Sudah dua hari gadis bermata sendu itu tidak
datang ke Cafepet Coffee. Membuat aku tambah pusing memikirkannya.
Jangan-jangan dia memang sudah segitu marahnya denganku, hingga dendam tidak
lagi mau bertemu dengan orang yang bernama UDARA. Entah kenapa aku juga merasa
sedikit kecewa, ketika kembali ke Cafepet pada sore hari tidak menemukan
keberadaan pelanggan tetap di meja nomor lima.
Hanya ada Achi
Na Ochi yang sibuk melempar tebak-tebakan ke sembarang orang. Tebakan soal
jeruk itu belum ada yang berhasil menjawabnya.
“HIDUP ke mana dua hari ini Achi Na Ochi?” Tidak sadar aku bertanya itu. Langsung menutup mulut
anak yang suka sekali tertawa itu, yang
hendak berteriak memberitahukan pengumuman lagi.
Achi Na Ochi berusaha melepaskan telapak tanganku yang masih mendekap
mulutnya. Aku membisikkan sesuatu. Ia mengangguk berjanji tidak akan berteriak.
Sepakat, satu toples manisan rumput laut boleh ia bawa pulang.
Pelan-pelan aku mulai membuka mulutnya,
memastikan memang tidak ada kata-kata jahil yang akan keluar.
“Dua hari kemarin, HIDUP pulang UDARA.” Katanya
kemudian, “Mana toples manisan rumput lautnya?” Achi Na Ochi menyodorkan telapak tangan.
“Pulang? Ke mana?” kataku penasaran.
“Ye... jawab tebak-tebakan soal jeruk dulu kalau
mau tahu lebih banyak.”
Hah, sudah aku duga.
“Karena Onyeisi
Oche memberikan satu jeruknya sekalian dengan keranjang kepada salah satu
anaknya.” Kataku sedikit sebal. Walaupun aku sudah tahu jawabannya, aku yakin
ini tidak akan berhasil. “Makanya masih ada satu jeruk yang ada di keranjang
itu.” kataku menyelesaikan jawaban.
“Salah.” Kata Achi
Na Ochi sambil menjulurkan lidahnya.
Tuh kan, apa kubilang.
“Karena ada satu anak Onyeisi Oche yang tidak suka jeruk.”
“Ah suka-suka kamu lah.” Aku melipir mengambilkan
satu toples manisan rumput laut sesuai janjiku tadi. Meninggalkan Achi Na Ochi yang tertawa puas lagi-lagi menang.
![]()
Pucuk dicinta ulam tiba.
Sekembalinya dari dapur kapal, gadis bermata
sendu itu sudah duduk manis di salah satu bangku nomor lima. Sedang
bercengkrama-ria dengan Achi Na Ochi.
Sore ini ia mengenakan t-shirt warna
biru langit, dengan syal coklat melingkar di lehernya. Rambutnya ditutupi
dengan topi rajutan berwarna senada dengan syal.
“Puru
Isonyere?[1]”
kataku memberanikan diri.
Gadis itu tidak menjawab tidak juga tersenyum. Ia
mengangkat tasnya yang tadi di letakkan di salah satu kursi.
Oh, Enyi Na
Enyi apa inilah kesempatanku? Apa itu artinya ia mengizinkan aku duduk di
kursi itu? aku sedikit bimbang. Untung Achi
Na Ochi langsung mengerti, pergi setelah mendapatkan ‘kesepakatan’ nya
tadi.
Lengang sejenak, aku berpikir keras untuk memulai
obrolan apa. Semua kata-kata yang pernah aku susun dan bayangkan di hari-hari
sebelumnya benar-benar tidak ada yang berguna. Aku melirik laju jam. Setengah
jam lagi pukul lima sore.
“Kenapa mencariku dua hari ini?”
“Eh?” Pertanyaan itu jelas sekali aku tangkap di
telingaku. Sejenak kami saling bertatap muka.
“Achi Na
Ochi.” Gadis bermata sendu itu memalingkan lagi wajahnya. Melihat lurus ke
luar jendela. “Tadi dia bercerita.”
Aduh! Aku mengeluh dalam hati. Lagi-lagi ulah anak nakal itu.
Tapi gara-gara itu obrolan kami jadi lebih lancar. Aku jadi lebih pede meminta
maaf karena pernah menertawakan namanya. Meminta maaf karena pernah membuatnya
menangis.
“Ya ampun kamu masih terganggu dengan itu?” Gadis
bermata sendu itu menyeringai tertahan.
Jelaslah, bukan hanya terganggu. Aku bahkan
sempat insomnia karena terlalu memikirkannya. Ditambah tekanan dari Enyi Na Enyi ketika aku mengunjunginya.
“Untuk alasan pertama, kamu tidak perlu meminta
maaf. Aku sudah terbiasa dengan sikap orang yang pertama kali mendengar namaku.
HIDUP. Siapa pula yang tidak akan tertawa.” Sekarang gadis bermata sendu itu
benar-benar tertawa lepas. Memamerkan gigi gingsulnya. “Toh namamu pun tidak
kalah aneh denganku. Jadi sebenarnya aku juga ingin tertawa. Tapi... hmm... sayangnya
waktu itu memang tidak bisa.”
Aku jadi garuk-garuk kepala sendiri, tidak
menyangka dengan pernyataannya itu. Kini suasana canggung itu benar-benar cair.
Oh, Enyi Na Enyi aku sudah punya muka
lagi untuk makan bersama di kabinmu.
“Apalagi alasan meminta maafmu yang kedua, itu
lebih tidak masuk akal lagi. Siapa bilang aku menahan tangis karena terganggu
dengan kejadian waktu itu. Sebenarnya justru aku ingin sekali tertawa. Melihat
orang yang baru datang langsung shock dan wajahnya pias gara-gara dikerjai anak
kecil, kan masuk akal sekali kalau yang melihat jadi ingin tertawa. Ah,
seandainya aku bisa ikut tertawa waktu itu.”
“Ya ampun.” Aku benar-benar menghela napas lega.
Coba kemarin-kemarin aku berani menegur lebih cepat.
“Lagian kenapa pula kau jadi kepikiran cuma
gara-gara melihat sikapku?”
“Ah,
sudahlah tidak perlu dibahas lagi.” Aku menyeringai kikuk. “Jadi apa alasan
sebenarnya?”
“Alasan apa?”
“Alasan seorang gadis yang selalu terlihat murung
di meja nomor lima.” Kataku dengan nada senormal mungkin. “Dan kenapa sudah dua
kali bilang kau tidak bisa tertawa waktu itu?”
“Ternyata kau pemerhati yang baik.” Gadis bermata
sendu itu tersenyum.
“Lalu?”
“Panjang ceritanya.” HIDUP menghela napas.
“Cafepet buka 24 jam. Petugas kasirnya bisa
lembur untuk hari ini.” Kataku mencoba bergurau.
Gadis bermata sendu itu terlihat memikirkan
sesuatu.
“Apa kamu pernah menunggu kepulangan seseorang
sampai hampir putus asa mengharapkan kepastian datangnya?” Setelah
menyelesaikan pertanyaannya itu, HIDUP menunduk, menyembunyikan perubahan pada
wajahnya.
“Umm... kalau menunggu kesempatan yang tepat
untuk meminta maaf kepada seorang gadis aku pernah.” Aku menyeringai,
menyinggung diriku sendiri.
“Aku serius.”
“Umm... pernah dan tidak pernah.” Sungguh aku
tahu maksud pertanyaannya.
“Pernah? Kapan?”
“Sudah lama sekali, waktu aku masih mengharapkan
ayahku pulang dari pelayarannya ke Tanah Surga.”
“Tanah Surga? INDONESIA?” HIDUP memicingkan dahi.
“Kau tahu soal tanah itu?” Aku agak terkejut
mendengar nama INDONESIA disebut.
“Lagi-lagi alasan yang tidak perlu. Tentu saja,
nama aneh kita berdua kan berasal dari sana.”
Ups! Bodohnya kau UDARA.
“Yang tidak pernahnya?”
“Ya, saat-saat ini. Bukannya memang tidak perlu
lagi menunggu seseorang yang memang memutuskan pergi sendiri?”
Wajah
ceria HIDUP, kembali redup.
“Sayangnya kadang tidak sesederhana itu untuk
seorang perempuan.”
“Kenapa begitu?”
HIDUP mengendikkan bahu. Enggan menjelaskan.
Lengang sejenak.
Apa itu yang dimaksud Enyi Na Enyi tentang pendendam yang ulung? Memang siapa yang
sebenarnya sedang ditunggu oleh HIDUP? Aku ingin sekali bertanya. Tapi biarlah
cerita tentang itu mengalir apa adanya.
“Tuh sepertinya ritual soremu sudah harus
dimulai.” Kata HIDUP ketika mendengar namaku diteriaki oleh DERAS. Apalagi
kalau bukan soal mengecek akan turun hujan atau tidak.
“Waah... ternyata kamu pengingat yang baik.” Aku
menyeringai beranjak bangun. “Sebentar ya, si nama aneh nomor tiga sedang datang
resenya.” Kataku bergurau sedikit berbisik.
Gadis bermata sendu itu tertawa manis sekali.
Tahu, yang aku maksud si nomor tiga adalah DERAS.
@azurazie_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)