sama...
      Mari kita nanti ;)

      Hapus
  8. bang, itu yang di paragraf kedua, singgah sana atau singgasana atau apa?
    btw, tumben sekarang mulai membalas komentar-komentar lagi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ups oke maksih udah di perbaiki...

      xoxo..

      Hapus
  9. Ehem, ehem, ehem,... Awan Putih hadiiiir...! Eh, aku disinggung nih? Waaaah... Maaf, ini bulan apa ya? Harusnya memang sudah musim hujan yah? Ah... Jawabanku sama dgn di atas :) Masih berusaha mencari air dari mana saja utk diuapkan... Dan temanku si Awan Hitam mungkin masih marah dgn manusia yg suka memutus rantai perputaran itu :) Jadi, bersabarlah lebih lama lagi, heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooow Awan Putih, sepertinya sedang bergembira sekali di sana ;) Alhamdulillah Awan putih mmasih berarak riang dan cerah ;)

      Hapus
  10. ayo ayo ayooo...ujan buruan turun...... :D
    kasian orang orang yang harus kesusahan karna tenpatnya kekeringan, kasian bumi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan biar ika bisa mandi ya Allah ;D

      Hapus
  11. ane bingung lagi nie... absen aja degh :D

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)