Kisah sebelumnya :
Gelap malam dan semilir angin menggoda lamunanku. Entah alasan apa yang harus aku utarakan kepada rembulan yang tersenyum jahil kearahku. Hihi mungkin ia tak hanya menggoda tapi juga menertawai aku yang terlihat sangat bodoh hari ini. Ya karena kesalahanku yang tidak cermat menyembunyikan kegundahan hati. Tak seperti rembulan itu yang nyaris sempurna bersembunyi di balik awan tebal, hanya menyisakan sinarnya yang perlahan semakin redup. Inilah aku yang tidak pernah tegas dengan perasaanku sendiri. Seperti yang sedang aku lakukan saat ini. Aku hanya bisa mewakili perasaanku lewat sebuah tulisan. Hampir saja aku kembali kehilangan sosok hati yang aku jaga kehangatannya selama ini. Aku masih tidak percaya dibatas senja tadi, mata indah itu meneteskan bola kristal hanya karena kebodohanku. Maafkan aku Amuri, tak seharusnya kamu menyalahkan dirimu sendiri. Jika mencari tentang siapa yang paling bersalah, aku akan menunjuk diriku sendiri. Karena akulah yang memulai membentuk pola segitiga dalam cerita hati kalian. Sungguh aku tidak ingin menjadi hati pengganjal diantara dua hati yang sudah terbentuk sempurna. Meskipun aku akui, aku tak sanggup jika harus membohongi diri kalau ternyata ada rasa kehilangan yang menggeluti hatiku. Dan rasanya itu sangat nyata.

