Desember 25, 2020

BERKAH BERMUAMALAH

Dalam sepekan ini ada tambahan kesibukan baru bagi kami, yakni mencoba berdagang salah satu bumbu dapur yang bisa dibilang dominan buat mengolah makanan sehari-hari. Memang si ini bukan pengalaman pertama di dalam dunia jual-beli. Dulu-dulu pun pernah mencoba menjual item-item lain. Termasuk jual buku #kampushijaiah dan buku-buku yang saya tulis lainnya.

Hanya saja interaksi jual-beli kali ini dirasa berbeda sekali. Baik dari segi antusias untuk diri kami pribadi maupun suasana dalam prosesnya. Bisa dibilang menyenangkan.

Saya merenungi, memperhatikan, betapa hanya dari wasilah satu item produk yang diperjual-belikan. Betapa 'hidup' proses 'gotong-royong' itu. Dari mulai pemasok memberi harga sekian, kami membeli sebagai modal sekian, dan dijual ke re-seller maupun langsung ke enduser sekian. Dari selisih harga yang kami anggap 'nilai keuntungan' itu. Yang kalau dalam hitungan sederhana matematika tidak seberapa. Jauh dari membuat kaya raya. Tetapi, hidup sekali rasa 'gotong-royong' dalam kebermanfaatan itu. 

Kesampingkan dulu besar kecilnya untung dalam transaksi jual-beli. Ketika terasa bermanfaat untuk banyak orang, rasanya sudah puas saja menikmatinya.

Maka, benar adanya seruan untuk utamakan belanja di warung tetangga lebih dulu. Apalagi ke warung saudara seimanmu. Tidak perlu jauh-jauh memikirkan efek untuk kebangkitan ekonomi islam itu sendiri. Tapi, dengan membeli dari tetangga sebelah rumah. Silaturrahmi itu terasa lebih erat. Transaksi itu terasa jauh lebih menghasilkan manfaat.

Semangat mengumpulkan pundi-pundi berkah untuk para pejuang rupiah.
Untung besar-kecil tak perlu jadi soal.
Yang penting pemasukan tak membuat tekor modal.

Betul?
@azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)