Juni 10, 2012

Tolong Jaga Senyuman Itu (Untukku)

Kisah sebelumnya : 

Gelap malam dan semilir angin menggoda lamunanku. Entah alasan apa yang harus aku utarakan kepada rembulan yang tersenyum jahil kearahku. Hihi mungkin ia tak hanya menggoda tapi juga menertawai aku yang terlihat sangat bodoh hari ini. Ya karena kesalahanku yang tidak cermat menyembunyikan kegundahan hati. Tak seperti rembulan itu yang nyaris sempurna bersembunyi di balik awan tebal, hanya menyisakan sinarnya yang perlahan semakin redup. Inilah aku yang tidak pernah tegas dengan perasaanku sendiri. Seperti yang sedang aku lakukan saat ini. Aku hanya bisa mewakili perasaanku lewat sebuah tulisan. Hampir saja aku kembali kehilangan sosok hati yang aku jaga kehangatannya selama ini. Aku masih tidak percaya dibatas senja tadi, mata indah itu meneteskan bola kristal hanya karena kebodohanku. Maafkan aku Amuri, tak seharusnya kamu menyalahkan dirimu sendiri. Jika mencari tentang siapa yang paling bersalah, aku akan menunjuk diriku sendiri. Karena akulah yang memulai membentuk pola segitiga dalam cerita hati kalian. Sungguh aku tidak ingin menjadi hati pengganjal diantara dua hati yang sudah terbentuk sempurna. Meskipun aku akui, aku tak sanggup jika harus membohongi diri kalau ternyata ada rasa kehilangan yang menggeluti hatiku. Dan rasanya itu sangat nyata.

Amuri aku mengenalmu sudah lama. Dan aku sangat paham antara kamu yang hanya basa-basi atau tentang hatimu yang berkata tulus meski hanya dari raut wajah yang berbicara. Aku tahu sebesar apa kamu mencintai Zie, karena aku juga seorang wanita. Aku mohon sudah cukup jangan kau persalahkan dirimu hanya karena keraguan perasaanku sendiri yang akhir-akhir ini sempat aku alami. Dan dengar baik-baik, sudah aku pastikan, kemarin aku hanya sedang merasa kehilangan kebersamaannya bukan kehilangan cintanya. Kehilangan perhatiannya, bukan rasa sayangnya. Karena aku tahu betul, Zie hanya mencintaimu, setulus kamu mencintainya. Dan aku berharap setelah selesai membaca tulisanku ini kamu sudah mulai tersenyum dan kembali menata kepingan hatimu yang sempat kamu tawarkan kepadaku di senja itu. Bentuklah kembali kepingan itu menjadi utuh dengan kepingan yang di punyai Zie. Jangan cemaskan aku, aku bisa pastikan aku akan tetap tersenyum melihat kebahagian kalian. Kebahagiaan untuk sahabat-sahabatku.

Aku letakan penaku, tepat ketika kulihat rembulan itu kembali menapakan senyumannya karena sudah tidak ada awan yang menghalangi. Udara Tokyo masih saja dingin menusuk tubuhku yang tak bermantel ini. Aku membuka sebuah pesan singkat dari Anggara, ya dia cowo yang dikenalkan Zie beberapa waktu yang lalu. Ia semakin rajin mengucapkan selamat malam untukku, meski aku tidak pernah menanggapinya. Rasanya memang berbeda meski kini ada yang tulus menawarkan perhatian itu. Apa itu menunjukan tak akan pernah sama komposisi rasa dari orang yang berbeda? Atau ini hanya soal selera dan kebiasaanku saja yang belum mampu beradaptasi. Entahlah! Mungkin aku hanya masih berharap rasa itu aku terima dari yang menyentuh hatiku lebih dulu. Sosok itu Zie bukan Anggara. Meskipun sudah kupastikan itu tidak mungkin terulang. Maafkan aku Anggara, karena kamu sudah masuk ke dalam kesepakatan itu. Dan aku tidak ingin kamu masuk terlalu jauh.  

“Are you okay?” suara Zie tiba-tiba membuyar pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku. Entah sejak kapan ia datang. Ia menghampiriku yang masih duduk di bangku taman, lalu menyarungkan sebuah mantel dari balik punggungku.

“Aah ngagetin saja kamu Zie!” rasa hangat yang dihadirkan mantel itu sudah mulai menyatu dengan kulitku. Terlebih karena rasa rindu perhatian itu seolah terbayar dengan kehadiranmu Zie. “Kok ada disini nggak kerumah Muri?” aku menggigit ujung bibirku sendiri.

“Dia tadi kirim pesan lagi nggak mau di ganggu katanya lagi ingin sendiri hmph!” katamu, sudah di pastikan itu semua karena percakapan senja tadi sehingga Amuri meminta waktu untuk sendiri. Ada kecemasan di perkataanmu terakhir yang sangat aku pahami. “Airin kamu marah ya sama aku?, akhir-akhir ini kamu juga susah di hubungi?”.

“Siapa yang maraaaaaah? Memang kelihatan gitu kalau aku sedang marah?”

“Nggak sih, kamu kan sudah terkenal cewe paling jago dalam urusan menyembunyikan perasaan.” Katamu. Tepat sekali dan kamu cowo yang paling nggak peka atas perubahan sahabatmu sendiri Zie. Dan aku selalu maklumi itu.   

“Jika aku memang salah aku minta maaf Rin. Kamu dan Muri itu penting untukku. Meskipun aku sadar aku tidak cukup adil memposisikan diriku untuk kalian berdua. Nyatanya itulah kelemahan yang harus aku perbaiki. Kalian berdua memiliki peranan yang sama untuk hidupku, meski dalam posisi yang berbeda. Kamu sahabat baikku dan Muri seperti yang kamu tahu, aku sangat menyayanginya. Tadi sore aku tahu Muri..”.

“Ssssst! Sudahlah aku baik-baik saja Zie. Temui Muri dia lebih butuh kamu sekarang.” Dan tolong sampaikan maaf aku, karena masih saja memiliki perasaan cemburu ini. Lanjutku dalam hati.

“Tapi...!”

“Temui dia. Untuk aku, sahabatmu ini Oke!” terkadang aku memang harus pandai menutupi luka, untuk melihat sahabatku tetap tersenyum dan percaya diri.

“Baiklah aku pergi dulu. Kamu jangan lama-lama di taman nanti masuk angin..”  langkahmu semakin menbelakangiku. Dan saat ini aku hanya berharap kamu menoleh sebentar hanya untuk menunjukan kamu akan terus tersenyum sahabatku. Dan jaga baik-baik hati itu untukku, seperti aku yang selalu menjaga perasaan yang membingungkan ini. 

 ***
NB : Nantikan kelanjutanya. Uzay sebagai Airin ( Ariani ), Ainiza sebagai Amuri & Ade Murni sebagai Zie ^.^

 

72 komentar:

  1. huaaaa... sosok airin keren banget disini :)
    saya udah pikirkan gimana lanjutnya, okey mari kita lanjutkan proyek ini :D

    BalasHapus
  2. Jika kisah bersambung ini dibukukan, saya yang pertama kali mendukung. Sungguh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih semoga aja ada jalan untuk kesana =)

      Hapus
  3. Sampai bengong bacanya.....
    ditunggu nih lanjutan kisahnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan bengong ah bahaya hoho..

      Hapus
  4. menjaga perasaan yang membingungkan?
    betah banget melihara rasa bingung, haha

    BalasHapus
  5. ini lanjutan postingan yg kemarin kah???

    hua..ha..ha... gue suka...gue suka.... (baca : ceritanya gue banget) #emalah curcol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi ada yang curcol lagi =D

      Hapus
  6. gak kerasa udah habis bacanya...suka...ngalir banget...^^

    BalasHapus
  7. Zie ngangetin atau ngagetin tu diatas ya? Yang saya belum faham, ini hasil kolaborasi bukan? Pake teknik brilian apa nih. Tapi ditunggu seri 3nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngagetin bang oke sudah di ganti makasih koreksinya =)

      Hapus
  8. aduuuh.. aduuuh..
    ga sabar baca lnjutannya..
    mantep bnr bahasanya..

    ayoo.. ayoo... di bukukaaan..
    vn dukuuuung.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah di lanjut tuh di blog aii sama ka ade..

      Hapus
    2. nah, soalnya kemaren imajinasi saya udah kemana-mana, haha..

      Hapus
    3. haha maafin bang =)

      Hapus
  9. "Sungguh aku tidak ingin menjadi hati pengganjal diantara du hati yang sudah terbentuk sempurna" aku suka kalimat yang itu, Zay^_^

    BalasHapus
  10. *gigitgigitkuku*

    kalian keren sekaliiii ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih asyiiiik di bilang kereeen, orangnya kan? #eh..

      Hapus
    2. errrr, orangnya bukan eaaa... :p

      iya deh, orang dan karyanya :D

      Hapus
  11. ini yang saya puter2 dari tadi.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi perasaan bukan video bang =D

      Hapus
  12. Uzay sebagai Airin
    ( Ariani ), Ainiza sebagai Amuri
    & Ade Murni sebagai Zie

    BalasHapus
  13. Uzay sebagai Airin
    ( Ariani ), Ainiza sebagai Amuri
    & Ade Murni sebagai Zie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang salah lagi sensei?

      Hapus
  14. aduh, apaapaan ini. Hadeeh. Gue nyepam. Mampus. Uzay ngamuk. :O

    tulisan lu semakin berkualitas, Zi. Segera bikin novel ya ...! :)

    BalasHapus
  15. Menipu diri karena menjaga perasaan. Bisa terbunuh pelan - pelan pastinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem ya bang terbunuh oleh perasaan =D

      Hapus
  16. sudah baca sampe episode 4.. ditunggu lanjutannya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti masih kurang satu episode lagi di blog si niza..

      Hapus
    2. diblog aku kak nufa da tegok sekarang..yuk ke blognya kak ade :)

      Hapus
    3. Agak panjang doang yak hehe..

      Hapus
  17. Sungguh Postingan yang sangat indah juga bagus sobat, saya sangat tertarik sama srtikelnya rasanya menyentuh banget..........
    kunjungan perdana dan salam kenal ya sob......jangan lupa mampir juga yah..sobat...ditunggu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke salam kenal juga makasih kunjungannya =)

      Hapus
  18. wah ini demi untuk menjaga perasaan ya, ehm, klo aku si paling ga bisa. tapi keren ko, nantikan lanjutannya ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah ada bang di blog niza sama ka ade =)

      Hapus
    2. wah gitu ya, ehm, cari dulu ya. ok, tenkyu.


      <-----
      itu kutu ya? atau semut? ah aku lebih suka bilang kutu, klo aku bilang semut, ntar dikira manis nie blognya. heheheh

      Hapus
    3. itu kutu loncat bang hoho..

      Hapus
  19. jadi pengen peluk Zie.. eh salah maksudnye jadi meluk Airin *puk.. puk..*

    BalasHapus
    Balasan
    1. cini belo peyuk aku airin #eh..

      Hapus
  20. ditunggu kelanjutannya.... tapi musti baca dulu cerita sebelumnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. silahkan mbak ada linknya diatas =)

      Hapus
  21. jujur saya membaca hanya sampe "are you okey"..tapi rasanya bakal jadi sebuah karya yang cantik seandainya ini dibuat menjadi sebuah novel, misalnya.
    untuk itu saya follow blog keren ini #246, baliknya bila berkenan
    salam sehat dan sukses selalu.

    BalasHapus
  22. gue 100000% mendukung kalo ini dijadiin novl. dari cerita sebelumnya sampe sekarag ceitanya keren bgt

    BalasHapus
  23. jujur,saya perlu dunlut dulu utk bisa membaca semua trio fiksi ini...dan saluut utk proyek trionya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi silahkan ka kalau mau di dunlut, tapi gimana caranya -__-

      Hapus
  24. ampun.., tulisanx panjang banget sob.., mana aq blom baca serial yg lalu lg.., Ampun hehehe...., terus berkarya ya, semangka...! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe ngga apa-apa maaf kalau kepanjangan.. makasih kunjungannya..

      Hapus
  25. "Airin, sini donk..." panggil enha.

    #puk..puk... -> menepuk-nepuk pundak Airin.

    "Airin, malang bener nasibmu ya nak. By the way, any way, busway... Kamu tahu enggak? Ada yg mengganjal nih. Dari tadi, ada yang gangguin aku, sewaktu memata-matai kisahmu sama si Zie."

    "Apa itu?" tanya Airin seraya memandangku dengan mukanya yang memelas.
    "Tuh, di sebelah kiri, ada serangga muter2 mulu. Pengen gue giles pake sepatu. Tapi sayang, kasihan monitor laptopku."

    (=..=)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi biar keliatan lebih hidup blognya =D
      jangan di giles kasihan masih kecil =D

      Hapus
  26. aduh ... ceritanya bersambung lagi .. :D
    ya wis ... ditunggu maning kelanjutanya ,,, ^_^

    BalasHapus
  27. Kunjungan pagi sob. Ditunggu kelanjutan ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks.. nanti berkunjung juga =D

      Hapus
  28. kok aku membaca Amuri sebagai Amauri ya?
    ketauan deh penggemar Liga Itali. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. gw malah ngga kenal kalau yang itu =D

      Hapus
  29. Blognya dah ku follow#248 follbek ya..

    BalasHapus
  30. waaaa airin keren.. ternyata dia mencoba untuk move on ya? Ceritanya jadi semakin seru nih. Ditunggu kelanjutan ceritanya bang.. siap dibukukan ni :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi insya allah kalau ada kesempatan kesana di bukukan =)

      Hapus
  31. kyaaaa cerita ke-4..
    berasa jadi Airin #eaaa

    BalasHapus
  32. I blog frequently and Ӏ genuinely аpprecіate yοur infoгmation.
    The article has really peаked my interеst. I'm going to book mark your website and keep checking for new details about once per week. I subscribed to your RSS feed too.
    Here is my webpage onlinedatingg.com

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)