Ahad pagi adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Pasukan Ababil. Apalagi hari ini tepat 100 hari sejak challenge mereka berakhir. Alif, Si Kembar Sin dan Shin sudah bertandang pagi-pagi sekali ke Taman Baca di kediaman Ibu Ta Marbutoh yang semakin terkenal dan ramai oleh pengunjung. Tak terkecuali ‘Ain yang memang sudah berjanji dengan Saktah aunty-nya untuk membantu memanen tomat yang sudah matang di taman herbal –samping Taman Baca. Rencananya jus tersebut akan dibagikan kepada pengunjung Taman Baca hari ini.
Rasanya baru kemarin Hijrah dengan sepeda antiknya harus berkeliling ke taman kota, sembari membawa banyak buku bacaan dan berusaha mencari orang-orang yang berkenan mampir untuk membaca. Yang kemudian hari diputuskan untuk membangun Taman Baca yang lebih permanen di kediaman ibunya itu. Kisahnya bisa dibaca di novel Kampus Hijaiah. Sekarang para pengunjung setialah yang rutin dan sengaja datang ke sini. Sampai usia Alif dkk. sudah SMP, Taman Baca ini masih eksis dengan koleksi bukunya yang semakin banyak.
“Ada berapa celengan yang sudah kembali, Lif?” tanya Sin yang bertugas mengumpulkan celengan-celengan dari anak-anak pengunjung tetap Taman Baca.
“Iya, ada berapa, Lif?” Shin, kembarannya, ikut bertanya.
“Dari kelompok Arid sudah ada 5 celengan. Kalau ditambah dengan celengan punya kita, jadi 9 celengan,” jawab Alif. “Kalian bisa nggak sih kalau bertanya satu orang saja?” gerutunya untuk kesekian kali.
“Wah, sudah banyak itu,” seru Sin.
“Iya ya, banyak itu,” sahut Shin. Keduanya menyeringai, memang suka sekali menjahili temannya itu.
“Suka-suka kalian saja. Ayo, mulai kita bedah celengannya.”
“Siap, Kapten!” Sin bersemangat.
“86, Komandan!” Shin tidak kalah antusias
Alif pun mulai membagikan celengan untuk dibongkar dan dihitung isinya. Celengan ini adalah hasil dari gerakan #SedekahSubuh yang dicanangkan oleh Pasukan Ababil sejak tiga bulan yang lalu. Berawal dari kajian Ustadz Idgham yang tak lain adalah ayah ‘Ain di Masjid Kampus Hijaiah. Sang ustadz menerangkan tentang keutamaan #SedekahSubuh jika dirutinkan setiap hari. Alif dkk. antusias menyimak. ‘Ain bahkan sampai mencatat poin-poin yang ayahnya sampaikan pada kajian tersebut.
1. Didoakan malaikat
Dari Abu Hurairah ra: Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Setiap awal pagi saat matahari terbit, Allah menurunkan dua malaikat ke bumi. Lalu salah satunya berkata: Ya Allah, berilah karunia kepada orang yang menginfakkan hartanya. Gantilah kepada orang tersebut yang membelanjakan hartanya karena Allah. Malaikat yang satu lagi berkata: _Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil._” HR. Bukhari dan Muslim
2. Rezeki lebih dimudahkan
Karena kita dahulukan Allah di awal hari, insyaallah pintu rezeki hari itu dibukakan. Banyak orang merasa rezekinya jadi lebih berkah dan cukup setelah rutin bersedekah subuh.
3. Menghapus dosa dan menolak bala
Sedekah itu memadamkan kemurkaan Allah seperti air memadamkan api. Sedekah di waktu subuh juga dipercaya bisa menjadi pelindung dari musibah sepanjang hari.
4. Melatih keikhlasan
Subuh adalah waktu yang paling berat untuk bangun. Jika kita masih sempat menyisihkan rezeki di jam segitu, itu bukti kita benar-benar berniat karena Allah, bukan karena dilihat orang.
5. Mendapat pahala berlipat
Waktu subuh termasuk waktu yang diberkahi. Amal kecil di waktu utama, pahalanya bisa menjadi besar. Apalagi jika sedekahnya rutin, walaupun hanya sebesar dua ribu rupiah.
Ustadz Idgham pun menjelaskan bahwa #SedekahSubuh yang paling afdal adalah langsung diberikan kepada yang membutuhkan. Misalnya kepada orang-orang yang pergi berdagang dan belum sempat sarapan, atau kepada petugas kebersihan di taman kota yang sudah bertugas sejak pagi-pagi buta. #SedekahSubuh juga bisa dimasukkan ke kotak amal masjid atau membuat celengan khusus di rumah. Jika sudah terkumpul cukup banyak, hasilnya bisa diserahkan kepada yang membutuhkan. Dan Pasukan Ababil memilih opsi yang terakhir itu.
Mereka sangat antusias membuat celengan dari bahan-bahan bekas yang sudah tidak dipakai. Alif membuat celengan dari kaleng biskuit yang dibungkus dengan kertas buletin Kampus Hijaiah yang pernah memuat tentang keutamaan sedekah. Sin dan Shin membuat celengan dari kotak bekas sepatu baru mereka. Kotak sepatu tersebut dibungkus dengan kertas HVS yang sebelumnya sudah digambari grafiti bertuliskan "Ayo Sedekah" buatan mereka sendiri. Sedangkan ‘Ain memilih yang simpel saja, membeli celengan di warung sebelah rumahnya.
Tidak lupa Pasukan Ababil mengajak orang-orang yang memang rutin datang ke Taman Baca untuk ikut meramaikan challenge #SedekahSubuh ini. Dengan tenggat waktu 100 hari pengumpulan.
“Kalau sudah terkumpul memang kalian mau apakah hasilnya nanti?” Tanya Jim ketika mendengar chalengge prajurit-prajuritnya tersebut. Saat baru satu minggu berjalan.
Tak terasa waktu berlalu, rasanya baru kemarin Jim membuatkan berbagai permainan-permainan menarik ketika mereka masih kecil. Dari mulai misi pencarian harta karun, lomba kelas mendongeng dan banyak lainnya. Kisahnya bisa dibaca di novel Kampus Hijaiah. Sekarang prajurit kecilnya itu sudah bisa membuat chalengge untuk mereka sendiri dan mengajak orang lain untuk ikut serta.
“Belum tahu nih, uncle.” ‘Ain menjawab mewakili yang lainnya.
“Iya, Paman. Punya ide nggak baiknya untuk apa?” Alif meminta saran.
“Aku maunya yang kreatif, seru dan menyenangkan, Om.” Sin ikutan berseru.
“Iya, Om yang paling menyenangkan.” Shin mendukung kembarannya.
“Ye... yang penting mah bermanfaat kali.” Alif meluruskan dan ‘Ain mengangguk setuju.
“Baik nanti Paman-Om-Uncle bantu cari ide yang bagus deh, sekarang jalanin aja dulu. Yang rutin isinya, jangan sampai terlewat satu hari pun.” Jim berjanji kepada mereka yang memang sejak kecil sudah terbiasa memanggil dengan panggilan yang berbeda. Pasukan Ababil pun semakin bersemangat untuk menyelesaikan challengge-nya.
@azurazie_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)