April 14, 2013

Menghijaukan kenangan

Selamat datang hamparan hijau, pucuk-pucuk kebun teh.

Kadang rutinitas sehari-hari terlalu terbuka mengundang urat-urat penat datang. Sedikit demi sedikit mereka menguasai tempurung kepala dan mulai mengkontaminasi isinya dengan sensasi yang berlebihan- pusing. Jenuh. Perlu pasokan kantung oksigen untuk menyegarkan kembali pikiran. Mengusir mereka yang terlanjur menjajah, jauh-jauh pergi. Saat itu yang paling menarik hanyalah satu hal, suasana yang berbeda.

Seperti ulat pohon jambu yang memiliki batok kepala yang besar, melata mencari pucuk daun paling hijau -segar. Seperti itulah tiga jejaka pada akhirnya memutuskan untuk melanglang buana mencari nuansa baru. Hamparan hijau yang bisa memanjakan mata. Bukankah kadang yang dilihat mata itu berpengaruh besar untuk anggota tubuh yang lain? seperti halnya rahasia kecil si dokter bedah dengan jubah hijaunya.

Dan terpilihlah satu lokasi yang menjanjikan untuk memenuhi dahaga akan hal itu. Masjid At-taawun - Puncak. Tempat menenangkan hati dapat -rumah Allah memang paling tepat, meleraikan penat pikiran sudah pasti.

Sambil menunggu waktu Ashar, Tiga jejaka merebahkan badan di atas sejumput rumput basah menghijau. Tengadah ke langit. Ada sekumpulan awan putih sedang berhilir entah hendak ke mana. Sebagian yang lain hanya diam, membentuk gumulan kapas putih -terlihat lembut. Semilir angin sejuk begitu menggoda kami untuk terlelap. Ditambah gemericik air menjadi penenang urat-urat jenuh yang masih bertingkah. Jernih dengan harmonisasi alamnya. Semua penat seakan terbang bersamaan dengan wangi pucuk kebun teh yang terbawa angin. Rileks, alam sedang bersahabat melayani kami.

Hingga Ashar telah tunai, senja sudah memulai. Sebelum pulang menyempatkan diri menikmati jagung bakar dengan segelas kopi di bawah sisa-sisa mentari. Mengisi perut. Masih ada satu tujuan lagi, singgah mengunjungi kenangan tempo dulu. Tempat enam tahun silam kami menggunakan seragam putih abu-abu.

Dan untuk tempat yang satu ini, hanya ada satu kesimpulan :

Nyatanya kenangan itu memang tak pernah ke mana-mana, meskipun langkahmu telah jauh pergi. Ketika dihampiri ia mendekat lagi. Nyatanya kenangan itu selalu punya tempat tersendiri. Ada ruang yang jika disinggahi, semua yang pernah dilalui seakan kembali.
Nyatanya kenangan hanyalah kenangan, hanya untuk dikenang tanpa bisa benar-benar diulang. Dan tiga tahun masa putih abu-abu bukan waktu yang singkat untuk menjadi bagian dari sejarah kenangan. Enam tahun kemudian bukan waktu yang singkat untuk kembali mengenang semua. Ah, kesimpulan ini sebenarnya sederhana, kami hanya sedang kangen dengan suasana dan sahabat-sahabat lama.

postingan sebelumnya [Untuk Teman] : Selamat datang kabar gembira

8 komentar:

  1. nostalgia...
    Waktu yg dilalui bersama sahabat memang menyenangkan, dan tak akan tergantikan.
    Btw, aku dapat PERTAMAX!
    haha...
    XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali En, nggak ada duanye dah ya...

      Woooooow

      Hapus
  2. wah cerita yang indah kata-katanya bagus sob,ternyata kenangan bisa membuat orang terlena dengan lamunannya.

    BalasHapus
  3. Kenangan gak akan mungkin hilang, namun akan semakin diingat dan akan menjadi cerita seru buat generasi selanjutnya hee... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah buat anak cucu nanti ya...

      Hapus
  4. kesimpulannya itu loh bang. bgus bgt.
    bikin aku kangen bgt sama temen2 sma ku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga perjalanan bersama tiga orang teman SMA yu..

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)