September 22, 2018

NOVEL NAFAS 2 MASA



Tentang perasaan yang bertanya - tanya, siapa sosok yang bersembunyi di dalam tulisan - tulisan yang selama ini mewarnai hari - hari keduanya, terpanggil satu sama lain untuk mencari tahu sosok misterius itu.

Siapakah dia? Seperti apa wajahnya? Berapa umurnya? Kenapa tidak pernah pasang foto di media sosial? Atau memang tidak punya? Hanya blognya saja? Lalu kenapa tidak pernah ada biografi di belakang buku-bukunya?
Ah, kenapa aku begitu penasaran dengan sosok itu?

Pernahkah kalian jatuh cinta kepada tulisan seseorang? Atau jangan-jangan jatuh cinta sama penulisnya juga?

................
 Aku pernah membaca tulisan seseorang, yang dengan tulisannya itu, membuka pemahaman baru. Tentang sisi lain yang tidak terlintas dipikiran sebelumnya. Tentang sisi yang lebih baik dari prasangka yang kadung aku percayai. Tentang sisi putih yang lebih tentram membawa kelapangan hati.

Barangkali bila aku tidak pernah membaca tulisan itu, selamanya aku akan terkukung oleh sisi yang kubaca dengan egoku sendiri. Sisi abu-abu yang aku yakini itulah yang paling masuk akal. Itulah yang paling mendekati benar.

Bahwa hidup ini akan selalu ada hitam dan putih. Kanan dan kiri. Atas dan bawah. Depan dan belakang. Seringnya kita mudah men-judge hanya satu sisi, dan menyepelekan sisi lainnya. Kadung menelan bulat-bulat. Tidak berusaha mencari kebenaran yang lebih akurat.

.......................
Terkadang untuk seorang penulis, lebih mudah menyisipkan nasihat-nasihat bijak dalam tulisan-tulisannya. Tapi dirinya sendiri ragu bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Barangkali itulah dirasakan oleh seorang Najma Tazkiya.
Terkadang seorang pembaca teramat ingin berterima kasih kepada penulis, yang tulisan sederhananya mampu menggugah kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tulisan itu meresap ke dalam hati tanpa merasa sedang dinasehati. Tapi merasa dirangkul dan diajak untuk sama-sama berbenah diri. Seperti itulah yang dirasakan oleh Syauqi Khumain.

Ada pula dua kisah yang romantis antara Rasha Kamil dan Hilda Inayah, yang sama-sama berjuang mengukuhkan perasaannya ke jenjang halal. Sekaligus ingin tetap menghargai perasaan kakak-kakaknya yang masih belum menemukan tambatan hatinya.

Simak kisah mereka di Novel NafAs 2 Masa.

@azurazie_

MASA LAL(U)I

Teorinya memang benar : adil itu bukan cuma sekadar soal ukuran, tapi sesuai dengan kebutuhan.

Buku masa lalu pernah setebal lI___Il, cerita masa depan baru setebal I_I. Memang tidak perlu menunggu sama tebalnya untuk sepenuhnya memahami kisah itu dalam penerimaan, tapi bagaimana sesuai kebutuhan saat ini agar jalan cerita kembali lapang.

Di lain sisi, ia yang hanya sekadar kecipratan masa lalu seseorang. Tidak akan sama pemahamannya dengan ia yang memang pernah tenggelam di masa itu.

Ibaratnya, seolah menaburi luka sendiri dengan garam. Padahal tidak ingin melakukan itu. Sambil berharap ada yang mampu mengobati perihnya itu pelan-pelan.

Ia yang ingin berdamai dengan masa lalunya seseorang. Sungguh seseorang itu pernah belajar tertatih untuk berdamai lebih dulu.

Ia yang ingin keberadaannya tidak dibayangi masa lalunya seseorang. Sungguh seseorang itu pernah berusaha lari dari bayangannya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan itu semua. Semua ada cerita-ceritanya sendiri. Tinggal menerima dengan lapang dada di hati.
@azurazie_

September 21, 2018

DEKAT DENGANMU ADALAH KEHANGATAN, JAUH DARIMU ADALAH KERINDUAN

Kala itu, ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Waktu maghrib pun tiba.

"Aku sholat di mushola depan dulu, ya. Musholanya mungil dan unik deh."

"Iya." Katamu menyetujuinya. Jarak rumah memang masih cukup jauh.

"Yaah, musholanya sepi." Kataku, ketika sampai, sembari mencari tempat parkir motor yang nyaman.

"Nanti juga ada yang shalat." Katamu membesarkan hati. "Aku tunggu di motor saja, ya."

Aku tersenyum mendengar jawabanmu yang menenangkan itu.

Memang setelah mengambil air wudhu dan ketika sedang siap-siap takhbiratul ihram. Ada suara gemericik air. Sepertinya ada seseorang yang sedang mengambil air wudhu juga.
Shalat maghrib pun akhirnya ada jamaahnya.

"Cieee... yang tadi jadi imam." Katamu menggoda ketika aku sampai di parkiran.

"Ngelihat aja lagi. Ternyata benar katamu, pada waktunya mah ada aja yang mampir ikut shalat." Aku tersenyum. "Jadi merenungi sesuatu deh."

"Iya atuh keliatan." Sembari menunjukkan hasil photonya di ponsel. "Merenungi apa?"

"Ya, kelak nanti di yaumil hisab, semoga saja masih diberi ingatan. Bahwa pada suatu hari pernah bertemu seseorang yang melakukan kebaikan yang sama. Meski hanya di sebuah mushola kecil di pinggir jalan. Saudara seiman yang meski tidak saling bertukar nama. Tapi, siap jadi saksi hidup satu sama lain. Untuk saling membela di hadapan-Nya."

"Aaah, sosweet deh. Kepikiran aja kamu mah."

"Tapi benar kan begitu? Istilahnya : dekat denganmu adalah kehangatan, jauh darimu adalah kerinduan."

"Masya Allah, aku dong yang lebih beruntung kalau gitu."

"Iya atuh, kamu kan selalu satu shaf di belakang ku. Hehe.. Siap jadi saksi hidup dunia akhirat, ya."

"Siap, kapten! Selalu siap diajak dalam tiap-tiap kebaikan."

Dan perjalanan pulang pun di lanjutkan kembali. Sembari mengucap aamiin.
#azurazie_

Agustus 19, 2018

TIDAK TAHU DIRI

Berhentilah bertanya sesuatu yang di luar kemampuan orang lain atau sudah di luar kuasanya. Karena itu menyebalkan. Berhentilah bertanya sesuatu yang sudah terlalu lampau, sedangkan orang lain tidak pernah ada di masa itu. Karena itu menyusahkan.

Dan bila seseorang sudah menjawab tidak tahu, seharusnya setelahnya tahu diri. Untuk tidak kembali mengulang pertanyaan. Setelah seseorang merasa tidak tahu, seharusnya menjadi tahu diri untuk menambah pengetahuan.

Seringnya seseorang bukan tidak mau atau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dikarenakan tidak mengerti dengan pertanyaan itu sendiri.

Maka setelah TIDAK TAHU, seharusnya TAHU DIRI. Sampai di sini, paham?

#azurazie_

Agustus 15, 2018

SATU SHAF DI DEPANMU


Putri,
Satu shaf di depanmu, membuat aku lebih sungguh-sungguh menghadap-Nya. Seolah, aku ingin membuktikan atau sekadar ingin terlihat siap menjadi pemimpin atasmu. Yang kelak di hari perhitungan tak adalagi yang mampu di sanggah, kecuali amal-amal kebaikan yang bersaksi membela kita. 

Aku lebih sungguh-sungguh ingin terlihat siap di matamu (karena posisimu tepat satu shaf di belakangku) bila telah datang pertanyaan-pertanyaan itu. Siapa yang menasehatimu untuk selalu menutup aurat? Siapa yang selalu mengingatkanmu untuk menunaikan shalat? Membangunkanmu di kala sepertiga malam. Dengan doa sepenuh harap dalam-dalam. Maka, aku ingin sekali lantang dan membelamu di hadapan-Nya sebagai pimpinanmu. Ya Allah ya Rabb, bila masih ada cela atas istriku, itu dikarenakan ketidakmampuanku dalam mendidiknya di dunia. Maka, maklumilah kami berdua dengan rahmat-Mu.

Tapi, Putri.
Dikala sampailah sujud bersamamu, bergetarlah hati itu. Mulai keluarlah ketidakpercayaan diri itu. Ketika kening bertemu tempat sujud, seolah luruh juga ego itu. Luruh segala keangkuhan itu. Bagaimana bisa aku sepercaya diri itu, bisa sepenuhnya bertanggung jawab atasmu. Bila cela sendiri pun masih banyak yang harus diperbaiki. Bila saat-saat shalat sendiri pun, tidak ada keyakinan seteguh itu seperti saat kita berjamaah berdua.
#kampushijaiah
#azurazie_