Oktober 27, 2018

JEMARI YANG MENULIS

Saat ini, JEMARI TANGAN gatal sekali ingin menuliskan sesuatu. Tapi, kira-kira menulis apalagi ya?  OTAK yang sedang berpikir, melihat kecemasaan itu. Ia ingin membantu untuk sekadar mengusulkan ide. Bukankah masih banyak sekali bahan-bahan yang bisa dijadikan tulisan, dirangkai menjadi cerita. Bukankah masih banyak lembar-lembar perenungan itu, tentang kebaikan-kebaikan itu. Tentang nikmat-nikmat yang banyak itu. Tentang keresahan-keresahan itu. Hmmm... hmmm.. OTAK bergumam. Tentu saja jika semua ide yang ia pikirkan barusan benar-benar ditulis, Ia yakin JEMARI TANGAN tidak akan sanggup. Bisa-bisa pegal dia. OTAK mulai jumawa, bahwa ide-idenya masih begitu banyak berseliweran di pikiran. Sedangkan JEMARI TANGAN makin lesu, karena tidak ada satu katapun yang berhasil ia tulis.

Ketika sedang terjadi peristiwa itu. HATI diam-diam mengamati dari kejauhan. Ia menangkap ada sesuatu yang tidak beres. HATI pun menghampiri OTAK, 'menepuk pundaknya' dengan lembut.

"Hai OTAK, saudara setubuhku. Janganlah menjadi jumawa seperti itu. Jika sudah terlanjur terjerumus kekubangan riya. Sebanyak apapun tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh JEMARI TANGAN. Tidak akan ada manfaatnya. Ia hanya akan menulis tentang kesombongan, bukan lagi menulis tentang kebaikan. Niatnya sudah keliru."

Tiba-tiba OTAK memijit-mijit kepalanya. Benar sekali, ia telah khilaf sehingga sempat jumawa tadi. Dan kepada JEMARI TANGAN, hati memberi nasihat yang bijak.

"Tulislah apa-apa yang menurutmu bisa memantul kembali pada dirimu sendiri. Bila itu sebuah petikan nasihat yang pernah kamu dengar dari petuah-petuah bijak, minimal tulisan itu memantul kembali sebagai pengingat. Bila itu sebuah tulisan peringatan tentang kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat. Minimal tulisan itu bisa menjadi penegur, memantul agar dirimu menjadi lebih baik."

JEMARI TANGAN mengangguk mendengarkan nasihat dari HATI. Dan OTAK pun dengan perasaan lebih rendah hati memberikan satu ide untuk ditulis oleh JEMARI TANGAN.

Sedangkan HATI, selepas memberikan nasihat-nasihat kepada saudara setubuhnya. Mendadak mencelos. Ia takut apa yang telah ia sampaikan, sebenarnya belum benar-benar ia terapkan pada dirinya sendiri.

@azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)