Enyi Na Enyi. Adalah orang kedua yang sangat aku segani setelah DERAS. Usianya sudah lebih dari seratus tahun. Setiap perkataannya selalu aku dengar. Nasihatnya selalu aku patuhi.
Setiap
hari, sebisa mungkin aku mengunjungi kabin nenek itu. Berjam-jam mendengarkan cerita masa mudanya yang penuh petuah
bijak. Sebelum ceritanya usai, aku pastikan tidak akan beranjak.
“Kau
baik sekali UDARA, selalu menjenguk nenek jompo ini.” Katanya, ketika menyambut
kunjungan rutinku.
Aku hanya menyengir. Justru aku selalu merasa
rindu berkunjung ke sini. Tadi aku sempat membungkus azu ope dari cafepet. Memanjakan perut dengan Enyi Na Enyi selalu menyenangkan. Nafsu makanku seperti bertambah
berkali-kali lipat.
“Wah harum sekali sop ikan ini.” Katanya sambil
tertawa senang. “Sebentar aku siapkan efere-nya
dulu. Kau tentu ke sini mau menemani nenek jompo ini makan, kan?”
Aku mengangguk. Tiba-tiba saja aku benar-benar
merasa lapar.
Tidak selang lama Enyi Na Enyi membawa dua piring yang terbuat dari plastik. Dan teko
berisi teh panas. Kami pun sudah siap menyantap azu ope yang aromanya sejak tadi menggugah selera.
“Tempo hari kau ingin
tahu kenapa diberi nama UDARA. Apa hal itu masih mengganggu pikiranmu?”
Aku manggut-manggut. Sebenarnya aku sudah makin
terbiasa menyandang nama aneh itu. Tapi mendengar cerita Enyi Na
Enyi mana bisa aku tolak. Ditambah aku menemukan fakta baru kalau ternyata
ada seorang gadis yang memiliki nama lebih aneh dariku.
HIDUP, si gadis bermata sendu. Sedang apa dia
sekarang, ya? Tiba-tiba saja aku memikirkannya.
“Kau tahu
UDARA? ibumu itu termasuk perempuan yang tangguh semasa hidupnya. Perempuan
yang tidak mudah menyerah. Aku kenal benar, karena aku berkawan karib dengan
nenekmu. Dan ikut membesarkan ibumu itu.” Enyi
Na Enyi memulai ceritanya.
Aku mengangguk, aku tahu cerita-cerita tentang
ketangguhan ibuku itu.
“Ketika masa-masa kau segera lahir ke dunia ini,
aku tidak tahu harus menganggap kau sangat beruntung atau justru malang sekali.
Saat itu, di Pulau Alaasato sedang terjadi kepanikan. Walikota sudah memberi
intruksi seluruh penduduknya untuk bersiap-siap. Tanah kelahiranmu itu adalah
salah satu titik yang dilalui oleh angin GALE.
Yang rutin datang setiap tahun.”
“Ketika penduduk yang lain sedang bersiap-siap
mengungsi, perut besar ibumu justru sedang berkontraksi. Rupanya kau sudah
ingin lahir saat itu. Ibumu bersikeras tidak ingin mengungsi dari kota, ia
ingin anaknya lahir normal di tanah kelahirannya sendiri. Dan kau tahu UDARA?
Aku rasa ibumu adalah perempuan paling keras kepala yang pernah aku kenal.
Bayangkan saja, di umurku yang sudah sepuh ini, sudah berpuluh-puluh kali aku
harus mengalami kedahsyatan angin GALE.
Dan aku tahu benar bagaimana situasi kota sehabis ditubruk oleh angin itu.
Hancur porak-poranda. Tidak ada bangunan yang mampu berdiri bertahan. Dan
ketika melihat keteguhan hati ibumu itu aku yang tadinya takut, malah ikut
bertahan.”
“Beruntung ayahmu selalu siaga memenuhi kebutuhan
istrinya. Ketika aku membantu ibumu melahirkan, ayahmu berjaga-jaga di depan
pintu. Untuk memastikan tidak ada puing-puing bangunan atau pohon besar yang
menerjang tempat ibumu berbaring.”
“Saat itu, aku sama sekali sudah tidak memikirkan
nasibku yang masih bertahan, padahal dari kejauhan aku tahu angin GALE itu sedang memburu. Siap menerjang
apa saja. Yang aku pikirkan hanyalah keselamatan ibumu dan anak yang akan
dilahirkannya.”
“Ketika laju angin GALE hampir menghantam rumah kecil itu, tinggal beberapa menit
saja. Akhirnya kau lahir. Tapi anehnya, tidak seperti anak-anak lain yang
ketika lahir langsung menangis. Kau justru malah bersin. Mungkin ada debu yang
masuk ke hidungmu. Setelah itu kau baru menangis kencang. Ayahmu yang mendengar
tangisan anaknya, langsung menyeruak masuk. Menggendongmu. Ia angkat
tinggi-tinggi anak laki-laki itu. Lupa dengan tugasnya menjaga pintu dari
terjangan apa saja yang membahayakan.”
“Kau tahu UDARA? Aku mengembuskan napas lega
untuk dua hal saat itu. Pertama, karena kau lahir dengan normal dan ibumu
selamat setelah berjuang melahirkanmu. Yang kedua, aku benar-benar lega, entah
keajaiban dari mana. Angin GALE itu
seperti membelah diri, hanya bagian kiri dan kanan rumah ibumu saja yang rusak
dihantamnya. Bagian tengahnya masih utuh. Ruangan yang tadi ditempati ibumu
berbaring. Aku bisa melihat kerusakan-kerusakan di sekitar rumah ibumu itu.
Keberadaan Tuhan memang nyata adanya.”
“Saat itu ayahmu sudah ‘gila’ dengan ambisinya menemukan
Tanah Surga. Ia langsung saja membuka buku kuno yang setiap hari dipelajarinya. Sambil tetap menggendongmu.”
“Ah ini dia..... UDARA..... UDARA.... anak
laki-lakiku bernama UDARA. Katanya, sambil berteriak memberi tahu penduduk lain
yang mendatangi rumah ibumu. Memastikan kami yang tidak menghiraukan ultimatum
walikota untuk mengungsi apa masih selamat atau tidak. Orang-orang yang
mendengar ayahmu menyebut nama anehmu itu kebingungan. Maksudnya apa? Tapi
setelah mereka mendengar tangisanmu yang kencang sekali saat itu. Mereka
bersyukur terharu, ketakutan selama menghadapi angin GALE seakan lenyap begitu saja. Semua penduduk Pulau Alaasato
bergembira karena bertambah satu jiwa penduduknya. Hari itu memang spesial
sekali, hari menjelang pergantian tahun yang amat sangat menegangkan.”
“Nah itulah asal-muasal kenapa kau dinamakan
dengan nama UDARA. Nama aneh yang penduduk Pulau Alaasato baru pertama kali
dengar.” Enyi Na Enyi mengakhiri
ceritanya.
“Hahaha... kenapa kau malah terdiam begitu
UDARA?” Tegur Enyi Na Enyi. “Apa kau
jadi kepikiran asal-usul nama gadismu itu?”
Aku terkejut, Enyi
Na Enyi selalu saja telak mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Aku
menyengir tanda membenarkan tebakannya.
“Siapa
kemarin namanya? Ah iya, HIDUP. Sudah pasti dia juga punya cerita menarik
tentang asal-usul namanya itu. Setiap nama manusia memang punya sejarahnya
masing-masing. Minimal sejarah tentang harapan kedua orang tuanya. Doa-doa
mereka yang terangkum pada sebuah nama anaknya.”
Aku mengangguk, sambil meneguk teh.
“Kalau kau ketemu nanti, kau tanya saja.”
Aku hampir keselek mendengar usulan Enyi Na Enyi.
“Meskipun seorang perempuan tidak akan mudah
menceritakan rahasia kecilnya kepada laki-laki asing. Tapi, aku rasa dia mau
menceritakannya kepadamu.”
“Apa Enyi Na
Enyi tahu banyak tentang Tanah Surga?” Buru-buru aku mengalihkan topik
pembicaraan.
“Tentu saja aku tahu. Jangan remehkan nenek jompo
ini yang sudah kenyang hidup.” Enyi Na
Enyi bergurau. “Tapi tidak akan aku ceritakan hari ini. Aku lebih tertarik
mendengar ceritamu tentang gadis itu.” Enyi
Na Enyi tertawa.
Aku nyengir sambil menggaruk kepala. Kenapa juga
mulut ini kemarin tidak tahan kalau tidak menceritakan tentang gadis bermata
sendu itu kepada Enyi Na Enyi.
![]()
@azurazie_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)