Juni 29, 2026

CERBUNG PUKUL 5 SORE : NAMA

UDARA.

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata itu? Angkasa kah? ruang kosong di atas bumi? Hawa? Atau angin yang berembus perlahan-lahan?

Atau di pikiran kalian ada definisi lain tentang udara?

Hmm.... kalau definisi udara yang aku sebutkan tadi, baru-baru ini aku temukan di teks buku kuno setebal 1646 halaman peninggalan ibuku. Buku yang lembaran kertasnya sudah usang dan kuning termakan usia. Di cover buku kuno itu, tercetak jelas judulnya dengan menggunakan huruf kapital, KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. Disusun oleh Prof. Dr. J.S Badudu dan Prof. Sutan Mohammad Zain. Terbit tahun 1994. Itu artinya umur buku kuno itu sudah sekitar 51 tahun.

                Kalian tahu tidak kenapa tiba-tiba aku tanyakan tentang definisi udara? Sebab kata udara itu termasuk kata yang asing di telinga penduduk Kota Amashiri[1], yang mayoritas menggunakan bahasa Igbo dalam percakapan sehari-hari.

                Dan terdengar lebih aneh lagi, ketika kata UDARA itu digunakan sebagai nama panggilan seseorang. Malangnya seseorang itu adalah aku.

Ya... kalian perlu tahu, namaku adalah UDARA. Hanya satu kata, U-DA-RA. Dan sialnya, untuk orang yang hanya ditakdirkan memiliki nama satu kata, nama harus ditulis kapital di setiap tanda pengenal.

Hal itu membuat nama anehku menjadi tambah mencolok dan mudah diingat oleh orang, meskipun mereka tidak tahu apa arti dari UDARA. Yang tahu hanya beberapa orang saja. Itu juga setelah aku jelaskan dengan bahasa Igbo. Kataku UDARA itu Ikuku, alias angin yang berembus di sekitarmu.

Description: hhhhhh

Aku bekerja di sebuah Cafepet Coffee yang terapung di atas air. Kepunyaan seorang yang amat terkenal di Kota Amashiri ini, bernama DERAS. Delapan tahun lebih tua dariku. Memiliki nama yang sama anehnya denganku. Bedanya, jika aku merasa risih dengan namaku, dia teramat bangga dengan namanya itu.

DERAS adalah pemuda yang paling tangguh yang pernah aku kenal. Lahir di Pulau Alaasato[2] , kota kecil tempat dulu sebagian besar penduduk Amashiri tinggal. Kota yang sangat makmur dan berlimpah sumber daya alamnya. Hanya saja karena perubahan iklim, kerusakan unsur hara dan konflik politik di kalangan pejabat kota, Pulau Alaasato menjadi salah satu kota mati yang tinggal menjadi sejarah. Panjang ceritanya, besok-besok kalau sempat aku ceritakan kepada kalian.

Sebenarnya nama asli DERAS dari bahasa Igbo adalah Ka Mmiri Ngwa Ngwa. Dan peraturan di tanah kelahiranku ini, setiap nama harus diucapkan lengkap, ketika memanggil seseorang. Katanya, setiap nama adalah doa dan mengandung maknanya masing-masing. Jadi tidak boleh memanggil seseorang dengan nama depan atau belakangnya saja. Jika ketahuan, akan ditegur dan diberi surat peringatan oleh pak Wali Kota. Dengan dalih tindakan tidak sopan. Pelecehan nama baik. Atau yang lebih serius lagi kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.

Nah, DERAS a.k.a Ka Mmiri Ngwa Ngwa, agak risih karena nama pemberian orang tuanya itu panjang sekali.

“Bikin ribet.” Keluhnya padaku.

Pada suatu hari, Ka Mmiri Ngwa Ngwa merebut buku kuno KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA yang sedang aku pelajari. Memaksa benar keberuntungannya, agar nama panjangnya itu bisa dicari padanan kata seperti namaku. Sederhana dan mudah diingat.

“Ah susah sekali mencarinya, ya. Aku benar-benar tak mengerti dengan bahasanya.”

Ka Mmiri Ngwa Ngwa melempar buku tebal itu ke arahku yang sedang duduk di buritan. Untung aku sigap menangkapnya, kalau tidak buku itu sudah  meluncur bebas ke dalam air. Aku menghela napas lega. Sungguh, orang satu ini adalah salah satu dari penduduk Kota Amashiri yang aku segani. Karena sudah banyak membantu hidupku yang tinggal sebatang kara. Meskipun sering kali membuat aku jengkel karena suka tiba-tiba seenaknya.

Hmm.... Kalau sampai hilang buku berharga itu, aku tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Mau protes marah-marah juga.... ya entahlah. 

“Kalau kau sedang tidak ada kegiatan, kau bantu akulah mencari nama yang bagus untukku.” Kata Ka Mmiri Ngwa Ngwa sambil menyiapkan peralatan untuk menyelam.

“Memang kenapa sih harus ganti nama segala?” tanyaku dengan malas.

“Bukan mengganti, tapi menyederhanakan. Kau tahu sendiri nama pemberian orang tuaku itu panjang macam rel kereta.” Katanya lagi sambil tertawa. “Sudahlah, kau lakukan saja apa yang aku pinta tadi. Aku pergi dulu. Kau yakin kan sore ini tidak akan hujan?”

Aku mengangguk, untuk tidak akan hujannya.

“Aku harap nanti malam sudah ada satu nama yang sesuai denganku yang keren ini, ya.” Ia menepuk pundakku. Sudah siap menyelam.

 Hmm... mau bagaimana lagi, seperti yang sudah-sudah, itu bukan pilihan yang bisa ditawar-tawar. Kalau aku tidak berhasil, siap-siap saja telinga gatal karena setiap saat akan ditanya dengan pertanyaan yang serupa. Sampai permintaannya itu terpenuhi. Titahnya adalah hutang, jika belum benar-benar diselesaikan.

  Aku membalikkan halaman demi halaman buku kuno itu. Sambil menggumamkan nama Ka Mmiri Ngwa Ngwa. Mencari dengan teliti dari abjad A sampai Z, padanan kata apa yang pas dengan nama panjang itu. Sebenarnya ini mudah saja, sebab aku termasuk pengingat yang baik. Dan sudah berulang kali aku telusuri kata demi kata yang tertulis di buku kuno tebal itu. Cuma tetap saja malas kalau alasannya hanya untuk mengganti sebuah nama.

Aku semangat mempelajari bahasa asing itu karena ingin menemukan kebenaran tentang ayahku. Sosok yang teramat aku benci sekaligus aku rindukan. Seorang ayah yang sudah menghilang belasan tahun, yang kata ibu pergi berlayar meninggalkan keluarganya demi untuk menemukan Tanah Surga bernama INDONESIA. Yang konon katanya di Tanah Surga itu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Karena kesuburan tanahnya.

Awalnya aku kagum mendengar cerita tentang ayahku yang punya impian besar membawa penduduk Pulau Alaasato untuk hidup di Tanah Surga. Dan ia membangun impian itu dengan sungguh-sungguh, bersama beberapa orang temannya membuat kapal besar yang kuat mengharungi lautan luas. Sungguh awalnya aku kagum.

Akan tetapi kekaguman itu berubah menjadi kebencian ketika melihat ibuku menderita. Kata orang-orang sejak kapal besar itu mulai berlayar meninggalkan telaga Pulau Alaasato. Ibuku seakan kehilangan separuh hatinya. Separuh semangat hidupnya. Dan meninggal dunia karena sudah tidak kuat lagi menanggung beban rindu. Rindu melihat kepulangan sosok laki-laki yang teramat dicintainya.

Untuk itu aku ingin belajar banyak tentang Tanah Surga dari buku kuno peninggalan ibuku. Sebelum nanti aku menginjakkan kakiku di sana. Ada pesan ibu yang harus aku sampaikan kepada ayah. Meskipun aku juga tidak tahu ayah masih hidup atau tidak untuk saat ini.

Kembali ke soal nama pesanan Ka Mmiri Ngwa Ngwa. Setelah berkutat berjam-jam, aku akhirnya berhasil menemukan satu kata yang cocok sekali untuk bosku itu. DERAS.

Arti kata deras yang tertera di buku kuno itu aku rasa sangat mewakili makna Ka Mmiri Ngwa Ngwa itu sendiri. ALIRAN AIR YANG CEPAT SEKALI. Sesuai dengan karakter bosku yang apa-apa serba ingin cepat. Ketika bicara cepat. Dan soal pekerjaan yang dia lakukan memang aku-akui juga cepat. Tapi karena serba cepat itulah kadang-kadang orang lain jadi kewalahan mengikuti keinginannya.

Sepulangnya dari menyelam bosku itu langsung mengambil toa memberikan pengumuman penting kepada seluruh penduduk Kota Amashiri yang hanya lima puluh jiwa itu. Apalagi kalau bukan soal nama barunya itu. Tetangga-tetangga kapal yang masih terjaga berbondong-bondong keluar kabin masing-masing. Ingin tahu malam-malam ada keributan apa.

“Mulai saat ini, kapanpun dan di manapun kalian harus memanggil namaku, DERAS.” Katanya bersemangat.

“Ada-ada saja kau ini Ka Mmiri Ngwa Ngwa, aku kira ada kejadian gawat apa disuruh cepat-cepat kumpul.” Kata salah satu penduduk yang protes. Tadi dia sudah siap-siap mendengkur. Sebagian lain geleng-geleng kepala, ada-ada saja seperti anak kecil yang ribut minta diganti namanya. Barangkali itu yang ada dipikiran mereka.

 “Ini penting woy, kalian harus ingat baik-baik nama kerenku, DERAS. Hahaha...... bagus kan nama panggilan baruku.” Sambil menepuk-nepuk dada, bangga.

“Sekalian saja kau buat selebaran tentang nama baru kau itu. Apa tadi itu namanya? GELAS? BERAS? KERAS? Baru kau sebut saja aku sudah lupa. Biar burung-burung Nnunu[3] ikut menyebarkannya ke kota lain.” Yang lain ikut sebal protes.

Burung Nnunu memang banyak dijumpai di Kota Amashiri ini, burung pemakan ikan yang gemar bertengger di tali layar kapal.

“Nah itu ide bagus. Hahaha...” DERAS melirik ke arahku sambil tertawa senang.

Aku menepuk jidat, mulai merasa terancam. Lirikan itu tidak lain adalah, membuat selebaran berisi nama DERAS sudah ditetapkan menjadi tugasku berikutnya.

Description: hhhhhh

Sebenarnya kerja di Cafepet Coffee kepunyaan DERAS ini bagiku cuma mengisi waktu luang saja. Aku bukanlah karyawan tetapnya. Istilah kasarnya, cuma basa-basi membantu karena pemiliknya sudah sukarela menampung seorang anak sebatang kara yang sedang tidak memiliki tempat tinggal secara tetap.

Ya, aku hanya menumpang di kapal ini. Menumpang bak seorang raja yang bebas melakukan apa saja. Termasuk mengurangi jatah makanan di friji[4] kalau perut sedang lapar. Tapi tenang saja, aku jarang bermasalah dengan isi perut. Jadi DERAS tidak rugi-rugi amatlah, menurutku.

Biasanya, seakan ‘resmi’ menjadi karyawannya ketika pagi, selama satu jam setelah terbitnya matahari. Lalu pergi melakukan aktivitasku sendiri, kadang memancing berjam-jam bersama Anu Manu Ochi, sahabatku. Memasang jebakan untuk menjerat burung Nnuhu. Kalau ke tangkap lumayan bisa di jual di pasar burung hias. Atau sesekali sukarela membantu penduduk lain yang sedang mengerjakan ini-itu. Atau asyik berkutat dengan buku-buku kuno di kabin. Mencari informasi dunia luar sebanyak-banyaknya.

Begitulah, aku tipe orang yang tidak nyaman terikat di satu tempat di waktu yang lama. Kalau saja kota ini tidak dikelilingi oleh air, barangkali aku sudah menjelajah ke ujung dunia. Sayangnya hanya anggang-anggang, serangga yang punya kemampuan berjalan di atas air, bukan manusia.

Aku masih belum menemukan cara untuk keluar mengharungi mimpi-mimpiku. Menemukan Tanah Surga. Tepatnya, enggan jika harus mengikuti jejak ayahku membuat kapal besar demi untuk mengejar mimpi-mimpinya itu. Kebencianku kepadanya masih jauh lebih besar dibandingkan rasa rindu.

 Begitulah lingkaran hidupku sehari-hari. Aku baru menunjukkan diri lagi di Cafepet Coffee, ketika menjelang sore hari. Dalam rangka ‘tahu diri’ agar keberadaanku tidak dicari-cari. Dan tentu saja untuk memberi jatah perut yang sudah minta diisi. 

Description: hhhhhh

Sudah hampir pukul lima sore. Suasana Cafe sedang tidak ramai seperti biasanya. Hanya ada beberapa tetangga yang duduk-duduk malas menikmati suasana senja. Sambil menikmati camilan khas Cafe ini. Keripik rumput laut.

“Woy, UDA!! Sore ini hujan tidak?” Teriakan DERAS mengagetkan lamunanku. Yang sedang terpaku menatap seorang pengunjung cafepet. Gadis bermata sendu. Ia mengenakan baju casual berwarna merah marun berlengan panjang dan celana jeans hitam. Rambut panjang sebahunya dibiarkan tergerai. 

Hari ini aku baru melihatnya, mungkin pelanggan baru. Atau akunya saja yang tidak terlalu antusias memperhatikan setiap pelanggan cafepet yang datang? Sebab, hampir semua penduduk Kota Amashiri ini aku kenal. Baik yang memang sering berinteraksi dengan mereka, atau hanya sekadar kenal wajah saja.

Kota ini punya kebiasaan yang ‘ganjil’ dalam menyensus penduduknya. Setiap awal tahun, Onyeisi Oche, walikota yang sedang menjabat pada periode ini, memanggil daftar nama penduduknya di salah satu buritan terluas yang memang dibangun untuk mengumpulkan semua penduduk di moment-moment tertentu. Seperti seorang guru yang meng-absen nama-nama muridnya di kelas. Yang dipanggil namanya harus menunjukkan diri ke depan sambil mengangkat tangan. Bukti bahwa dirinya masih hidup dan menjadi penduduk Kota Amashiri.

Sudah kubilang kan aku pengingat yang baik? Dan gadis bermata sendu itu sempurna asing dalam ingatanku.

Yang membuat aku lebih penasaran adalah namanya. Hahaha... ya namanya yang membuat aku lebih tertarik. Tadi ketika aku berbasa-basi menanyakan pesanan, terjadilah percakapan ganjil itu.

Ehihie oma![5] sapaku sambil menyodorkan daftar menu. “Silakan.”

Ekele.[6]” gadis bermata sendu menjawab seadanya. Seperti benar-benar enggan diganggu. Ia menyodorkan pesanannya.

“Atas nama siapa ya pesanannya?” tanyaku mengikuti prosedur yang berlaku. Walaupun sebenarnya lebih kepenasaran dengan nama gadis asing di depanku ini.

“HIDUP.” Jawabnya singkat, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela kapal.

“Eh, siapa?” aku merasa perlu menkonfirmasi ulang.  Gadis bermata sendu itu memasang wajah tanpa ekspresi. Lalu mengeluarkan kartu pengenal. Di sana benar-benar jelas tertera satu kata. HIDUP.

Spontan aku tertawa, karena dua hal. Pertama, ternyata ada yang punya nama lebih aneh dari namaku. HIDUP. Baik dalam bahasa Igbo maupun kosakata yang aku baca di buku kuno itu artinya memang sama. HIDUP ya hidup. Di buku kuno KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA malah ditambahkan dengan kepanjangannya: masih bernapas, masih bernyawa. Itulah hal kedua yang membuat aku ingin tertawa, memikirkan kalau nanti manusia pemilik nama itu sudah sampai batas usianya. Ketika ditanya: Si HIDUP sudah mati bukan? Eh, gimana? Jadi terdengar ganjil kan?

Ups!

Gadis bermata sendu itu memasang wajah semakin tidak bersahabat.

 Wutere![7] Ditunggu sebentar. Cokelat panasnya segera datang. Untuk nona HIDUP, meja nomor lima.” Kataku mencoba mencairkan suasana tegang. “Ada tambahan lain?”

Gadis bermata sendu itu langsung membuang muka ke arah jendela kapal. Aku yang melihat itu jadi tambah ingin ketawa. Buru-buru langsung balik ke belakang meja kasir. Mengintruksikan pelayan lain agar segera membuatkan pesanan untuk meja nomor lima.

“Woy UDARA, telinga kau tidak dipasang dengan benar, huh?” DERAS mengkal berteriak menghampiriku.

 Aku buru-buru menutup telinga. Tentu saja tadi aku dengar. Cuma memang merasa tidak dipanggil siapa-siapa. Jelas-jelas namaku UDARA bukan UDA.

DERAS memang satu-satunya orang yang berani ‘memenggal’ nama-nama orang seenaknya. Sudah kebal dengan teguran walikota. Seharusnya dia memang sudah di deportasi dari Pulau Amashiri ini. Kalau bukan karena jasanya yang besar kepada hampir semua penduduk di kota ini.

“Iya aku dengar, Bos. Sebentar aku cek dulu.” Kataku, hendak keluar Cafefet menuju buritan.

Aku iseng melirik ke arah gadis bermata sendu itu. Ingin tahu apa ekspresi dia ketika mendengar nama lengkapku dipanggil. Apa dia juga akan tertawa karena sama-sama bernasib memiliki nama aneh? Apa dia tahu arti UDARA? Sayangnya gadis bermata sendu itu diam saja. Acuh. Asyik benar dengan lamunannya.

Sesampainya di buritan aku mendongak ke langit. Melihat gumpalan awan-awan hitam pekat. Ya, sejak siang tadi langit memang sudah mendung.

Kalian perlu tahu, inilah kebiasaanku ketika DERAS atau yang lain bertanya hari ini akan turun hujan atau tidak? Aku punya cara tersendiri untuk memastikan kapan jadwal hujan akan turun. Tidak hanya mengandalkan awan yang terlihat oleh kasat mata. Atau alat-alat prediksi canggih buatan manusia modern. Bukankah katanya mendung memang tak berarti hujan?

Pertama-tama aku akan memastikan arah datangnya angin. Dan akan berdiri tegak berlawanan arah dengan desirannya. Selanjutnya tinggal memijit-mijit batang hidung sampai terasa hangat. Menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Dengan ritual itulah aku dapat memprediksi perubahan cuaca. Aku bisa menebak dengan tepat, hujan akan turun atau tidaknya. Bisa dibilang hidungku memang sangat sensitif dengan embusan angin. Dan sialnya, kelebihanku itu dimanfaatkan benar oleh DERAS, sebelum ia bepergian. Bisa lebih dari tiga kali ia bertanya hal yang serupa. Hari ini akan hujan atau tidak? Kau yakin? Benar-benar yakin? Aku masygul, buat apa coba bertanya jika jawabannya masih diragukan.

Setelah merasa cukup yakin dengan prediksiku, aku kembali ke cafe. Memberikan laporan.

“Aman. Satu jam ke depan tidak akan hujan.” Kataku mantap.

Kulihat gadis bermata sendu itu mengerutkan dahi, ikut menyimak laporanku. Masa? Kan langit mendung. Mungkin itu yang ada dipikirannya. Segelas cokelat panas sudah tersaji di meja nomor lima, tempat gadis bermata sendu itu berada.

 “Kau yakin ya, UDARA?” DERAS memastikan, “Baiklah. Ku pegang kata-katamu.” Lanjutnya tanpa perlu menunggu jawabanku.

Aku mengangguk, sejauh ini prediksiku tentang cuaca selalu tepat. Sebuah kelebihan yang aku miliki sejak lahir.

Aku melirik jam, sudah tepat pukul lima sore. Satu hari lagi akan aku lewati begitu saja. Lingkaran hidup yang monoton. Tapi sore ini ternyata takdir berkata lain. Sore ini menjadi titik awal dalam perjalanan hidupku. Setelah mengenal nama gadis bermata sendu itu.

Sore ini menjadi titik sejarah, bahwa seorang UDARA yang memiliki kelebihan bisa memprediksi cuaca. Ternyata memanglah pemuda biasa. Kelebihan yang berujung membuat hari-hariku di bulan-bulan berikutnya berubah nelangsa. Hingga satu pertanyaan selalu terngiang-ngiang di kepalaku di setiap harinya.

Apakah memang UDARA diperlukan untuk HIDUP?


@Azurazie_

 



[1] Laut.

[2] Tanah.

[3] Sejenis burung pelikan, kicauannya cukup merdu jika musim kawin tiba.

[4]  Mesin pendingin makanan

[5] Selamat sore.

[6] Terima kasih.

[7] Maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)