April 15, 2013

Angin yang mendesir rasa

Jangkrik asyik berderik senang, bersahut-sahutan dengan burung hantu yang ber-uhu merdu. -Entah bagaimana bunyi perpaduan orkestra mereka, ah sudahlah. Yang pasti malam telah berbagi sisi gelapnya dan kedua jenis hewan tersebut sudah pasti ikut riang.

Beranda rumah nampak lengang, sepoi-sepoi angin berseliweran menyapa daun-daun tanaman suplir di pot-pot yang berjejer rapi. Aku merapikan ujung poni yang menyentuh mata. Aku rasa angin malam ini memang berbeda dari biasanya. 

"Li sudah malam, ayo masuk nanti masuk angin kamu." Deran, kakak lelakiku memanggil sambil menutup daun jendela yang masih terbuka. Aku hanya menoleh tak bersepatah kata. Kembali menata hati yang hari ini ikutan berbeda rasanya.

Kak Deran menyeringai menghampiriku, senyumannya terasa ganjil. "Ada yang lagi galau berat nih kayaknya." Dengan serta merta ia mengacak-ngacak rambut panjangku yang memang sedang tergerai bebas. Aku melotot, menyingkirkan tangannya yang jahil. Orang galau malah diledekin. Itu bahasa mata yang ingin aku sampaikan.
"Gak apa-apa galau, itu tandanya kerja hatimu masih normal. Sisi sensitifnya masih berfungsi dengan baik, nggak mati. Saat ada yang nggak beres, alarmnya otomatis aktif." Kak Deran tersenyum lebih bersahabat. Seperti biasa ia menanggapi sesuatu dengan bahasa yang kadang aku tidak mengerti.

"Tapi rasanya yang ini rumit sekali Kak. Sulit dibendung seperti biasanya." Aku menunduk lesu, memainkan ujung kaki. Helaan napas sudah pasti terdengar berkali-kali.

"Waaah jangan-jangan hatinya udah bocor Dek, bahaya ini." Kak Deran menyeringai menggoda lagi. Aku langsung saja menjawil lengannya. Sebal.

"Azalia, nggak ada yang nggak punya waktu berkesudahan. Termasuk masalah hati. Ada yang datang menggantikan hal yang lama. Ada yang datang menyembuhkan yang luka. Yang tumbuh menggantikan yang patah. Meskipun tidak mudah membujuk hati yang sedang mengkal. Terlanjur kecewa. Tapi bukan berarti akan selamanya begitu."

Aku menelan ludah. Urusan hati memang tidak pernah sederhana. Desiran angin menyentuh bagian kulit dinginku. Rasanya hatiku ikut menggigil.

"Dengarkan ini. Rasa itu seperti halnya desiran angin, suka-suka dia mau berhembus ke mana. Kadang tak jelas arah, sering seliweran satu arah, suka mendesir berlawanan arah, kadang hanya berputar-putar di tempat yang sama, kadang berhembus lembut, kadang seperti menampar kasar. Dan hati ketika disapa rasa adakalanya ia terasa sejuk, nggak jarang hatipun suka gerah. Bukankah seperti itu sebuah rasa yang menyapa hati? datang tak lebih dulu permisi. Entah untuk orang yang memang nggak tepat, atau bukan di waktu yang tepat. Rasa tetap nggak peduli. Menelikung pertahanan hati yang sering dihantam tiba-tiba. Kalau sudah kecewa sudah tentu bukan angin lembut yang sedang menyapa. Jangan-jangan angin yang terlanjur tercampur debu-debu kotor."

Aku coba mencerna kata-kata yang disampaikan Kak Deran. Rasanya semakin rumit.

"Pernah mendengar istilah angin jahat? itu angin yang kata orang tua bilang membawa penyakit. Boleh jadi berlaku dengan sebuah rasa. Banyak rasa yang berkeliaran ke tempat yang salah. Rasa-rasa yang tak jelas membawa harapan. Tak jelas arah tujuan. Rasa yang sengaja atau nggak membawa penyakit yang bernama kecewa. Kalau sudah begitu siapa lagi yang paling direpotkan kalau bukan hati? Nah, apalagi kalau hati dibiarkan menuruti perasaan yang nggak jelas. Bisa kompilasi penyakitnya."

Lagi-lagi aku menelan ludah. Seketika hatiku seperti disengat oleh semut api-api.

"Sudahlah ayo masuk, kalau rasa saja suka datang nggak permisi membawa harapan yang salah. Ngapain juga kita harus repot-repot menjamunya. Tutup pintu rapat-rapat bilang yang sedang ditunggu bukan dia."

Aku tersenyum, sambil mengekor Kak Deran melangkah masuk. Memang percakapan ini tidak membuahkan kesimpulan yang pasti. Seperti halnya hati yang kadang suka terlanjur mengharapkan yang tak pasti. Aku percaya pemahaman ini hanya soal waktu. Dan kecewanya pun berlalu.

postingan sebelumnya :  Tembok yang rapuh

12 komentar:

  1. dari postingan bang uzay, aku berasa jd azalia nya.

    bagus bang, insyaallah mau sering2 mampir ah. baca2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah selamat datang kembali di taman baca Lakaran Minda kalau gitu ya :)

      Hapus
  2. aaaahhh, urusan hati memang rumit deh...
    XD

    BalasHapus
  3. kak deran ini kata2nya dalem banget.. kayaknya sering baca buku kahlil gibran ya kak deran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak tuh nggak apal malah tulisan kahlil gibran yang kaya gimana *kata ka deran

      Hapus
  4. Karena ini soal rasa. Ah, komentar tak nyambung. Btw anyway busway, saya datang untuk mampir. Mengucapkan salam. Dan tak lupa berterimakasih untuk jejak yang tertinggal di beberapa postingan di blog saya.

    Oh iya, mungkin saya salah menyebut di kolom komentar, karena jika melihat gaya bahasa dan penuturan, serta nama Azura itu, dirimu wanita ya? Haha.. jika salah, mohon dimaafkan. Jika benar adanya, binggo! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha Azura zie itu cowok tulen, jadi mas Arya nggak salah nyebut tenang saja.

      Hapus
    2. pita juga sempat terjebak.. malah memanggilnya ukhti :)

      Hapus
    3. Aduuuuh, nasib-nasib :)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)