Juli 12, 2026

MEMUTUS 'LINGKARAN SETAN' ROKOK

 Tulisan ini didedikasikan kepada ciwi-ciwi yang sedang mencari teman hidup. Boleh juga untuk kaum bapak yang memiliki anak perempuan, yang sudah mulai beranjak usia matang untuk menikah. Kalau bisa tekankan kepada mereka mulai dari sekarang. Mulai dari hari ini. Arahkan pandangan mereka  untuk memilih kriteria calon pasangan hidup, selain yang baik agamanya, santun etika dan perbuatannya, boleh juga ditambahkan: pilihlah yang tidak merokok. Atau minimal mantan pecandu nikotin. Alias perokok yang sudah taubatan nasuha.

Kenapa begitu? Penting rasanya jika kita ingin memutus ‘lingkaran setan’ kebiasan jelek itu untuk keturunan kita jauh ke depan. Dengan dimulai dari memilih pasangan yang tepat dari awal. Kalau perlu masukkan di point perjanjian pra nikah. Sehingga lebih terjamin, suatu saat dianugerahi anak laki-laki tidak akan tergoda oleh asap rokok. Termasuk untuk coba-coba. Karena teladan dari ayahnya sendiri.

Sebab, berapa banyak anak-anak yang menjadi perokok aktif, secara tidak sadar sudah diturunkan dari bapak-bapaknya. Identitas warisan. Bapaknya perokok, anaknya ketika sudah mulai besar sedikit mulai ikutan merokok. Dengan dalih: bapak gue juga perokok. Dari awalnya sembunyi-bunyi, sampai ngebulnya aja sekarang mah sebelahan. Kan miris!

Sebab, berapa banyak ibu-ibu yang merasa prihatin karena tidak bisa menasehati anaknya dengan maksimal untuk tidak merokok, karena suaminya aja seperti tidak bisa napas tanpa rokok. Ibu-ibu yang pada akhirnya pasrah, karena sudah tidak ‘kuasa’ untuk melarang anaknya menjadi pecandu juga.

Padahal ya, kalau saja setiap anak memiliki pemahaman ini (apalagi yang masih pelajar dan belum berpenghasilan sendiri): bagaimana jika uang yang saya belikan untuk sebatang rokok, uang jajan dari orangtua. Sang ayah yang memeras keringat banting tulang tidak ridho nafkahnya dipakai untuk merokok? Sang ibu yang sepanjang siang malam mendoakan kebaikan, dari mengandung, membesarkan hingga akhil baligh (sudah bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk) juga tidak ridho balasan doanya malah dibalas dengan menghisap rokok? Bagaimana bila dalam belajar terasa bebal sekali, ilmu itu tidak masuk-masuk karena guru yang mengajarpun tidak ridho muridnya merokok? Kan jelas di instansi pendidikan anak pelajar dilarang merokok.

Bangga sekali rasanya, beberapa minggu lalu mendengar langsung dari salah satu adik saya (anak dari salah satu paman) yang dengan lantang berkata ketika ditawari rokok oleh saudaranya yang lain. Ia berkata : Mendingan buat beli quota dari pada buat rokok.

Mantap, anak muda yang punya integritas dan identitas yang jelas. Semoga istiqomah sampai nanti punya keturunan.

Yang lebih ngeri lagi. Pernah mendengar ceramah dari salah satu ustadz. Ia berkata: Bagaimana bila orang yang meyakini kalau hukum rokok itu adalah haram. Lantas saat dijalan secara ia tidak sengaja berpapasan dengan orang yang sedang merokok. Dan asapnya atau abunya menempel ke baju orang tersebut. Kemudian bajunya dipakai untuk shalat. Itu artinya orang tsb sedang shalat dengan menggunakan baju yang terkena barang yang haram. Padahal dia tidak mengkonsumsinya. Kira-kira siapa yang menjadi berdosa?

Maka, bagi ciwi-ciwi yang belum menikah ayo masih punya kesempatan sangat banyak untuk memilih pasangan yang tidak memiliki indentitas sebagai perokok. Jika yang sudah terlanjur punya calon, coba minta untuk berhenti, pelan-pelan tidak mesti sekaligus. Asal punya niat baik dan progress yang menjanjikan. Bukan omon-omon doang. Jika dia tidak bisa berhenti karenamu, minimal minta pikir ulang lagi, berhenti untuk keturunan-keturunanmu nantinya yang sangat punya hak memiliki ayah yang tidak perokok.

Semoga dengan begitu ada itikad baik untuk memutus 'lingakaran setan' rokok yang boleh jadi nanti diwariskan. Semoga.

Tulisan ini bermaksud menyinggung semua pihak yang masih punya hati nurani. Yang masih minim kesadaran, bahwa apa yang kita perbuat sedikit banyak, sadar tidak sadar berpengaruh ke lingkungan kita masing-masing. Selagi kita masih menjadi manusia yang berstatus sosial. Sekian terima kasih.


@azurazie_


Juli 11, 2026

CERBUNG PUKUL 5 SORE : BAGAIMANA INI?

Semenjak bertemu dengan gadis bermata sendu itu aku jadi lebih rajin berlama-lama di cafepet. Datang satu jam lebih awal dari jadwal soreku biasanya. DERAS malah usil benar menggodaku.

“Anak muda memang sudah sewajarnya jatuh cinta. Hahahaha...” Katanya sambil menepuk bahuku.

“Hah? Apa?” kataku tidak mengerti.

“Halah tidak usah pura-pura denganku. Karena gadis murung itu kan?” DERAS menggerakkan kedua alisnya. Maksudnya itu alasanku yang belakangan ini jadi lebih rajin berada di belakang meja kasir.

“Gadis murung?” Aku pura-pura tidak mengerti maksudnya. Buru-buru berlalu.

Sejujurnya aku juga tidak tahu alasan sebenarnya apa. Jatuh cinta? Ah itu konyol sekali. Aku punya alasan yang jauh lebih masuk akal, karena perkataan Enyi Na Enyi saat pertama kali aku menceritakan tentang gadis bermata sendu itu.

“Ah kau lancang sekali UDARA. Laki-laki itu tidak boleh menertawakan apapun yang ada pada perempuan.” Kata Enyi Na Enyi sambil menakol kepalaku dengan tongkat plastiknya. Tanda kalau dia sedang berbicara serius dan tidak bisa dibantah. “Kau harus meminta maaf. Harus, UDARA.”

Ya, itu alasanku lebih rajin berada di cafepet ini. Lebih awal datang karena ingin bersiap-siap menyapa gadis bermata sendu itu. Sudah kubilangkan perkataan Enyi Na Enyi akan selalu kuturuti. Awalnya kukira basa-basi meminta maaf bakalan mudah, tapi ternyata sudah beberapa hari ini aku gagal untuk sekadar menghampirinya. Ia selalu membuang muka ketika melihatku. Apa segitu tersinggungnya, ya?

Membuat aku masih tidak punya jawaban ketika ditanya Enyi Na Enyi, sudah minta maaf apa belum? Kenapa kau bebal sekali cuma untuk meminta maaf.

Di hari kedua, aku melihat kesempatan yang lebih baik. Ketika mengetahui kalau ternyata Achi Na Ochi cukup dekat dengan HIDUP. Mereka berdua sedang asyik bercanda-ria di meja nomor lima.

Achi Na Ochi adalah anak kecil berusia enam tahun yang suka sekali tertawa. Bisa dibilang ia adalah ‘maskot’-nya Kota Amashiri. Setiap penduduk yang sedang berinteraksi dengannya akan selalu merasa lebih baik dalam suasana apapun. Seakan beban itu terangkat begitu saja. Keberadaan Achi Na Ochi yang jahil dan selalu tertawa menjadi obat tersendiri di kala hati sedang gundah, dikala orang-orang sedang bersedih.

Anak itu selalu bergurau dengan tebak-tebakan. Yang jawabannya suka semaunya sendiri. Tergantung dengan keinginan hatinya saat itu. Jawaban apa yang memang ingin ia dengar. Biasanya membuat orang lain gemas sampai geram dengan tingkah lakunya itu. Tapi disitulah kelebihan Achi Na Ochi. Tidak akan ada orang dewasa yang tega memarahi kejahilannya.

 “Nih tebak ya, pagi-pagi sekali HIDUP berkunjung ke kabinku. Padahal Achi Na Ochi masih tidur. HIDUP mau numpang sarapan roti. Nah Achi Na Ochi kebetulan punya tiga toples, toples pertama isinya selai strawberry, toples kedua ada mentega, toples ketiga ada parutan keju. Pertanyaannya adalah apa yang akan Achi Na Ochi buka lebih dulu?”

“Ada tiga toples ya? Selai strawberry, mentega dan parutan keju.” Gadis bermata sendu itu terlihat berpikir. “Ummm.... yang Achi Na Ochi buka pertama kali ya?”

Achi Na Ochi mengangguk sambil membuka toples berisi manisan rumput laut. Aku yang memerhatikan dari balik meja kasir ikut penasaran. Kira-kira jawaban apa yang akan dipilih oleh HIDUP.

  “Toples selai strawberry?”

Hahaha salah telak. Tebakan itu pernah Achi Na Ochi tanyakan kepadaku ketika sedang asyik memancing dengan Anu Manu Ochi, kakaknya. Aku tahu jawabannya. Ketiga toples itu hanyalah pengalihan.

Achi Na Ochi menggeleng sambil tetap sibuk mengunyah. Sekitar mulutnya belepotan.

“Umm....Achi Na Ochi akan membuka pintu.” Gadis bermata sendu itu masih mencoba menebak.

Ups! Sayang sekali nona kamu masih salahBagaimana mungkin Achi Na Ochi bisa membuka pintu kalau dia tadi bilang masih tidur.        

“Ooooh... aku tahu Achi Na Ochi akan membuka mata yaaaaa. Kan ceritanya masih tidur.” Ujar gadis bermata sendu itu kemudian, seperti bisa membaca pikiranku.

Bingo! Kataku dalam hati. Tebakanmu sama dengan jawaban Achi Na Ochi waktu itu.

“Masih salah.” Achi Na Ochi tetap menggeleng. Mulutnya makin penuh manisan rumput laut.

“Lho? Terus apa dong?” Gadis bermata sendu itu mengerutkan dahi. Bukannya jawabannya yang satu ini lebih masuk akal? Mungkin begitu yang ada dipikirannya.

Aku sih tidak heran kalau anak yang suka tertawa itu masih saja menggeleng. Itu artinya membuka mata bukanlah jawaban yang sedang ingin dia dengar.

“Akunya suka kebluk[1] kalau lagi tidurjadi waktu HIDUP mau numpang sarapan pagi itu. Achi Na Ochi tidak bangun. Jadi jawabannya tidak ada yang Achi Na Ochi buka. Hahahaha....”

Tuh kan benar apa yang aku bilang. Hahaha... aku jadi ikut menyeringai melihat gadis bermata sendu itu melongo mendengar jawaban Achi Na Ochi. Tidak lama kemudian keduanya tertawa bersama. Gadis bermata sendu itu baru sadar kalau sedang dikerjai. Achi Na Ochi tambah tertawa ketika mulai dikelitiki perutnya.

Oh.... Tuhan demi melihat gadis bermata sendu itu tertawa, rasanya aku bahagia sekali. Ternyata HIDUP bisa tertawa lepas juga toh? Dikira hanya murung terus-terusan merenung ketika pukul lima sore sambil menatap kejauhan air laut.

Oh, Enyi Na Enyi apakah ini kesempatanku menghampiri gadis bermata sendu itu untuk meminta maaf? Mumpung ada Achi Na Ochi juga untuk bahan basa-basi. Pura-pura mau memberikan permen misalnya?

Tapi sayangnya seakan kakiku tertambat di belakang meja kasir itu. Takut kedatanganku bergabung ke meja nomor lima,  justru nanti merusak suasana bahagia HIDUP. Yang masih asyik bercanda gurau dengan Achi Na Ochi.

 Biarlah kesempatan itu lagi-lagi berlalu begitu saja. Saat ini aku ingin menikmati pemandangan di depanku lebih lama. Melihat HIDUP yang lebih ceria.

Description: hhhhhh

Keesokan harinya aku sengaja menemui Achi Na Ochi ke kabinnya. Sekalian memang sudah janjian dengan Anu Manu Ochi, mau pergi memancing. Hari ini aku harus dapat ikan Hisan Iwo[2] untuk bekal berkunjung ke kabin Enyi Na Enyi. Agar nenek jompo itu lupa sejenak dengan pertanyaannya.

Hari ini aku harus bisa mengorek sedikit informasi tentang gadis bermata sendu itu dari Achi Na Ochi, di kabin mana ia selama ini tinggal? Sepanjang hari ke mana saja, kenapa baru terlihat di Cafepet hanya sore hari saja? Apa makanan kesukaannya? atau informasi apalah yang bisa membuat aku jadi lebih mudah meminta maaf pada sore nanti. Sebab, ketika aku mencari informasi di daftar update penduduk Kota Amashiri, nama HIDUP masih belum tertera.

Tekhnologi di zaman ini sudah amat canggih, mudah sekali mendapat informasi tentang siapa saja yang sedang berada di kota setempat. Kau tinggal buka telepon genggammu, ketik nama yang ingin kau tahu informasinya, dari mulai tempat tinggal, tanggal lahir dan sebagainya. Sampai berapa lama waktu berkunjung kalau orang itu hanya singgah dari kota lain, dalam artian bukan penduduk asli kota. Kalau sudah ketemu, kau bisa kirim pesan atau kontak langsung ke orang yang bersangkutan. Tanpa perlu invite atau add ke daftar kontak telepon genggammu lebih dulu.

Seharusnya mudah mencari informasi tentang gadis itu, sebab setiap pengunjung yang bertamu ke Kota Amashiri ini harus melapor ke kantor walikota terlebih dahulu. Tapi ini aneh, semalam aku berkutat mencari daftar nama, tapi tidak ada nama HIDUP di sana. Masa iya gadis itu tidak melapor padahal sudah hampir seminggu berada di Kota Amashiri ini? 

“UDARA harus menjawab tebakan Achi Na Ochi dulu.”

Ah, sudah kuduga, tidak akan mudah mendapatkan informasi dari anak jahil satu ini.

“Nih ya, tebak.” Kata Achi Na Ochi sebelum aku menyetujui syaratnya atau tidak.

Onyeisi Oche kan punya anak lima. Walikota itu baru dapat oleh-oleh lima jeruk yang dibawanya pakai keranjang. Setiap anak masing-masing dapat satu jatah. Tapi ternyata masih ada satu jeruk yang tertinggal di keranjangnya. Kenapa bisa begitu?” 

“Beneran nih kalau aku bisa jawab, Achi Na Ochi mau kasih informasi?” aku bertanya sambil mulai memikirkan jawabannya.

“Tergantung UDARA bisa jawab atau tidaknya.” Achi Na Ochi menjulurkan lidah.

 Ah, seharusnya dari awal aku sudah bisa menduga akan seperti ini jadinya. Sekarang aku jadi penasaran sendiri kenapa satu jeruk itu masih tertinggal di keranjang. Padahal jumlah jeruk dan anaknya itu sama-sama lima.

“Woy UDARA cepatlah, kalau keburu terik mana bisa dapat Hisan Iwo.”  Anu Manu Ochi mulai meneriaki di geladak kapal. Rupanya aku sudah cukup lama ‘terjebak’ dengan adiknya itu setelah mengatakan ‘sebentar’ tadi.

“Ah tidak jadi ah nanya-nanyanya. Lebih seruan mancing daripada meladeni anak jahil seperti kau.” Kataku menoel hidung Achi Na Ochi “Dadaaah....”

Yaaaaah, UDARA payaaaaaaaaaaaaaaaah....” Achi Na Ochi jadi sebal sendiri karena tebakannya tidak aku ladeni.

Aku tertawa melihat perubahan wajah kecewanya. Lalu menepuk Anu Manu Ochi “Ayo berangkat.”

Sepanjang perjalanan menuju tempat memancing favorit kami, aku terus-terusan memikirkan cara basa-basi yang tepat nanti sore. Kepikiran pula alasan apalagi yang aku utarakan ke Enyi Na Enyi karena belum memenuhi permintaannya untuk meminta maaf kepada gadis bermata sendu itu. Ah sial, tebakan dari Achi Na Ochi juga ikut-ikutan berseliweran di kepala.

“Eh Anu Manu Ochi, apa kau pernah meminta maaf kepada seorang gadis?” iseng aku bertanya sambil melemparkan kail.

“Eh? Mana ada aku ketemu gadis di kota terapung ini? Kenapa pula kau tiba-tiba menyinggung soal gadis? Gadis mana? Siapa? Kenapa kau tidak kenalkan kepada kawanmu ini?”

Aduh, aku mengeluh dalam hati. Kenapa pula aku tanyakan kepada Anu Manu Ochi soal masalahku itu? kalau adiknya terkenal suka sekali tertawa. Lain hal dengan kakaknya, Anu Manu Ochi itu suka sekali bertanya dan serba ingin tahu orangnya. Akan banyak deretan pertanyaan kalau ada yang membuat ia penasaran. Dan kadang itu menyebalkan sekali.

“Ah, tidak, lupakan saja.” Kataku memandang kejauhan. Umpan di kail kami belum juga mengundang perhatian ikan-ikan.

“Ah, tidak bisa begitu kawan, apa yang sudah kau utarakan, kau harus ceritakan. Kita kan berkawan sudah lama, masa masih ada rahasia-rahasia segala.” Anu Manu Ochi  protes keberatan. Ia melempar kail lebih jauh.

“Nanti aku ceritakan kalau sudah lengkap ceritanya. Kau kan tidak suka cerita yang setengah-setengah.” Kataku berdalih.

“Okelah suka-suka kau saja. Tenang saja apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap membela kau. Itukan artinya teman.” Anu Manu Ochi mengulang lagi kata-kata favoritnya itu. aku sudah hafal kalimatnya. Karena selalu ia singgung kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apa saja.

 Haha... bagaimana pun Anu Manu Ochi memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki.

“Oh iya, kenapa untuk mengganti nama Ka Mmiri Ngwa Ngwa kau mudah sekali menemukan nama yang cocok untuknya, UDARA? Sedangkan untuk mengganti namaku kau belum juga dapat?”

Ups!

Ini lagi yang dibahas. Sudah sepekan ini Anu Manu Ochi memang ribut minta dicarikan padanan kata yang pas dari buku kuno yang selalu aku baca. Sebenarnya bukannya aku kesulitan. Tapi sungguh kalau seandainya saja ia tahu arti Anu Manu Ochi dalam bahasa yang dipakai di Tanah Surga itu. Aku yakin ia akan terjun bebas ke dasar sungai karena frustasi.

Kalau kalian ingin tahu, Anu Manu Ochi artinya itu, hewan yang suka sekali tertawa. Nah lho? Burung beo dong? Apa burung Sirit Uncuing yang suka di mitoskan sebagai tanda akan ada orang yang meninggal. Hahaha.... malang niat sahabatku itu. 

“Lagian kenapa kau jadi ikut-ikutan harus ganti nama sih? DERAS saja masih ribet mengurusnya di pusat kota. Walikota keberatan. Katanya harus merubah banyak hal blablabla...”

“Ya biar keren saja seperti namamu itu loh.”

“Nama Anu Manu Ochi memang masih kurang keren apa coba?”

Sungguh kawan nama itu keren sekali kalau kau tahu. Aku menahan ketawa.

Description: hhhhhh

Sore harinya malapetaka itu datang lagi, sudah kena omel Enyi Na Enyi karena ketahuan belum meminta maaf. Ditambah aku hampir saja kehilangan muka. 

                “Kau tahu UDARA, semakin lama membiarkan hati seorang gadis terluka. Kau pasti akan lebih kelimpungan nantinya. Gadis itu pengingat yang baik soal janji dan kepastian. Sekaligus pendendam yang ulung ketika perasaannya sudah dibuat tidak nyaman.” Lagi-lagi Enyi Na Enyi menakolkan tongkat plastiknya, geram benar denganku. Dua ekor ikan Hisan Iwo besar yang aku bawa sebagai oleh-oleh seakan tidak berarti apa-apa.

                Sepanjang kembali ke Cafepet aku terus kepikiran kata-kata Enyi Na Enyi. Kalau diingat-ingat aku kan tidak punya janji apa-apa, apalagi harus memberikan kepastian. Enyi Na Enyi kenapa jadi berlebihan begitu menasihatiku? Pendendam yang ulung? Memang aku sudah melakukan apa? Menertawakan namanya kan itu ketidaksengajaan. Spontanitas. Mana aku bisa prediksi kapan mulut ini akan tertawa atau tidak kalau sedang ada hal yang memang lucu.

                Tapi kenapa pula aku terus memikirkan soal itu, ya? Apa karena aku tidak ingin dibenci oleh gadis bermata sendu itu? Ah, aku kan belum terlalu mengenalnya juga. Entahlah.... situasi seperti ini benar-benar menyebalkan.

                Sesampainya di cafepet, ketika baru saja menongolkan kepala setelah membuka pintu. Tiba-tiba aku ingin sekali rasanya memakan bulat-bulat anak nakal itu.

                “Itu dia orangnya, HIDUP. Tadi pagi UDARA menanyakan tentangmu.” Tanpa tedeng aling-aling Achi Na Ochi berteriak.

                “Wah, kau sedang jatuh cinta rupanya, UDARA?” salah satu pengunjung yang aku kenal malah menambahkan.

                “Wow, sore ini makin tambah seru dong.” Yang lain ikut-ikutan menimpali. “Gadis mana yang kau taksir, UDARA? Malang benar gadis itu.”

Spontan saja pengunjung cafepet yang entah kenapa sedang ramai sekali sore itu tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang tiba-tiba pias. Malah ada yang tertawa terpingkal sampai memukul-mukul meja. Aku menyeringai pura-pura tidak peduli, melangkah menuju dapur. Padahal hati deg-degan sekali, kira-kira apa reaksi gadis bermata sendu itu mendengar hal konyol tadi. Langkahku jadi lesu ketika kulihat dia malah membuang muka ke arah lautan. Bisa-bisa dia tambah mengkal kepadaku.

Sungguh mengambil keputusan menemui anak nakal itu tadi pagi, benar-benar malapetaka yang nyata.

“Hei, kau baru sampai UDARA? Ada apa tadi ramai sekali di luar? Rupanya menyambut kau, sudah macam ada pejabat saja yang datang.” DERAS menegurku. “Sudahlah kau siap-siap saja di meja kasir seperti biasanya, siapa tahu ada yang mau menambah menu. Hari ini akan ada pesta peresmian nama baruku. Hahaha.... Semua pengunjung cafepet, bebas makan sepuasnya.”

Pantas saja ramai. Aku menepuk jidat. DERAS sudah melangkah keluar tanpa menunggu komentarku. Bisa gawat kalau DERAS tahu juga soal tadi. Berita kecil saja selalu ia besar-besarkan.

Pesta sore itu benar-benar meriah. Semua bangku cafe telah penuh. Aku rasa DERAS tidak akan pergi ke mana-mana sampai malam hari. Itu artinya aku libur ditanya-tanya akan hujan atau tidak. Aku stand by di belakang meja kasir seperti biasanya. Tidak banyak yang pesan, karena semua hidangan dibuat prasmanan. Yang nambah tinggal berdiri mengambil sendiri.

Aku bersyukur sudah tidak ada lagi yang jahil menggodaku. Aku melirik ke tempat gadis bermata sendu itu. Selalu duduk di meja nomor lima seperti biasanya. Sedang tenggelam menikmati ritual yang sama. Menatap kejauhan ke luar jendela kapal. Hari ini ia terlihat anggun sekali, memakai sweter coklat dan rok hitam. Rambut hitamnya tetap tergerai indah.

Sepertinya hari ini pun akan gagal menghampirinya untuk meminta maaf. Kalau aku temui ia sekarang, pengunjung yang lain akan kembali ‘berisik’ menggoda. Mereka belum terlihat akan bubar soalnya.

Dan saat aku duduk bermalas-malasan saja di bangku kasir, mengasumsikan segala hal. Tiba-tiba aku kaget, gadis bermata sendu itu justru datang menghampiriku. Meletakkan bill pesanan lengkap dengan uangnya tanpa kata-kata. Biasanya ia akan meletakkannya di atas meja nomor lima. Atau menitipkannya kepada Achi Na Ochi yang saat ini entah sudah berada di mana.

Mungkin karena hari ini ramai benar, gadis bermata sendu itu memutuskan memberikan ke meja kasir. Agar tidak tercecer.

Gadis bermata sendu itu kemudian berlalu meninggalkan cafe. Jantungku benar-benar dag dig dug dibuatnya, ketika pandangan mata kami bertemu. Aku sudah ingin menyapa basa-basi, sekadar bilang terima kasih. Tapi lidahku kaku, karena melihat mata gadis itu sedang berkaca-kaca. Kenapa ia seperti sedang menahan air mata? Apa karena terganggu dengan kekonyolan tadi? Aku berbuat salah lagi, ya? Oh, sungguh Enyi Na Enyi kenapa malah jadi seperti ini? Apa ia akan dendam kepadaku seperti katamu tadi?

Description: hhhhhh

“Ya, Tuhan. Hendak kau usap dengan apa air yang terlanjur keluar dari mata seorang gadis, UDARA?” Itu tanggapan Enyi Na Enyi setelah aku ceritakan soal kejadian kemarin.

“Aku harus bagaimana sekarang, Enyi Na Enyi?” tanyaku putus asa.

“Masih pakai tanya, ya temui dia sekarang, MINTA MAAF segera.” Kata Enyi Na Enyi pedas. “Sudah-sudah pergi sana, jangan kembali sampai kau berhasil. Aku mau makan sendiri saja hari ini.” Enyi Na Enyi menutup pintu, mengusirku.

Aku melongo berdiri di depan pintu kabinnya. Memikirkan banyak hal, bagaimana caranya meminta maaf? Harus aku temui dia di mana? 

  Ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Pusing aku!



[1] Susah bangun

[2] Ikan bermutu tinggi.


@azurazie_

Juli 09, 2026

CERPEN : KUCING

"Kucing itu punya insting yang tajam, tahu mana orang asing yang memang suka mereka, mana yang tidak," katamu di sela-sela suapan makan siang kita. Aku masih sibuk mengunyah potongan otak-otak, sembari melirik seekor anak kucing yang tiba-tiba melendot manja di kakiku.

"Ah, masa? Itu bukannya insting, memang penciuman mereka saja yang peka. Kita kan sedang makan," kataku berasumsi, kini sisa gigitan otak-otak pindah alih menjadi jatah kucing itu.

"Ye, nggak percaya. Nanti aku buktikan, tanpa kita sedang makan pun, mereka akan berdatangan menghampiri kita," itu percakapan yang paling aku ingat tentangmu. Benar saja, di lain kesempatan, ketika kita sedang asyik membaca serial Supernova yang baru, tiba-tiba saja sekumpulan anak-anak kucing yang entah dari mana datangnya, mengeong menghampiri.

Kamu menyambut hangat mereka dengan usapan lembut. Aku seperti melihat sekumpulan anak kucing itu menemukan ibu asuhnya. Dan caramu berinteraksi memang kelihatan sekali menyayangi mereka.Itu sepotong kenangan yang membuat aku ikut menyukai kucing.

Anabul ini memang menggemaskan sekali. Apalagi jika habis terkena cipratan gerimis. Lucu sekali melihat mereka berjalan agak berjinjit, 'mengibrit-ngibrit' kan tangannya yang basah, lalu sibuk sekali menjilati bagian tubuhnya agar cepat kering. Kamu akan tertawa terpingkal kalau sedang menyaksikan momen itu. Meskipun tidak lama kemudian kamu sibuk mencari handuk kecil untuk membantu mengeringkannya.

Itu dulu, sebelum kamu pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Meninggalkan kenangan itu di sini, di tempatku kini berada. Lorong panjang, sepi, dan jika malam akan sedikit gelap. Dan setelah kejadian menyedihkan itu, entah kenapa setiap kali aku melewati lorong panjang ini, aku seperti ditemani oleh kumpulan kucing yang aku tak tahu dari mana datangnya. Ketika mulai gelap, pancaran bulat dari cahaya bola mata mereka lah yang menjadi penerang perjalananku, sampai di ujung lorong. Dan kembali mereka pergi entah ke mana.

Satu ekor yang warnanya paling menonjol dari yang lainnya. Warnanya oranye dengan loreng-loreng putih. Buntutnya panjang sekali, sampai-sampai ketika berjalan, ekor itu membentuk lingkaran sempurna di udara. Hmm, jika diperhatikan, kucing itu agak mirip dengan kucing yang kamu selamatkan dulu. Kucing yang hampir tertabrak motor ugal-ugalan, yang kamu selamatkan dengan nyawamu. 


@azurazie_

DOA MANA YANG DIDENGAR

Siang itu, selepas menunaikan shalat jum'at berjamaah. Aku memutuskan diam sejenak di dalam masjid. Masih lumayan banyak yang  bertahan di sana. Sebagian menunaikan shalat sunnah. Lebih banyak yang mengobrol atau bahkan tidur-tiduran saja.

Perhatianku tertuju kepada beberapa orang yang masih khusyu berdoa. Rasanya aku ingin mencuri dengar apa yang mereka pinta dalam doanya. Ada anak kecil di samping jendela menengadahkan tangan. Barangkali, di usianya itu belum banyak bendahara kata dalam doa-doanya. Paling juga yang ia rapal adalah doa untuk kedua orang tuanya. Doa yang diajarkan di  sekolahnya. Belum banyak tuntutan dalam hidupnya. Doa yang begitu polos tanpa tendensi apa-apa.

Lain hal dengan seorang pemuda dua langkah dari tempat duduk anak kecil tadi. Boleh jadi jauh lebih banyak kosa kata doanya. Sebanding dengan apa yang sedang ia resahkan dalam pikirannya. Tentang jodoh yang belum kelihatan kabar baiknya. Tentang rezeki yang berharap datang tak terduga, di tanggal-tanggal tua. Dan banyak tentang-tentang lainnya. Doa-doa itu penuh tekanan sana sini. Besar harapannya doa-doa itu cepat dikabulkan, agar sedikit berkurang beban dipikiran.

Lain hal lagi dengan doa-doa bapak-bapak yang ada di samping mimbar. Atau doa-doa pak tua di shaf kedua. Lebih dalam lagi makna doa-doanya.

Menarik sekali, aku bertanya-tanya, dari sekian banyak doa-doa itu menguntai ke udara, melewati kubah masjid dan terus menganak tangga menuju langit. Aku tidak tahu doa siapa yang lebih dulu didengar oleh-Mu? Pembendaharaan doa siapa yang lebih menarik perhatian-Mu? Aku benar-benar tidak tahu.

@azurazie_

Juli 06, 2026

BERUNTUNGLAH

Beruntunglah bagi mereka yang bisa shalat tepat waktu dengan berjamaah dalam 5 waktu. Mereka yang sungguh-sungguh mengejar keutamaan itu dan secara sadar berani meninggalkan sejenak kesibukan lainnya.

Apapun keadaannya.

Apapun kondisinya. 

Dan mereka sabar dalam menunaikannya.

Sebab, tidak semua diberi kesempatan itu. Dan sungguh hidayah itu amat mahal harganya.


@azurazie_

Juli 05, 2026

CERPEN : SIAPA YANG MEROKOK DI SINI?

  Siang itu salah satu whatsapp group riuh dengan hot news yang ada di kantor. Dengan pertanyaan yang serupa: Siapa yang dimaksud oleh pak Slamet? Dan dua puluh orang yang bergabung di dalam grup tersebut satupun tidak tahu akan jawabannya. 

“Coba bro @Deras bisa update? Kan tadi pagi kalian habis meeting bareng?” tanya Jamal bagian HR sambil tag namaku yang kebetulan telat membuka chat group dan sama sekali tidak menyimak apa yang sedang dibahas di sana. Karena aku memang baru sampai kembali ke kantor.

“Kalian bahas apa sih? Sorry baru sampai kantor.” Jawabku masih menyimak.

“Itu loh story wa pak Slamet, udah lihat belum bang @Deras?” kata Dian bagian team kreatif ikut menjelaskan. “Lagi heboh nih di ruangan team kreatif.”

Emang pak Slamet update status apa? Tumben. Pikirku. Karena setahuku Pak Slamet jarang sekali update status, kecuali saat moment-moment tertentu. Semisal hari libur Nasional. Itu juga hanya ikut membagikan template ucapan selamat yang dibuat tim kreatif. Semisal Selamat Hari Lahir Pancasila. Dan hari ini bukan momentnya.

Buru-buru aku buka history untuk mencari status pak Slamet yang dimaksud oleh rekan kerjaku. 

......................................................................................

“ATTENTION!

Bagi siapa yang masih suka MEROKOK di dalam TOILET UMUM. Kalau sudah tidak punya OTAK untuk BERPIKIR, minimal punya ETIKA untuk BERBUAT!!!”

......................................................................................

Waduh, aku ikutan penasaran siapa oknum yang dimaksud oleh pak Slamet. Tadi pagi aku memang mendampingi beliau ketemu client di luar. Tetapi kami tidak kembali ke kantor bersama, karena aku harus ke kantor cabang untuk mengurus alokasi minggu ini. Dan suasana meeting tadi pagi cukup kondusif.  

......................................................................................

“Bagi OKNUM yang dengan sengaja MEROKOK pada pukul sekitar 12.00 – 12.15 di dalam toilet bilik ke-2 gudang utama pada hari ini. Bila tidak ada i’tikad baik mengaku dan bertanggung jawab atas perbuatannya dalam 1x24 jam ke depan. DEMI ALLAH saya SLAMET RAHARJO tidak akan ridho atas perbuatannya dunia akhirat. Terima kasih.”

......................................................................................

Aku menghela napas saat selesai membaca status pak Slamet yang kedua. Pantes saja di grup tadi heboh sekali. Rupanya ini memang serius. Kenapa begitu? Pak Slamet ini salah satu atasan kami yang orangnya terkenal sangat santun, bijaksana dan sabar sekali orangnya. Dan hampir semua karyawan di sini pernah dibantu oleh beliau, karena memang ringan tangan dan baik sekali ke semua orang. Baik dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan urusan kantor maupun urusan pribadi kami.

Makanya kami sebagai bawahan ataupun rekan kerja beliau sangat berhati-hati agar tidak membuat orang sebaik beliau sampai marah. Bukan karena kami takut dimarahi, tetapi karena kami segan. Kami yang tahu diri untuk menjaga hal itu.

“Duh, kira-kira siapa ya yang berani-beraninya merokok di toilet kantor?” aku melemparkan pertanyaan serupa di grup.

“Ye... telat banget ini orang.” Jamal menggerutu.

“Hahaha.... kita mah lagi nungguin update dari Mas @Deras malah nanya balik.” Kata Ryan bagian kreatif.

Aku menyeringai. 

“Kayaknya, supir pengiriman deh, pak. Hari ini kan toilet di gedung gudang lagi diperbaiki. Jadi sopir-sopir pada ke gedung utama.” Kata Dimas bagian kasir sales menimpali.

“Tolong bilangin ke satpam yang jaga ya, @Dimas. Sopir arahin ke toilet kantin aja untuk sementara. Jangan ke gedung utama.” Kataku mencari solusi terbaik. “Nanti saya coba diskusi ke Pak Slamet juga deh.”

“Baik pak @Deras saya langsung ke pos satpam.”

“Iya coba bro @Deras cari tahu, ditunggu updatenya hehe....” Jamal menimpali lagi.

“Thanks @Dimas. Siap bos @Jamal delapan enam.”

***


Setahuku pak Slamet bukan type yang intoleran terhadap perokok. Selagi memang pada tempatnya. Karena beliau pernah cerita dulu juga sempat menjadi perokok aktif ketika masih muda. Tetapi Alhamdulillah sudah bisa berhenti untuk mengkonsumsi nikotin itu tiga tahun ke belakang. Dan sudah lumrah juga, di setiap perusahan pasti akan lebih banyak perokok aktif dibanding dengan yang tidak merokok. Apalagi perusahan kami sebagai perusahaan distributor memang setiap harinya akan banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk mengambil barang ataupun dari ekpedisi pengiriman.

Maka, jika sampai beliau membuat status seperti itu, ini artinya memang sudah keterlaluan. Dan aku makin penasaran untuk mendengar cerita lengkapnya dari beliau. Maka, aku putuskan untuk langsung menemui beliau di ruangannya, kebetulan memang ada report yang harus aku setorkan sore ini. 

“Permisi, Pak.” Aku mengetuk pintu dengan sopan, setelah memastikan pak Slamet memang ada di ruang kerjanya.

“Oh, Deras, masuk.” Pak Slamet dengan ramah mempersilakan masuk sembari jemarinya tetap sibuk mengetik di atas keyboard. “Gimana alokasi minggu ini, aman?”

“Alhamdulillah, pak proposenya sudah dibuat sesuai estimasi yang tadi pagi kita bahas.” Aku menyodorkan laporan.

“Mantap. Seharusnya bulan ini kita bisa growth lebih dari bulan lalu. Semoga lancar ya.”

Aku mengangguk setuju.

“Pak Slamet tumben bikin status, pak. Hehe... “Tanyaku tanpa basa-basi.

“Kenapa? Status saya bikin heboh, ya?” Pak Slamet menyeringai.

“Bukan heboh lagi pak, tapi gempar se perusahaan ini.” Kataku mengkonfirmasi apa yang sedang menjadi hot news.

“Iya tadi pak Andre sampai nelpon saya. Dikira saya ada apa, taunya cuma nanya saya apa baik-baik saja, habis itu beliau basa-basi menyinggung status saya.” Pak Slamet menghela napas teringat tadi atasannya menelepon.

 “Bayangin aja, Deras. Saya buru-buru kembali ke kantor setelah meeting tadi. Karena sudah kebelet, eh pas sampai sini toiletnya ngebul. Macam habis ada yang bakar sampah. Nggak ada etikanya itu orang.”

“Waduh, parah, pak.” Kataku mengiyakan kalau memang perbuatan tersebut benar-benar tidak beretika. Apakah oknum yang merokok tersebut sampai tidak bisa menunda kebutuhannya ya, sampai di dalam toilet pun yang notabene-nya sebagai tempat yang tidak baik untuk makan, ia tidak bisa bersabar sebentar. Itupun kalau rokok bisa dikategorikan sebagai makanan. 

“Saya sudah minta team GA untuk cetak spanduk denda larangan merokok di lingkungan kerja, pak. Termasuk toilet dan kantin dalam. Yang diperbolehkan hanya di luar gerbang kantor atau di area kantin luar.” Kataku memberi laporan.

“Sip, bagus tuh. Meskipun saya membuat status bukan bermaksud untuk itu.  Hmm... sebagai makhluk sosial, seharusnya kita semua punya yang namanya etika dasar dalam bersosialisasi. Tanpa harus dibuat larangan ini atau larangan itu. Tidak dibebani dengan denda ini dan denda itu apabila melanggar. Karena sebagai manusia seharusnya kita punya kesadaran diri untuk menjaga lisan maupun perbuatan kita agar tidak mengganggu atau bahkan merugikan orang lain. Kalau sampai orang lain tidak ridho dengan perbuatan kita bagaimana? Berat loh konsekwensinya jika tidak dapat maaf dari yang bersangkutan.” 

“Masya Allah, betul sekali, Pak. Hal itu yang sering banget kita abaikan.” Kataku menggangguk setuju.

“Karena hidup ini adalah rangkaian sebab-akibat. Jangan-jangan hari ini kita merasa susah, lagi sial, tiba-tiba dapat kemalangan, itu gara-gara rasa kesal orang lain yang tidak sengaja kita buat susah duluan. Yang udah kita buat hidupnya tidak nyaman karena perbuatan kita. Jangan-jangan doa mereka yang lebih dulu didengar. Dan Allah Maha Adil untuk membalaskannya.”

“Tapi Pak Slamet sudah tahu kira-kira siapa yang siang tadi merokok di toilet?”

“Allah yang Maha lebih Tahu.” Pak Slamet tersenyum mengakhiri diskusi.

Aku kembali ke meja kerja dengan membawa peringatan untuk diriku sendiri. Agar lebih berhati-hati dalam berbuat, dan lebih bijak dalam berucap.

***

“Gimana bro @Deras udah ada update belum?” Jamal kembali tag namaku di grup.

“Duh, semoga aja selamat dunia akhirat dah tuh orang. hehe....” kataku menimpali.

“Waduh.”


@azurazie_

TUAI


Hidup ini tentang rangkaian sebab-akibat.

Bila harimu terasa berat, mungkin ada perbuatanmu yang menyulitkan orang lain.

Bila malang seolah sedang datang bertubi-tubi. Mungkin kau lupa meringankan urusan orang lain. Atau jangan-jangan masih ada hak mereka yang sengaja kau tunda?

 Janji utang yang tidak kau tunai, kelak akan kau tuai.

@azurazie_

Juli 04, 2026

CERBUNG PUKUL 5 SORE : KELAHIRAN

Enyi Na Enyi. Adalah orang kedua yang sangat aku segani setelah DERAS. Usianya sudah lebih dari seratus tahun. Setiap perkataannya selalu aku dengar. Nasihatnya selalu aku patuhi.

                Setiap hari, sebisa mungkin aku mengunjungi kabin nenek itu. Berjam-jam mendengarkan cerita masa mudanya yang penuh petuah bijak. Sebelum ceritanya usai, aku pastikan tidak akan beranjak.

                “Kau baik sekali UDARA, selalu menjenguk nenek jompo ini.” Katanya, ketika menyambut kunjungan rutinku.

Aku hanya menyengir. Justru aku selalu merasa rindu berkunjung ke sini. Tadi aku sempat membungkus azu ope dari cafepet. Memanjakan perut dengan Enyi Na Enyi selalu menyenangkan. Nafsu makanku seperti bertambah berkali-kali lipat.

“Wah harum sekali sop ikan ini.” Katanya sambil tertawa senang. “Sebentar aku siapkan efere-nya dulu. Kau tentu ke sini mau menemani nenek jompo ini makan, kan?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba saja aku benar-benar merasa lapar.

Tidak selang lama Enyi Na Enyi membawa dua piring yang terbuat dari plastik. Dan teko berisi teh panas. Kami pun sudah siap menyantap azu ope yang aromanya sejak tadi menggugah selera.

Tempo hari kau ingin tahu kenapa diberi nama UDARA. Apa hal itu masih mengganggu pikiranmu?”

Aku manggut-manggut. Sebenarnya aku sudah makin terbiasa menyandang nama aneh itu. Tapi mendengar cerita  Enyi Na Enyi mana bisa aku tolak. Ditambah aku menemukan fakta baru kalau ternyata ada seorang gadis yang memiliki nama lebih aneh dariku.

HIDUP, si gadis bermata sendu. Sedang apa dia sekarang, ya? Tiba-tiba saja aku memikirkannya.

 “Kau tahu UDARA? ibumu itu termasuk perempuan yang tangguh semasa hidupnya. Perempuan yang tidak mudah menyerah. Aku kenal benar, karena aku berkawan karib dengan nenekmu. Dan ikut membesarkan ibumu itu.” Enyi Na Enyi memulai ceritanya.

Aku mengangguk, aku tahu cerita-cerita tentang ketangguhan ibuku itu.

“Ketika masa-masa kau segera lahir ke dunia ini, aku tidak tahu harus menganggap kau sangat beruntung atau justru malang sekali. Saat itu, di Pulau Alaasato sedang terjadi kepanikan. Walikota sudah memberi intruksi seluruh penduduknya untuk bersiap-siap. Tanah kelahiranmu itu adalah salah satu titik yang dilalui oleh angin GALE. Yang rutin datang setiap tahun.”

“Ketika penduduk yang lain sedang bersiap-siap mengungsi, perut besar ibumu justru sedang berkontraksi. Rupanya kau sudah ingin lahir saat itu. Ibumu bersikeras tidak ingin mengungsi dari kota, ia ingin anaknya lahir normal di tanah kelahirannya sendiri. Dan kau tahu UDARA? Aku rasa ibumu adalah perempuan paling keras kepala yang pernah aku kenal. Bayangkan saja, di umurku yang sudah sepuh ini, sudah berpuluh-puluh kali aku harus mengalami kedahsyatan angin GALE. Dan aku tahu benar bagaimana situasi kota sehabis ditubruk oleh angin itu. Hancur porak-poranda. Tidak ada bangunan yang mampu berdiri bertahan. Dan ketika melihat keteguhan hati ibumu itu aku yang tadinya takut, malah ikut bertahan.”

“Beruntung ayahmu selalu siaga memenuhi kebutuhan istrinya. Ketika aku membantu ibumu melahirkan, ayahmu berjaga-jaga di depan pintu. Untuk memastikan tidak ada puing-puing bangunan atau pohon besar yang menerjang tempat ibumu berbaring.”

“Saat itu, aku sama sekali sudah tidak memikirkan nasibku yang masih bertahan, padahal dari kejauhan aku tahu angin GALE itu sedang memburu. Siap menerjang apa saja. Yang aku pikirkan hanyalah keselamatan ibumu dan anak yang akan dilahirkannya.”

“Ketika laju angin GALE hampir menghantam rumah kecil itu, tinggal beberapa menit saja. Akhirnya kau lahir. Tapi anehnya, tidak seperti anak-anak lain yang ketika lahir langsung menangis. Kau justru malah bersin. Mungkin ada debu yang masuk ke hidungmu. Setelah itu kau baru menangis kencang. Ayahmu yang mendengar tangisan anaknya, langsung menyeruak masuk. Menggendongmu. Ia angkat tinggi-tinggi anak laki-laki itu. Lupa dengan tugasnya menjaga pintu dari terjangan apa saja yang membahayakan.”

“Kau tahu UDARA? Aku mengembuskan napas lega untuk dua hal saat itu. Pertama, karena kau lahir dengan normal dan ibumu selamat setelah berjuang melahirkanmu. Yang kedua, aku benar-benar lega, entah keajaiban dari mana. Angin GALE itu seperti membelah diri, hanya bagian kiri dan kanan rumah ibumu saja yang rusak dihantamnya. Bagian tengahnya masih utuh. Ruangan yang tadi ditempati ibumu berbaring. Aku bisa melihat kerusakan-kerusakan di sekitar rumah ibumu itu. Keberadaan Tuhan memang nyata adanya.”

“Saat itu ayahmu sudah ‘gila’ dengan ambisinya menemukan Tanah Surga. Ia langsung saja membuka buku kuno yang setiap hari  dipelajarinya. Sambil tetap menggendongmu.”

“Ah ini dia..... UDARA..... UDARA.... anak laki-lakiku bernama UDARA. Katanya, sambil berteriak memberi tahu penduduk lain yang mendatangi rumah ibumu. Memastikan kami yang tidak menghiraukan ultimatum walikota untuk mengungsi apa masih selamat atau tidak. Orang-orang yang mendengar ayahmu menyebut nama anehmu itu kebingungan. Maksudnya apa? Tapi setelah mereka mendengar tangisanmu yang kencang sekali saat itu. Mereka bersyukur terharu, ketakutan selama menghadapi angin GALE seakan lenyap begitu saja. Semua penduduk Pulau Alaasato bergembira karena bertambah satu jiwa penduduknya. Hari itu memang spesial sekali, hari menjelang pergantian tahun yang amat sangat menegangkan.”

“Nah itulah asal-muasal kenapa kau dinamakan dengan nama UDARA. Nama aneh yang penduduk Pulau Alaasato baru pertama kali dengar.” Enyi Na Enyi mengakhiri ceritanya.

“Hahaha... kenapa kau malah terdiam begitu UDARA?” Tegur Enyi Na Enyi. “Apa kau jadi kepikiran asal-usul nama gadismu itu?”

Aku terkejut, Enyi Na Enyi selalu saja telak mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Aku menyengir tanda membenarkan tebakannya.

  “Siapa kemarin namanya? Ah iya, HIDUP. Sudah pasti dia juga punya cerita menarik tentang asal-usul namanya itu. Setiap nama manusia memang punya sejarahnya masing-masing. Minimal sejarah tentang harapan kedua orang tuanya. Doa-doa mereka yang terangkum pada sebuah nama anaknya.”

Aku mengangguk, sambil meneguk teh.

“Kalau kau ketemu nanti, kau tanya saja.”

Aku hampir keselek mendengar usulan Enyi Na Enyi.

“Meskipun seorang perempuan tidak akan mudah menceritakan rahasia kecilnya kepada laki-laki asing. Tapi, aku rasa dia mau menceritakannya kepadamu.”

“Apa Enyi Na Enyi tahu banyak tentang Tanah Surga?” Buru-buru aku mengalihkan topik pembicaraan.

“Tentu saja aku tahu. Jangan remehkan nenek jompo ini yang sudah kenyang hidup.” Enyi Na Enyi bergurau. “Tapi tidak akan aku ceritakan hari ini. Aku lebih tertarik mendengar ceritamu tentang gadis itu.” Enyi Na Enyi tertawa.

Aku nyengir sambil menggaruk kepala. Kenapa juga mulut ini kemarin tidak tahan kalau tidak menceritakan tentang gadis bermata sendu itu kepada Enyi Na Enyi.

Description: hhhhhh

@azurazie_

Juli 01, 2026

CERPEN : BAN KOTAK?

Siang itu, ketika matahari sedang terik-teriknya, lagi-lagi aku mendapatkan ‘bonus’ di pinggir jalan. Jatah ban bocor sebagai salah satu pengguna jalan. Mau tak mau aku harus mendorong motorku untuk mencari jasa tambal ban. Yang untungnya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Dan bertambah lega juga karena melihat tempat ‘dokter spesialis ban luar-dalam’ itu ternyata bersebelahan dengan warung. Tentu saja, kegiatan dorong-dorong motor di siang bolong itu butuh asupan minuman segar pelega tenggorokan.

Ketika baru saja sampai di lokasi, ternyata nasib malangku ada temannya. Dari arah yang berlawanan, seorang gadis sedang menuntun motor matic-nya. Wajahnya memakai masker. Motorku sampai beberapa detik lebih dulu dari motornya. Setelah meminta tolong untuk mengeksekusi ban dalamku yang bocor, aku duduk sejenak untuk sekadar menormalkan ritme pernapasan.

“Motornya kenapa, Neng?” tanya bapak pemilik bengkel. Sejenak mengacuhkan motorku.

“Minta ditambah anginnya saja, Pak,” gadis itu menjelaskan tujuannya. "Yang belakang."

Aku ikut menyimak.

“Wah, ini mah bocor, Neng, harus ditambal. Sebentar ya, Bapak nambal motor si Aa-nya dulu.”

“Tidak apa-apa, Pak. Motor matic-nya dulu saja.” Kataku menawarkan.

“Tidak apa-apa, nih, A? Kan tadi sampai duluan dari si Neng-nya?” tanya bapak pemilik bengkel memastikan.

“Iya, Pak. Saya lagi tidak buru-buru kok.” Kataku meyakinkan.

Gadis itu sekilas melihatku, tapi tidak mengucapkan basa-basi apa-apa. Ia malah menuju mesin pendingin warung. Ah, sepertinya aku juga harus mengambil minuman dingin, tapi nanti dulu deh kalau gadis itu sudah selesai transaksinya.

Aku memperhatikan kinerja bapak pemilik bengkel yang sangat telaten. Aku taksir ia menggeluti bidangnya itu sudah lebih dari dua tahun. Atau bahkan lebih. Aku pernah bertanya ke bapak penambal ban di lampu merah sana, malahan sudah mau sepuluh tahun jadi penambal ban. Entah sudah berapa r ratus ban motor yang ia tambal. Sebanding dengan berapa banyak pengguna jalan yang merasa tertolong karena jasanya itu. Waktu yang cukup lama untuk bertahan di satu bidang yang sama. Apa tidak bosan, ya?

Ketika aku sedang mengecek hp, tiba-tiba gadis itu menyodorkan sebotol minuman. Tanpa kata-kata. Aku mendongak melihat wajahnya, yang kini tanpa masker. Maksudnya apa? 

“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia mendahulukan kepentingan perempuan asing,” katanya panjang lebar.

“Oh... terima kasih juga.” Kataku meraih minuman itu. Menghargai pemberiannya. Ia duduk di bangku sebelahku, mulai menikmati minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Ban memang bulat, lingkaran bentuk paling bisa diandalkan untuk melajukan kendaraan. Tapi kalau kempes, sama saja, ia jadi tidak berdaya juga.” Gadis itu mulai berbicara panjang lebar lagi.

Aku menyeringai, apa ia selalu begitu kalau sedang berbincang dengan orang lain? Terlebih orang asing?

“Ya, kalau kotak malah tidak bisa dipakai jalan ke mana-mana.” Aku basa-basi menimpalinya. Garing banget, ya? Mana ada coba ban kotak?

“Ban luar memang bulat, kuat, bisa menghalau jalan keras sekalipun. Kerikil-kerikil tajam dilewati juga. Tanah berlumpur pun bisa dihadapi. Tapi kalau sudah tertusuk benda tajam, walaupun kecil, dan tembus sampai dalam. Nyatanya ia tidak berdaya juga.”

“Sepertinya memahami banget soal ban?” Aku menoleh mencoba bergurau.

“Ah, tidak juga.” Gadis itu menenggak habis minumannya. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Manusia juga seperti halnya ban. Tubuhnya memang kuat menahan segala beban. Tapi kalau hatinya sudah tersentuh... manusia juga ikut jadi tak berdaya.”

“Lho? Kok jadi menyinggung soal hati?” Aku spontan bertanya.

“Ah, tidak. Lupakan saja.” 

Gadis itu beranjak bangun. Motor matic-nya memang sudah selesai ditambal.

“Sekalian saja nanti biayanya sama motor saya, Pak.” Kataku, mengurungkan gerak gadis itu yang mengeluarkan uang dari dompet.

Ia menoleh ke arahku.

“Sebagai ucapan terima kasih karena percakapan menarik soal ban tadi.” Aku menyeringai.

“Oh.... terima kasih juga.”

Gadis itu memakai maskernya kembali.

“Boleh tahu namamu?” Kataku beranjak bangun. Ia berhenti sejenak.

“Deras.” Aku lebih dulu memperkenalkan diri.

Gadis itu mengeluarkan dompetnya lagi. Menyodorkan sebuah kartu nama. Aku menerimanya.

“Joko Suroto?” Aku mengerutkan dahi. Masa sih namanya Joko?

“Hubungi saja ayahku di nomor itu kalau ingin tahu nama anak gadis semata wayangnya.”

Gadis itu pamit mengucapkan terima kasih kepada bapak pemilik bengkel. Meninggalkanku yang hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil memandangi sebaris nama di kartu nama itu.

“Sudah datangi saja rumahnya, A. Terus lamar deh. Manis pisan tuh si Neng-nya tadi, seperti gula jawa.” Kata bapak pemilik bengkel bergurau. Aku hanya menyeringai mendengar usulannya.

@azurazie_