Semenjak bertemu dengan gadis bermata sendu itu aku jadi lebih rajin berlama-lama di cafepet. Datang satu jam lebih awal dari jadwal soreku biasanya. DERAS malah usil benar menggodaku.
“Anak muda memang sudah sewajarnya jatuh cinta. Hahahaha...” Katanya sambil menepuk bahuku.
“Hah? Apa?” kataku tidak mengerti.
“Halah tidak usah pura-pura denganku. Karena gadis murung itu kan?” DERAS menggerakkan kedua alisnya. Maksudnya itu alasanku yang belakangan ini jadi lebih rajin berada di belakang meja kasir.
“Gadis murung?” Aku pura-pura tidak mengerti maksudnya. Buru-buru berlalu.
Sejujurnya aku juga tidak tahu alasan sebenarnya apa. Jatuh cinta? Ah itu konyol sekali. Aku punya alasan yang jauh lebih masuk akal, karena perkataan Enyi Na Enyi saat pertama kali aku menceritakan tentang gadis bermata sendu itu.
“Ah kau lancang sekali UDARA. Laki-laki itu tidak boleh menertawakan apapun yang ada pada perempuan.” Kata Enyi Na Enyi sambil menakol kepalaku dengan tongkat plastiknya. Tanda kalau dia sedang berbicara serius dan tidak bisa dibantah. “Kau harus meminta maaf. Harus, UDARA.”
Ya, itu alasanku lebih rajin berada di cafepet ini. Lebih awal datang karena ingin bersiap-siap menyapa gadis bermata sendu itu. Sudah kubilangkan perkataan Enyi Na Enyi akan selalu kuturuti. Awalnya kukira basa-basi meminta maaf bakalan mudah, tapi ternyata sudah beberapa hari ini aku gagal untuk sekadar menghampirinya. Ia selalu membuang muka ketika melihatku. Apa segitu tersinggungnya, ya?
Membuat aku masih tidak punya jawaban ketika ditanya Enyi Na Enyi, sudah minta maaf apa belum? Kenapa kau bebal sekali cuma untuk meminta maaf.
Di hari kedua, aku melihat kesempatan yang lebih baik. Ketika mengetahui kalau ternyata Achi Na Ochi cukup dekat dengan HIDUP. Mereka berdua sedang asyik bercanda-ria di meja nomor lima.
Achi Na Ochi adalah anak kecil berusia enam tahun yang suka sekali tertawa. Bisa dibilang ia adalah ‘maskot’-nya Kota Amashiri. Setiap penduduk yang sedang berinteraksi dengannya akan selalu merasa lebih baik dalam suasana apapun. Seakan beban itu terangkat begitu saja. Keberadaan Achi Na Ochi yang jahil dan selalu tertawa menjadi obat tersendiri di kala hati sedang gundah, dikala orang-orang sedang bersedih.
Anak itu selalu bergurau dengan tebak-tebakan. Yang jawabannya suka semaunya sendiri. Tergantung dengan keinginan hatinya saat itu. Jawaban apa yang memang ingin ia dengar. Biasanya membuat orang lain gemas sampai geram dengan tingkah lakunya itu. Tapi disitulah kelebihan Achi Na Ochi. Tidak akan ada orang dewasa yang tega memarahi kejahilannya.
“Nih tebak ya, pagi-pagi sekali HIDUP berkunjung ke kabinku. Padahal Achi Na Ochi masih tidur. HIDUP mau numpang sarapan roti. Nah Achi Na Ochi kebetulan punya tiga toples, toples pertama isinya selai strawberry, toples kedua ada mentega, toples ketiga ada parutan keju. Pertanyaannya adalah apa yang akan Achi Na Ochi buka lebih dulu?”
“Ada tiga toples ya? Selai strawberry, mentega dan parutan keju.” Gadis bermata sendu itu terlihat berpikir. “Ummm.... yang Achi Na Ochi buka pertama kali ya?”
Achi Na Ochi mengangguk sambil membuka toples berisi manisan rumput laut. Aku yang memerhatikan dari balik meja kasir ikut penasaran. Kira-kira jawaban apa yang akan dipilih oleh HIDUP.
“Toples selai strawberry?”
Hahaha salah telak. Tebakan itu pernah Achi Na Ochi tanyakan kepadaku ketika sedang asyik memancing dengan Anu Manu Ochi, kakaknya. Aku tahu jawabannya. Ketiga toples itu hanyalah pengalihan.
Achi Na Ochi menggeleng sambil tetap sibuk mengunyah. Sekitar mulutnya belepotan.
“Umm....Achi Na Ochi akan membuka pintu.” Gadis bermata sendu itu masih mencoba menebak.
Ups! Sayang sekali nona kamu masih salah. Bagaimana mungkin Achi Na Ochi bisa membuka pintu kalau dia tadi bilang masih tidur.
“Ooooh... aku tahu Achi Na Ochi akan membuka mata yaaaaa. Kan ceritanya masih tidur.” Ujar gadis bermata sendu itu kemudian, seperti bisa membaca pikiranku.
Bingo! Kataku dalam hati. Tebakanmu sama dengan jawaban Achi Na Ochi waktu itu.
“Masih salah.” Achi Na Ochi tetap menggeleng. Mulutnya makin penuh manisan rumput laut.
“Lho? Terus apa dong?” Gadis bermata sendu itu mengerutkan dahi. Bukannya jawabannya yang satu ini lebih masuk akal? Mungkin begitu yang ada dipikirannya.
Aku sih tidak heran kalau anak yang suka tertawa itu masih saja menggeleng. Itu artinya membuka mata bukanlah jawaban yang sedang ingin dia dengar.
“Akunya suka kebluk kalau lagi tidur, jadi waktu HIDUP mau numpang sarapan pagi itu. Achi Na Ochi tidak bangun. Jadi jawabannya tidak ada yang Achi Na Ochi buka. Hahahaha....”
Tuh kan benar apa yang aku bilang. Hahaha... aku jadi ikut menyeringai melihat gadis bermata sendu itu melongo mendengar jawaban Achi Na Ochi. Tidak lama kemudian keduanya tertawa bersama. Gadis bermata sendu itu baru sadar kalau sedang dikerjai. Achi Na Ochi tambah tertawa ketika mulai dikelitiki perutnya.
Oh.... Tuhan demi melihat gadis bermata sendu itu tertawa, rasanya aku bahagia sekali. Ternyata HIDUP bisa tertawa lepas juga toh? Dikira hanya murung terus-terusan merenung ketika pukul lima sore sambil menatap kejauhan air laut.
Oh, Enyi Na Enyi apakah ini kesempatanku menghampiri gadis bermata sendu itu untuk meminta maaf? Mumpung ada Achi Na Ochi juga untuk bahan basa-basi. Pura-pura mau memberikan permen misalnya?
Tapi sayangnya seakan kakiku tertambat di belakang meja kasir itu. Takut kedatanganku bergabung ke meja nomor lima, justru nanti merusak suasana bahagia HIDUP. Yang masih asyik bercanda gurau dengan Achi Na Ochi.
Biarlah kesempatan itu lagi-lagi berlalu begitu saja. Saat ini aku ingin menikmati pemandangan di depanku lebih lama. Melihat HIDUP yang lebih ceria.

Keesokan harinya aku sengaja menemui Achi Na Ochi ke kabinnya. Sekalian memang sudah janjian dengan Anu Manu Ochi, mau pergi memancing. Hari ini aku harus dapat ikan Hisan Iwo untuk bekal berkunjung ke kabin Enyi Na Enyi. Agar nenek jompo itu lupa sejenak dengan pertanyaannya.
Hari ini aku harus bisa mengorek sedikit informasi tentang gadis bermata sendu itu dari Achi Na Ochi, di kabin mana ia selama ini tinggal? Sepanjang hari ke mana saja, kenapa baru terlihat di Cafepet hanya sore hari saja? Apa makanan kesukaannya? atau informasi apalah yang bisa membuat aku jadi lebih mudah meminta maaf pada sore nanti. Sebab, ketika aku mencari informasi di daftar update penduduk Kota Amashiri, nama HIDUP masih belum tertera.
Tekhnologi di zaman ini sudah amat canggih, mudah sekali mendapat informasi tentang siapa saja yang sedang berada di kota setempat. Kau tinggal buka telepon genggammu, ketik nama yang ingin kau tahu informasinya, dari mulai tempat tinggal, tanggal lahir dan sebagainya. Sampai berapa lama waktu berkunjung kalau orang itu hanya singgah dari kota lain, dalam artian bukan penduduk asli kota. Kalau sudah ketemu, kau bisa kirim pesan atau kontak langsung ke orang yang bersangkutan. Tanpa perlu invite atau add ke daftar kontak telepon genggammu lebih dulu.
Seharusnya mudah mencari informasi tentang gadis itu, sebab setiap pengunjung yang bertamu ke Kota Amashiri ini harus melapor ke kantor walikota terlebih dahulu. Tapi ini aneh, semalam aku berkutat mencari daftar nama, tapi tidak ada nama HIDUP di sana. Masa iya gadis itu tidak melapor padahal sudah hampir seminggu berada di Kota Amashiri ini?
“UDARA harus menjawab tebakan Achi Na Ochi dulu.”
Ah, sudah kuduga, tidak akan mudah mendapatkan informasi dari anak jahil satu ini.
“Nih ya, tebak.” Kata Achi Na Ochi sebelum aku menyetujui syaratnya atau tidak.
“Onyeisi Oche kan punya anak lima. Walikota itu baru dapat oleh-oleh lima jeruk yang dibawanya pakai keranjang. Setiap anak masing-masing dapat satu jatah. Tapi ternyata masih ada satu jeruk yang tertinggal di keranjangnya. Kenapa bisa begitu?”
“Beneran nih kalau aku bisa jawab, Achi Na Ochi mau kasih informasi?” aku bertanya sambil mulai memikirkan jawabannya.
“Tergantung UDARA bisa jawab atau tidaknya.” Achi Na Ochi menjulurkan lidah.
Ah, seharusnya dari awal aku sudah bisa menduga akan seperti ini jadinya. Sekarang aku jadi penasaran sendiri kenapa satu jeruk itu masih tertinggal di keranjang. Padahal jumlah jeruk dan anaknya itu sama-sama lima.
“Woy UDARA cepatlah, kalau keburu terik mana bisa dapat Hisan Iwo.” Anu Manu Ochi mulai meneriaki di geladak kapal. Rupanya aku sudah cukup lama ‘terjebak’ dengan adiknya itu setelah mengatakan ‘sebentar’ tadi.
“Ah tidak jadi ah nanya-nanyanya. Lebih seruan mancing daripada meladeni anak jahil seperti kau.” Kataku menoel hidung Achi Na Ochi “Dadaaah....”
“Yaaaaah, UDARA payaaaaaaaaaaaaaaaah....” Achi Na Ochi jadi sebal sendiri karena tebakannya tidak aku ladeni.
Aku tertawa melihat perubahan wajah kecewanya. Lalu menepuk Anu Manu Ochi “Ayo berangkat.”
Sepanjang perjalanan menuju tempat memancing favorit kami, aku terus-terusan memikirkan cara basa-basi yang tepat nanti sore. Kepikiran pula alasan apalagi yang aku utarakan ke Enyi Na Enyi karena belum memenuhi permintaannya untuk meminta maaf kepada gadis bermata sendu itu. Ah sial, tebakan dari Achi Na Ochi juga ikut-ikutan berseliweran di kepala.
“Eh Anu Manu Ochi, apa kau pernah meminta maaf kepada seorang gadis?” iseng aku bertanya sambil melemparkan kail.
“Eh? Mana ada aku ketemu gadis di kota terapung ini? Kenapa pula kau tiba-tiba menyinggung soal gadis? Gadis mana? Siapa? Kenapa kau tidak kenalkan kepada kawanmu ini?”
Aduh, aku mengeluh dalam hati. Kenapa pula aku tanyakan kepada Anu Manu Ochi soal masalahku itu? kalau adiknya terkenal suka sekali tertawa. Lain hal dengan kakaknya, Anu Manu Ochi itu suka sekali bertanya dan serba ingin tahu orangnya. Akan banyak deretan pertanyaan kalau ada yang membuat ia penasaran. Dan kadang itu menyebalkan sekali.
“Ah, tidak, lupakan saja.” Kataku memandang kejauhan. Umpan di kail kami belum juga mengundang perhatian ikan-ikan.
“Ah, tidak bisa begitu kawan, apa yang sudah kau utarakan, kau harus ceritakan. Kita kan berkawan sudah lama, masa masih ada rahasia-rahasia segala.” Anu Manu Ochi protes keberatan. Ia melempar kail lebih jauh.
“Nanti aku ceritakan kalau sudah lengkap ceritanya. Kau kan tidak suka cerita yang setengah-setengah.” Kataku berdalih.
“Okelah suka-suka kau saja. Tenang saja apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap membela kau. Itukan artinya teman.” Anu Manu Ochi mengulang lagi kata-kata favoritnya itu. aku sudah hafal kalimatnya. Karena selalu ia singgung kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apa saja.
Haha... bagaimana pun Anu Manu Ochi memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
“Oh iya, kenapa untuk mengganti nama Ka Mmiri Ngwa Ngwa kau mudah sekali menemukan nama yang cocok untuknya, UDARA? Sedangkan untuk mengganti namaku kau belum juga dapat?”
Ups!
Ini lagi yang dibahas. Sudah sepekan ini Anu Manu Ochi memang ribut minta dicarikan padanan kata yang pas dari buku kuno yang selalu aku baca. Sebenarnya bukannya aku kesulitan. Tapi sungguh kalau seandainya saja ia tahu arti Anu Manu Ochi dalam bahasa yang dipakai di Tanah Surga itu. Aku yakin ia akan terjun bebas ke dasar sungai karena frustasi.
Kalau kalian ingin tahu, Anu Manu Ochi artinya itu, hewan yang suka sekali tertawa. Nah lho? Burung beo dong? Apa burung Sirit Uncuing yang suka di mitoskan sebagai tanda akan ada orang yang meninggal. Hahaha.... malang niat sahabatku itu.
“Lagian kenapa kau jadi ikut-ikutan harus ganti nama sih? DERAS saja masih ribet mengurusnya di pusat kota. Walikota keberatan. Katanya harus merubah banyak hal blablabla...”
“Ya biar keren saja seperti namamu itu loh.”
“Nama Anu Manu Ochi memang masih kurang keren apa coba?”
Sungguh kawan nama itu keren sekali kalau kau tahu. Aku menahan ketawa.

Sore harinya malapetaka itu datang lagi, sudah kena omel Enyi Na Enyi karena ketahuan belum meminta maaf. Ditambah aku hampir saja kehilangan muka.
“Kau tahu UDARA, semakin lama membiarkan hati seorang gadis terluka. Kau pasti akan lebih kelimpungan nantinya. Gadis itu pengingat yang baik soal janji dan kepastian. Sekaligus pendendam yang ulung ketika perasaannya sudah dibuat tidak nyaman.” Lagi-lagi Enyi Na Enyi menakolkan tongkat plastiknya, geram benar denganku. Dua ekor ikan Hisan Iwo besar yang aku bawa sebagai oleh-oleh seakan tidak berarti apa-apa.
Sepanjang kembali ke Cafepet aku terus kepikiran kata-kata Enyi Na Enyi. Kalau diingat-ingat aku kan tidak punya janji apa-apa, apalagi harus memberikan kepastian. Enyi Na Enyi kenapa jadi berlebihan begitu menasihatiku? Pendendam yang ulung? Memang aku sudah melakukan apa? Menertawakan namanya kan itu ketidaksengajaan. Spontanitas. Mana aku bisa prediksi kapan mulut ini akan tertawa atau tidak kalau sedang ada hal yang memang lucu.
Tapi kenapa pula aku terus memikirkan soal itu, ya? Apa karena aku tidak ingin dibenci oleh gadis bermata sendu itu? Ah, aku kan belum terlalu mengenalnya juga. Entahlah.... situasi seperti ini benar-benar menyebalkan.
Sesampainya di cafepet, ketika baru saja menongolkan kepala setelah membuka pintu. Tiba-tiba aku ingin sekali rasanya memakan bulat-bulat anak nakal itu.
“Itu dia orangnya, HIDUP. Tadi pagi UDARA menanyakan tentangmu.” Tanpa tedeng aling-aling Achi Na Ochi berteriak.
“Wah, kau sedang jatuh cinta rupanya, UDARA?” salah satu pengunjung yang aku kenal malah menambahkan.
“Wow, sore ini makin tambah seru dong.” Yang lain ikut-ikutan menimpali. “Gadis mana yang kau taksir, UDARA? Malang benar gadis itu.”
Spontan saja pengunjung cafepet yang entah kenapa sedang ramai sekali sore itu tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang tiba-tiba pias. Malah ada yang tertawa terpingkal sampai memukul-mukul meja. Aku menyeringai pura-pura tidak peduli, melangkah menuju dapur. Padahal hati deg-degan sekali, kira-kira apa reaksi gadis bermata sendu itu mendengar hal konyol tadi. Langkahku jadi lesu ketika kulihat dia malah membuang muka ke arah lautan. Bisa-bisa dia tambah mengkal kepadaku.
Sungguh mengambil keputusan menemui anak nakal itu tadi pagi, benar-benar malapetaka yang nyata.
“Hei, kau baru sampai UDARA? Ada apa tadi ramai sekali di luar? Rupanya menyambut kau, sudah macam ada pejabat saja yang datang.” DERAS menegurku. “Sudahlah kau siap-siap saja di meja kasir seperti biasanya, siapa tahu ada yang mau menambah menu. Hari ini akan ada pesta peresmian nama baruku. Hahaha.... Semua pengunjung cafepet, bebas makan sepuasnya.”
Pantas saja ramai. Aku menepuk jidat. DERAS sudah melangkah keluar tanpa menunggu komentarku. Bisa gawat kalau DERAS tahu juga soal tadi. Berita kecil saja selalu ia besar-besarkan.
Pesta sore itu benar-benar meriah. Semua bangku cafe telah penuh. Aku rasa DERAS tidak akan pergi ke mana-mana sampai malam hari. Itu artinya aku libur ditanya-tanya akan hujan atau tidak. Aku stand by di belakang meja kasir seperti biasanya. Tidak banyak yang pesan, karena semua hidangan dibuat prasmanan. Yang nambah tinggal berdiri mengambil sendiri.
Aku bersyukur sudah tidak ada lagi yang jahil menggodaku. Aku melirik ke tempat gadis bermata sendu itu. Selalu duduk di meja nomor lima seperti biasanya. Sedang tenggelam menikmati ritual yang sama. Menatap kejauhan ke luar jendela kapal. Hari ini ia terlihat anggun sekali, memakai sweter coklat dan rok hitam. Rambut hitamnya tetap tergerai indah.
Sepertinya hari ini pun akan gagal menghampirinya untuk meminta maaf. Kalau aku temui ia sekarang, pengunjung yang lain akan kembali ‘berisik’ menggoda. Mereka belum terlihat akan bubar soalnya.
Dan saat aku duduk bermalas-malasan saja di bangku kasir, mengasumsikan segala hal. Tiba-tiba aku kaget, gadis bermata sendu itu justru datang menghampiriku. Meletakkan bill pesanan lengkap dengan uangnya tanpa kata-kata. Biasanya ia akan meletakkannya di atas meja nomor lima. Atau menitipkannya kepada Achi Na Ochi yang saat ini entah sudah berada di mana.
Mungkin karena hari ini ramai benar, gadis bermata sendu itu memutuskan memberikan ke meja kasir. Agar tidak tercecer.
Gadis bermata sendu itu kemudian berlalu meninggalkan cafe. Jantungku benar-benar dag dig dug dibuatnya, ketika pandangan mata kami bertemu. Aku sudah ingin menyapa basa-basi, sekadar bilang terima kasih. Tapi lidahku kaku, karena melihat mata gadis itu sedang berkaca-kaca. Kenapa ia seperti sedang menahan air mata? Apa karena terganggu dengan kekonyolan tadi? Aku berbuat salah lagi, ya? Oh, sungguh Enyi Na Enyi kenapa malah jadi seperti ini? Apa ia akan dendam kepadaku seperti katamu tadi?

“Ya, Tuhan. Hendak kau usap dengan apa air yang terlanjur keluar dari mata seorang gadis, UDARA?” Itu tanggapan Enyi Na Enyi setelah aku ceritakan soal kejadian kemarin.
“Aku harus bagaimana sekarang, Enyi Na Enyi?” tanyaku putus asa.
“Masih pakai tanya, ya temui dia sekarang, MINTA MAAF segera.” Kata Enyi Na Enyi pedas. “Sudah-sudah pergi sana, jangan kembali sampai kau berhasil. Aku mau makan sendiri saja hari ini.” Enyi Na Enyi menutup pintu, mengusirku.
Aku melongo berdiri di depan pintu kabinnya. Memikirkan banyak hal, bagaimana caranya meminta maaf? Harus aku temui dia di mana?
Ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Pusing aku!