Januari 10, 2019

NAMA-MU YANG MANA, YANG MASIH AKU DUSTAI?

Kudengar dengan lantang suara Salman sedang melantunkan Nama-Nama Agung-Mu di bilik kamarnya, ketika aku hendak menumpang ke kamar kecil gubug sederhana ini.

Suaranya merdu sekali. Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim, Ya Maalik, Ya Quddus, Ya Salam... Langkahku terhenti, hatiku terenyuh, sudah lama sekali rasanya aku tak lagi mendengar lantunan nama-nama itu. Dulu sewaktu kecil aku pernah berhasil menghapalnya. Kini.... entahlah aku tak yakin bisa melapalkannya dengan lancar sampai nama ke 99.
Salman melantunkannya dengan begitu khidmat hingga meresap ke relung hatiku. Mataku tiba-tiba merembas. Ada apa dengan keluarga kecil ini, lagi-lagi membuat kesadaranku terusik. Sadar, telah semakin jauh untuk bersungguh-sungguh mencinta-Mu.
Salman memandangi Nama-Mu, nenek menyebut-nyebut Nama-Mu. Sedangkan aku? Masih saja mendustai Nama-nama-Mu.

Sang Maha Pengasih... aku tak lagi sering berkeluh kesah kepada-Mu di sepertiga malam. Sang Maha Penyayang... aku tak lagi peka dan peduli dengan orang-orang sekitar ku. Terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Sang Maha Pemberi Rezeki... aku lebih sering mengeluh kekurangan dengan apa yang telah Engkau beri. Sang Maha Memberi Ketetapan... aku lebih sering tak terima dengan apa-apa yang telah terjadi dalam keseharian. Lebih sering bertanya, kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

Semakin terhanyut dengan lantunan Salman, aku semakin bertanya-tanya. Nama-Nama-Mu mana lagi yang masih aku dustakan? Sang Maha apalagi yang membuat diri ini masih saja angkuh. Padahal tidaklah daya dan upaya tanpa KEMAHAAN-Mu.

Inikah yang membuat hatiku belakangan ini merasa sepi?

esuatu yang dibiarkan mengalir apa adanya. Tidak lagi diburu-buru. Biasanya malah mendekat begitu saja. Bahkan seringnya kita sudah hampir lupa dengannya. Pernah merasakan moment seperti itu?

Siang itu, ketika aku sedang berkemas untuk melangkah pulang. Tiba-tiba saja anak kecil itu menghampiriku. Mungkin Salman merasa perlu berterima kasih karena kemarin aku membantu membenarkan genting kamar mandi yang bocor. Sesuatu yang belum bisa ia lakukan sendiri di usianya.

Selepas itu, aku dan keluarga kecil itu menjadi lebih akrab. Meskipun aku lebih banyak mendengarkan cerita nenek dan Salman hanya sibuk membaca terjemahan Al-Qur'an. "Sudah mau pulang, Bang?"

"Ia, nih. Besok sudah harus masuk kerja lagi." Kataku, masih tidak menyangka anak itu mau bertanya.

"Kamu masih belum mau menjawab pertanyaan abang yang kemarin?" Kataku, berusaha sekali lagi. Meskipun kali ini tidak terlalu muluk ingin mengetahui teka-teki ini. Kenapa seorang Salman akan berdiri mematung bila mendengarkan suara adzan.

Salman kembali terdiam. "Tak apa, tak perlu dijawab. Abang cuma iseng bertanya. Jaga nenek baik-baik ya, Man. Insya Allah nanti abang kembali berkunjung." Ia mengangguk. "Bang, seberapa sering orang dewasa bertanya-tanya akan sesuatu. Padahal sebenarnya jawabannya sudah tahu." "Maksudmu?" Aku mengerutkan dahi.

"Ya, penasaran dengan ini-itu. Tapi, sebenarnya jawabannya tidak selalu perlu tahu." Aku masih tidak mengerti. Dari mana ia bisa berkata seperti itu. "Salman diam hanya karena butuh untuk diam. Butuh 5 waktu panggilan adzan hanya untuk diam mendengarkan. Diam mentaati panggilan illahi."

Hatiku mencelos. Entah kenapa mendengar jawaban Salman membuat perasaanku terasa lebih tenang. Entah karena penasaran berhari-hari itu baru mendapatkan jawabannya. Atau karena hal lain. 

Mungkin benar kata anak kecil itu, dari segitu banyak pertanyaan tentang hidup yang belum terungkap. Sebenarnya jawabannya hanyalah cukup diam. Diam menerima apa adanya. Mendengarkan dan mentaati sepenuh hati akan ketetapan-ketetapan-Nya. Kenapa hati suka begitu tiba-tiba kesepian. Jawabannya karena belum benar-benar adanya penerimaan.

#azurazie_ 

1 komentar:

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)