Aku termangu melihat seseorang yang
sedang sujud dalam waktu yang…bisa dibilang cukup lama. Sangat khusyu, membuat
suasana di masjid menjadi semakin hening, sampai-sampai aku takut kalau langkah
kakiku membuyarkan suasana yang syahdu ini. Sepertinya orang berjubah putih itu
begitu menikmati sujudnya, mungkin sudah sepuluh menit berlalu tetapi ia belum
juga bangun. Atau jangan-jangan dia? ah mikir apa aku, toh aku masih bisa
mendengarnya bertasbih walaupun lirih. Lalu kenapa juga aku harus memperhatikan
dia? Ah sudahlah.
Aku putuskan untuk mulai shalat,
tapi tiba-tiba di sudut lain aku menangkap siluet hitam melangkah gesit, berupa
bayangan kabur yang tampak nyata. Tapi kemudian menghilang di sekitar mimbar.
Mimbar itu cukup megah dan besar, terbuat dari kayu jati berkualitas dengan
ukiran sederhana, rapi tapi elegan. Dengan pilar-pilar yang tidak kalah unik
lainnya. Kalau dilihat sepintas belakang mimbar itu cukup luas untuk tempat
bersembunyi. Masya Allah, seketika jantungku memompa lebih cepat. Apa
sebenarnya yang aku lihat barusan? Apa seseorang yang masih sujud itu juga
merasakannya? Karena penasaran, aku memberanikan diri menuju mimbar, untuk
sekedar memastikan. Bisa saja aku menemukan maling yang sedang bersembunyi.
Aku mengambil sikap kuda-kuda,
berjaga-jaga kalau dia memang benar maling dan langsung menerjangku. Tapi
kakiku menjadi gemetar, sungguh memang seperti ada sesuatu di balik pemimbaran
itu. Aku bisa merasakan kehadirannya. Kakiku mulai gemetar, entah kenapa. Ah,
barangkali aku hanya grogi, karena tidak pernah memergoki maling sebelumnya.
Tinggal selangkah lagi, tiba-tiba....
“Sedang mencari apa kamu nak?” Suara
sapaan itu lebih mengejutkanku.
Aku menoleh, “Kakek?” ternyata yang
sedari tadi sujud itu kakek, kenapa selalu kakek ini yang aku temui? Sebenarnya
ini nyata atau mimpi sih? Aku terjebak dalam pertanyaan yang sama dan berulang
“Sudah shalat Maghrib belum nak?”
aku sudah tidak memedulikan siluet di balik pemimbaran itu, toh kalau memang ia
maling mungkin dia sudah ‘shock’ karena mendengar suara orang, tapi
nyatanya tidak ada reaksi apa-apa. Dan sudah tidak terasa lagi keberadaannya.Yang
aku pikirkan sekarang adalah kakek yang bertanya kepadaku. Sebenarnya dia
siapa? Kenapa selalu muncul di sekitarku.
“Be...belum kek.” Aku jawab masih
dengan mimik tanda tanya.
“Shalat dulu, jangan kamu teruskan, dia masih
lebih mulia dibanding kamu.” Kalimat itu mengiang-ngiang di telingaku. Dia?
Mulia? Maksudnya? Berarti memang ada seseorang di sana? Aku tidak mengerti.
Sekejab kemudian seolah-olah ada yang berbisik di telingaku, suaranya lantang
dan semakin jelas,
“Nak Delus, shalat Maghrib dulu.”
Setengah sadar aku menjawab, “Ya
Allah, pak Ramlan ada apa? Jadi barusan hanya?”
“Hanya apa nak maksudnya? Bapak cuma
mengingatkan nak Delus belum shalat Maghrib, waktunya sudah mau habis.”
Terangnya sedikit heran.
“Oh, nggak apa-apa pak. Iya terima kasih
sudah membangunkan saya.” Ya Allah, ternyata lagi-lagi aku hanya bermimpi. Tapi
kenapa mimpi-mimpi itu seolah selalu berkaitan? Sebenarnya siapa kakek itu?
Terus apa maksud setiap perkataannya? Lagi-lagi hanya meninggalkan tanda tanya.
-Z-
Sudah
genap satu hari...tepatnya tiga hari dengan waktu pingsanku kemarin, aku berada
di rumah pak Ramlan. Entah kenapa rasanya badanku letih sekali setiap habis
terbangun dari mimpi. Seperti baru menempuh perjalanan jauh. Kadang pula sampai
berkeringat dingin dan dada sedikit sesak. Di tambah kaki kiriku yang berdenyut
dan terasa ngilu, otot-ototnya langsung menegang jika sedikit saja di bawa
berjalan.
Kemarin siang kakiku sudah diolesi
obat-obatan dari bahan alami,
racikan pak Ramlan. Ia menggunakan 15 gram daun tumbuhan Jarak Bali atau suka
disebut Jarak Batang Gajah yang aku tahu kalau nama latinnya adalah Jatropha
Podagrica Hook, daun itu direbus dan ampasnya dipergunakan untuk mengolesi
luka yang membengkak. Setahuku tumbuhan itu berasal dari Amerika Tropis, tapi
ternyata di daerah pegunungan ini juga ada. Biasanya dipakai untuk mengobati
luka akibat digigit ular berbisa. Daunnya hijau kekuning-kuningan, membentuk
perisai bercangkap tiga atau lima keping sekitar 20 sampai 40 sentimeter, bergetah
putih, batang tunggal atau sedikit bercabang, pangkal batang yang membesar dan
melembung seperti umbi. Dan khasiat tumbuhan itu benar-benar membantu
mengurangi pembengkakan. Sepertinya pak Ramlan paham sekali mengenai obat-obat
alamiah. Dia banyak menerangkan kepadaku beberapa tanaman dan dedaunan yang
biasa dijadikan obat, lengkap dengan khasiatnya.
“Sebenarnya kalau manusia mau
sedikit belajar dengan alam, mau memperhatikan mereka. Segala macam obat tuh
ada nak. Gratis sudah di fasilitasi Tuhan untuk mahluk-Nya.” Sambil mengulek
daun sampai halus, “Tapi sayang manusia hanya bisa merusak habitat mereka.”
Lanjutnya. Aku hanya sesekali menampili dengan anggukan. Sedikit tersindir,
karena aku salah satu pelajar yang tidak serius sewaktu pelajaran ilmu alam
dulu. Dan sering kali cuek dengan tumbuhan di sekitarku.
Benar kata pak Ramlan, manusia, benar-benar
mahluk paling perusak di muka bumi ini. Mungkin generasi anak-anakku nanti
sudah tidak menemukan jenis-jenis dedaunan dan tumbuhan yang sedang dipakai pak
Ramlan untuk mengobati kakiku. Zaman sekarang apa-apa dicampuradukkan dengan
zat-zat kimia. Ada yang bilang kuno kalau masih pakai yang tradisional. Hebat!
Makhluk sejenisku itu sudah terlalu pintar rupanya.
Tapi menurut perkiraan pak Ramlan, kakiku
masih butuh beberapa hari untuk sembuh. Ketika ditanya penyebabnya, pak Ramlan
bilang kakiku tidak hanya terkilir, melainkan lukanya sudah terinfeksi getah
tumbuhan beracun di hutan. Ya sebut saja tumbuhan-tumbuhan sejenis Rosary Pea, Racun Bushman, Water Hemlock,
Narcissus atau jenis lain tumbuh di pegunungan ini, mungkin. Minimal jenis
tumbuhan Monkshood yang sering dipergunakan
petani untuk mengusir gerombolan serigala. Masih merupakan keluarga tanaman Aconitum, yang punya lebih dari 250
spesies. Monkshood dalam cerita
fiksi, populer sebagai alat untuk mendeteksi manusia serigala.
Aku menyesali betapa cerobohnya kemarin.
Begitu besar efek getah tumbuhan beracun itu, bagaimana kalau binatang buas
yang menyapa. Merindiiiiiiing!
“Oke sudah beres, besok pagi-pagi
sekali basahi dengan embun pagi nak, bagus untuk menetralisir sisa-sisa racun
di kulit dan luka yang masih basah.” Katanya sambil merapikan sisa-sisa
perlengkapan obat yang ia kumpulkan di satu wadah berbentuk kotak yang terbuat
dari akar-akaran.
@azurazie_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)