Juli 15, 2026

CERBUNG PUKUL 5 SORE : TEMPAT TINGGAL

Rasanya kurang lengkap ya kalau aku sudah cerita panjang lebar tentang keseharianku, tapi kalian belum tahu sebenarnya aku tinggal di mana.

                Aku sudah sempat singgung soal kapal dan  cafe yang di kelilingi air. Ya, Kota Amashiri adalah kota yang terapung di atas air sungai. Tepatnya di atas permukaan sungai Niger, sungai terpanjang dan terbesar di Afrika Barat, bermuara di teluk Guinea, Samudera Atlantis.

                Di tahun 2045 saat ini, rata-rata penduduk bumi tinggal di dua tempat alternatif. Ada yang memilih tinggal di atas ketinggian. Membangun kota melayang jauh dari permukaan tanah. Menggunakan rumah-rumah yang dibentuk seperti balon udara. Atau ada juga yang memanjang seperti kapsul terbang. Bisa dipindahkan sesuai keinginan, atau menghindari kalau ada tanda-tanda bencana alam seperti angin GALE, misalnya. Biasanya orang-orang kelas atas saja yang bisa membangun rumah melayang itu. Karena biayanya tidak sedikit dan tentu saja resikonya lebih besar. Membutuhkan banyak asuransi dan sebagainya.

Aku pernah sekali berkunjung ke kota melayang, itu juga waktu masih kecil sekali. Ikut DERAS yang mengambil pesanan biji kopi untuk Cafepet. Kota melayang itu memang terlihat wow dan keren, karena kita seperti bisa menyentuh awan yang berarak. Bekas bangunan rumah-rumah dan perkantoran yang ada di atas permukaan tanah yang berlumpur, terlihat kecil sekali seperti barisan semut. Tapi bagi anak-anak tinggal di kota melayang tidaklah menyenangkan. Tidak ada tempat luas yang bisa dipakai untuk lari-larian. Sekalipun ada orang tuanya pasti melarang. Jadi satu-satunya hiburan di kota itu adalah game digital. Permainan yang memerlukan otak bukan pergerakan otot.

Ada pula yang memilih tinggal terapung di atas air sungai atau lautan lepas. Seperti Kota Amashiri ini. Sama, rumah-rumahnya pun terbuat dari bahan plastik. Sederhananya, seperti bebek-bebekan yang suka ada di danau dekat rumah kalian. Bebek-bebekan yang dikembangkan, dimodifikasi sehingga nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. 

Kenapa begitu? Ada apa dengan permukaan tanah saat ini?

Sayangnya sudah hancur lebur, rusak berlumpur dan menyebabkan bau yang tidak sedap. Sehingga sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali oleh manusia.

Sejarah mencatat, sepuluh tahun ke belakang. Ketika perang meletus di mana-mana. Baik antar negara maupun di dalam negeri itu sendiri. Peradaban manusia sudah semakin jorok saja. Kepedulian akan lingkungan tempat tinggal sudah tidak ada. Buang sampah semakin sembarangan, penggunaan plastik semakin besar-besaran. Ketika ada kebijakan membeli plastik saat belanja di supermarket, manusia lebih memilih membelinya meskipun harga plastik sudah lebih mahal dari barang belanjaanya. Hanya karena enggan menenteng barang dan merasa banyak punya uang. Sehingga permukaan tanah bumi sudah tidak lagi bisa menampung sampahnya. Membuat intensitas banjir semakin meningkat. Bencana alam semakin sering terjadi.

Hal itu pula yang membuat hampir separuh permukaan bumi tidak memiliki pohon yang masih hidup menjulang tinggi. Bibit-bibit pohon baru tidak mau tumbuh di atas tanah yang kadung rusak unsur haranya. Sedangkan pohon-pohon besar yang dulunya sering ditebang sembarangan untuk kepentingan manusia sekarang sudah langka sekali. Makanya aku menyebutkan sisa-sisa buku yang kupunya peninggalan ibuku itu adalah buku kuno. Sudah jarang sekali ada buku-buku tebal menggunakan kertas, kecuali di perpustakaan-perpustakaan kota. Yang pada masa-masa dulu jarang sekali dikunjungi oleh manusia.

Di zaman ini buku dengan menggunakan kertas sudah tidak lagi di produksi. Untuk memenuhi kebutuhan bacaan dan ilmu pengetahuan, semua sumber pengetahuan dimuat dengan tekhnologi. Semua serba digital. Keluarlah buku-buku virtual di gaget-gaget masing-masing. Kalau pun terpaksa mencetak buku untuk kepentingan satu-dua hal. Untuk teks perjanjian tertulis dan sebagainya, pemerintah setempat akan mencetak tulisan-tulisan itu pada plastik-plastik bening.

Ya, dulu plastik hanya memuat tulisan-tulisan komposisi bumbu pada kemasan-kemasan produk saja. Sekarang plastik dicetak seperti halnya bentuk buku dengan menggunakan kertas. Tapi ya itu kalau dibaca jadi berisik sekali. Berbunyi kresek-kresek setiap kali membuka halaman berikutanya. Sayangnya buku-buku plastik itu tidak bisa dicoret-coret. Belum ada tekhnologi yang berhasil membuat pena yang bisa menulis di atas plastik.

Apa permukaan tanah sudah benar-benar ditinggalkan? Tidak juga sih, masih banyak pabrik-pabrik yang masih kokoh berdiri. Salah satunya pabrik pengolahan plastik. Yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan untuk reparasi rumah-rumah penduduk. Ya, di sanalah tekhnologi pembentukan plastik menjadi barang-barang yang berguna untuk kepentingan manusia.

Kembali ke kota Amashiri, semua penduduknya dulu pernah tinggal di permukaan tanah. Pulau Alaasato tempat kelahiranku. Awalnya hanya Ka Mmiri Ngwa Ngwa alias DERAS yang memiliki kapal, berbentuk se asli-aslinya kapal. Ia mendirikan sebuah Cafepet  Coffee yang terapung di sungai Niger. Terinspirasi oleh dunia One Piece, anime kesukaannya.

Pada suatu hari, setelah diterjang berkali-kali oleh angin GALE yang semakin besar saja pusarannya, akhirnya penduduk berembuk mencari jalan keluar. Rasanya tidak mungkin lagi penduduk Pulau Alaasato bertahan di tanah kelahirannya itu. Sebab angin GALE sudah sulit diprediksi kedatangannya. Banyak penduduk yang meninggal karena tidak terburu mengungsi.

Akhirnya Ka Mmiri Ngwa Ngwa mengusulkan untuk membuat kota terapung di sekitar kapalnya, untuk urusan membuat rumah terapung dia punya pengalaman. Dulu pernah bekerja di salah satu perusahaan pembuatan kapal. Penduduk yang awalnya ragu akhirnya mau mencobanya juga. Tapi penduduk yang memiliki akses ke kota melayang lebih memilih pindah ke sana.

Terjadilah gotong-royong besar-besaran itu. Penduduk patungan membeli bahan-bahannya. Ka Mmiri Ngwa Ngwa memberikan intruksi cara mengerjakannya. Tidak mudah, karena harus dikerjakan di atas air. Agar ketika sudah jadi tidak perlu repot-repot memindahkannya. Harus mengukur tekanan air juga agar rumah tidak mudah tenggelam.

Tapi penduduk merasa optimis akan berhasil ketika salah satu rumah terapung sudah jadi. Yang saat ini ditempati oleh Enyi Na Enyi. Setelah berbulan-bulan mengerjakan itu akhirnya kota kecil yang terapung di atas permukaan sungai terwujud. Dan pada akhirnya diberi nama Kota Amashiri.

Onyeisi Oche diangkat menjadi walikotanya. – ditunjuk paksa oleh Ka Mmiri Ngwa Ngwa sahabatnya sendiri untuk menggantikan dirinya. Ketika penduduk kota mendesak Ka Mmiri Ngwa Ngwa agar mau menjadi walikota.  Katanya ia tidak pandai bercakap-cakap dengan orang-orang penting.

Tapi masalah jauh dari selesai, untuk tempat tinggal memang sudah tersedia. Penduduk Pulau Alaasato yang dulunya tidak ikut pembangunan kota terapung, merasa itu mustahil. Akhirnya pun ikut berduyun-duyun membuat kota terapung berikutnya. Di titik aliran air sungai Niger lain. Cuma mereka tidak lebih beruntung dengan kelompok Ka Mmiri Ngwa Ngwa yang lebih dulu tinggal di sungai Niger. Bahan makanan dan minuman di sekitar mereka tidak terlalu melimpah dan tidak mudah dicari.

Terjadilah percekcokan itu, penduduk di luar kota Amashiri merasa berhak juga mencari sumber makanan di dekat rumah terapungnya kota Amashiri. Toh mereka pikir sungai Niger ini milik bersama. Dan merasa tidak adil kalau hanya penduduk Kota Amashiri saja yang mudah mendapatkan bahan makanan. Begitulah tabiat buruk manusia, padahal dulunya hidup bertetangga di Pulau Alaasato. Ketika masih tinggal di atas permukaan tanah.

Akhirnya dibuatlah kesepakatan itu, setiap kota yang terapung pada periode tertentu harus berpindah. Hidup nomaden, bergantian tempat menurunkan jangkar.

Sampai saat ini sudah ada lima kota terapung sepanjang aliran sungai Niger. Rata-rata penduduknya lima puluh jiwa di tiap kota. Kota Amashiri tempatku tinggal, Kota Amaato, Kota Amaozo, Kota Amaitolu dan Kota Amaabuo. Masing-masing jarak antar kota satu dan kota lainnya, kira-kira delapan hari perjalanan menggunakan perahu dayung. Dan aliran  sungai Niger yang kami tempati sebagai rumah tinggal, kalau dilihat dari udara akan terlihat seperti angka lima.

Kota Amashiri saat ini sedang berada di paling ujung teluk. Paling dekat dengan lautan lepas. Sehingga memungkinkan sekali melihat air laut dari geladak kapal. Di titik inilah paling banyak sumber makanan dan minumannya. Sekaligus paling merepotkan kalau sudah harus pindah ke titik pertama. Karena harus berlayar memutar agar seluruh armada kota tidak bertabarakan dengan rumah terapung kota lain.

Secara berskala kelima kota terapung itu kebagian merasakannya. Harus kerepotan menyiapkan diri melalui jalan memutar tapi di saat yang sama bisa mencari persediaan makanan yang banyak.

Nah, itu artinya sebentar lagi adalah musimnya berburu mencari persediaan makanan. Dan persiapan berlayar untuk seluruh armada Kota Amashiri yang memerlukan waktu berhari-hari lamanya. Waktu seluruh penduduk harus bekerja keras. Tinggal menunggu intruksi dari walikota saja.

Sedangkan di sudut angka lima itu adalah letak pulau tempat Pulau Alaasato dulu pernah menjadi kota kecil yang subur dan makmur.


 

 


@Azurazie_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)