Semilir angin sedang sejuk sekali, ditemani suara gemericik air dari kolam ikan. Sesekali semerbak bunga kamboja berwarna merah muda yang sedang mekar tercium baunya. Membuat kegiatan rutin di akhir pekan di kediaman Kalam Qadri dan Hijrah Amala semakin syahdu rasanya. Kegiatan itu diisi dengan membaca buku, mentadabburi Al-Qur'an, atau sekadar berbincang santai sambil diskusi banyak hal di gazebo, sampai senja kembali ke pangkuan langit.
Biasanya Hamzah sibuk menanyakan apa saja yang sedang ada dalam pikirannya, ikut nimbrung ketika Ibu dan Ayahnya sedang larut dengan bacaannya masing-masing. Tetapi kali ini Hamzah lebih asyik memberi makan ikan-ikan koi di kolam, ditemani Alif (Adik bungsu Kalam Qadri). Mamangnya yang sedang libur kuliah itu punya janji membuatkan kincir air untuk kolam ikan koi tersebut. Hamzah sibuk bertanya banyak hal, sambil bermain air. Terutama bertanya berulang : Mang Alif Kapan kincir airnya jadi?
Kolam mini Hamzah semakin penuh dengan banyak ikan. Beberapa hari yang lalu, 'Paman Kodok'nya menambahkan koleksi ikan baru untuk Hamzah. Ada empat ekor berukuran sedang. ‘Paman Kodok’ adalah panggilan sayang Hamzah untuk Jim Azami. Sahabat baik ayahnya.
Jim dan Saktah baru pulang plesiran entah dari mana. Teringat, kalau di rumah Kalam sekarang sudah ada kolam mini yang Hamzah ceritakan dengan sangat antusias ketika video call dengan 'Paman Kodoknya' itu.
"Bu, acara si Mr. J itu hari Sabtu apa Minggu, ya?" tanya Kalam sembari memastikan Fatihah tidak digigit nyamuk, yang sedang tidur dengan nyenyak. Usianya baru 20 bulan, selisih 4 tahun dengan kakaknya, Hamzah. Meski keduanya dilahirkan dari rahim yang berbeda. Ibunya Hamzah meninggal dunia saat melahirkan. Kisah lengkapnya ada di Novel Kampus Hijaiah.
"Minggu, Yah." Hijrah mengkonfirmasi undangan aqiqah anak pertama dari Saktah dan Jim beberapa hari yang lalu.
"Lagi baca apa, Bu? Seru sekali sepertinya." Kalam menghampiri Hijrah yang memang selalu kelihatan serius ketika sedang membaca buku.
"Oh, ini... Kemarin dua orang 'couple goals' yang sekarang makin terkenal seantero Kampus Hijaiah itu, selain ke sini membawa undangan, juga ngasih PR ke aku untuk membuat tulisan untuk tayang di Majalah Kampus edisi pekan depan. Dan aku belum juga dapat ide mau nulis apa, habis segala pakai tema sih, nggak dibebasin kayak biasanya."
"Oh, tumben. Memang temanya apa?" Kalam jadi penasaran. Biasanya istrinya itu selalu punya ide untuk bahan tulisan, mengingat memang selalu rutin mengisi mading saat masih aktif ngampus di Kampus Hijaiah dulu. Biasanya selalu punya stok tulisan yang masih ‘draft’ dan belum pernah di publish dimana pun.
"Temanya 'Perempuan Selalu Benar'. Ada-ada saja ya?" Hijrah menjawab sembari menahan tawa. Entah Saktah dapat ide tema darimana. Rasanya ide kreatif itu berhasil diturunkan oleh Fatih L Makki sebagai penggagas mading kampus dulu, yang diwariskan kepada Saktah yang masih menjabat sampai sekarang.
"Masya Allah, temanya perempuan banget.Mantul... mantap betul." Kalam terkekeh sambil mengacungkan jempol.
"Yee... Ayah malah meledek. Punya ide nggak baiknya tulis apa? Mentok nih." tanya Hijrah sembari memastikan Fatihah masih tertidur pulas.
"Coba kamu buka Q.S. At-Tahrim ayat 6."
"Sudah nih, dari tadi memang lagi baca bolak-balik ayat itu. Niatnya memang ayat ini yang mau dijadikan referensinya."
“Coba bacakan sekali sampai terjemahnya, ya.” Pinta Kalam.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
"Nah, pas itu. Menurutku istilah 'Perempuan Memang Selalu Benar' sepertinya memang sudah ditekankan dari sananya. Seperti sudah di-headline untuk umat muslim, terutama untuk laki-laki. Bagi yang memang peka akan tanggung jawabnya."
"Kenapa begitu, Yah?" Hijrah menyimak dengan seksama, sembari menyiapkan catatan kecil untuk poin-poin yang bisa ia pakai untuk PR tulisannya itu.
"Kita sudah sama-sama tahu, seperti apa yang sudah Rasulullah tekankan bahwa tiap laki-laki adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya sama Allah."
"Dan yang dipimpin oleh laki-laki adalah perempuan-perempuan mahram yang ada di sekitarnya. Perempuan itu sepenuhnya tanggung jawab Ayahnya. Tanggung jawab kakak atau adik laki-lakinya. Tanggung jawab Paman dari jalur ayahnya. Tanggung jawab Kakeknya kalau masih ada." Hijrah menambahkan.
"That point!"
"Lalu, hubungannya dengan 'Perempuan Selalu Benar' apa, Yah?" Hijrah mulai penasaran.
"Begini, tiap-tiap perempuan yang lahir idealnya punya pelindung untuk hidupnya. Punya penanggung jawab atas perbuatannya. Perempuan di usia dini, sejak lahir sampai usia baligh, yang bertanggung jawab adalah ayahnya. Bagaimana ia tumbuh dengan pemahaman yang baik, menutup aurat, menjaga pergaulannya dan menjaga kehormatan dirinya. Jika ia tidak bisa menjaga rasa malunya, menjaga tingkah lakunya, menjaga perkataannya, maka beban dosa itu ada pada ayahnya.”
“Sekalipun sang ayah sudah meninggal dunia.”
“Benar. Ini bisa kita sebut 'Perempuan Selalu Benar' di tahapan pertama. Dan ketika perempuan memasuki fase hidup berikutnya, menjadi seorang istri. Tampuk tanggung jawab itu beralih pada suaminya. Suami tidak sebatas wajib menafkahi, tetapi juga harus bisa mendidik, menjaga, dan mengarahkan. Kalau istri terjerumus dalam kelalaian agama karena suami cuek, tidak menasehati, tidak memberi contoh... atau bahkan malah mengajak yang tidak baik, maka hisabnya kembali ke suami. Ini tahapan ‘Perempuan Selalu Benar’ fase kedua.”
“Makanya 'Perempuan Selalu Benar' di sini bukan berarti perempuan nggak pernah salah ya Bu. Tapi maksudnya: kesalahan perempuan seringkali adalah cermin dari lalainya laki-laki yang menjadi pelindungnya. Cermin bagaimana laki-laki yang menjadi pemimpinnya. Kalau ayahnya mendidik dengan baik, kalau suaminya membimbing dengan baik, insyaAllah perempuannya akan baik. Dan kalau baik, pahalanya ngalir ke laki-laki itu juga.”
“Dan sebaliknya, ketika menjadi perempuan yang durhaka kepada Allah, yang kembali bertanggung jawab nanti di akhirat adalah laki-laki yang bertanggung jawab semasa hidupnya di dunia.”
“Jadi ayat ini sebenarnya 'tamparan' buat kami para laki-laki. Allah bilang: 'Qū anfusakum wa ahlikum naarā' ...jaga dirimu dan keluargamu. Urutannya diri dulu, baru keluarga. Karena nakhoda yang baik, baru bisa menahkodai kapalnya dengan baik.”
Hijrah terdiam. Ia menatap Kalam, lalu menatap Fatihah yang mengigau kecil dalam tidurnya. "Berat juga ya tanggung jawab Ayah... bukan sekadar ‘Perempuan Selalu Benar’ saat di dunia saja, bisa juga ‘selalu benar’ sampai akhirat." gumamnya pelan.
Kalam tersenyum, menggenggam tangan istrinya. "Makanya doain terus, Bu. Biar aku sebagai suami maupun seorang ayah nggak lalai akan tanggung jawabnya, terutama dalam mendidik dan mencontohkan yang baik. Biar kita sama-sama selamat di dunia, sampai sehidup sesurga nantinya bersama keluarga kecil kita ini.” Keduanya menatap Fatihah bersamaan, kemudian beralih ke Hamzah yang sedang berlari kecil menghampiri mereka.
“Insya Allah, Yah.” Hijrah tersenyum penuh makna. Hari ini, tidak sekadar mendapatkan ide untuk PR tulisannya. Ia semakin bertekad kuat menjadi madrasatul ula dengan sebaik mungkin untuk anak-anaknya, Hamzah dan Fatihah. Ia bertekad menjadi wasilah agar keluarga kecil ini menjadi generasi-generasi yang soleh dan solehah. Yang bukan sekadar meringankan beban pundak pemimpinnya dalam rumah tangga. Tetapi ikut andil berperan untuk keselamatan bersama dalam menggapai keridhoaan-Nya.
@azurazie_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)