Kemenangan itu bukan di saat bisa meraih semua yang diinginkan. kemenangan itu saat lebih dulu bisa merasa cukup, dari apa yang dibutuhkan. Agar rasa syukur senantiasa bertambah pada lisan, dan sabar selalu bertumbuh dalam hati. Sebab setiap keinginan harus selaras dulu dengan takdir yang terjalin. Sedangkan setiap kebutuhan, sebenarnya sudah lebih dulu terjamin.
Matahari sudah akan terbit ketika Jim Azami hampir menyelesaikan layout
tulisan untuk edisi KHM (Kampus Hijaiah Magazine) bulan ini. Suara ayam pelung
Abah Tanwin sudah mulai berkokok, terdengar jelas meski jarak rumah Jim dan
rumah orang tua Kalam Qadri itu berselang tiga rumah.
“Mangga
dituang, Kang-kung! Mumpung masih hangat-hangatnya.” Saktah menyajikan segelas
teh manis dan goreng talas yang ditaburi parutan kelapa ke meja kerja suaminya.
“Wah mantap
nih, Beb!” Jim menyomot satu talas. “Makasih ya. Sekalian cek nih Bu Ketu, cover
depannya sudah oke belum?” Jim menggeser layar laptopnya.
“Beb, beb,
bebek kali.” Meskipun begitu wajah Saktah tetap tersipu.
Pasutri ini tidak memiliki panggilan khusus secara spesifik seperti pasangan-pasangan
yang lain. Tidak ayah-ibu, mamah-papah, abi-ummi, dll. Bahkan sampai sekarang
ketika sudah dianugerahi satu anak laki-laki yang rencananya minggu depan mau
melaksanakan sunnah aqiqah.
Sebenarnya
tidak aneh sih, jika mengingat proses ‘jadian’ mereka pun agak awkward.
Ada unsur ketidaksengajaan di tepian jurang Gunung Gede, saat tim Jejak Musafir
melakukan perjalanan kesana. Baca kisah lengkapnya di Novel Kampus Hijaiah.
“Ini foto Mamang
penjual kopi yang suka mangkal dari subuh di Masjid Kampus itu ya? Setiap
minggu pagi?” tanya Saktah menyelidik. Ia menunjuk foto ‘jepretan’ Jim yang ia
jadikan cover depan. Saktah selalu takjub dengan hasil bidikan seorang
Mr. J yang dulu ia kagumi diam-diam, dan sekarang menjadi suami beneran.
“Betul.”
“Terus
korelasinya dengan quote di bawahnya apa? Itu tulisan Kak Lam bukan sih? Kaya
pernah baca.” Sebagai pimred KHM dirinya termasuk yang perfeksionis.
“POV!
Kemenangan sejati. Tentang perjuangan orang tua yang subuh-subuh sudah mengayuh
sepedanya mencari nafkah. Padahal rumahnya jauh sekali lho. Dan si Mamang tuh
selalu datang tiga puluh menit sebelum adzan subuh.” Jim menjelaskan dan
membenarkan kalau quote-nya benar tulisan Kalam Qadri dan sudah izin
untuk dikutip.
“Oke! Pas.
Langsung kirim aja filenya ke tim percetakan.”
Jim
mengangguk. Layout dan design-nya memang dirasa sudah pas.
“Rahasia kecilnya, si Mamang ini yang mau dijadikan target oleh Pasukan
Ababil.” Jim memberi tahu. “Sepedanya sudah perlu diganti, rantainya selalu
lepas pas tanjakan.”
“Oh yang challenge
#SedekahSubuh ya? kemarin aku lihat mereka sibuk membuka celengan pas aku panen
tomat sama ‘Ain. Dan kelihatannya lumayan banyak hasilnya.” Saktah bercerita,
sembari mengecek draft tulisan yang akan dimuat di KHM edisi saat ini.
“Iya, mereka semangat sekali
tuh. Lumayan juga dapat cadangan liputan untuk KHM edisi berikutnya.” Jim
menyeruput teh manisnya.
“By the way, Bung Mr. J
yang sekarang sudah resmi menjadi bapak-bapak, kapan jadinya berhenti total merokok?”
Saktah menagih komitmen Jim. “Padahal anggota Jejak Musafir makin banyak sekarang
lho. Kebanyakan anak remaja yang masih harus dituntun dengan lebih baik.”
“Hmm.... iya, iya ini sudah jauh
dikurangi kok. Di area kampus dan rumah sudah tidak pernah juga. Sesekali saja
di warung atau sambil motret. Aseli ini fakta bukan mitos.” Jim mencoba
bercanda. Menyeringai seperti anak kecil yang baru ketahuan berbuat salah.
“Gagal lagi deh satu tulisan ini
dimuat di edisi sekarang.” Saktah cemberut, menutup kembali satu tulisan yang
berjudul: MEMUTUS ‘LINGKARAN SETAN’ ROKOK.
“Lho, kalau mau dimuat bulan ini
ya nggak masalah toh?”
“Ya nggak lucu aja, Mas. KHM ini
dulu dibuat oleh almarhumah Kak Fatih tujuannya untuk media dakwah. Yang
mengajak para pembacanya untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin, lebih baik
untuk dirinya sendiri dulu. Kalau yang menjalankan dakwahnya sendiri belum
mencontohkan apa yang mau disampaikan, ya piye toh? Jadi berasa omon-omon saja.”
Saktah selalu ketus jika menyinggung soal rokok.
“Baik Bu Ketu. Bulan depan pasti
terbit tulisan itu. Insya Allah. Janji!” Jim memantapkan kembali niatnya. Tanpa
disuruh sebenarnya Jim memang sudah ingin berhenti merokok. Lebih-lebih ia sudah
memiliki anak laki-laki saat ini. Tetapi memang diakui untuk langsung berhenti
sekaligus agaklah susah. Bukannya tidak berusaha dengan sekuat tenaga untuk berhenti
ketergantungan nikotin, tetapi ya.... memang susah untuk dijelaskan. Tidak
semudah membalikkan telapak tangan.
“Makasih ya. Masih mau berjuang.”
Saktah berucap tulus. Ia tahu suaminya sudah cukup berusaha.
“Kembali kasih, darling.” Jim
terkekeh.
“Darling, darling, dadar guling
kali.” Saktah beranjak bangun sembari tersenyum merona. Ia harus memastikan
anak laki-lakinya masih tertidur pulas, sebelum mengerjakan pekerjaan rumah
lainnya
Sepeninggalan Saktah, Jim
membuka file tulisan tentang rokok itu, yang sudah sekitar tiga bulan
selesai ditulis oleh Saktah. Dengan judul yang cukup frontal dan berani.
.......
MEMUTUS
‘LINGKARAN SETAN’ ROKOK –
oleh
Saktah.
Tulisan ini didedikasikan kepada
kaum hawa yang sedang mencari teman hidup. Boleh juga untuk kaum ayah yang
memiliki anak perempuan, yang sudah mulai beranjak usia matang untuk menikah.
Kalau bisa tekankan kepada mereka mulai dari sekarang, mulai dari hari ini.
Arahkan pandangan mereka untuk memilih kriteria calon pasangan
hidup, selain yang baik agamanya, santun etika dan perbuatannya, boleh juga
ditambahkan:
Pilihlah
yang tidak merokok. Atau minimal mantan pecandu nikotin. Alias perokok yang
sudah taubatan nasuha.
Kenapa begitu? Penting rasanya
jika kita ingin memutus ‘lingkaran setan’ kebiasan jelek itu untuk keturunan
kita jauh ke depan. Dengan dimulai dari memilih pasangan yang tepat dari awal.
Kalau perlu masukkan di point perjanjian pra nikah. Sehingga lebih terjamin,
suatu saat dianugerahi anak laki-laki tidak akan tergoda oleh asap rokok.
Termasuk untuk coba-coba. Karena teladan dari sang ayah.
Sebab, berapa banyak anak-anak
yang menjadi perokok aktif, secara tidak sadar sudah diturunkan dari ayahnya
sendiri. Bisa dibilang identitas warisan. Ayahnya perokok, anaknya ketika sudah
mulai besar sedikit mulai ikutan merokok. Dengan dalih: ayah gue juga
perokok kok!
Dari awalnya sembunyi-bunyi,
sampai ‘ngebulnya’ aja sekarang malah sebelahan. Kan miris!
Sebab, berapa banyak ibu-ibu
yang merasa prihatin karena tidak bisa menasehati anaknya dengan maksimal untuk
tidak merokok, karena suaminya saja seperti tidak bisa bernapas tanpa rokok. Ibu-ibu
yang pada akhirnya pasrah, karena sudah tidak ‘kuasa’ untuk melarang anaknya
menjadi pecandu juga. Mengikuti jejak ayahnya.
Padahal ya, kalau saja setiap anak memiliki pemahaman ini (apalagi yang masih pelajar dan belum berpenghasilan sendiri):
bagaimana jika uang yang saya belikan untuk
sebatang rokok, uang jajan dari orangtua menjadi nggak halal untuk diri
sendiri. Sang ayah yang memeras keringat banting tulang tidak ridho nafkahnya
dipakai untuk merokok? Sang ibu yang sepanjang siang malam mendoakan kebaikan,
dari mengandung, membesarkan hingga akil baligh (sudah bisa membedakan mana
yang baik, mana yang buruk) juga tidak ridho balasan doanya malah dibalas
dengan menghisap rokok? Bagaimana bila dalam proses belajar terasa bebal sekali,
ilmu itu tidak masuk-masuk karena guru yang mengajarpun tidak ridho muridnya
merokok? Kan jelas di instansi pendidikan anak pelajar dilarang merokok.
Bangga sekali rasanya, beberapa
minggu lalu mendengar langsung dari salah satu adik saya (anak dari salah satu
paman) yang dengan lantang berkata ketika ditawari rokok oleh saudaranya yang
lain. Ia berkata: Mendingan buat beli kuota dari pada buat rokok.
Mantap, anak muda yang punya
integritas dan identitas yang jelas. Semoga istiqomah sampai nanti punya
keturunan.
Yang lebih ngeri lagi. Pernah
mendengar tausiah dari salah satu ustadz di Kampus Hijaiah. Beliau berkata: Bagaimana
bila orang yang meyakini kalau hukum rokok itu adalah haram. Lantas saat
dijalan secara ia tidak sengaja berpapasan dengan orang yang sedang merokok.
Dan asapnya atau abunya menempel ke baju orang tersebut. Kemudian bajunya
dipakai untuk shalat. Itu artinya orang tsb. sedang shalat dengan menggunakan
baju yang terkena barang yang haram. Padahal dia tidak mengkonsumsinya.
Kira-kira siapa yang menjadi berdosa?
Maka, bagi kaum hawa yang belum
menikah ayo masih punya kesempatan sangat banyak untuk memilih pasangan yang
tidak memiliki indentitas sebagai perokok. Jika yang sudah terlanjur punya
calon, coba minta untuk berhenti, pelan-pelan tidak mesti sekaligus. Asal punya
niat baik dan progress yang menjanjikan. Bukan omon-omon doang. Jika dia
tidak bisa berhenti karenamu, minimal minta pikir ulang lagi, berhenti untuk
keturunan-keturunanmu nantinya yang sangat punya hak memiliki ayah yang tidak
perokok. Semoga dengan begitu ada itikad baik untuk memutus 'lingkaran setan'
rokok yang boleh jadi nanti diwariskan.
Semoga.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ
وَيَدِهِ
Artinya:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan
perbuatan (tangan) dirinya." (HR. Bukhari dan Muslim)
***
“Padahal tulisan ini cocok
dengan tema bulan ini. Tentang kemenangan.” Kata Jim dalam hati yang tiba-tiba
merasa bersalah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)