Mei 13, 2013

terlambat

Banyak yang sedang menghela napas, perlahan-lahan, berharap agar sedikit melega.

Banyak yang sedang menatap kosong ke depan. Dalam lamunan panjang. Mencari celah agar pikiran lebih merdeka dari rumit yang silang sengketa.

Banyak yang sedang menelan ludah pahit-pahit. Mata panas membulat. Tenggorokan tercekat. Berharap apa yang ia dengar atau ia lihat hanya fatamorgana yang di visualkan sang waktu. Tidak nyata.


Semua itu tentang akibat yang telah diperbuat oleh sebab. Tentang siklus ganjaran atas perbuatan sebuah laku. Tentang balasan-balasan yang selalu patuh tunduk kepada keadilan. Tentang masa lalu yang katanya harus dibayar di masa sekarang, sedikit banyak berpengaruh di era masa depan.

Tapi hei apalah guna helaan napas, tatapan kosong, menelan ludah bulat-bulat. Kenyataan sudah kadung bertamu, kecewa sudah kepalang mencuat. Jengkel sudah terlanjur mangkel di hati. Sesal? sudah tak membantu banyak memikirkan solusi.

Bukankah resep yang termanjur adalah sabar yang memulihkan penerimaan yang baik. Ikhlas yang meluruskan otot-otot kekecewaan. Yang pada akhirnya menyampaikan pelajaran paling berharga dari sebuah kenyataan, terlambat memang tidak pernah bersahabat.

6 komentar:

  1. cocok banget utk renungan nih mas....menyadarkan saya pentingnya usaha dalam kehidupanku agar tak sesal kemudian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk saya juga mbak indah :)

      Hapus
  2. udah baca di fesbuuuuk, udah di renungin juga :')

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)