Tulisan ini didedikasikan kepada ciwi-ciwi yang sedang mencari teman hidup. Boleh juga untuk kaum bapak yang memiliki anak perempuan, yang sudah mulai beranjak usia matang untuk menikah. Kalau bisa tekankan kepada mereka mulai dari sekarang. Mulai dari hari ini. Arahkan pandangan mereka untuk memilih kriteria calon pasangan hidup, selain yang baik agamanya, santun etika dan perbuatannya, boleh juga ditambahkan: pilihlah yang tidak merokok. Atau minimal mantan pecandu nikotin. Alias perokok yang sudah taubatan nasuha.
Kenapa begitu? Penting rasanya jika kita ingin memutus ‘lingkaran setan’ kebiasan jelek itu untuk keturunan kita jauh ke depan. Dengan dimulai dari memilih pasangan yang tepat dari awal. Kalau perlu masukkan di point perjanjian pra nikah. Sehingga lebih terjamin, suatu saat dianugerahi anak laki-laki tidak akan tergoda oleh asap rokok. Termasuk untuk coba-coba. Karena teladan dari ayahnya sendiri.
Sebab, berapa banyak anak-anak yang menjadi perokok aktif, secara tidak sadar sudah diturunkan dari bapak-bapaknya. Identitas warisan. Bapaknya perokok, anaknya ketika sudah mulai besar sedikit mulai ikutan merokok. Dengan dalih: bapak gue juga perokok. Dari awalnya sembunyi-bunyi, sampai ngebulnya aja sekarang mah sebelahan. Kan miris!
Sebab, berapa banyak ibu-ibu yang merasa prihatin karena tidak bisa menasehati anaknya dengan maksimal untuk tidak merokok, karena suaminya aja seperti tidak bisa napas tanpa rokok. Ibu-ibu yang pada akhirnya pasrah, karena sudah tidak ‘kuasa’ untuk melarang anaknya menjadi pecandu juga.
Padahal ya, kalau saja setiap anak memiliki pemahaman ini (apalagi yang masih pelajar dan belum berpenghasilan sendiri): bagaimana jika uang yang saya belikan untuk sebatang rokok, uang jajan dari orangtua. Sang ayah yang memeras keringat banting tulang tidak ridho nafkahnya dipakai untuk merokok? Sang ibu yang sepanjang siang malam mendoakan kebaikan, dari mengandung, membesarkan hingga akhil baligh (sudah bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk) juga tidak ridho balasan doanya malah dibalas dengan menghisap rokok? Bagaimana bila dalam belajar terasa bebal sekali, ilmu itu tidak masuk-masuk karena guru yang mengajarpun tidak ridho muridnya merokok? Kan jelas di instansi pendidikan anak pelajar dilarang merokok.
Bangga sekali rasanya, beberapa minggu lalu mendengar langsung dari salah satu adik saya (anak dari salah satu paman) yang dengan lantang berkata ketika ditawari rokok oleh saudaranya yang lain. Ia berkata : Mendingan buat beli quota dari pada buat rokok.
Mantap, anak muda yang punya integritas dan identitas yang jelas. Semoga istiqomah sampai nanti punya keturunan.
Semoga
dengan begitu ada itikad baik untuk memutus 'lingakaran setan' rokok yang boleh
jadi nanti diwariskan. Semoga.
Tulisan ini bermaksud menyinggung semua pihak yang masih punya hati nurani. Yang masih minim kesadaran, bahwa apa yang kita perbuat sedikit banyak, sadar tidak sadar berpengaruh ke lingkungan kita masing-masing. Selagi kita masih menjadi manusia yang berstatus sosial. Sekian terima kasih.
@azurazie_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)