Juli 01, 2026

CERPEN : BAN KOTAK?

Siang itu, ketika matahari sedang terik-teriknya, lagi-lagi aku mendapatkan ‘bonus’ di pinggir jalan. Jatah ban bocor sebagai salah satu pengguna jalan. Mau tak mau aku harus mendorong motorku untuk mencari jasa tambal ban. Yang untungnya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Dan bertambah lega juga karena melihat tempat ‘dokter spesialis ban luar-dalam’ itu ternyata bersebelahan dengan warung. Tentu saja, kegiatan dorong-dorong motor di siang bolong itu butuh asupan minuman segar pelega tenggorokan.

Ketika baru saja sampai di lokasi, ternyata nasib malangku ada temannya. Dari arah yang berlawanan, seorang gadis sedang menuntun motor matic-nya. Wajahnya memakai masker. Motorku sampai beberapa detik lebih dulu dari motornya. Setelah meminta tolong untuk mengeksekusi ban dalamku yang bocor, aku duduk sejenak untuk sekadar menormalkan ritme pernapasan.

“Motornya kenapa, Neng?” tanya bapak pemilik bengkel. Sejenak mengacuhkan motorku.

“Minta ditambah anginnya saja, Pak,” gadis itu menjelaskan tujuannya. "Yang belakang."

Aku ikut menyimak.

“Wah, ini mah bocor, Neng, harus ditambal. Sebentar ya, Bapak nambal motor si Aa-nya dulu.”

“Tidak apa-apa, Pak. Motor matic-nya dulu saja.” Kataku menawarkan.

“Tidak apa-apa, nih, A? Kan tadi sampai duluan dari si Neng-nya?” tanya bapak pemilik bengkel memastikan.

“Iya, Pak. Saya lagi tidak buru-buru kok.” Kataku meyakinkan.

Gadis itu sekilas melihatku, tapi tidak mengucapkan basa-basi apa-apa. Ia malah menuju mesin pendingin warung. Ah, sepertinya aku juga harus mengambil minuman dingin, tapi nanti dulu deh kalau gadis itu sudah selesai transaksinya.

Aku memperhatikan kinerja bapak pemilik bengkel yang sangat telaten. Aku taksir ia menggeluti bidangnya itu sudah lebih dari dua tahun. Atau bahkan lebih. Aku pernah bertanya ke bapak penambal ban di lampu merah sana, malahan sudah mau sepuluh tahun jadi penambal ban. Entah sudah berapa r ratus ban motor yang ia tambal. Sebanding dengan berapa banyak pengguna jalan yang merasa tertolong karena jasanya itu. Waktu yang cukup lama untuk bertahan di satu bidang yang sama. Apa tidak bosan, ya?

Ketika aku sedang mengecek hp, tiba-tiba gadis itu menyodorkan sebotol minuman. Tanpa kata-kata. Aku mendongak melihat wajahnya, yang kini tanpa masker. Maksudnya apa? 

“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia mendahulukan kepentingan perempuan asing,” katanya panjang lebar.

“Oh... terima kasih juga.” Kataku meraih minuman itu. Menghargai pemberiannya. Ia duduk di bangku sebelahku, mulai menikmati minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Ban memang bulat, lingkaran bentuk paling bisa diandalkan untuk melajukan kendaraan. Tapi kalau kempes, sama saja, ia jadi tidak berdaya juga.” Gadis itu mulai berbicara panjang lebar lagi.

Aku menyeringai, apa ia selalu begitu kalau sedang berbincang dengan orang lain? Terlebih orang asing?

“Ya, kalau kotak malah tidak bisa dipakai jalan ke mana-mana.” Aku basa-basi menimpalinya. Garing banget, ya? Mana ada coba ban kotak?

“Ban luar memang bulat, kuat, bisa menghalau jalan keras sekalipun. Kerikil-kerikil tajam dilewati juga. Tanah berlumpur pun bisa dihadapi. Tapi kalau sudah tertusuk benda tajam, walaupun kecil, dan tembus sampai dalam. Nyatanya ia tidak berdaya juga.”

“Sepertinya memahami banget soal ban?” Aku menoleh mencoba bergurau.

“Ah, tidak juga.” Gadis itu menenggak habis minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Manusia juga seperti halnya ban. Tubuhnya memang kuat menahan segala beban. Tapi kalau hatinya sudah tersentuh... manusia juga ikut jadi tak berdaya.”

“Lho? Kok jadi menyinggung soal hati?” Aku spontan bertanya.

“Ah, tidak. Lupakan saja.” 

Gadis itu beranjak bangun. Motor matic-nya memang sudah selesai ditambal.

“Sekalian saja nanti biayanya sama motor saya, Pak.” Kataku, mengurungkan gerak gadis itu yang mengeluarkan uang dari dompet.

Ia menoleh ke arahku.

“Sebagai ucapan terima kasih karena percakapan menarik soal ban tadi.” Aku menyeringai.

“Oh.... terima kasih juga.”

Gadis itu memakai maskernya kembali.

“Boleh tahu namamu?” Kataku beranjak bangun. Ia berhenti sejenak.

“Deras.” Aku lebih dulu memperkenalkan diri.

Gadis itu mengeluarkan dompetnya lagi. Menyodorkan sebuah kartu nama. Aku menerimanya.

“Joko Suroto?” Aku mengerutkan dahi. Masa sih namanya Joko?

“Hubungi saja ayahku di nomor itu kalau ingin tahu nama anak gadis semata wayangnya.”

Gadis itu pamit mengucapkan terima kasih kepada bapak pemilik bengkel. Meninggalkanku yang hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil memandangi sebaris nama di kartu nama itu.

“Sudah datangi saja rumahnya, A. Terus lamar deh. Manis pisan tuh si Neng-nya tadi, seperti gula jawa.” Kata bapak pemilik bengkel bergurau. Aku hanya menyeringai mendengar usulannya.

@azurazie_