Juli 04, 2026

CERBUNG PUKUL 5 SORE : KELAHIRAN

Enyi Na Enyi. Adalah orang kedua yang sangat aku segani setelah DERAS. Usianya sudah lebih dari seratus tahun. Setiap perkataannya selalu aku dengar. Nasihatnya selalu aku patuhi.

                Setiap hari, sebisa mungkin aku mengunjungi kabin nenek itu. Berjam-jam mendengarkan cerita masa mudanya yang penuh petuah bijak. Sebelum ceritanya usai, aku pastikan tidak akan beranjak.

                “Kau baik sekali UDARA, selalu menjenguk nenek jompo ini.” Katanya, ketika menyambut kunjungan rutinku.

Aku hanya menyengir. Justru aku selalu merasa rindu berkunjung ke sini. Tadi aku sempat membungkus azu ope dari cafepet. Memanjakan perut dengan Enyi Na Enyi selalu menyenangkan. Nafsu makanku seperti bertambah berkali-kali lipat.

“Wah harum sekali sop ikan ini.” Katanya sambil tertawa senang. “Sebentar aku siapkan efere-nya dulu. Kau tentu ke sini mau menemani nenek jompo ini makan, kan?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba saja aku benar-benar merasa lapar.

Tidak selang lama Enyi Na Enyi membawa dua piring yang terbuat dari plastik. Dan teko berisi teh panas. Kami pun sudah siap menyantap azu ope yang aromanya sejak tadi menggugah selera.

Tempo hari kau ingin tahu kenapa diberi nama UDARA. Apa hal itu masih mengganggu pikiranmu?”

Aku manggut-manggut. Sebenarnya aku sudah makin terbiasa menyandang nama aneh itu. Tapi mendengar cerita  Enyi Na Enyi mana bisa aku tolak. Ditambah aku menemukan fakta baru kalau ternyata ada seorang gadis yang memiliki nama lebih aneh dariku.

HIDUP, si gadis bermata sendu. Sedang apa dia sekarang, ya? Tiba-tiba saja aku memikirkannya.

 “Kau tahu UDARA? ibumu itu termasuk perempuan yang tangguh semasa hidupnya. Perempuan yang tidak mudah menyerah. Aku kenal benar, karena aku berkawan karib dengan nenekmu. Dan ikut membesarkan ibumu itu.” Enyi Na Enyi memulai ceritanya.

Aku mengangguk, aku tahu cerita-cerita tentang ketangguhan ibuku itu.

“Ketika masa-masa kau segera lahir ke dunia ini, aku tidak tahu harus menganggap kau sangat beruntung atau justru malang sekali. Saat itu, di Pulau Alaasato sedang terjadi kepanikan. Walikota sudah memberi intruksi seluruh penduduknya untuk bersiap-siap. Tanah kelahiranmu itu adalah salah satu titik yang dilalui oleh angin GALE. Yang rutin datang setiap tahun.”

“Ketika penduduk yang lain sedang bersiap-siap mengungsi, perut besar ibumu justru sedang berkontraksi. Rupanya kau sudah ingin lahir saat itu. Ibumu bersikeras tidak ingin mengungsi dari kota, ia ingin anaknya lahir normal di tanah kelahirannya sendiri. Dan kau tahu UDARA? Aku rasa ibumu adalah perempuan paling keras kepala yang pernah aku kenal. Bayangkan saja, di umurku yang sudah sepuh ini, sudah berpuluh-puluh kali aku harus mengalami kedahsyatan angin GALE. Dan aku tahu benar bagaimana situasi kota sehabis ditubruk oleh angin itu. Hancur porak-poranda. Tidak ada bangunan yang mampu berdiri bertahan. Dan ketika melihat keteguhan hati ibumu itu aku yang tadinya takut, malah ikut bertahan.”

“Beruntung ayahmu selalu siaga memenuhi kebutuhan istrinya. Ketika aku membantu ibumu melahirkan, ayahmu berjaga-jaga di depan pintu. Untuk memastikan tidak ada puing-puing bangunan atau pohon besar yang menerjang tempat ibumu berbaring.”

“Saat itu, aku sama sekali sudah tidak memikirkan nasibku yang masih bertahan, padahal dari kejauhan aku tahu angin GALE itu sedang memburu. Siap menerjang apa saja. Yang aku pikirkan hanyalah keselamatan ibumu dan anak yang akan dilahirkannya.”

“Ketika laju angin GALE hampir menghantam rumah kecil itu, tinggal beberapa menit saja. Akhirnya kau lahir. Tapi anehnya, tidak seperti anak-anak lain yang ketika lahir langsung menangis. Kau justru malah bersin. Mungkin ada debu yang masuk ke hidungmu. Setelah itu kau baru menangis kencang. Ayahmu yang mendengar tangisan anaknya, langsung menyeruak masuk. Menggendongmu. Ia angkat tinggi-tinggi anak laki-laki itu. Lupa dengan tugasnya menjaga pintu dari terjangan apa saja yang membahayakan.”

“Kau tahu UDARA? Aku mengembuskan napas lega untuk dua hal saat itu. Pertama, karena kau lahir dengan normal dan ibumu selamat setelah berjuang melahirkanmu. Yang kedua, aku benar-benar lega, entah keajaiban dari mana. Angin GALE itu seperti membelah diri, hanya bagian kiri dan kanan rumah ibumu saja yang rusak dihantamnya. Bagian tengahnya masih utuh. Ruangan yang tadi ditempati ibumu berbaring. Aku bisa melihat kerusakan-kerusakan di sekitar rumah ibumu itu. Keberadaan Tuhan memang nyata adanya.”

“Saat itu ayahmu sudah ‘gila’ dengan ambisinya menemukan Tanah Surga. Ia langsung saja membuka buku kuno yang setiap hari  dipelajarinya. Sambil tetap menggendongmu.”

“Ah ini dia..... UDARA..... UDARA.... anak laki-lakiku bernama UDARA. Katanya, sambil berteriak memberi tahu penduduk lain yang mendatangi rumah ibumu. Memastikan kami yang tidak menghiraukan ultimatum walikota untuk mengungsi apa masih selamat atau tidak. Orang-orang yang mendengar ayahmu menyebut nama anehmu itu kebingungan. Maksudnya apa? Tapi setelah mereka mendengar tangisanmu yang kencang sekali saat itu. Mereka bersyukur terharu, ketakutan selama menghadapi angin GALE seakan lenyap begitu saja. Semua penduduk Pulau Alaasato bergembira karena bertambah satu jiwa penduduknya. Hari itu memang spesial sekali, hari menjelang pergantian tahun yang amat sangat menegangkan.”

“Nah itulah asal-muasal kenapa kau dinamakan dengan nama UDARA. Nama aneh yang penduduk Pulau Alaasato baru pertama kali dengar.” Enyi Na Enyi mengakhiri ceritanya.

“Hahaha... kenapa kau malah terdiam begitu UDARA?” Tegur Enyi Na Enyi. “Apa kau jadi kepikiran asal-usul nama gadismu itu?”

Aku terkejut, Enyi Na Enyi selalu saja telak mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Aku menyengir tanda membenarkan tebakannya.

  “Siapa kemarin namanya? Ah iya, HIDUP. Sudah pasti dia juga punya cerita menarik tentang asal-usul namanya itu. Setiap nama manusia memang punya sejarahnya masing-masing. Minimal sejarah tentang harapan kedua orang tuanya. Doa-doa mereka yang terangkum pada sebuah nama anaknya.”

Aku mengangguk, sambil meneguk teh.

“Kalau kau ketemu nanti, kau tanya saja.”

Aku hampir keselek mendengar usulan Enyi Na Enyi.

“Meskipun seorang perempuan tidak akan mudah menceritakan rahasia kecilnya kepada laki-laki asing. Tapi, aku rasa dia mau menceritakannya kepadamu.”

“Apa Enyi Na Enyi tahu banyak tentang Tanah Surga?” Buru-buru aku mengalihkan topik pembicaraan.

“Tentu saja aku tahu. Jangan remehkan nenek jompo ini yang sudah kenyang hidup.” Enyi Na Enyi bergurau. “Tapi tidak akan aku ceritakan hari ini. Aku lebih tertarik mendengar ceritamu tentang gadis itu.” Enyi Na Enyi tertawa.

Aku nyengir sambil menggaruk kepala. Kenapa juga mulut ini kemarin tidak tahan kalau tidak menceritakan tentang gadis bermata sendu itu kepada Enyi Na Enyi.

Description: hhhhhh

@azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)