UDARA.
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata itu?
Angkasa kah? ruang kosong di atas bumi? Hawa? Atau angin yang berembus
perlahan-lahan?
Atau di pikiran kalian ada definisi lain tentang
udara?
Hmm.... kalau definisi udara yang aku sebutkan
tadi, baru-baru ini aku temukan di teks buku kuno setebal 1646 halaman
peninggalan ibuku. Buku yang lembaran kertasnya sudah usang dan kuning termakan
usia. Di cover buku kuno itu, tercetak
jelas judulnya dengan menggunakan huruf kapital, KAMUS BESAR BAHASA
INDONESIA. Disusun oleh Prof. Dr. J.S Badudu dan Prof. Sutan Mohammad Zain.
Terbit tahun 1994. Itu artinya umur buku kuno itu sudah sekitar 51 tahun.
Kalian
tahu tidak kenapa tiba-tiba aku tanyakan tentang definisi udara? Sebab kata
udara itu termasuk kata yang asing di telinga penduduk Kota Amashiri[1],
yang mayoritas menggunakan bahasa Igbo dalam percakapan sehari-hari.
Dan
terdengar lebih aneh lagi, ketika kata UDARA itu digunakan sebagai nama
panggilan seseorang. Malangnya seseorang itu adalah aku.
Ya... kalian perlu tahu, namaku adalah UDARA.
Hanya satu kata, U-DA-RA. Dan sialnya, untuk orang yang hanya ditakdirkan
memiliki nama satu kata, nama harus ditulis kapital di setiap tanda pengenal.
Hal itu membuat nama anehku menjadi tambah
mencolok dan mudah diingat oleh orang, meskipun mereka tidak tahu apa arti dari
UDARA. Yang tahu hanya beberapa orang saja. Itu juga setelah aku jelaskan
dengan bahasa Igbo. Kataku UDARA itu Ikuku,
alias angin yang berembus di sekitarmu.
![]()
Aku bekerja di sebuah Cafepet Coffee yang terapung di atas air. Kepunyaan seorang yang
amat terkenal di Kota Amashiri ini, bernama DERAS. Delapan tahun lebih tua
dariku. Memiliki nama yang sama anehnya denganku. Bedanya, jika aku merasa
risih dengan namaku, dia teramat bangga dengan namanya itu.
DERAS adalah pemuda yang paling tangguh yang
pernah aku kenal. Lahir di Pulau Alaasato[2]
, kota kecil tempat dulu sebagian besar penduduk Amashiri tinggal. Kota yang
sangat makmur dan berlimpah sumber daya alamnya. Hanya saja karena perubahan
iklim, kerusakan unsur hara dan konflik politik di kalangan pejabat kota, Pulau
Alaasato menjadi salah satu kota mati yang tinggal menjadi sejarah. Panjang
ceritanya, besok-besok kalau sempat aku ceritakan kepada kalian.
Sebenarnya nama asli DERAS dari bahasa Igbo
adalah Ka Mmiri Ngwa Ngwa. Dan
peraturan di tanah kelahiranku ini, setiap nama harus diucapkan lengkap, ketika
memanggil seseorang. Katanya, setiap nama adalah doa dan mengandung maknanya
masing-masing. Jadi tidak boleh memanggil seseorang dengan nama depan atau
belakangnya saja. Jika ketahuan, akan ditegur dan diberi surat peringatan oleh
pak Wali Kota. Dengan dalih tindakan tidak sopan. Pelecehan nama baik. Atau
yang lebih serius lagi kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.
Nah, DERAS a.k.a Ka Mmiri Ngwa Ngwa, agak risih karena nama pemberian orang tuanya
itu panjang sekali.
“Bikin ribet.” Keluhnya padaku.
Pada suatu hari, Ka Mmiri Ngwa Ngwa merebut buku kuno KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
yang sedang aku pelajari. Memaksa benar keberuntungannya, agar nama panjangnya
itu bisa dicari padanan kata seperti namaku. Sederhana dan mudah diingat.
“Ah susah sekali mencarinya, ya. Aku benar-benar
tak mengerti dengan bahasanya.”
Ka Mmiri Ngwa Ngwa melempar buku tebal itu ke arahku yang sedang duduk di
buritan. Untung aku sigap menangkapnya, kalau tidak buku itu sudah meluncur bebas ke dalam air. Aku menghela
napas lega. Sungguh, orang satu ini adalah salah satu dari penduduk Kota
Amashiri yang aku segani. Karena sudah banyak membantu hidupku yang tinggal
sebatang kara. Meskipun sering kali membuat aku jengkel karena suka tiba-tiba
seenaknya.
Hmm.... Kalau sampai hilang buku berharga itu,
aku tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Mau protes marah-marah juga.... ya
entahlah.
“Kalau kau sedang tidak ada kegiatan, kau bantu
akulah mencari nama yang bagus untukku.” Kata Ka Mmiri Ngwa Ngwa sambil menyiapkan peralatan untuk menyelam.
“Memang kenapa sih harus ganti nama segala?”
tanyaku dengan malas.
“Bukan mengganti, tapi menyederhanakan. Kau tahu
sendiri nama pemberian orang tuaku itu panjang macam rel kereta.” Katanya lagi
sambil tertawa. “Sudahlah, kau lakukan saja apa yang aku pinta tadi. Aku pergi
dulu. Kau yakin kan sore ini tidak akan hujan?”
Aku mengangguk, untuk tidak akan hujannya.
“Aku harap nanti malam sudah ada satu nama yang
sesuai denganku yang keren ini, ya.” Ia menepuk pundakku. Sudah siap menyelam.
Hmm... mau
bagaimana lagi, seperti yang sudah-sudah, itu bukan pilihan yang bisa
ditawar-tawar. Kalau aku tidak berhasil, siap-siap saja telinga gatal karena
setiap saat akan ditanya dengan pertanyaan yang serupa. Sampai permintaannya
itu terpenuhi. Titahnya adalah hutang, jika belum benar-benar diselesaikan.
Aku
membalikkan halaman demi halaman buku kuno itu. Sambil menggumamkan nama Ka Mmiri Ngwa Ngwa. Mencari dengan
teliti dari abjad A sampai Z, padanan kata apa yang pas dengan nama panjang
itu. Sebenarnya ini mudah saja, sebab aku termasuk pengingat yang baik. Dan
sudah berulang kali aku telusuri kata demi kata yang tertulis di buku kuno
tebal itu. Cuma tetap saja malas kalau alasannya hanya untuk mengganti sebuah
nama.
Aku semangat mempelajari bahasa asing itu karena
ingin menemukan kebenaran tentang ayahku. Sosok yang teramat aku benci
sekaligus aku rindukan. Seorang ayah yang sudah menghilang belasan tahun, yang
kata ibu pergi berlayar meninggalkan keluarganya demi untuk menemukan Tanah
Surga bernama INDONESIA. Yang konon katanya di Tanah Surga itu, tongkat kayu
dan batu jadi tanaman. Karena kesuburan tanahnya.
Awalnya aku kagum mendengar cerita tentang ayahku
yang punya impian besar membawa penduduk Pulau Alaasato untuk hidup di Tanah
Surga. Dan ia membangun impian itu dengan sungguh-sungguh, bersama beberapa
orang temannya membuat kapal besar yang kuat mengharungi lautan luas. Sungguh
awalnya aku kagum.
Akan tetapi kekaguman itu berubah menjadi
kebencian ketika melihat ibuku menderita. Kata orang-orang sejak kapal besar
itu mulai berlayar meninggalkan telaga Pulau Alaasato. Ibuku seakan kehilangan
separuh hatinya. Separuh semangat hidupnya. Dan meninggal dunia karena sudah
tidak kuat lagi menanggung beban rindu. Rindu melihat kepulangan sosok
laki-laki yang teramat dicintainya.
Untuk itu aku ingin belajar banyak tentang Tanah
Surga dari buku kuno peninggalan ibuku. Sebelum nanti aku menginjakkan kakiku
di sana. Ada pesan ibu yang harus aku sampaikan kepada ayah. Meskipun aku juga
tidak tahu ayah masih hidup atau tidak untuk saat ini.
Kembali ke soal nama pesanan Ka Mmiri Ngwa Ngwa. Setelah berkutat berjam-jam, aku akhirnya
berhasil menemukan satu kata yang cocok sekali untuk bosku itu. DERAS.
Arti kata deras yang tertera di buku kuno itu aku
rasa sangat mewakili makna Ka Mmiri Ngwa
Ngwa itu sendiri. ALIRAN AIR YANG CEPAT SEKALI. Sesuai dengan karakter
bosku yang apa-apa serba ingin cepat. Ketika bicara cepat. Dan soal pekerjaan
yang dia lakukan memang aku-akui juga cepat. Tapi karena serba cepat itulah
kadang-kadang orang lain jadi kewalahan mengikuti keinginannya.
Sepulangnya dari menyelam bosku itu langsung
mengambil toa memberikan pengumuman penting kepada seluruh penduduk Kota
Amashiri yang hanya lima puluh jiwa itu. Apalagi kalau bukan soal nama barunya
itu. Tetangga-tetangga kapal yang masih terjaga berbondong-bondong keluar kabin
masing-masing. Ingin tahu malam-malam ada keributan apa.
“Mulai saat ini, kapanpun dan di manapun kalian
harus memanggil namaku, DERAS.” Katanya bersemangat.
“Ada-ada saja kau ini Ka Mmiri Ngwa Ngwa, aku kira ada kejadian gawat apa disuruh cepat-cepat
kumpul.” Kata salah satu penduduk yang protes. Tadi dia sudah siap-siap
mendengkur. Sebagian lain geleng-geleng kepala, ada-ada saja seperti anak kecil
yang ribut minta diganti namanya. Barangkali itu yang ada dipikiran mereka.
“Ini
penting woy, kalian harus ingat baik-baik nama kerenku, DERAS. Hahaha......
bagus kan nama panggilan baruku.” Sambil menepuk-nepuk dada, bangga.
“Sekalian saja kau buat selebaran tentang nama
baru kau itu. Apa tadi itu namanya? GELAS? BERAS? KERAS? Baru kau sebut saja
aku sudah lupa. Biar burung-burung Nnunu[3]
ikut menyebarkannya ke kota lain.” Yang lain ikut sebal protes.
Burung Nnunu
memang banyak dijumpai di Kota Amashiri ini, burung pemakan ikan yang gemar
bertengger di tali layar kapal.
“Nah itu ide bagus. Hahaha...” DERAS melirik ke
arahku sambil tertawa senang.
Aku menepuk jidat, mulai merasa terancam. Lirikan
itu tidak lain adalah, membuat selebaran berisi nama DERAS sudah ditetapkan
menjadi tugasku berikutnya.
![]()
Sebenarnya kerja di Cafepet Coffee kepunyaan
DERAS ini bagiku cuma mengisi waktu luang saja. Aku bukanlah karyawan tetapnya.
Istilah kasarnya, cuma basa-basi membantu karena pemiliknya sudah sukarela
menampung seorang anak sebatang kara yang sedang tidak memiliki tempat tinggal
secara tetap.
Ya, aku hanya menumpang di kapal ini. Menumpang
bak seorang raja yang bebas melakukan apa saja. Termasuk mengurangi jatah
makanan di friji[4]
kalau perut sedang lapar. Tapi tenang saja, aku jarang bermasalah dengan isi
perut. Jadi DERAS tidak rugi-rugi amatlah, menurutku.
Biasanya, seakan ‘resmi’ menjadi karyawannya
ketika pagi, selama satu jam setelah terbitnya matahari. Lalu pergi melakukan
aktivitasku sendiri, kadang memancing berjam-jam bersama Anu Manu Ochi, sahabatku. Memasang jebakan untuk menjerat burung Nnuhu. Kalau ke tangkap lumayan bisa di
jual di pasar burung hias. Atau sesekali sukarela membantu penduduk lain yang
sedang mengerjakan ini-itu. Atau asyik berkutat dengan buku-buku kuno di kabin.
Mencari informasi dunia luar sebanyak-banyaknya.
Begitulah, aku tipe orang yang tidak nyaman
terikat di satu tempat di waktu yang lama. Kalau saja kota ini tidak
dikelilingi oleh air, barangkali aku sudah menjelajah ke ujung dunia. Sayangnya
hanya anggang-anggang, serangga yang
punya kemampuan berjalan di atas air, bukan manusia.
Aku masih belum menemukan cara untuk keluar
mengharungi mimpi-mimpiku. Menemukan Tanah Surga. Tepatnya, enggan jika harus
mengikuti jejak ayahku membuat kapal besar demi untuk mengejar mimpi-mimpinya
itu. Kebencianku kepadanya masih jauh lebih besar dibandingkan rasa rindu.
Begitulah
lingkaran hidupku sehari-hari. Aku baru menunjukkan diri lagi di Cafepet
Coffee, ketika menjelang sore hari. Dalam rangka ‘tahu diri’ agar keberadaanku
tidak dicari-cari. Dan tentu saja untuk memberi jatah perut yang sudah minta
diisi.
![]()
Sudah hampir pukul lima sore. Suasana Cafe sedang
tidak ramai seperti biasanya. Hanya ada beberapa tetangga yang duduk-duduk
malas menikmati suasana senja. Sambil menikmati camilan khas Cafe ini. Keripik
rumput laut.
“Woy, UDA!! Sore ini hujan tidak?” Teriakan DERAS
mengagetkan lamunanku. Yang sedang terpaku menatap seorang pengunjung cafepet.
Gadis bermata sendu. Ia mengenakan baju casual berwarna merah marun berlengan
panjang dan celana jeans hitam. Rambut panjang sebahunya dibiarkan tergerai.
Hari ini aku baru melihatnya, mungkin pelanggan
baru. Atau akunya saja yang tidak terlalu antusias memperhatikan setiap
pelanggan cafepet yang datang? Sebab, hampir semua penduduk Kota Amashiri ini
aku kenal. Baik yang memang sering berinteraksi dengan mereka, atau hanya sekadar
kenal wajah saja.
Kota ini punya kebiasaan yang ‘ganjil’ dalam
menyensus penduduknya. Setiap awal tahun, Onyeisi
Oche, walikota yang sedang menjabat pada periode ini, memanggil daftar nama
penduduknya di salah satu buritan terluas yang memang dibangun untuk
mengumpulkan semua penduduk di moment-moment tertentu. Seperti seorang guru
yang meng-absen nama-nama muridnya di kelas. Yang dipanggil namanya harus
menunjukkan diri ke depan sambil mengangkat tangan. Bukti bahwa dirinya masih
hidup dan menjadi penduduk Kota Amashiri.
Sudah kubilang kan aku pengingat yang baik? Dan
gadis bermata sendu itu sempurna asing dalam ingatanku.
Yang membuat aku lebih penasaran adalah namanya.
Hahaha... ya namanya yang membuat aku lebih tertarik. Tadi ketika aku
berbasa-basi menanyakan pesanan, terjadilah percakapan ganjil itu.
“Ehihie
oma![5]” sapaku sambil menyodorkan daftar menu.
“Silakan.”
“Ekele.[6]”
gadis bermata sendu menjawab seadanya. Seperti benar-benar enggan diganggu. Ia
menyodorkan pesanannya.
“Atas nama siapa ya pesanannya?” tanyaku
mengikuti prosedur yang berlaku. Walaupun sebenarnya lebih kepenasaran dengan nama
gadis asing di depanku ini.
“HIDUP.” Jawabnya singkat, lalu memalingkan
wajahnya ke luar jendela kapal.
“Eh, siapa?” aku merasa perlu menkonfirmasi
ulang. Gadis bermata sendu itu memasang
wajah tanpa ekspresi. Lalu mengeluarkan kartu pengenal. Di sana benar-benar
jelas tertera satu kata. HIDUP.
Spontan aku tertawa, karena dua hal. Pertama,
ternyata ada yang punya nama lebih aneh dari namaku. HIDUP. Baik dalam bahasa
Igbo maupun kosakata yang aku baca di buku kuno itu artinya memang sama. HIDUP
ya hidup. Di buku kuno KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA malah ditambahkan dengan
kepanjangannya: masih bernapas, masih
bernyawa. Itulah hal kedua yang membuat aku ingin tertawa, memikirkan kalau
nanti manusia pemilik nama itu sudah sampai batas usianya. Ketika ditanya: Si HIDUP sudah mati bukan? Eh, gimana?
Jadi terdengar ganjil kan?
Ups!
Gadis bermata sendu itu memasang wajah semakin
tidak bersahabat.
“Wutere![7]
Ditunggu sebentar. Cokelat panasnya segera datang. Untuk nona HIDUP, meja nomor
lima.” Kataku mencoba mencairkan suasana tegang. “Ada tambahan lain?”
Gadis bermata sendu itu langsung membuang muka ke
arah jendela kapal. Aku yang melihat itu jadi tambah ingin ketawa. Buru-buru
langsung balik ke belakang meja kasir. Mengintruksikan pelayan lain agar segera
membuatkan pesanan untuk meja nomor lima.
“Woy UDARA, telinga kau tidak dipasang dengan
benar, huh?” DERAS mengkal berteriak menghampiriku.
Aku
buru-buru menutup telinga. Tentu saja tadi aku dengar. Cuma memang merasa tidak
dipanggil siapa-siapa. Jelas-jelas namaku UDARA bukan UDA.
DERAS memang satu-satunya orang yang berani
‘memenggal’ nama-nama orang seenaknya. Sudah kebal dengan teguran walikota. Seharusnya
dia memang sudah di deportasi dari Pulau Amashiri ini. Kalau bukan karena
jasanya yang besar kepada hampir semua penduduk di kota ini.
“Iya aku dengar, Bos. Sebentar aku cek dulu.”
Kataku, hendak keluar Cafefet menuju buritan.
Aku iseng melirik ke arah gadis bermata sendu
itu. Ingin tahu apa ekspresi dia ketika mendengar nama lengkapku dipanggil. Apa
dia juga akan tertawa karena sama-sama bernasib memiliki nama aneh? Apa dia
tahu arti UDARA? Sayangnya gadis bermata sendu itu diam saja. Acuh. Asyik benar
dengan lamunannya.
Sesampainya di buritan aku mendongak ke langit.
Melihat gumpalan awan-awan hitam pekat. Ya, sejak siang tadi langit memang
sudah mendung.
Kalian perlu tahu, inilah kebiasaanku ketika
DERAS atau yang lain bertanya hari ini akan turun hujan atau tidak? Aku punya
cara tersendiri untuk memastikan kapan jadwal hujan akan turun. Tidak hanya
mengandalkan awan yang terlihat oleh kasat mata. Atau alat-alat prediksi
canggih buatan manusia modern. Bukankah katanya mendung memang tak berarti
hujan?
Pertama-tama aku akan memastikan arah datangnya
angin. Dan akan berdiri tegak berlawanan arah dengan desirannya. Selanjutnya
tinggal memijit-mijit batang hidung sampai terasa hangat. Menarik napas
dalam-dalam sambil memejamkan mata. Dengan ritual itulah aku dapat memprediksi
perubahan cuaca. Aku bisa menebak dengan tepat, hujan akan turun atau tidaknya.
Bisa dibilang hidungku memang sangat sensitif dengan embusan angin. Dan
sialnya, kelebihanku itu dimanfaatkan benar oleh DERAS, sebelum ia bepergian.
Bisa lebih dari tiga kali ia bertanya hal yang serupa. Hari ini akan hujan atau
tidak? Kau yakin? Benar-benar yakin? Aku masygul, buat apa coba bertanya jika
jawabannya masih diragukan.
Setelah merasa cukup yakin dengan prediksiku, aku
kembali ke cafe. Memberikan laporan.
“Aman. Satu jam ke depan tidak akan hujan.”
Kataku mantap.
Kulihat gadis bermata sendu itu mengerutkan dahi,
ikut menyimak laporanku. Masa? Kan langit mendung. Mungkin itu yang ada
dipikirannya. Segelas cokelat panas sudah tersaji di meja nomor lima, tempat
gadis bermata sendu itu berada.
“Kau yakin
ya, UDARA?” DERAS memastikan, “Baiklah. Ku pegang kata-katamu.” Lanjutnya tanpa
perlu menunggu jawabanku.
Aku mengangguk, sejauh ini prediksiku tentang
cuaca selalu tepat. Sebuah kelebihan yang aku miliki sejak lahir.
Aku melirik jam, sudah tepat pukul lima sore.
Satu hari lagi akan aku lewati begitu saja. Lingkaran hidup yang monoton. Tapi
sore ini ternyata takdir berkata lain. Sore ini menjadi titik awal dalam
perjalanan hidupku. Setelah mengenal nama gadis bermata sendu itu.
Sore ini menjadi titik sejarah, bahwa seorang
UDARA yang memiliki kelebihan bisa memprediksi cuaca. Ternyata memanglah pemuda
biasa. Kelebihan yang berujung membuat hari-hariku di bulan-bulan berikutnya
berubah nelangsa. Hingga satu pertanyaan selalu terngiang-ngiang di kepalaku di
setiap harinya.
Apakah memang UDARA
diperlukan untuk HIDUP?
@Azurazie_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)