September 12, 2013

Alasan ingin membaca novel MayaMaia

Bulan di luar sana sedang siaga, wajahnya sumringah sekali. Mulai memamerkan cahaya matahari yang menerpanya. Tidaklah peduli ia, kalau cahaya yang membalut tubuhnya hanyalah pinjaman. Cahaya pantulan.

Ah, lupakan paragraf pembukaan tadi. Aku sendiri sedang mengurungkan diri di ruang kerja sederhana. Sejak senja sempurna tenggelam, satu jam yang lalu. Bertemankan tumpukan buku yang baru saja sampai, dan mulai hari ini mereka resmi menjadi bagian project-ku.

Malam ini aku berencana melunasi waktu dengan memberi perhatian lebih kepada mereka. Men-database, memberi nomor urut dan menyampul, seperti buku-buku sebelumnya. Sembari diselangi dengan menyuap potongan roti tawar yang sudah dibubuhi selai stroberi.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu berderit. Ternyata Nessa, sahabatku yang datang.

"Wiiih yang lagi serius dengan project masa depannya." Dengan santainya ia mencomot potongan terakhir roti tawarku. Sembari tangan kirinya sembarang mengambil tumpukan buku yang tergeletak di lantai. "Koleksi baru lagi nih?"

 Aku mengangguk tanpa merasa perlu menoleh ke arahnya.

"Aku dengar novel keduamu terbit? apa teh judulnya?" Tanyaku sambil mengolesi roti tawar terakhir dengan sisa selai yang masih ada.

"Yoi dong. Maya Maia. Awal bulan ini sudah ada di semua toko buku kesayangan Anda." Nessa menyeringai senang. Menjawab pertanyaanku dengan nada berpromosi.

 "Waah, selamat-selamat. Di mana saya dapat membaca novel Anda itu dengan cara yang paling mudah? Berhubung toko buku di sini lumayan jauh." Aku berlagak seperti seseorang yang sedang mewawancarainya. Perbincangan kami jadi berlagak formal.

"Mudah saja, kebetulan di kamar saya ada stok dua. Tunggu sebentar, kalau boleh saya tahu memang apa alasan Anda ingin membacanya?"

"Memangnya perlu sebuah alasan untuk seseorang yang ingin membaca karya sahabatnya sendiri? lagi pula lihat rak buku ini masih ada jeda untuk diisi buku-buku selanjutnya. Barangkali sebagai penulis yang kebetulan saya kenal, mau mengisi kekosongan jeda itu dengan karya-karyanya. Berpartisipasi dalam project saya." Aku menyeringai, berstrategi.
    
"Huuuuu itu sih maunya kamu." Nessa kembali menyomot roti tawar yang sudah dibubuhi selai tadi, belum sempat aku makan. Kemudian lengang berlalu sambil tertawa.

"Dasar reseeeee...." Aku melemparnya dengan bekas bungkusan selai, meski hanya membentur daun pintu yang tertutup. Tersungut-sungut menatap piring yang sudah kosong. Menggeleng-gelengkan kepala, perhatianku kembali ke tumpukkan buku.

3 komentar:

  1. Balasan
    1. beuh, galak amat jurinya. takut ah, kabur aja...hahaha

      Hapus
  2. keren amat yah... Lain daripada yang lain. keceeee :-)

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)