Agustus 30, 2026

SPIN OFF KAMPUS HIJAIAH : KEMENANGAN SEJATI

Kemenangan itu bukan di saat bisa meraih semua yang diinginkan. kemenangan itu saat lebih dulu bisa merasa cukup, dari apa yang dibutuhkan. Agar rasa syukur senantiasa bertambah pada lisan, dan sabar selalu bertumbuh dalam hati. Sebab setiap keinginan harus selaras dulu dengan takdir yang terjalin. Sedangkan setiap kebutuhan, sebenarnya sudah lebih dulu terjamin.

 

Matahari sudah akan terbit ketika Jim Azami hampir menyelesaikan layout tulisan untuk edisi KHM (Kampus Hijaiah Magazine) bulan ini. Suara ayam pelung Abah Tanwin sudah mulai berkokok, terdengar jelas meski jarak rumah Jim dan rumah orang tua Kalam Qadri itu berselang tiga rumah.

                “Mangga dituang, Kang-kung! Mumpung masih hangat-hangatnya.” Saktah menyajikan segelas teh manis dan goreng talas yang ditaburi parutan kelapa ke meja kerja suaminya.

                “Wah mantap nih, Beb!” Jim menyomot satu talas. “Makasih ya. Sekalian cek nih Bu Ketu, cover depannya sudah oke belum?” Jim menggeser layar laptopnya.

                “Beb, beb, bebek kali.” Meskipun begitu wajah Saktah tetap tersipu.

                Pasutri ini tidak memiliki panggilan khusus secara spesifik seperti pasangan-pasangan yang lain. Tidak ayah-ibu, mamah-papah, abi-ummi, dll. Bahkan sampai sekarang ketika sudah dianugerahi satu anak laki-laki yang rencananya minggu depan mau melaksanakan sunnah aqiqah.

                Sebenarnya tidak aneh sih, jika mengingat proses ‘jadian’ mereka pun agak awkward. Ada unsur ketidaksengajaan di tepian jurang Gunung Gede, saat tim Jejak Musafir melakukan perjalanan kesana. Baca kisah lengkapnya di Novel Kampus Hijaiah.                              

                “Ini foto Mamang penjual kopi yang suka mangkal dari subuh di Masjid Kampus itu ya? Setiap minggu pagi?” tanya Saktah menyelidik. Ia menunjuk foto ‘jepretan’ Jim yang ia jadikan cover depan. Saktah selalu takjub dengan hasil bidikan seorang Mr. J yang dulu ia kagumi diam-diam, dan sekarang menjadi suami beneran.

                “Betul.”

                “Terus korelasinya dengan quote di bawahnya apa? Itu tulisan Kak Lam bukan sih? Kaya pernah baca.” Sebagai pimred KHM dirinya termasuk yang perfeksionis.

                “POV! Kemenangan sejati. Tentang perjuangan orang tua yang subuh-subuh sudah mengayuh sepedanya mencari nafkah. Padahal rumahnya jauh sekali lho. Dan si Mamang tuh selalu datang tiga puluh menit sebelum adzan subuh.” Jim menjelaskan dan membenarkan kalau quote-nya benar tulisan Kalam Qadri dan sudah izin untuk dikutip.

                “Oke! Pas. Langsung kirim aja filenya ke tim percetakan.”

                Jim mengangguk. Layout dan design-nya memang dirasa sudah pas.

“Rahasia kecilnya, si Mamang ini yang mau dijadikan target oleh Pasukan Ababil.” Jim memberi tahu. “Sepedanya sudah perlu diganti, rantainya selalu lepas pas tanjakan.”
               

                “Oh yang challenge #SedekahSubuh ya? kemarin aku lihat mereka sibuk membuka celengan pas aku panen tomat sama ‘Ain. Dan kelihatannya lumayan banyak hasilnya.” Saktah bercerita, sembari mengecek draft tulisan yang akan dimuat di KHM edisi saat ini.

                “Iya, mereka semangat sekali tuh. Lumayan juga dapat cadangan liputan untuk KHM edisi berikutnya.” Jim menyeruput teh manisnya.

                By the way, Bung Mr. J yang sekarang sudah resmi menjadi bapak-bapak, kapan jadinya berhenti total merokok?” Saktah menagih komitmen Jim. “Padahal anggota Jejak Musafir makin banyak sekarang lho. Kebanyakan anak remaja yang masih harus dituntun dengan lebih baik.”

                “Hmm.... iya, iya ini sudah jauh dikurangi kok. Di area kampus dan rumah sudah tidak pernah juga. Sesekali saja di warung atau sambil motret. Aseli ini fakta bukan mitos.” Jim mencoba bercanda. Menyeringai seperti anak kecil yang baru ketahuan berbuat salah.

                “Gagal lagi deh satu tulisan ini dimuat di edisi sekarang.” Saktah cemberut, menutup kembali satu tulisan yang berjudul: MEMUTUS ‘LINGKARAN SETAN’ ROKOK.

                “Lho, kalau mau dimuat bulan ini ya nggak masalah toh?”

                “Ya nggak lucu aja, Mas. KHM ini dulu dibuat oleh almarhumah Kak Fatih tujuannya untuk media dakwah. Yang mengajak para pembacanya untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin, lebih baik untuk dirinya sendiri dulu. Kalau yang menjalankan dakwahnya sendiri belum mencontohkan apa yang mau disampaikan, ya piye toh? Jadi berasa omon-omon saja.” Saktah selalu ketus jika menyinggung soal rokok.

                “Baik Bu Ketu. Bulan depan pasti terbit tulisan itu. Insya Allah. Janji!” Jim memantapkan kembali niatnya. Tanpa disuruh sebenarnya Jim memang sudah ingin berhenti merokok. Lebih-lebih ia sudah memiliki anak laki-laki saat ini. Tetapi memang diakui untuk langsung berhenti sekaligus agaklah susah. Bukannya tidak berusaha dengan sekuat tenaga untuk berhenti ketergantungan nikotin, tetapi ya.... memang susah untuk dijelaskan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.

                “Makasih ya. Masih mau berjuang.” Saktah berucap tulus. Ia tahu suaminya sudah cukup berusaha.

                “Kembali kasih, darling.” Jim terkekeh.

                “Darling, darling, dadar guling kali.” Saktah beranjak bangun sembari tersenyum merona. Ia harus memastikan anak laki-lakinya masih tertidur pulas, sebelum mengerjakan pekerjaan rumah lainnya

                Sepeninggalan Saktah, Jim membuka file tulisan tentang rokok itu, yang sudah sekitar tiga bulan selesai ditulis oleh Saktah. Dengan judul yang cukup frontal dan berani.

.......

MEMUTUS ‘LINGKARAN SETAN’ ROKOK

oleh Saktah.

                Tulisan ini didedikasikan kepada kaum hawa yang sedang mencari teman hidup. Boleh juga untuk kaum ayah yang memiliki anak perempuan, yang sudah mulai beranjak usia matang untuk menikah. Kalau bisa tekankan kepada mereka mulai dari sekarang, mulai dari hari ini. Arahkan pandangan mereka  untuk memilih kriteria calon pasangan hidup, selain yang baik agamanya, santun etika dan perbuatannya, boleh juga ditambahkan: 

Pilihlah yang tidak merokok. Atau minimal mantan pecandu nikotin. Alias perokok yang sudah taubatan nasuha.

                Kenapa begitu? Penting rasanya jika kita ingin memutus ‘lingkaran setan’ kebiasan jelek itu untuk keturunan kita jauh ke depan. Dengan dimulai dari memilih pasangan yang tepat dari awal. Kalau perlu masukkan di point perjanjian pra nikah. Sehingga lebih terjamin, suatu saat dianugerahi anak laki-laki tidak akan tergoda oleh asap rokok. Termasuk untuk coba-coba. Karena teladan dari sang ayah.

                Sebab, berapa banyak anak-anak yang menjadi perokok aktif, secara tidak sadar sudah diturunkan dari ayahnya sendiri. Bisa dibilang identitas warisan. Ayahnya perokok, anaknya ketika sudah mulai besar sedikit mulai ikutan merokok. Dengan dalih: ayah gue juga perokok kok!

                Dari awalnya sembunyi-bunyi, sampai ‘ngebulnya’ aja sekarang malah sebelahan. Kan miris!

                Sebab, berapa banyak ibu-ibu yang merasa prihatin karena tidak bisa menasehati anaknya dengan maksimal untuk tidak merokok, karena suaminya saja seperti tidak bisa bernapas tanpa rokok. Ibu-ibu yang pada akhirnya pasrah, karena sudah tidak ‘kuasa’ untuk melarang anaknya menjadi pecandu juga. Mengikuti jejak ayahnya.

                Padahal ya, kalau saja setiap anak memiliki pemahaman ini (apalagi yang masih pelajar dan belum berpenghasilan sendiri): 

bagaimana jika uang yang saya belikan untuk sebatang rokok, uang jajan dari orangtua menjadi nggak halal untuk diri sendiri. Sang ayah yang memeras keringat banting tulang tidak ridho nafkahnya dipakai untuk merokok? Sang ibu yang sepanjang siang malam mendoakan kebaikan, dari mengandung, membesarkan hingga akil baligh (sudah bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk) juga tidak ridho balasan doanya malah dibalas dengan menghisap rokok? Bagaimana bila dalam proses belajar terasa bebal sekali, ilmu itu tidak masuk-masuk karena guru yang mengajarpun tidak ridho muridnya merokok? Kan jelas di instansi pendidikan anak pelajar dilarang merokok.

                Bangga sekali rasanya, beberapa minggu lalu mendengar langsung dari salah satu adik saya (anak dari salah satu paman) yang dengan lantang berkata ketika ditawari rokok oleh saudaranya yang lain. Ia berkata: Mendingan buat beli kuota dari pada buat rokok.

                Mantap, anak muda yang punya integritas dan identitas yang jelas. Semoga istiqomah sampai nanti punya keturunan.

                Yang lebih ngeri lagi. Pernah mendengar tausiah dari salah satu ustadz di Kampus Hijaiah. Beliau berkata: Bagaimana bila orang yang meyakini kalau hukum rokok itu adalah haram. Lantas saat dijalan secara ia tidak sengaja berpapasan dengan orang yang sedang merokok. Dan asapnya atau abunya menempel ke baju orang tersebut. Kemudian bajunya dipakai untuk shalat. Itu artinya orang tsb. sedang shalat dengan menggunakan baju yang terkena barang yang haram. Padahal dia tidak mengkonsumsinya. Kira-kira siapa yang menjadi berdosa?

                Maka, bagi kaum hawa yang belum menikah ayo masih punya kesempatan sangat banyak untuk memilih pasangan yang tidak memiliki indentitas sebagai perokok. Jika yang sudah terlanjur punya calon, coba minta untuk berhenti, pelan-pelan tidak mesti sekaligus. Asal punya niat baik dan progress yang menjanjikan. Bukan omon-omon doang. Jika dia tidak bisa berhenti karenamu, minimal minta pikir ulang lagi, berhenti untuk keturunan-keturunanmu nantinya yang sangat punya hak memiliki ayah yang tidak perokok. Semoga dengan begitu ada itikad baik untuk memutus 'lingkaran setan' rokok yang boleh jadi nanti diwariskan.

Semoga.

 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

 

Artinya:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan perbuatan (tangan) dirinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

***

                “Padahal tulisan ini cocok dengan tema bulan ini. Tentang kemenangan.” Kata Jim dalam hati yang tiba-tiba merasa bersalah.

 

 @azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)