April 02, 2013

Kenang kunang-kunang

Malam dengan sejuta kunang-kunang di dalam pikiran.

Melodi jangkrik sebagai alunan orkesta pembuka malam, di bawah langit dengan sorotan purnama yang menawan. Aku terasa tersisih dari sepinya ruang semesta yang sedang menggelar kebahagiaan. Hmm, aku tahu seharusnya suasana ini lebih dari sempurna untuk mengundang keceriaan. Bukankah ada seseorang di sana yang pasti menanti kehadiranku untuk menyempurnakan hari bahagianya.Tapi siapa yang tahu persis apa yang sedang diinginkan sekeping hati. Bagaimana pun kamu pura-pura tersenyum, jika hati sedang merajuk siapa yang bisa membujuknya.

Lingkaran waktu sudah tepat berdetak di angka delapan malam, rupanya belum cukup waktu untukku memilih, pergi atau tetap diam di sini sendiri. Aku menghela napas bersamaan dengan seekor kunang-kunang yang hinggap di tepian bale bambu tempatku terkurung dalam diam. Cahaya kuning berkedip-kedip. Melihat hewan 'lampu' itu, langsung saja kenangan masa lalu mengambil alih dunia pikiranku.

Tepatnya terkenang kisah sepuluh tahun lalu, di bale bambu yang sama, di suasana malam yang sama. Aku masih ingat ia menggunakan pakaian kuning-kuning –warna favoritnya-. Aku dan dia meributkan hal-hal sederhana. Tentang pemikiran anak kecil yang jauh dari kata penting. Dia bersikukuh kalau sekumpulan kunang-kunang itu cahayanya lebih terang dari bintang di langit. Jelas waktu itu aku tidak sependapat –tepatnya tidak mau kalah-, toh aku tidak pernah melihat kunang-kunang bertamu ke rumah membawa teman-temannya. Kunang-kunang selalu datang sendirian. Asumsiku saat itu cahaya bintang sudah pasti menang.

Aku tersenyum mengingat hal itu, tentang dua anak kecil yang bersahabat baik, sama-sama keras kepala meributkan teori siapa yang paling benar.

Ketika aku menolak teorinya –sambil tertawa- tiba-tiba saja ia menyeret tanganku, mengajak memecah gelap dengan sorotan lampu senter menuju area sunyi perkuburan. Ia yakin sekali di sanalah tempat perkumpulan kunang-kunang bersarang, seperti cerita-cerita orang tua yang kami dengar, kata mereka kunang-kunang suka dengan sisa-sisa jasad orang yang sudah meninggal. Meskipun pada akhirnya hasil pencarian kami nihil, tak ada satupun kunang-kunang yang kami temui. Alih-alih kulit pada gatal disengat nyamuk kebun. Lagi-lagi aku tersenyum mengingat hal itu.

Setengah jam berlalu, aku bangkit dari lamunan. Bagaimanapun kebahagiaan ini harus dilengkapi malam ini. Seperti halnya kebahagiaan kisah masa kecil bersamanya. Aku bergegas mengiring waktu yang terus melaju, sambil berharap semoga kehadiranku tidak terlalu lambat untuknya. Satu langkah pembuktian kalau aku turut bahagia atas pernikahannya. Atas pilihan pendamping hidup sahabat kecilku yang aku kagumi diam-diam.

Aku menengadah, sorotan bulan begitu sempurna. Bagaimanapun  bintang itu kunang-kunangnya angkasa. Kalau bulan anggap saja sorotan lampu senter seseorang yang mencari kunang-kunang.

Anggap saja aku hanyalah bulan yang merindu kunang-kunangnya. 

postingan sebelumnya [Cerpen] : Dua orang yang menahan nafsu


12 komentar:

  1. mas uzay masa kecilnya suka main kunang2 yah?
    wah...klw saya suka main game. jauh yah? hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh? nggak udah belasan tahun nggak pernah liat kunang-kunang lagi, waktu kecil mainnya tajos sambil makan permen karet yosan haha

      Hapus
    2. rumah Ika deket sawah dan masih banyak kunang-kunangnyaaaaa ;D

      Hapus
    3. tangkepin ka, goreng campurin sama belalang sawah,

      Hapus
  2. lagi-lagi bermain dengan kenangan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah, kenangan selalu menarik untuk ditulis ulang *alahpadahalinifiksi

      Hapus
  3. bang, saya speechless bang :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan? kenapa mbak din? pernah ngalamin ya? hayooo??? *mendadakkepo

      Hapus
    2. enggaaak.. mana ada saya ditinggal kawin bang *ehh :p

      speechless aja, bingung mau komen apa bang.. cuman membayangkan cerita ini terwujud dalam bentuk visual.. gitu.

      Hapus
    3. Hehe kirain, ini juga fiksi toh nggak nyata cuma karangan liar aja :D

      Hapus
  4. idih bang Ujay gebetannya diembat temen :p

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)