Februari 03, 2014

CERURY: Tiga Pengalih Perhatian [2]

Mari kita mencari target kita yang terakhir. Kita menuju kantin kampus. Hanya ada beberapa mahasiswa yang masih nongkrong di sana.

Di depan gerobak mamang mie ayam, ada sepasang kekasih yang minggu lalu baru melangsungkan pernikahan. Keduanya dosen muda di kampus ini. Mereka saling jatuh cinta dengan cara yang unik. Awalnya si perempuan tidak tertarik sekali dengan si lelaki. Satu karena faktor usia yang lebih muda darinya. Kedua merasa risih kalau harus berhubungan dengan orang dalam satu lingkungan. Tapi lain hal dengan si lelaki, ia cukup percaya diri jatuh cinta dengan perempuan yang diam-diam ia suka.

Mereka tidak pernah saling bicara, meski si lelaki percaya diri sudah jatuh cinta. Tapi rupanya ia tidak terlalu berani jika harus mengungkapkan isi hatinya langsung di depan orangnya. Ia menunjukkan dengan gelagat yang sayangnya malah ditangkap mencurigakan di mata si perempuan.

Si mamang mie ayam inilah saksi mata proses terjalinnya cinta di antara keduanya. Setiap habis makan mie ayam, si perempuan merasa heran karena dibilang tidak perlu membayarnya. Awalnya ia senang-senang saja, siapa juga yang tidak senang dapat makanan gratis. Ia pikir mungkin si mamang lagi ulang tahun hari ini.   

Ternyata esok harinya kejadiannya terulang. Si mamang masih tidak mau menerima uang pembayaran mie ayamnya. Ketika si perempuan menanyakan alasannya. Si mamang hanya bilang kalau mie ayamnya sudah ada yang bayar. Meski tidak memberitahukan oleh siapa. Si perempuan tidak menemukan siapa-siapa kecuali dosen laki-laki yang ia kenal tidak banyak bicara sedang makan mie ayam di bangku yang lain. Tidak mungkin pikirnya, mereka belum saling kenal. 

Begitu juga hari-hari berikutnya. Meski si perempuan mulai heran, dan bertanya-tanya siapakah yang membayar mie ayamnya, tapi ia tidak punya pilihan karena di kantin kampus hanya mie ayam satu-satunya makanan yang ia suka untuk mengganjal perutnya ketika jam istirahat mengajar.

Si perempuan mulai curiga kepada dosen laki-laki pendiam itu. Sebab setiap ia makan mie ayam hanya lelaki itu yang berada di sana. Dengan sikap tidak pedulinya.

Si perempuan itu mengambil dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya. Kemudian menghampiri si lelaki pendiam itu. Sambil berkata,

“Ini uang mie ayam selama dua minggu ini aku kembalikan. Sebelumnya terima kasih.” Si perempuan menyodorkan uang tersebut. Tapi si lelaki pendiam itu hanya menoleh dingin tidak mengambilnya. Si perempuan acuh saja menyimpan uang itu di meja kemudian pergi. Karena ia memang yakin lelaki itulah yang selama ini membayarkan pesanan mie ayamnya.

Dan seminggu berikutnya tetap saja kejadiannya berulang. Si mamang tetap tidak mau mengambil uang dari si perempuan. Lelaki pendiam itu tetap makan mie ayam di tempat biasa dengan sikap tidak pedulinya. Awalnya si perempuan tidak ambil pusing, yang penting ia masih bisa menikmati mie ayam kesukaannya. Biarlah mungkin memang ada orang yang dermawan. Begitu pikirnya.

Tapi lama-lama si perempuan merasa tidak enak hatinya, ia menduga jangan-jangan memang bukan lelaki itu yang selama ini membayarkan mie ayam pesanannya. Kalau memang benar bukan, pastinya ia malu karena sudah salah sangka. Atau jangan-jangan orang itu malah tersinggung.

Karena merasa tidak enak itulah akhirnya si perempuan menghampiri si lelaki pendiam itu untuk kedua kalinya.

“Maaf kalau sudah mengganggu lagi. Dan maaf untuk sikap yang waktu itu.” Si perempuan terus bicara walaupun ia tahu tidak akan ditanggapi. “Entah siapa yang sudah berbaik hati membayarkan mie ayam pesanan saya beberapa minggu ini. Mungkin mulai esok dia tidak perlu lagi melakukannya. Karena mungkin ini pesanan mie ayam saya yang terakhir. Maaf sekali lagi kalau sudah mengganggu anda.” Dan ketika baru saja si perempuan itu mau melangkah pergi, tiba-tiba lelaki pendiam itu mengeluarkan suaranya.

“Maukah menikah denganku?” entah dari mana datang keberanian itu. Sambil berdiri si lelaki mengungkapkan pertanyaan yang sudah dua minggu ini menyita pikirannya. Meskipun masih bergetar kedengarannya menahan gugup.

Si perempuan menoleh, mengerutkan dahi tidak mengerti.

“Kalau tidak keberatan uang bayaran mie ayam selama kamu makan di sini, aku ganti dengan ini.” Si Lelaki menyodorkan sepasang cincin lengkap dengan tempatnya yang cantik.

Uang bayaran mie ayam selama ini? Si perempuan masih diam saja mematung, tidak mengerti dan sedikit terkejut.

“Maaf kalau sudah membuatmu bingung. Sejujurnya semenjak kamu pertama kali memesan mie ayam di sini, aku sudah merasa nyaman melihatmu duduk dan menikmatinya. Sekalipun kita tidak ada percakapan apa-apa. Aku terlalu gugup untuk membuka obrolan dan mencoba berkenalan.” Kata lelaki itu dengan suara lebih tenang dan lancar. “Memang aku yang selama ini berinisiatif membayar pesanan mie ayammu. Meminta tolong sama si mamang. Kedengarannya memang aneh, tapi aku hanya ingin memastikan kamu setiap harinya ke sini. Duduk menikmati makananmu.”

Si perempuan menelan ludah. Sejujurnya beberapa hari kemarin ia pun mulai mencari tahu tentang si dosen lelaki yang terkenal pendiam ini. Ia sedikit tertarik dengan kepribadiannya. Dan tidak menyangka sama sekali kalau hari ini akan mendengar penuturan yang mengejutkan itu.

“Bagaimana, mau kah kamu menikah denganku? Biar esok lusa kita bisa menikmati mie ayam bersama.”

Si Perempuan hanya diam dan tersenyum. Bukankah setiap harinya begitu? kata hatinya yang mulai tumbuh cinta.

Begitulah ceritanya. Seminggu kemudian pasangan pelanggan mie ayam tetap si mamang ini menikah. Rupanya si lelaki benar-benar percaya diri dengan jatuh cinta ke pada perempuan itu, sampai dari jauh-jauh hari sudah menyiapkan semuanya.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapat? Bahwa sama halnya dengan aktivitas membaca maupun menulis, bersama dengan seseorang yang kita cintaipun adalah dunia pribadi itu sendiri. Tempat yang nyaman berlama-lama di dalamnya. Meski sekalipun dinikmatinya dengan hanya diam. Tidak ada pembicaraan apa-apa.

Itulah tiga diantara pengalih perhatian seseorang. Dunia pribadi yang menjadi tempat yang nyaman buat mereka. Tentu masih banyak pengalih perhatian yang lain tergantung dengan kebiasaan masing-masing.    

-------------------------------------------------------------

Lalu kalian pernahkah terpikir betapa nyamannya ketika ketiga contoh pengalih perhatian itu sedang berlangsung di suasana, waktu yang bersamaan. Membaca, menulis, dan bersama yang dicintai. Betapa beruntungnya bisa mengalami semua itu. Seolah kau sedang melambung ke dunia pribadimu dengan sangat istimewa. Terhisap masuk ke dalamnya dengan begitu menakjubkan. Khusuk menikmati kesempatan itu semua. Seolah yang berada di luar lingkungan tersebut tidak lagi penting untuk ditanggapi.

Bisakah kau mengusahakan memperoleh semua itu di sepertiga malammu. Ketika waktu sedang tenang, tidak bising, nyaman dalam kesendirian. Sepi dalam kesunyian. Membaca ayat-ayatNya. Menulis doa-doa terbaik dengan air mata di atas bentangan sajadah yang kau punya. Bercakap-cakap dengan yang Maha Cinta dan mencintai makhluknya. Bisakah kau mengusahakan memperoleh kesempatan itu?
Bisakah?



CERURY: Tiga Pengalih Perhatian [1]

Setiap orang pasti memiliki dunia sendiri dalam hidupnya. Sebut saja pengalih perhatian. Menjadi tempat yang paling nyaman berlama-lama berada di dalamnya. Ia seakan tenggelam menikmati dunia itu seorang diri. Dan merasa tidak nyaman jika ada pihak lain yang mengganggu.

Mari kita uji sederhana perihal teori di atas. Minimal tiga buah kesimpulan yang harus kita dapat.

Masuk ke perpustakaan paling besar di kota ini sepertinya pilihan paling bagus untuk mulai mendiagnosanya. Banyak target yang kita bisa jadikan kelinci percobaan di sana.

Seperti biasa suasana perpustakaan meski terlihat ramai dengan banyak pengunjungnya, tapi tetap saja terdengar sepi. Semua sudah larut dalam buku masing-masing. Tidak banyak suara –hanya sesekali suara halaman buku yang dibalik. Sudah pasti perpustakaan memang tempat yang nyaman untuk membaca. Apalagi ini yang terbesar dengan koleksi buku-buku yang beragam.

Di sudut perpustakaan dekat jendela, terlihat seorang perempuan dengan rambut sebahu sedang tenggelam dengan novel favoritnya. Itu novel terbaru dari penulis yang ia gemari karyanya. Di atas meja terdapat sebuah ponsel dan tas. Dia target uji coba kita yang pertama. Dengan sampel: aktivitas membaca.

Perempuan itu tidak meminjam koleksi buku dari perpustakaan ini. Ia baru saja membelinya di toko buku terdekat. Dan memutuskan untuk menumpang membacanya di perpustakaan ini. biasanya jika sudah selesai membacanya, buku itu ia sumbangkan untuk menambah kelengkapan koleksi buku di perpustakaan ini. Biasanya begitu.

Ini menarik sekali. Teorinya penunjangnya adalah : bagi orang yang gemar membaca. Saat-saat sendiri, tidak bising, suasana tenang dan sebuah buku adalah kombinasi paling sempurna untuk menikmati bacaannya. Itu sudah masuk hitungan dunia pribadinya. Salah satu bentuk kenyamanannya. 

Mari kita mulai uji target kita ini. Perempuan itu menoleh ke ponsel yang bergetar di atas meja. Ada nomor yang tidak dikenal menghubunginya. Tentu saja mudah mendapatkan nomor pribadi target kita ini. Penjaga perpustakaan menyediakan buku tamu. Berupa nama, alamat, buku yang dibawa, buku yang dipinjam, buku yang dikembalikan dan nomor yang bisa dihubungi.

Perempuan itu tetap membaca, tidak menghiraukan panggilan itu. Kembali ponselnya bergetar. Di telpon dengan nomor yang sama. Tetap hanya dilihat. Tidak diangkat, malah ponselnya ia masukkan ke tas agar getarannya tidak mengganggu aktivitas membaca. Ia enggan menganggkat telpon dengan dua alasan. Pertama: nomor tidak dikenal, jika memang penting pasti orang itu akan meninggalkan pesan lebih dulu. Itu salah satu kebiasaannya. Enggan mengangkat nomor asing. Kedua: novel yang sedang ia baca hanya tinggal beberapa lembar, dan sedang seru-serunya. Mana mau ia diganggu dengan hal-hal seperti itu.

Baik sampel kita yang pertama sudah mendapat kesimpulan. Mari kita mencari target selanjutnya. Kita akan menuju ke taman dekat dengan gedung perpustakaan terbesar di kota ini. Biasanya ada beberapa mahasiswa menunggu kelas berikutnya sambil menulis di sana.

Di salah satu bangku taman, ada seorang mahasiswa yang sedang terlihat mengetik. Mungkin ia sedang dikejar deadline tugasnya. Atau mungkin hanya sekedar menulis artikel untuk blog pribadinya. Dia lah target kita yang kedua. Dengan sampel: aktivitas menulis. 

Teori penunjangnya adalah: bagi seseorang yang suka sekali menulis, ketika ia melakukan aktivitas itu. Otomatis seluruh perhatiannya akan terpusat ke satu titik. Imajinasi. Memindahkan gagasan yang ada di pikirannya dalam bentuk rangkaian kata-kata. Dan sudah tentu ia juga memerlukan suasana yang mendukung. Tidak terlalu ribut, tenang, nyaman dan tidak ada yang mengganggu. Ini sudah bisa masuk kategori dunia pribadinya. Beberapa menit kedepan ia akan tenggelam dalam tulisannya. 

Mari mulai uji target kedua kita ini. Salah satu agen kita akan menghampirinya, dan berpura-pura menjadi seorang sales yang datang menawarkan barang. Ini pasti jadi menarik. Pertama-tama sales itu akan menyapanya, mengucapkan selamat siang. Kemudian memperkenalkan diri. Lihatlah bagaimana ekspresi mahasiswa itu ketika sedang asyik menulis tiba-tiba ada orang asing yang datang mengganggu. Pasti imajinasinya tiba-tiba buyar. Perhatiannya akan terbagi.

Lelaki itu menolak dengan halus ketika tahu yang datang adalah sales mau menawarkan barang. Ia bilang mohon maaf belum minat. Tapi agen sales ini tidak menyerah begitu saja. Ia terus saja mengoceh menjelaskan keuntungan barangnya. Mahasiswa ini sudah mulai kusut wajahnya, memperhatikan jam tangan. Kemudian tanggannya merapikan laptop dan menyambar tasnya. Bilang permisi ke agen sales kita kalau ia sudah ada kelas berikutnya.

Kesimpulannya jelas bukan? Seseorang yang gemar menulispun menjadikan aktivitasnya itu sebagai dunia pribadinya. Yang nyaman berada di dalamnya seorang diri tanpa ingin ada yang mengganggu.

Baru dua contoh yang telah diuji. Silakan lanjut baca di post berikutnya agar tidak terlalu panjang.

Februari 02, 2014

CERURY : Dua Rencana



Aku percaya tidak ada yang kebetulan untuk sebuah perkenalan –pertemuan. Selalu ada rencanaNya yang terselubung, yang mungkin kita tidak selalu tahu akan maksudnya. Sederhananya itu bagian dari takdir perjalanan hidup kita.

Setahun ke belakang aku mengenal seseorang –satu di antara banyak perkenalan lain, lewat aktivitas dunia maya. Lebih spesifiknya kami ‘dikenalkan’ oleh tulisan. Dari blog pribadi kami. Dan setelahnya kami seperti terhubung satu sama lain, karena ternyata sama-sama memiliki takdir dilahirkan pertama kalinya oleh ibunya. Ya, kami anak pertama yang memiliki golongan darah O, sama-sama keras kepala dan memiliki kesamaan sifat-sifat anak pertama lainnya.

Aku sempat tidak habis pikir, aku seakan sedang bercermin jika sedang berbincang dengannya. Bahkan disatu kesempatan aku menyangka memang memiliki saudari kembar yang selama ini terpisah jarak. Meski sampai saat ini belum pernah sekalipun bertemu dengannya.

Belakangan ini aku mulai memanggilnya Ksatria Penyihir. Setidaknya ada dua alasan yang mendasari hal itu. Pertama : ia perempuan yang sangat enerjik dan suka sekali tertawa, mirip sekali dengan gambaran penyihir di negeri dongeng. Kedua : ia suka sekali menghayal, bahkan di setiap cerita khayalannya ia selalu ingin menempatkan diri menjadi pemeran utama. Meskipun lebih condong yang berkarakter antagonis. Rasa-rasanya itu panggilan yang paling tepat untuknya. Ksatria Penyihir. Si penghayal yang gemar tertawa.

Aku mengasumsikan perkenalan dengannya adalah bertujuan untuk saling berbagi cerita. Setidaknya itu yang aku tahu sejauh ini. Kami pun mengisi celoteh wara-wiri di whatsApp. Membahas apa saja. Mengomentari apa saja. Hingga ia bercerita sedang memiliki rencana besar untuk masa depannya. Katanya baru-baru ini ada seorang laki-laki asing yang memberanikan diri meminangnya, mendatangi kedua orang tuanya.  Wow, sebuah berita yang sangat membahagiakan tentunya.

Ia sedang menjalani proses ta’aruf dengan lelaki calon imamnya itu. Dan ia bermurah hati mau berbagi sedikit tentang ciri-ciri lelaki beruntung itu denganku. Katanya lelaki itu pekerja keras, terpaut beberapa tahun lebih tua di atasnya. Dan ia mulai merasa nyaman karena lelaki itu bisa membuatnya tetap menjadi diri sendiri secara utuh.

Aku tertawa mendengar penuturannya itu. Aku rasa sudah mulai ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati keduanya. Terlihat dari bagaimana cara ia menceritakan lelaki itu.

“Barangkali lelaki itu memang sudah menjadi jodohmu.” Kataku menanggapi ceritanya.    

“Seperti mau mendapatkan hadiah tapi aku tidak tahu itu apa.” Katanya, ketika aku jahil bertanya bagaimana rasanya berta’aruf dengan orang yang sebelumnya asing. Dan baru datang dalam hidupnya.

Aku tersenyum, seperti itukah rasanya berta’aruf dengan seseorang yang nantinya akan mengisi hari-hari kita di masa depan? Sungguh akupun memiliki satu rencana besar tentang ini. Yang beberapa tahun lalu aku sudah melayangkan bundel proposal sederhana kepada penciptaku. Kini aku masih menunggu proposal itu diterima, dan aku mulai membangun apa-apa yang terencana di dalamnya.

“Aku ikut senang rencana besarmu lebih dulu terlihat perkembangannya.” Kataku di sela-sela ia ketawa.

“Ah, kamu membuat suasananya tiba-tiba jadi sedih.”

“Lho kenapa?” aku mengerutkan dahi mendengar reaksinya yang tiba-tiba itu.

“Kalau aku sudah menikah nanti, pasti sedikit banyak suasananya akan berbeda.”

Tanpa perlu lebih lanjut ia jelaskan, aku sudah menangkap arah pembicaraannya.

“Begitulah, yang sudah-sudah malah lenyap begitu saja.” Aku seakan tersendak dengan pernyataanku sendiri.

Lengang sejenak, tidak ada chat di WhatsApp.

Ini seperti luka lama yang tergores lagi. Memang begitulah ironisnya, beberapa sahabat perempuanku yang dulunya dekat, menjadi tempat berbagi cerita. Ketika telah menikah dan diboyong suaminya, tiba-tiba mereka hilang tanpa kabar. Tanpa sapa. Entah ke mana. Dan betapa kadang-kadang aku merindukan mereka tanpa tahu harus mencarinya ke mana. Tidak menutup kemungkinan hal ini pun akan berulang lagi. Meskipun aku sudah mulai terbiasa menghadapinya. Ya mungkin itulah proses hidup. Ada yang datang, ada yang pergi.

“Tiba-tiba aku bertekad untuk tetap menulis. Akan terus menulis.” Katanya membuyarkan kenangan-kenangan yang tiba-tiba berkelebatan di kepalaku.

Aku merekahkan senyuman lega. Semoga saja untuk yang kali ini akan berbeda jalan ceritanya. Karena aku sudah tahu harus menemukan Sang Ksatria Penyihir di mana. Aku tahu harus mencari jejaknya ke mana. Semoga saja.



Februari 01, 2014

CERURY : Satu Kebaikan



Apakah kau percaya satu kebaikan -sekalipun kecil- itu bisa mempengaruhi banyak hal? Membuat ‘jaring laba-laba’ perubahan menjadi lebih sempurna. Tidak terlalu banyak bagian yang rusak karena tertimpa hal buruk. Satu kebaikan yang disertai dengan kepedulian bisa menjadi pionir yang bisa diandalkan untuk ‘sang raja’ –mereka yang selalu berharap akan ada perbaikan- melangkah lebih nyaman.

Seharusnya memang seperti itu sistem yang berlaku, rangkaian paralel kebaikan itu merambat terus ke segala arah. Memberikan energi baru, menghasilkan titik cahaya yang lebih terang di mana-mana. Sekalipun yang melakukan satu kebaikan itu lebih banyak tidak menyadarinya. Ada ketulusan yang selalu melindunginya dari sifat riya.

Dan ketika kau sedang membaca paragraf ini, di luar sana, di tempat yang sangat jauh, ada seseorang yang sedang serius sekali menatap selembar kertas berukuran besar di atas meja kerjanya. Kira-kira setengah jam yang lalu ia mencoret-coret kertas putih itu dengan sangat teliti. Sebisa mungkin tidak ada coretan yang tidak diperlukan. Ia sedang berusaha membuat ilustrasi tentang masa depan bumi. Kira-kira 20 tahun dari masanya sekarang. Bisa dibilang ia penghayal yang terlalu berhayal. Ia selalu ingin memindahkan apa yang sedang ia pikirkan dalam bentuk ilustrasi gambar yang sempurna. Harus sama persis. Itu tekadnya. Dan tidak akan berhenti jika menurutnya belum sesuai dengan gambaran yang ada dipikiran. Sejauh ini ia selalu berhasil. Karena menggambar memang keahliannya. Menggambar yang seakan hidup tepatnya.

Di kertas yang kini bagian-bagiannya tidak ada lagi tempat kosong -terisi penuh dengan potong-potongan gambar kecil. Tergambar suasana bumi jika di lihat dari langit. Ada banyak sekali bangunan-bangunan yang tersusun seperti sebuah negara, lengkap dengan kota-kota besarnya. Hanya tembok-tembok beton yang tertera di gambar itu. Di arsir rapi dengan tinta abu-abu. Ada juga perairan seperti laut atau sungai yang kecil dan sedikit jumlahnya, berada di beberapa titik kota. Tidak ada hijaunya pepohonan. Tidak ada hutan. Mungkin itu gambaran bumi ketika peradaban manusia semakin berkembang. Ketika manusia diperkirakan semakin nyaman bergantung dengan alat-alat yang mereka ciptakan untuk mempermudah segala aktivitas kesehariannya. Termasuk soal menghirup O2. Mereka sudah bisa melipatgandakan rekayasa udara tanpa perlu napas tumbuhan. Mereka mampu mengubah kandungan CO2 menjadi senyawa O2 yang aman untuk dihirup manusia. Kalau sudah begitu mana bertahan lama tumbuhan? Karena populasi manusia semakin hari semakin lebih banyak jumlahnya.

Sungguh gambar buatan tangan ini terlihat sangat menakjubkan. Meskipun gambaran tentang masa depan bumi itu mengerikan. Setidaknya itu gambaran yang ada dipikirannya saat ini.

Seseorang itu menghembuskan napas. Mengeluh. Menggelengkan kepala. Jelas sekali ia belum puas dengan hasil karyanya itu. Merasa masih ada yang kurang. Tidak sesuai dengan yang ia khayalkan. Ia mendongak menatap langit-langit seakan mengingat-ingat sesuatu. Seakan ia memiliki kendali untuk memutar ulang khayalannya beberapa jam lalu secara utuh. Sama persis. Dan mengecek kembali gambarnya barangkali memang ada yang masih kurang sempurna. Tentu saja ia tidak hanya sekedar menggambar. Ia juga memikirkan solusinya. Tidak cuma sekedar gemar berkhayal, tapi harus bertindak lebih baik dari khayalannya. Itu prinsipnya.

Tiba-tiba ia sumringah, mencari sudut kertas yang masih bisa didesaki oleh beberapa gambar kecil. Ekor matanya mencari ke sana kemari. Dan tangannya sempurna menghentikan pena itu di bagian paling atas kertas. Dekat dengan kotak kecil perairan. Ia mulai menggambar beberapa pohon yang sedang berbuah. Plus seekor tupai yang bertengger di salah satu dahannya. Itulah satu kebaikan yang ia pikirkan. Solusi dari khayalan masa depan bumi yang mengerikan di pikirannya.

Ia menyambar kertas kosong berikutnya. Barangkali khayalannya sedang kembali berputar di pikiran. Ia tidak mau buang waktu langsung saja merancang ilustrasinya. Seseorang itu kini menggambarnya seperti sebuah serial yang bersambung. Ia mulai menggambar hutan. –Skala hutan di kertas pertama dibuat dengan lingkup lebih besar. Dengan jumlah pohon yang sama. Kemudian menggambar seekor tupai yang melompat ke pohon yang satu ke pohon yang lain sambil menggigit daging buah. Ketika tinggal biji yang tersisa, tupai itu tanpa beban membuangnya sembarang. Kemudian sibuk memetik buah lain dan memakannya. Terus-menerus sampai perutnya merasa kenyang.

Seseorang itu tersenyum, meletakkan pena-nya. Itulah solusi selanjutnya dengan masa depan bumi. Begitu asumsinya. Satu kebaikan yang tidak disadari oleh seekor tupai, cepat atau lambat akan mengubah bumi menjadi lebih baik. Menghijaukan bumi kembali. Biji-biji yang terjatuh itu akan tumbuh susul-menyusul menjadi pohon besar. Menyebar hingga ke bagian kota lain yang sudah tidak lagi berpenghuni manusia. Sudah ditinggalkan karena mencari dataran yang lebih tinggi. Mencari udara yang lebih segar. Biji-biji itu tumbuh di antara beton-beton yang mulai retak. Cepat atau lambat kota pun akan kembali hijau.

Tak lama terdengar dengkuran. Rupanya seseorang itu tertidur kelelahan. Kegiatan menghayal memang membutuhkan energi yang banyak. Dan menggambarpun membutuhkan konsentrasi yang baik.

Aku tidak tahu apa satu kebaikan yang telah dilakukan oleh seseorang dalam tokoh kisah kali ini. Tapi aku yakin kebaikan itu ada selagi tetap terpeliharanya kepedulian untuk memperbaiki keadaan. Jelas-jelas ia peduli dengan masa depan bumi dan berusaha mencari solusinya. Masa depan yang sejatinya belum terjadi, masih dalam bentuk khayalannya. Setidaknya ia tahu apa yang seharusnya ia perbuat agar khayalan itu tidak berbentuk lebih mengerikan ketika kelak nyata. Dan kita yang sedang membaca tentangnya –yang tidak lagi mengkhayal- mari melakukan hal yang sama. Pelihara bumi dengan tetap menjaga kehijauannya. Menyebar satu kebaikan bersama.