Rasanya kurang lengkap ya kalau aku sudah cerita panjang lebar tentang keseharianku, tapi kalian belum tahu sebenarnya aku tinggal di mana.
Aku
sudah sempat singgung soal kapal dan
cafe yang di kelilingi air. Ya, Kota Amashiri adalah kota yang terapung
di atas air sungai. Tepatnya di atas permukaan sungai Niger, sungai terpanjang
dan terbesar di Afrika Barat, bermuara di teluk Guinea, Samudera Atlantis.
Di
tahun 2045 saat ini, rata-rata penduduk bumi tinggal di dua tempat alternatif.
Ada yang memilih tinggal di atas ketinggian. Membangun kota melayang jauh dari
permukaan tanah. Menggunakan rumah-rumah yang dibentuk seperti balon udara.
Atau ada juga yang memanjang seperti kapsul terbang. Bisa dipindahkan sesuai
keinginan, atau menghindari kalau ada tanda-tanda bencana alam seperti angin
GALE, misalnya. Biasanya orang-orang kelas atas saja yang bisa membangun rumah
melayang itu. Karena biayanya tidak sedikit dan tentu saja resikonya lebih
besar. Membutuhkan banyak asuransi dan sebagainya.
Aku pernah sekali berkunjung ke kota melayang,
itu juga waktu masih kecil sekali. Ikut DERAS yang mengambil pesanan biji kopi
untuk Cafepet. Kota melayang itu memang terlihat wow dan keren, karena kita
seperti bisa menyentuh awan yang berarak. Bekas bangunan rumah-rumah dan
perkantoran yang ada di atas permukaan tanah yang berlumpur, terlihat kecil
sekali seperti barisan semut. Tapi bagi anak-anak tinggal di kota melayang
tidaklah menyenangkan. Tidak ada tempat luas yang bisa dipakai untuk
lari-larian. Sekalipun ada orang tuanya pasti melarang. Jadi satu-satunya
hiburan di kota itu adalah game digital. Permainan yang memerlukan otak bukan
pergerakan otot.
Ada pula yang memilih tinggal terapung di atas
air sungai atau lautan lepas. Seperti Kota Amashiri ini. Sama, rumah-rumahnya
pun terbuat dari bahan plastik. Sederhananya, seperti bebek-bebekan yang suka
ada di danau dekat rumah kalian. Bebek-bebekan yang dikembangkan, dimodifikasi
sehingga nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.
Kenapa begitu? Ada apa dengan permukaan tanah
saat ini?
Sayangnya sudah hancur lebur, rusak berlumpur dan
menyebabkan bau yang tidak sedap. Sehingga sudah tidak memungkinkan untuk
ditinggali oleh manusia.
Sejarah mencatat, sepuluh tahun ke belakang.
Ketika perang meletus di mana-mana. Baik antar negara maupun di dalam negeri
itu sendiri. Peradaban manusia sudah semakin jorok saja. Kepedulian akan
lingkungan tempat tinggal sudah tidak ada. Buang sampah semakin sembarangan,
penggunaan plastik semakin besar-besaran. Ketika ada kebijakan membeli plastik
saat belanja di supermarket, manusia lebih memilih membelinya meskipun harga
plastik sudah lebih mahal dari barang belanjaanya. Hanya karena enggan
menenteng barang dan merasa banyak punya uang. Sehingga permukaan tanah bumi
sudah tidak lagi bisa menampung sampahnya. Membuat intensitas banjir semakin
meningkat. Bencana alam semakin sering terjadi.
Hal itu pula yang membuat hampir separuh
permukaan bumi tidak memiliki pohon yang masih hidup menjulang tinggi.
Bibit-bibit pohon baru tidak mau tumbuh di atas tanah yang kadung rusak unsur
haranya. Sedangkan pohon-pohon besar yang dulunya sering ditebang sembarangan
untuk kepentingan manusia sekarang sudah langka sekali. Makanya aku menyebutkan
sisa-sisa buku yang kupunya peninggalan ibuku itu adalah buku kuno. Sudah
jarang sekali ada buku-buku tebal menggunakan kertas, kecuali di
perpustakaan-perpustakaan kota. Yang pada masa-masa dulu jarang sekali
dikunjungi oleh manusia.
Di zaman ini buku dengan menggunakan kertas sudah
tidak lagi di produksi. Untuk memenuhi kebutuhan bacaan dan ilmu pengetahuan,
semua sumber pengetahuan dimuat dengan tekhnologi. Semua serba digital.
Keluarlah buku-buku virtual di gaget-gaget masing-masing. Kalau pun terpaksa
mencetak buku untuk kepentingan satu-dua hal. Untuk teks perjanjian tertulis
dan sebagainya, pemerintah setempat akan mencetak tulisan-tulisan itu pada
plastik-plastik bening.
Ya, dulu plastik hanya memuat tulisan-tulisan
komposisi bumbu pada kemasan-kemasan produk saja. Sekarang plastik dicetak
seperti halnya bentuk buku dengan menggunakan kertas. Tapi ya itu kalau dibaca
jadi berisik sekali. Berbunyi kresek-kresek
setiap kali membuka halaman berikutanya.
Sayangnya buku-buku plastik itu tidak bisa dicoret-coret. Belum ada
tekhnologi yang berhasil membuat pena yang bisa menulis di atas plastik.
Apa permukaan tanah sudah benar-benar
ditinggalkan? Tidak juga sih, masih banyak pabrik-pabrik yang masih kokoh
berdiri. Salah satunya pabrik pengolahan plastik. Yang menyediakan
kebutuhan-kebutuhan untuk reparasi rumah-rumah penduduk. Ya, di sanalah
tekhnologi pembentukan plastik menjadi barang-barang yang berguna untuk
kepentingan manusia.
Kembali ke kota Amashiri, semua penduduknya dulu
pernah tinggal di permukaan tanah. Pulau Alaasato tempat kelahiranku. Awalnya
hanya Ka Mmiri Ngwa Ngwa alias DERAS
yang memiliki kapal, berbentuk se asli-aslinya kapal. Ia mendirikan sebuah
Cafepet Coffee yang terapung di sungai
Niger. Terinspirasi oleh dunia One Piece,
anime kesukaannya.
Pada suatu hari, setelah diterjang berkali-kali
oleh angin GALE yang semakin besar saja pusarannya, akhirnya penduduk berembuk
mencari jalan keluar. Rasanya tidak mungkin lagi penduduk Pulau Alaasato
bertahan di tanah kelahirannya itu. Sebab angin GALE sudah sulit diprediksi
kedatangannya. Banyak penduduk yang meninggal karena tidak terburu mengungsi.
Akhirnya Ka
Mmiri Ngwa Ngwa mengusulkan untuk membuat kota terapung di sekitar
kapalnya, untuk urusan membuat rumah terapung dia punya pengalaman. Dulu pernah
bekerja di salah satu perusahaan pembuatan kapal. Penduduk yang awalnya ragu
akhirnya mau mencobanya juga. Tapi penduduk yang memiliki akses ke kota
melayang lebih memilih pindah ke sana.
Terjadilah gotong-royong besar-besaran itu.
Penduduk patungan membeli bahan-bahannya. Ka
Mmiri Ngwa Ngwa memberikan intruksi cara mengerjakannya. Tidak mudah,
karena harus dikerjakan di atas air. Agar ketika sudah jadi tidak perlu
repot-repot memindahkannya. Harus mengukur tekanan air juga agar rumah tidak
mudah tenggelam.
Tapi penduduk merasa optimis akan berhasil ketika
salah satu rumah terapung sudah jadi. Yang saat ini ditempati oleh Enyi Na Enyi. Setelah berbulan-bulan
mengerjakan itu akhirnya kota kecil yang terapung di atas permukaan sungai
terwujud. Dan pada akhirnya diberi nama Kota Amashiri.
Onyeisi Oche diangkat menjadi walikotanya. – ditunjuk paksa oleh Ka Mmiri Ngwa Ngwa sahabatnya sendiri
untuk menggantikan dirinya. Ketika penduduk kota mendesak Ka Mmiri Ngwa Ngwa agar mau menjadi walikota. Katanya ia tidak pandai bercakap-cakap dengan
orang-orang penting.
Tapi masalah jauh dari selesai, untuk tempat
tinggal memang sudah tersedia. Penduduk Pulau Alaasato yang dulunya tidak ikut
pembangunan kota terapung, merasa itu mustahil. Akhirnya pun ikut
berduyun-duyun membuat kota terapung berikutnya. Di titik aliran air sungai
Niger lain. Cuma mereka tidak lebih beruntung dengan kelompok Ka Mmiri Ngwa Ngwa yang lebih dulu
tinggal di sungai Niger. Bahan makanan dan minuman di sekitar mereka tidak
terlalu melimpah dan tidak mudah dicari.
Terjadilah percekcokan itu, penduduk di luar kota
Amashiri merasa berhak juga mencari sumber makanan di dekat rumah terapungnya
kota Amashiri. Toh mereka pikir sungai Niger ini milik bersama. Dan merasa
tidak adil kalau hanya penduduk Kota Amashiri saja yang mudah mendapatkan bahan
makanan. Begitulah tabiat buruk manusia, padahal dulunya hidup bertetangga di
Pulau Alaasato. Ketika masih tinggal di atas permukaan tanah.
Akhirnya dibuatlah kesepakatan itu, setiap kota
yang terapung pada periode tertentu harus berpindah. Hidup nomaden, bergantian
tempat menurunkan jangkar.
Sampai saat ini sudah ada lima kota terapung
sepanjang aliran sungai Niger. Rata-rata penduduknya lima puluh jiwa di tiap
kota. Kota Amashiri tempatku tinggal, Kota Amaato, Kota Amaozo, Kota Amaitolu
dan Kota Amaabuo. Masing-masing jarak antar kota satu dan kota lainnya,
kira-kira delapan hari perjalanan menggunakan perahu dayung. Dan aliran sungai Niger yang kami tempati sebagai rumah
tinggal, kalau dilihat dari udara akan terlihat seperti angka lima.
Kota Amashiri saat ini sedang berada di paling
ujung teluk. Paling dekat dengan lautan lepas. Sehingga memungkinkan sekali
melihat air laut dari geladak kapal. Di titik inilah paling banyak sumber makanan
dan minumannya. Sekaligus paling merepotkan kalau sudah harus pindah ke titik
pertama. Karena harus berlayar memutar agar seluruh armada kota tidak
bertabarakan dengan rumah terapung kota lain.
Secara berskala kelima kota terapung itu kebagian
merasakannya. Harus kerepotan menyiapkan diri melalui jalan memutar tapi di
saat yang sama bisa mencari persediaan makanan yang banyak.
Nah, itu artinya sebentar lagi adalah musimnya
berburu mencari persediaan makanan. Dan persiapan berlayar untuk seluruh armada
Kota Amashiri yang memerlukan waktu berhari-hari lamanya. Waktu seluruh
penduduk harus bekerja keras. Tinggal menunggu intruksi dari walikota saja.
Sedangkan di sudut angka lima itu adalah letak
pulau tempat Pulau Alaasato dulu pernah menjadi kota kecil yang subur dan
makmur.
@Azurazie_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)