April 20, 2013

Ada rindu dalam perjalanan rasa

Ada yang bilang sebuah rasa adalah perjalanan panjang menuju muara tak berujung. Berkelok-kelok mencari arah yang tepat. Menghalau tingkah-tingkah kejemuan yang menggoda. Dan tentu saja dari perjalanan panjang itu ada komponen yang istimewa. Rindu, bulir-bulir murni sebagai bumbu penyedap rasanya.

Lalu apakah kau tahu rindu itu sebenarnya berasal dari mana? terbuat dari apa? Apakah ia terbuat dari sumber mata air dari dasar hati yang paling murni. Jernih karena ketulusannya. Terbuat dari putik-putik rasa yang paling setia menunggu. Percaya kepada benang sari yang akan menjemputnya. Entahlah aku tak tahu tepat asal muasalnya. Satu yang pasti, rindu akan selalu menjadi bumbu yang paling istimewa untuk menyedapkan rasa.


Tapi seperti halnya perjalanan dalam bentuk lain, perjalanan sebuah rasa pun tak akan pernah benar-benar mulus menuju dermaganya. Ada saja duri-duri kecil yang menggangu. Salah satunya duri yang suka menggoda rindu-rindu yang ada. Mereka menjadi tidak stabil seperti biasanya. Bulir-bulirnya berceceran, mengurai sembarangan bukan pada tempatnya.

Pada akhirnya ada rindu yang gentayangan tanpa arah mencari tuannya, setengah putus asa sampai ia terdiam lama. Ada rindu yang hanya bisa menggigit jari, ia mulai lelah mencari kepastian yang sedang bersembunyi. Ada rindu yang sedang menahan amarah, kesal dengan dirinya sendiri yang belum bisa juga beranjak pergi dari harapan yang lebih dulu pergi. Ada rindu yang tetap sabar menunggu, tanpa jemu, masih menggantungkan harap yang dibawa waktu. Ada rindu yang diam-diam terisak, merasakan sesak oleh kenyataan yang mulai terkuak. Oleh setia yang seakan-akan terinjak-injak. Ada rindu-rindu yang menunggu sendirian, memandang lurus kejauhan, menghela napas kesepian. Ada rindu yang memanggil ketika hujan mulai menggigil. Tentang masa lalu yang terlalu usil. Ada malam-malam panjang dengan rindu yang tidak ringan. Bayangan yang hanya nyata dalam angan.

Tapi setajam apapun duri-duri itu menggangu perjalanan sebuah rasa. Bagaimanapun rindu akan tetap menjadi komponen yang istimewa. Tak mungkin kamu mudah mengacuhkan rindu, kalau rindu itu sendiri sudah lebih dulu menjajah rasa hatimu. Tak mungkin kamu bisa menganggap rindu itu tidak ada, kalau rindu itu sendiri yang membuat rasa hatimu lebih nyata. Apa iya kamu tidak tahu persis bagaimana merindu, jika jarak lagi-lagi memaksamu untuk mau menunggu. Jangan konyol menganggap rindu itu cuma hal sepele, sedangkan mengatakannya nyaris membuatmu nggak pede. Boleh saja kamu berusaha menganggap rindu itu tidak nyata, boleh jadi kamu hanya sedang berpura-pura tidak merasa.

Lihatlah, untuk urusan rindu saja kadang membuat perjalanan sebuah rasa akan terguncang. Lalu bagaimana kalau rasa itu sendiri yang pada akhirnya terganggu? Apa kabarnya dengan tujuan mereka sebenarnya? akan sampaikah ke muara yang katanya tak berujung itu. Kita lihat nanti akhir perjalanannya.

Bagaimana pun setitik rindu akan selalu lebih istimewa untuk sebuah rasa, dibandingkan rasa itu sendiri yang tak lagi percaya kalau masih memiliki rindu. 

postingan sebelumnya [CERPEN] ; Lelaki yang berjalan mencari perubahan 

2 komentar:

  1. rindu yang bergentayangan.. berkeliaran penasaran pencari pemiliknya..
    jadi mengerikan melihat rinduku sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan bilang rindumu sedang marah-marah tak jelas? :D

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)