Juli 21, 2013

Menjadi yang segelintir

Bersyukurlah termasuk golongan yang sedikit, mereka yang masih menyempatkan waktu untuk tarawih berjamaah. Ketika sebagian yang lain lebih memilih bersenda gurau di jalan. Lalu lalang menghabiskan waktu sepanjang malam.

Beruntunglah masih menjadi golongan yang tinggal segelintir, mereka yang mulutnya masih berbasah-basah tadarus. Mentartil Qur'an berjam-jam. Berlembar-lembar. Berjuz-juz. Dari halaman ke halaman hingga khatam. Ketika sebagian yang lain lebih memilih meracau. Berceloteh. Wara-wari, menghabiskan berjam-jam di dunia maya maupun nyata.


Bergembiralah masih menjadi si penyendiri, mereka yang bangun di sepertiga malam, bertahajud. Sujud menyenandungkan doa-doa harapan. Sujud-sujud panjang memohon keridhoan. Bersyukur atas napas yang membawa kehidupan. Berkeluh kesah ke sumber kebahagiaan. Sumber penyelamat kehidupan. Ketika sebagian yang lain masih dimanjakan tidur lelapnya. Terbuai mimpi-mimpi semu, bunga tidur yang menghalusinasi angan.

Teruslah berjalan jejak menuju panggilan azan shubuh. Berbaris, bershaf-shaf bermakmum dengan imam. Ketika sebagian yang lain lebih memilih mendengkur kembali, menarik selimut mencari kehangatan pagi. Terlalu takluk oleh kantuknya mata.

Jangan berhenti untuk menyempatkan waktu mengisi Dhuha. Melengkapi kebutuhan. Dalam hajat-hajat yang sedang diperjuangkan. Ketika sebagian sudah mulai sibuk dengan rutinitas monotonnya. Mengejar-ngejar materi dunia.

Bersyukurlah, beruntunglah, bergembiralah, terus lah berjalan, jangan berhenti. Karena boleh jadi ketika makhluk penghuni bumi sudah semakin sibuk, bahkan benar-benar rumit oleh keduniaan. Yang segelintir inilah, yang sebagian kecil itu yang doa-doanya masih dipeluk, hatinya selalu sejuk. Diberi kelapangan untuk menerima yang sudah dan belum diberikan. Atau setidaknya, bekal tabungan untuk perjalanan yang sesungguhnya nanti sedikit banyak sudah berada di genggaman. Insya Allah.

***
“Setelah aku wafat,setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”
Maka para sahabat r.a. bertanya,
 ”Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak bererti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.
Sahabat bertanya lagi,
“Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.
Sahabat bertanya lagi,
“Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah SAW bersabda, “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”


2 komentar:

  1. Ah ♈α᪪☺ mereka yang banyak masih takluk pada nafsu sendiri

    BalasHapus
  2. aduh tahajud aduh masih susah :/

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)