Februari 22, 2013

Isyarat Rindu

Langit malam sempurna menjadi kelambu dunia. Siap meninabobokan tubuh-tubuh letih sebagian makhluk yang berada di dalamnya. Tapi malam belum berhasil membujukku terlelap. Aku masih terjaga di bawah langit-langit kamar dengan cahaya lampu temaram. Masih asyik mengolah kata, meraciknya menjadi bumbu-bumbu penyedap kisah. Agar bait demi bait terasa lezat tersaji di cawan hati yang hangat. Hmm... rasanya rindu ini belum juga merdeka dari jarak yang masih saja bersengketa.

Adakalanya hembusan angin begitu lembut menyentuh bibir telinga. Aku sampai memejamkan mata meresapinya. Benar-benar ada isyarat rindu di sana.

Kembali aku meliak-liukkan jemari. Bermain dengan deretan abjad, mengkombinasikan huruf-huruf vokal dan konsonan menjadi lebih bernada. Lihatlah aku kembali menciptakan satu tokoh yang menurutku sepertimu. Atau mungkin aku memang lagi-lagi menulis tentangmu? Yang pasti aku sendiri sudah jatuh cinta dengannya, tokoh yang menggambarkanmu.

Aku teringat dengan secarik kertas yang kamu selipkan di bukuku waktu itu, sehari sebelum kamu pamit (lagi). Kamu menuliskan kata-kata yang membuatku tertawan. Katamu, aku berhasil merajut benang-benang cerita, kisah yang selalu kamu bawa ketika pulang. Tentang perjalanan cita-citamu itu. Katamu aku berhasil menjahitnya menjadi sebuah gaun-gaun kisah yang indah dan berkesan. Hmm, sebenarnya bukan aku yang membuat semua itu terasa indah, tapi semangatmu yang membuat aku ikut terbakar ketika menuliskannya.

Sebelum aku semakin terkontaminasi dengan rindu ini, aku sudahi saja pengolahan kata malam ini. tapi sebelum itu, pada bisunya malam aku selipkan tanya, esok hari apakah aku masih bersama waktu menjumpanya. Dia yang malam ini hanya kusapa lewat doa. Mendoakanmu dengan mata terpejam, satu cara diam-diamku yang kusuka. Meresap senyam dalam bulir-bulir harap. Perlahan aku memutik rindu, dari tangkai-tangkai harap yang dibisikkan malam. Tentangmu dan masa depan yang mengikutimu. Masa-masa perjanjian waktu yang menepati jumpa. Dalam gentingnya hati menunggu pasti. Kamu akan segera kembali.

Satu catatan kecil yang kuselipkan pada secarik kisah ini, meski matahari sudah berjam-jam meninggalkanku tidur. Tapi rindu untukmu tidak akan pernah terbenam, senada dengan semangatmu yang tidak mudah tenggelam.

Cukup untuk hari ini, selamat malam kamu, selamat bermimpi :)

***

Sebilah tulang rusuk bernama Rayyan.

Dari kecil kita memang sudah berbeda, kamu yang lebih cenderung pendiam sedangkan aku bawel. Kini kamu benar-benar terbenam menggeluti duniamu. Berteman dengan kata-kata. Dan aku berusaha mengejar akhiratku. Membina ilmu di pondok guruku. Ya, jalan kita memang berbeda, aku berdoa suatu saat perbedaan itu jua yang akan membawa kita menuju istana yang sama. Istana kemegahan cintaNya. Semoga.

(Dilla Arkadia) 


*Geist!

47 komentar:

  1. Ini...? wew.. keyen banget.. rangkaian kata-katanya indah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata orang yang namanya "obat" dari penyakit "Malarindu" adalah ketemu langsung sama orang yang dirindukan hiheiheiehiehiehiheie

      Hapus
    2. Obat mujarab ya kang asep :D

      Hapus
  2. Gaya atau cara menyampaikan ras rindu, bakat jadi penulis novel nih.

    BalasHapus
  3. berbakat jadi embahnya fiksi .. keren ... sudah jelas arah blognya ya .. puisi .... lanjutkan bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. alamak tua sekali dibilang mbah, ga enak ah sama yang lebih lihai bisi pamali saya mah mau jadi yang biasa biasa aja :P

      Hapus
  4. Waktu sampai kapan engkau memburuku, menunggu badanku biru disapu rindu, menyepoi di timangan kisahku, meratapi kebodohanku di ujung semu, hingga mendung menggemuruh, aku masih selalu menunggu, berangan-angan berkasih sendu, dengan kekasihku

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduuuh serem kalau sampe biru semua gara-gara rindu hehe...

      Kereeeeeen rimanya :)

      Hapus
  5. terkontaminasi rindu? semakin menghidupkan atau sebaliknya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang ditakutkan yang melalaikan. semoga saja tidak :D

      Hapus
  6. rindu serindunya..kala kita mendoakan segala kebaikan untuk yang terindu dan tanpa sepengetahuannya,,maka itulah kerinduan sejati :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah benar sekali bang, seperti halnya doa kebaikannya kembali juga untuk kita. :)

      Hapus
  7. Semoga dipertemukan ya sob. Pasti ada misteri dibalik semua itu.

    Kesan pertama disini:
    1. wah domain baru yang fantastis :-)
    2. tampilannya keren banget sob
    3. sebenernya azura itu siapa, apakah nama lain uzay

    *mengenai pertanyaan sobat, ane jawab disini ya:
    Untuk membuat objek melayang, yang mengontrol adalah {position:fixed;}
    Sedangkan posisinya diatur oleh attribute {top, left, right dan bottom} yang nilainya bisa dalam pixel atau persen.

    contoh:
    1. Posisi kiri bawah (menggunakan internal css)
    <style type="text/css">
    #tetap {position:fixed; left:0px; bottom:0px;}
    </style>
    <div id="tetap"><img src="url gambar kamu" /></div>

    2. Posisi kanan bawah (menggunakan inline css)
    <div style="position:fixed; right:0%; bottom:0%;">
    <img src="url gambar kamu" />
    </div>

    Kamu bisa menggunakan salah satu metode diatas (mau internal css atau inline css)
    Jika yang ingin dibuat melayang adalah sebuah widget, ganti kode gambar dengan kode widget.

    <img src="" /> dihilangkan dan diganti dengan kode widget atau gadget

    BalasHapus
  8. sungguh manis.

    This is sweet and you're very talented, bang.
    Keep it up! :)

    BalasHapus
  9. Semoga segera dipertemukan hihihi
    Kucingnyaaa lucuuuu

    BalasHapus
  10. wowww...part awal aja menarik untuk dibaca, dan syukurnya lagi endingnya diakhiri dengan indah...

    BalasHapus
  11. rindu, semakin menjadi ketika kita tahu dimana letak rindu tsb ada :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukankah yang tidak diketahui yang lebih tidak terarah hehe

      Hapus
  12. aku ga paham, Dilla Arkadia? Rayyan? maksudnya ini cerita soal lesbian yah?

    btw, zay thank you yah koreksi2mu di ceritaku. hekhekhek sering2nyaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rayyan kan nama cowo Nes. jadi nggak mungkin lah dia lesbi.

      Cuma ngikutin intruksi kamu aja, kan disuruh di kritik hehe...

      Hapus
    2. oh namanya kaya cewe :3

      ih thank you yah. di blog emang aku ga rubah. tapi di softcopy-nya aku edit kok berdasarkan masukanmu. thank you yah. :)

      Hapus
  13. justru perbedaan itulah yang menyenangkan. selamat merindu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yahaaaa menyenangkan jika diterima dengan apa adanya. Sedang tidak merindu. Tokoh fiksinya mungkin :D

      Hapus
  14. jam istirahat saya nikmati dengan mencerna kata-kata Bangt Uzay di postingan di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sambil bekerja juga asyik bang baca cerpenmu tadi, meskipun panjang panjang hehe...

      Hapus
  15. sudur pandang orang pertama lagi, sukaaaaaa
    lanjutkan bang lanjutkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yang dilanjutin? ini udah skak. Ganti cerita ah..

      Hapus
    2. iya maksudnya gitu, kan ikutan pak BeYe gitu, lanjutkanlanjutkan -_-

      Hapus
    3. Ah gue nggak pernah memilih bang beye ka, jadi ga tau semboyan dia apa haha

      Hapus
  16. keren banget ceritanya
    cerita2 bang uzay seharusnya dijadiin novel dan dikirim ke penerbit bang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah belum, masih sebatas nulis cerita pendek, kalau novel panjang to. Btw trims masukannya :)

      Hapus
  17. keyyeeeennnn... kata katanya itu lho, so sweeettt... kapan ya aku bisa menulis kaya bang uzay ini?hihihihi
    suka banget kosa katanya bang :D

    BalasHapus
  18. rindu yang nyata adalah inginnya seduhan kopi menghirup kembali aroma asap-yang telah mengepul tinggi menjauh dan pergi... keren nih Bang cerpennya bisa diikutin ke lomba cerpennya Rectoverso :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah malu ah sama mbak Dee hihi jadi pajangan diblog ini aja :)

      Hapus
  19. gw harus bilang wow..

    #saya lagi ngubek2 blog kamu uzay..hehe

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)