Juli 09, 2026

CERPEN : KUCING

"Kucing itu punya insting yang tajam, tahu mana orang asing yang memang suka mereka, mana yang tidak," katamu di sela-sela suapan makan siang kita. Aku masih sibuk mengunyah potongan otak-otak, sembari melirik seekor anak kucing yang tiba-tiba melendot manja di kakiku.

"Ah, masa? Itu bukannya insting, memang penciuman mereka saja yang peka. Kita kan sedang makan," kataku berasumsi, kini sisa gigitan otak-otak pindah alih menjadi jatah kucing itu.

"Ye, nggak percaya. Nanti aku buktikan, tanpa kita sedang makan pun, mereka akan berdatangan menghampiri kita," itu percakapan yang paling aku ingat tentangmu. Benar saja, di lain kesempatan, ketika kita sedang asyik membaca serial Supernova yang baru, tiba-tiba saja sekumpulan anak-anak kucing yang entah dari mana datangnya, mengeong menghampiri.

Kamu menyambut hangat mereka dengan usapan lembut. Aku seperti melihat sekumpulan anak kucing itu menemukan ibu asuhnya. Dan caramu berinteraksi memang kelihatan sekali menyayangi mereka.Itu sepotong kenangan yang membuat aku ikut menyukai kucing.

Anabul ini memang menggemaskan sekali. Apalagi jika habis terkena cipratan gerimis. Lucu sekali melihat mereka berjalan agak berjinjit, 'mengibrit-ngibrit' kan tangannya yang basah, lalu sibuk sekali menjilati bagian tubuhnya agar cepat kering. Kamu akan tertawa terpingkal kalau sedang menyaksikan momen itu. Meskipun tidak lama kemudian kamu sibuk mencari handuk kecil untuk membantu mengeringkannya.

Itu dulu, sebelum kamu pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Meninggalkan kenangan itu di sini, di tempatku kini berada. Lorong panjang, sepi, dan jika malam akan sedikit gelap. Dan setelah kejadian menyedihkan itu, entah kenapa setiap kali aku melewati lorong panjang ini, aku seperti ditemani oleh kumpulan kucing yang aku tak tahu dari mana datangnya. Ketika mulai gelap, pancaran bulat dari cahaya bola mata mereka lah yang menjadi penerang perjalananku, sampai di ujung lorong. Dan kembali mereka pergi entah ke mana.

Satu ekor yang warnanya paling menonjol dari yang lainnya. Warnanya oranye dengan loreng-loreng putih. Buntutnya panjang sekali, sampai-sampai ketika berjalan, ekor itu membentuk lingkaran sempurna di udara. Hmm, jika diperhatikan, kucing itu agak mirip dengan kucing yang kamu selamatkan dulu. Kucing yang hampir tertabrak motor ugal-ugalan, yang kamu selamatkan dengan nyawamu. 


@azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)