Oktober 16, 2026

CERBUNG DELUSIAN - SILUET ALAM

 

Aku termangu melihat seseorang yang sedang sujud dalam waktu yang…bisa dibilang cukup lama. Sangat khusyu, membuat suasana di masjid menjadi semakin hening, sampai-sampai aku takut kalau langkah kakiku membuyarkan suasana yang syahdu ini. Sepertinya orang berjubah putih itu begitu menikmati sujudnya, mungkin sudah sepuluh menit berlalu tetapi ia belum juga bangun. Atau jangan-jangan dia? ah mikir apa aku, toh aku masih bisa mendengarnya bertasbih walaupun lirih. Lalu kenapa juga aku harus memperhatikan dia? Ah sudahlah.

Aku putuskan untuk mulai shalat, tapi tiba-tiba di sudut lain aku menangkap siluet hitam melangkah gesit, berupa bayangan kabur yang tampak nyata. Tapi kemudian menghilang di sekitar mimbar. Mimbar itu cukup megah dan besar, terbuat dari kayu jati berkualitas dengan ukiran sederhana, rapi tapi elegan. Dengan pilar-pilar yang tidak kalah unik lainnya. Kalau dilihat sepintas belakang mimbar itu cukup luas untuk tempat bersembunyi.  Masya Allah, seketika jantungku memompa lebih cepat. Apa sebenarnya yang aku lihat barusan? Apa seseorang yang masih sujud itu juga merasakannya? Karena penasaran, aku memberanikan diri menuju mimbar, untuk sekedar memastikan. Bisa saja aku menemukan maling yang sedang bersembunyi.

Aku mengambil sikap kuda-kuda, berjaga-jaga kalau dia memang benar maling dan langsung menerjangku. Tapi kakiku menjadi gemetar, sungguh memang seperti ada sesuatu di balik pemimbaran itu. Aku bisa merasakan kehadirannya. Kakiku mulai gemetar, entah kenapa. Ah, barangkali aku hanya grogi, karena tidak pernah memergoki maling sebelumnya.
            Tinggal selangkah lagi, tiba-tiba....

“Sedang mencari apa kamu nak?” Suara sapaan itu lebih mengejutkanku.

Aku menoleh, “Kakek?” ternyata yang sedari tadi sujud itu kakek, kenapa selalu kakek ini yang aku temui? Sebenarnya ini nyata atau mimpi sih? Aku terjebak dalam pertanyaan yang sama dan berulang

“Sudah shalat Maghrib belum nak?” aku sudah tidak memedulikan siluet di balik pemimbaran itu, toh kalau memang ia maling mungkin dia sudah ‘shock’ karena mendengar suara orang, tapi nyatanya tidak ada reaksi apa-apa. Dan sudah tidak terasa lagi keberadaannya.Yang aku pikirkan sekarang adalah kakek yang bertanya kepadaku. Sebenarnya dia siapa? Kenapa selalu muncul di sekitarku.

“Be...belum kek.” Aku jawab masih dengan mimik tanda tanya.

 “Shalat dulu, jangan kamu teruskan, dia masih lebih mulia dibanding kamu.” Kalimat itu mengiang-ngiang di telingaku. Dia? Mulia? Maksudnya? Berarti memang ada seseorang di sana? Aku tidak mengerti. Sekejab kemudian seolah-olah ada yang berbisik di telingaku, suaranya lantang dan semakin jelas,

“Nak Delus, shalat Maghrib dulu.”

Setengah sadar aku menjawab, “Ya Allah, pak Ramlan ada apa? Jadi barusan hanya?”

“Hanya apa nak maksudnya? Bapak cuma mengingatkan nak Delus belum shalat Maghrib, waktunya sudah mau habis.” Terangnya sedikit heran.

“Oh, nggak apa-apa pak. Iya terima kasih sudah membangunkan saya.” Ya Allah, ternyata lagi-lagi aku hanya bermimpi. Tapi kenapa mimpi-mimpi itu seolah selalu berkaitan? Sebenarnya siapa kakek itu? Terus apa maksud setiap perkataannya? Lagi-lagi hanya meninggalkan tanda tanya.

-Z-

           Sudah genap satu hari...tepatnya tiga hari dengan waktu pingsanku kemarin, aku berada di rumah pak Ramlan. Entah kenapa rasanya badanku letih sekali setiap habis terbangun dari mimpi. Seperti baru menempuh perjalanan jauh. Kadang pula sampai berkeringat dingin dan dada sedikit sesak. Di tambah kaki kiriku yang berdenyut dan terasa ngilu, otot-ototnya langsung menegang jika sedikit saja di bawa berjalan.

Kemarin siang kakiku sudah diolesi obat-obatan dari bahan alami, racikan pak Ramlan. Ia menggunakan 15 gram daun tumbuhan Jarak Bali atau suka disebut Jarak Batang Gajah yang aku tahu kalau nama latinnya adalah Jatropha Podagrica Hook, daun itu direbus dan ampasnya dipergunakan untuk mengolesi luka yang membengkak. Setahuku tumbuhan itu berasal dari Amerika Tropis, tapi ternyata di daerah pegunungan ini juga ada. Biasanya dipakai untuk mengobati luka akibat digigit ular berbisa. Daunnya hijau kekuning-kuningan, membentuk perisai bercangkap tiga atau lima keping sekitar 20 sampai 40 sentimeter, bergetah putih, batang tunggal atau sedikit bercabang, pangkal batang yang membesar dan melembung seperti umbi. Dan khasiat tumbuhan itu benar-benar membantu mengurangi pembengkakan. Sepertinya pak Ramlan paham sekali mengenai obat-obat alamiah. Dia banyak menerangkan kepadaku beberapa tanaman dan dedaunan yang biasa dijadikan obat, lengkap dengan khasiatnya.

“Sebenarnya kalau manusia mau sedikit belajar dengan alam, mau memperhatikan mereka. Segala macam obat tuh ada nak. Gratis sudah di fasilitasi Tuhan untuk mahluk-Nya.” Sambil mengulek daun sampai halus, “Tapi sayang manusia hanya bisa merusak habitat mereka.” Lanjutnya. Aku hanya sesekali menampili dengan anggukan. Sedikit tersindir, karena aku salah satu pelajar yang tidak serius sewaktu pelajaran ilmu alam dulu. Dan sering kali cuek dengan tumbuhan di sekitarku.

 Benar kata pak Ramlan, manusia, benar-benar mahluk paling perusak di muka bumi ini. Mungkin generasi anak-anakku nanti sudah tidak menemukan jenis-jenis dedaunan dan tumbuhan yang sedang dipakai pak Ramlan untuk mengobati kakiku. Zaman sekarang apa-apa dicampuradukkan dengan zat-zat kimia. Ada yang bilang kuno kalau masih pakai yang tradisional. Hebat! Makhluk sejenisku itu sudah terlalu pintar rupanya.

Tapi menurut perkiraan pak Ramlan, kakiku masih butuh beberapa hari untuk sembuh. Ketika ditanya penyebabnya, pak Ramlan bilang kakiku tidak hanya terkilir, melainkan lukanya sudah terinfeksi getah tumbuhan beracun di hutan. Ya sebut saja tumbuhan-tumbuhan sejenis Rosary Pea, Racun Bushman, Water Hemlock, Narcissus atau jenis lain tumbuh di pegunungan ini, mungkin. Minimal jenis tumbuhan Monkshood yang sering dipergunakan petani untuk mengusir gerombolan serigala. Masih merupakan keluarga tanaman Aconitum, yang punya lebih dari 250 spesies. Monkshood dalam cerita fiksi, populer sebagai alat untuk mendeteksi manusia serigala.

 Aku menyesali betapa cerobohnya kemarin. Begitu besar efek getah tumbuhan beracun itu, bagaimana kalau binatang buas yang menyapa. Merindiiiiiiing!

“Oke sudah beres, besok pagi-pagi sekali basahi dengan embun pagi nak, bagus untuk menetralisir sisa-sisa racun di kulit dan luka yang masih basah.” Katanya sambil merapikan sisa-sisa perlengkapan obat yang ia kumpulkan di satu wadah berbentuk kotak yang terbuat dari akar-akaran.


@azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)