Oktober 26, 2013

Pertanyaanmu tentang cinta yang utuh

Bukankah kau ingin merasakan cinta yang utuh, Nona? kemari sebentar duduk di sampingku. Aku akan tunjukkan sebuah kisah cinta dengan lebih nyata. Tunggu sebentar, barangkali satu menit lagi. 

Atau beberapa menit lagi. Atau….

Ini sesuatu yang spesial. Aku rasa tidak mengapa kita lebih bersabar menunggu, demi mendapatkan potongan utuhnya. 

Nah, kisahnya akan segera berlangsung. Jangan berkedip, Nona. Sebentar saja jangan pernah kau palingkan pandanganmu dari depan. Posisi kita sudah amat jelas. Jangan sia-siakan kesempatan ini. 
Lihat, tokoh pertama sudah keluar dari rumahnya. Seperti biasa ia akan duduk di bangku rotan sebelah kanan. Bangku yang paling dekat dengan daun pintu. Mulai mengeluarkan kaca mata baca dari tempatnya. Sebentar lagi juga akan membuka mushaf terjemahan Al-qur’an. Tentu setelah ia merasa kaca matanya sudah bersih dari debu setelah di lap. 

Tolong tetap jaga pandanganmu, Nona. Meski aku yakin kau tidak mengerti banyak akan maksudku. Kenapa disuruh menikmati senja dengan menonton -tepatnya mengintai seseorang yang duduk di depan rumahnya. Aku pastikan di ujung cerita kau akan mendapatkan jawaban utuh atas pertanyaanmu tentang cinta yang utuh. 

Jangan berkedip dulu, Nona. Sebentar lagi. Paling…. Nah, inilah tokoh kita yang kedua. Seperti biasa datang membawakan secangkir teh yang masih mengepul asapnya. Si lelaki menyambut hangat secangkir teh itu. setelah itu duduk di bangku sebelah kiri. Aku bisa menebak tidak lama lagi ia akan mengambil sulaman di kolong meja. Nah, apa aku bilang.

Kalau kau lebih teliti memperhatikan mereka. Kau pasti tersenyum ketika tahu tokoh kita yang perempuan akan terus memandangi wajah lelakinya  yang sedang menguyup teh buatannya itu. Sampai lelakinya mengangguk penuh penghargaan. Dan kau pasti dapati si perempuan itu akan tersenyum teramat berseri sekali. Karena ia lega takaran gulanya pas, dan lelakinya suka. Tentu saja si perempuan sudah hafal mati takaran rasa manis, selera lekakinya. Dan tentu juga si lelaki akan selalu mengangguk penuh penghargaan setelah mencicipinya. Buatan perempuannya selalu pas. Tapi entah apa alasannya mereka selalu mengulang rutinitas itu. Tanpa kata-kata. 

Yang kau lihat belum seberapa, Nona. Jangan terlanjur senyum dulu. Sekali lagi jangan berkedip dan pandang mereka dengan lebih jeli. Kalau saja kita bisa mendengar, boleh jadi deru napas keduanya pun begitu romantis mengisi waktu kebersamaan. 

Nah, tibalah waktunya si lelaki tokoh pertama ini mulai membacakan salah satu surat dalam Al-qur’an sekaligus terjemahannya. Ayat demi ayat dengan syahdu. Si tokoh perempuannya mendengarkan dengan penuh cinta sembari meneruskan sulaman. Itulah yang mereka lakukan setiap senja hingga azan maghrib tiba. 

Ketika kau ingin tahu perihal cinta yang utuh, itulah kisahnya. Baru saja kita saksikan dari jarak tidak terlalu jauh dari depan rumah mereka. Dan sudah kau rasakan sendiri bukan? bagaimana cinta mereka saling mengutuhkan hingga menua. Dengan tetap stabil menjaga kebiasaan-kebiasaan yang pernah mendekatkan keduanya. Biarpun sudah tahu, sudah hafal mati kebiasaan atau kesukaan masing-masing sekalipun. Mereka tetap menjaga keutuhannya. 

Ya, tebakanmu sama dengan dugaanku waktu itu. Usia mereka sudah mencapai seratus tahun. Meskipun beberapa waktu lalu ketika aku bertamu kerumah mereka mengaku tidak ingat lagi tanggal lahir masing-masing, lupa sudah berapa tahun menikah. 

Dan kau tahu alasanku menyebut cinta mereka tetap utuh? terlepas dari  rutinitas yang sudah kau lihat tadi. Bukankah kau lihat mereka hanya berdua saja? tidak ada cucu-cucu yang berlarian ke sana kemari.  Ya, karena mereka tidak dikaruniai seorang anak. Mereka selama ini hanya hidup berdua dengan keutuhannya. 

Dan kau tahu Nona, sungguh kelak aku pun ingin memiliki kisah utuh ini dalam versiku sendiri. Bersama gadis yang aku cintai.



4 komentar:

  1. Hei, nona. tersenyumlah lalu tunggulah dengan manis. Barangkali sang penulis ingin menjadikanmu teman hidup untuk menjalani kisah utuhnya bersamamu..
    haeuuh.. ini..
    beberapa postingan seperti serpihan mozaik tentang indahnya menjadi utuh. jadi kapan ini di'nyata'kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik, hari ini resmi saya nyata-kan bahwa kamu si pembaca bermata jeli. Lho? :D

      Hapus
  2. aih, suwit sekali :))
    jadi inget, pernah baca dimanaaa gitu lupa, katanya Rasul juga dulu suka bobo-bobo manja dipangkuan Aisyah sambil baca-baca ayat suci. uuuh~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, Rasulullah memang romantis :)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)