Februari 21, 2013

Berteman Elegy Sunyi



Elegy sunyi sedang mengibarkan bendera setengah tiang. Ada kabar besar yang dibawa angin hari ini. Seorang gadis kumal baru saja dipaksa menelan pahitnya kenyataan. Hatinya mencelos seakan lepas dari tempatnya, terkejut tak tertanggung sampai surut beberapa langkah kebelakang dari tempatnya berdiri. Berdebam, terjerembab begitu saja di tanah basah bekas hujan pagi tadi. Mungkin kekuatannya sudah benar-benar memuai tak tersisa. Tubuhnya lusuh, wajahnya tidak ada sinar-sinar semangat untuk melewati hari. Bahkan untuk memandang ke depan. 

Aku yang tidak sengaja lewat, melihatnya iba. Teriris. Meskipun aku tidak tahu permasalahan apa yang sedang menimpanya. Ingin rasanya memberikan sandaran bahu untuknya berteduh sejenak. Tapi, aku rasa kesendirian dalam sepi adalah teman yang lebih bisa merangkulnya saat ini. Seperti masa-masa keterpurukanku dulu ketika pernah berada di posisi yang sama. Sendirian dan tidak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi. Tepatnya ingin pura-pura tidak tahu.

Aku tidak mendekat, tidak pula meninggalkannya. Kakiku terpaku seakan melihat potongan kisah masa lalu, masa-masa tersulit bagiku. Sepertinya aku harus cepat tahu apa yang membuat ia berduka lara. Aku takut, takut ia benar-benar mengalami hal yang sama. Ah bagaimana dulu aku begitu membenci perpisahan, aku benci rasa sakit yang dibawanya. Begitulah hukum alam, semakin membenci justru semakin dekat dan akrab. Semenjak itulah aku mulai berdamai dengan keadaan. Agar waktu mau berkonspirasi denganku melupakan kesedihan. Aku berhasil, dikit demi sedikit rasa sakit itu terkikis begitu saja dan berganti dengan hangatnya penerimaan. Aku harap ia pun bisa begitu. 

Ada yang bertemankan elegy sunyi.

Lihatlah bagaimana waktu begitu tidak peka melihat kesedihan, ia terus saja berlalu membiarkan gadis kumal itu tergugu dalam bisu. Satu jam berlalu, ia tidak bergeming sama sekali. Aku takut elegy sunyi benar-benar akan membawanya pergi ke dalam jurang keputusasaan.

Tanpa banyak pertimbangan aku mendekatinya. Sisa-sisa isak masih terdengar pelan, berselaan dengan deru-deru napas sebal, emosi yang tertahan. Gadis kumal itu mendongakkan kepalanya sejenak. Ia menatapku tidak peduli. Kemudian kembali membenamkan wajahnya, memeluk lutut. Aku menelan ludah, sepertinya urusan ini tidaklah sederhana. 

Aku duduk menyamping di sebelah kiri, ikut memeluk lutut. Kini aku seakan benar-benar merasakan kesedihannya. Atau mungkin kenangan masa lalu itu benar-benar kembali? Aku menghela napas. Mencoba membuka percakapan. Lirih semoga terdengar.

“Kau tahu sekelebatan sunyi akan tampak murung dalam kidung sepi. Apalagi jika si mata sendu ikut bersedih dalam duka. Aduhai, dunia yang begitu luas seakan tersudut oleh sesak isak. Dan kau tahu apa yang bisa membuat sunyi itu terbangun dari lautan kelamnya? Binar mata pengharapan, akan selalu ada kasih sayang Tuhan yang merangkul kita. Cukup kita percaya itu saja.” 

Tidak ada tanggapan, keadaan masih senyap. Tapi kulihat posisi duduknya mulai tidak tenang. Ada sedikit getaran di sana. Kembali aku menatap lurus ke depan.

“Untuk apa keluhan melenguh panjang, menyendat napas-napas lega yang seharusnya kau syukuri. Terpejamlah sejenak, atur perputaran napasmu. Dan percayalah tidak lebih lama dari waktu membuka mata, sekat-sekat yang menggerogoti semangatmu akan terlepas satu persatu. Luluh dengan rasa syukurmu yang baru.” 

Ku dengar lenguhan napas lebih panjang. Aku tahu persis bagaimana tidak nyamannya ada orang lain yang ikut campur di waktu seperti ini. Seperti waktu itu, tiba-tiba ada yang datang menasehatiku, tapi aku acuh seperti dirinya. Hmm, setidaknya aku sudah mencoba menghiburnya. Baiklah aku akan kembali membiarkannya sendiri.

Tapi ternyata tidak selang lama aku melangkah, hanya selemparan batu ia berbicara lirih satu kata. Telingaku masih bisa mendengarnya.

“Te… terima kasih.”

Aku menoleh dan tersenyum hangat ke arahnya. Setidaknya ia lebih baik dariku dulu. Mungkin ia lebih cepat sadar, satu hal yang terlambat ku sadari waktu itu. Ketika kesedihan berkolaborasi dengan ketidakpedulian, itu jauh lebih menyesakkan. Ah, semoga sisa harinya lebih cerah, seperti halnya sisa hariku yang masih harus diperjuangkan. 

Semoga kita ketemu di kemudian hari dengan keadaan dan suasana yang lebih baik. Semoga.  

 

32 komentar:

  1. akhirnya dia berkata.
    satu hal yang melegakan pembaca.
    saya berdoa semoga kalian bisa berjumpa kembali dalam keadaan yang lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin meskipun ini fiksi dan entah siapa yang nanti bakalan ketemu, haha..

      Hapus
    2. yaa begitulah Om Roni, semua yang fiksi dan nonfiksi pasti didoain
      XD

      Hapus
    3. haha lucu denger ocha manggil bang Zach om Roni.. :D

      Hapus
  2. weseeeh, ganti lagi tampilannya. bagus baaang, go grin ;D

    eh, jadi ini tru stori ya bang? kasiaaan :(

    btw, gadis kumal? itu ketemunya bukan dijogja kan ya bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fiksi ika,

      cieeee yang ke sungging denger denger kata kumal #eh...

      Hapus
    2. abisan ada doa semoga kapan2 ketemu lagi gitu, kirain beneran

      biar kumel juga ika mah wangi bang :p

      Hapus
    3. haha itu buat pemanis di penutupnya aja :D

      percaya percaya... kalau sekalinya mandi ngabisin diterjen mah :P

      Hapus
  3. sabar ... nanti pasti akan bahagia .. bendera itu harus sampai atas jangan setengah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, pasti setelah dikerek lagi ke atas 17an nanti :D

      Hapus
  4. seperti biasa bang, saya speechless kalo di kisah2 kayak begini..

    *uyel2 ujung jilbab*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah mbak din saya jadi ikutan speechless :D

      *nggak pake jilbab*

      Hapus
  5. hmm...keunggulan cerpen ini adalah kuat di emosi tokohnya sehingga terasa "GLEB" nancap dihati,hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitukah sampe GLEB?? haha bikin jleb nih komen.

      Hapus
  6. selalu 2 jempol utk fiksi2 disini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku tambah 5. yang satu pinjam bang uzay ya?
      XD

      Hapus
    2. Nah lho jadi banyak jempol begini, bisa ditukerin yang lain ga ya?

      Hapus
  7. *ehem* cuma bisa batuk baca tulisan ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehem' nya yang mana ya? semoga yang nggak keberatan :)

      Hapus
  8. saiia selalu seperti ini ketika 'renungan closet' terjadi :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. WOW! begitu menghayati ternyata haha

      Hapus
  9. iya betul uzay. sesulit2nya hidup, harus ttp bisa bersyukur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu satu point yang ingin disampaikan. :)

      Hapus
  10. bagus bangett bang...
    sendiri sepi dan sunyi seakan bersahabat baik dan tak terpisahkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada laini :)
      jangan bersahabat dengan mereka ya hehe...

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)