Februari 13, 2013

Ketika Azalia Jatuh Cinta

Malam sempurna menjadi selimut bumi. Dengan lampion-lampion unik yang menggantung di langit-langitnya, banyak yang memanggil mereka dengan sebutan rasi bintang yang berjumlah ribuan. Sepotong bulan sabit ikut menampakkan diri, tidak mau ketinggalan peran dalam pesta malam ini. Cantik sekali bukan? sempurna sudah langit memesona untuk dipandang. Rasanya sayang sekali jika semua itu kita lewatkan.

Alam mulai mendendangkan simponinya, dalam tarian angin yang menelisik lembut. Menebarkan semerbak harum kelopak-kelopak bunga yang mekar pada malam hari. Di tambah dengan kicauan jangkrik dan katak-katak sawah yang riang bersahut-sahutan. Merdu sekali bukan? Apalagi kesunyian malam sangat mendukung. Tidak ada penghalang (suara bising) yang menghalau jernihnya musical alam. Terdengar sempurna. Seharusnya tidak ada daun telinga yang berpura-pura tidak menikmatinya.

Tapi sayangnya semua itu tidak berlaku untuk hati yang tengah resah. Ya, siapa yang bisa menebak maunya hati. Tidak jarang keindahan dan suara merdu sekalipun hanya menjadi ceremonial saja, hati tidak menikmatinya. Atau dikasus yang lain, meski lingkungan tengah ramai dan menyenangkan, tapi untuk hati yang sedang sepi, semua itu tidak banyak artinya. Begitu juga ketika hati tengah sibuk memikirkan sesuatu di tempat yang benar-benar sepi, dalam hati tetap ramai. Aduhai, egosinya seonggok hati.

Aku rasa kondisi yang saling berpunggungan ini (antara suasana alam dan hati) cocok sekali menggambarkan keadaan hati Azalia malam ini. Umm... atau mungkin tepatnya Azalia tengah bingung, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya dirasakan oleh hatinya. Hati memang sering kali tidak terdefinisi dan membingungkan. Apalagi untuk ukuran gadis remaja yang belum genap tujuh belas tahun ini. Polos dan masih serba pertama kali.

Rasanya aku ingin tersenyum menuliskan kisahnya. Sebenarnya yang gadis ini alami sederhana saja. Bagaimana tidak, apa yang sedang dialami oleh Azalia mungkin sebenarnya kita semua pernah mengalaminya (dulu). Jatuh cinta, ya Azalia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan ia sedang kebingungan mendefinisikan cinta itu sendiri apa. Sedang resah dengan getaran lembut yang pertama kali menggodanya. Senang, bingung, malu, segala macam warna. 

Azalia terebah di atas gazibu depan rumahnya. Sesekali memejamkan mata sejenak menikmati sensasi-sensasi rasa yang ada, seiring dengan semilir angin lembut yang menyapa kulit pipinya.

"Ayo lagi ngelamunin apa gadis ayah di sini?"

"Eh, ng... nggak Yah." Azalia salah tingkah, reflek tangannya menyembunyikan secarik kertas ke dalam sakunya. Kertas bertuliskan  kata-kata manis dari seseorang yang membuat hatinya dag dig dug malam ini. Sapaan ayah sebenarnya lembut, tapi berhasil membuat Azalia terkejut.

Ayah tersenyum melihat wajah memerah putrinya yang sudah mulai beranjak remaja. Sebenarnya tanpa harus bertanya, ayah sudah tahu apa yang sedang membuat gelisah anak gadisnya. Ia selalu memperhatikan perubahan sekecil apapun yang dialami anak semata wayangnya. Apalagi semenjak istrinya tiada lebih dulu. Ditambah Azalia memang terbiasa bercerita tentang apa saja.

Sambil mengusap lembut rambut putrinya, ayah berkata,

"Azalia, cinta itu sebuah anugerah. Ketika kita mulai kenal yang namanya jatuh cinta, kita harus melibatkan dua amunisi rasa : hati dan logika. Hati untuk mempertegas bahwa kamu pilihan yang tepat dan kamu memiliki rasa yang sama dengannya. Logika untuk menyadarkan hati, kalau kamu bukan satu-satunya yang berharga, yang selamanya dipertahankan. Karena kita tahu cepat atau lambat kehilangan itu nyata. Ada takdir Tuhan yang selalu berbicara. Untuk itu selain hati, manusia juga butuh pendapat logika. Agar suatu saat nanti manusia tidak terkurung selamanya dalam labirin panjang kehilangan. Dan logika itu yang menuntun, bahwa yang lebih berharga adalah penerimaan untuk melepaskan."

"Azalia, perasaan cinta sebelum terikat pernikahan itu sifatnya seperti burung, bebas beterbangan ke mana-mana mencari pasangan. Terus mencari, tapi belum pasti juga memiliki. Sah-sah saja kamu mulai mengenal cinta, karena itu fitrah. Tapi untuk jatuh karena cinta belum saatnya. Perjalananmu untuk belajar masih panjang.  Cukup kamu melihat cinta sebagaimana cinta ayah dengan ibumu hingga saat ini. Cinta yang menghasilkan cinta, kamu."

Azalia memeluk erat ayahnya. Ada bulir-bulir kristal yang tertahan dari matanya. Kristal kerinduan. Ayah mengusap lembut rambut putrinya, hatinya berbicara "Lihat anak gadismu semakin tumbuh besar. Ia sudah mulai mengenal cinta. Semoga aku selalu mampu membimbingnya."


43 komentar:

  1. sosok seorang ayah yang sangat perhatian dengan anaknya, pendidikan cinta memang sangat penting bagi seorang anak, dan standart cinta yang seharusnya di lihat anak adalah ketika orang tuanya saling mencintai. Tapi itu semua bisa di peroleh dari sususan rumah tangga yang sempurna, menurutku....

    *mbak memang ada ya bunga yang mekar di malam hari :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada loh bang, waktu itu pernah saya buatkan cerpen juga.
      coba search di gugel bunga-bunga yang hanya akan mekar malam hari di bawah sinar rembulan.

      Yang nggak ada tuh mbak di sini, karena saya laki-laki :D

      Hapus
    2. wkwkwk... Uzay dipanggil mbak...
      dulu juga ada yg pernah manggil enha dg sapaan 'mas' kog.
      ^0^

      Hapus
    3. Haha salah sebut aja kayaknya Enha :D
      *TOS kalau gitu..

      Hapus
  2. Cinta yang menghasilkan cinta

    So sweet :)

    BalasHapus
  3. jatuh cinta adalah momen yang istimewa. Cinta akan selalu menjadi topik hangat yang tidak akan pernah habis dibahasnya dimanapun di dunia ini. Cinta itu universal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujulah kang, saya masih kalah telak kalau urusan cinta sama yang sudah berkeluarga. Kalau kata salah satu teman saya di sini, kalau sudah berkeluarga bukan lagi cinta namanya, tapi lebih dari cinta. Begitu katanya :D

      Hapus
    2. Cinta dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan.

      #nitip komen itu saja ya...hehehe

      Hapus
    3. Asyiiik ditambahin saya kA Ririe Mantaaaaap :)

      Hapus
  4. Pertama kali jatuh cinta sangat luar biasa. Cinta bisa menyenangkan dan juga menyakitkan. Emang seru kalau membahas cinta.

    BalasHapus
  5. bukankah orang yg katanya sedang jatuh cinta, bisa mengidap sebuah penyakit yg bernama 'kelumpuhan logika'??

    btw, tanpa awalan yg bagus, inti dari cerita tak akan mengena. Bukan begitu sobat?
    Jadi, tulisanmu bagiku sudah sempurna... Hanya ada satu biji typo saja kayaknya.
    hehehe.. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa sampai lumpuh juga ya? serem ya...

      Ah berlebihan ah :D
      Typo ya? *langsung nyari...

      Hapus
  6. jatuh merupakan perpindahan posisi dari atas ke bawah dengan tidak disengaja, cinta adalah 5 kata tanpa definisi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wowww :D bagus banget kata-katanya.

      Hapus
    2. *ikutan ngasih jempol buat Cak Win :D

      Hapus
  7. saya ingin seperti ayah di cerita di atas. dia bisa ngerti gejolak yang melanda anak gadisnya. dan si anak pun merasa bapaknya bisa mengayominya. ahh.. mantap. saya klaim ini cerita tentang saya, haha.. aamiin.

    BalasHapus
  8. saya ingin seperti ayah di cerita di atas. dia bisa ngerti gejolak yang melanda anak gadisnya. dan si anak pun merasa bapaknya bisa mengayominya. ahh.. mantap. saya klaim ini cerita tentang saya, haha.. aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ini kan karangan bebas saya bang, kalau dikenyataan sepertinya bapak yang satu ini akan jauh lebih jago dan bijak :) saya yakin itu!

      Hapus
  9. EMMM BAGUUUS JUGA BANG UZAY :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blogmu nggak bisa dikunjungi balik linknya...

      Hapus
    2. maksudnya balik linknya gmana bang ???

      Hapus
    3. profilmu kalau di klik cuma ada google+ tanpa link blogmu. JAdi nggak bisa kunjungan balik.

      Hapus
    4. ooow gitu ta bang.. iya ini akun g+ cz gag tau caranya mengembalikan spperti dulu ke url blog.. maklum gaptek. mohon petunjuk bang caranya gimana.. :(

      Hapus
    5. Baru sempat balas.

      Waah kurang tau kalau ditanya cara, coba kamu share aja di google+ itu link blogmu. Biar kalau ada yang mau berkunjung bisa nemu link yang mengarah ke blog. Alamatnya apa toh?

      Hapus
  10. "Cinta yang menghasilkan cinta, kamu." Coba ayah saya kayak gini..
    Jatuh cinta ala remaja itu lucu! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lucu dan kita pernah lucu seperti itu.

      Hapus
  11. Masya Allah... cinta itu akan ketar-ketir di usia remaja ya. Firstly, barakallahu fiik buat domain .com zie, Ya Allah, aku nggak nyadar!! Secondly, aku masih sudah download dan masih punya beberapa hari lagi sebelum berangkat, karena jadwalnya diundur ^^ zie, mengepaklah :) yassarallahu umuurakum...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umm, begitu toh. Syukurlah kalau masih sempat. Dikira sudah telat.
      Alhamdulillah, terima kasih May.

      Hapus
  12. sejak dulu sampe kini... tulisan Uzay selalu baguuss,,,
    (y)

    BalasHapus
  13. Aku rada bodoh, kalau baca tulisan tentang cinta, entah kenapa, susah nalar'a soalnya
    Cinta yang tulus akan menghasilkan cinta berbalas yang tulus, mungkin itulah cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe okelah bang, dari tulu cinta emang begitu anaknya, rada susah dimengerti ya :D

      Hapus
  14. Saya tidak menyangka ini ditulis oleh laki-laki.... bahasanya puitis. Tipe kesukaan saya., perlu belajar banyak nih dari sobat. Kalau ada waktu kasih pendapat juga ya di coretan saya : http://al-ihtisyam.blogspot.com/2013/01/cahaya-ini-tentang-mu_16.html

    BalasHapus
  15. Bagus Zay..
    Nasehat ayahnya Azalia itu mengingatkan kita bahwa kadang kita pake hati doang, logikanya dikesampingkan .. :)

    BalasHapus
  16. tapi kadang namanya abegeh jatuh cinta mah suka lupa, logikanya nggak dipake bang :p hehehe

    BalasHapus
  17. wah, bingung mau ngoment apaan bagus banget si uzay kalo nulis :D

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)