Bulan Dzulhijjah itu bukan sekadar tentang penyembelihan hewan qurban.
Pada Dzulhijjah itu ada peristiwa perpisahan yang paling berat dalam sejarah umat manusia.
Tentang gembira yang meledak di dada dan sedih yang menusuk dalam-dalam. Bagaimana tidak, seakan kabar gembira dan rasa sedih seketika datang sepaket tak terelakan.
Pada Khutbah Wada.
Ketika Qs. Al-Maidah ayat 3 itu turun :
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
Gembiralah hati ummat muslim saat itu. Karena bersyukur termasuk bagian dari golongan ummat yang telah sempurna agamanya. Yang telah disempurnakan nikmatnya. Yang telah dijamin keselamatan akhiratnya.
Tak berselang lama kemudian beralih sedih, karena tahu saat ayat itu turun adalah isyarat, masa kebersamaan dengan Rasulullah SAW. yang tercinta akan tinggal sebentar lagi waktunya. Sedih, karena nikmat yang tak kalah besar, (kesempatan hidup bersama Rasulullah SAW) akan hilang setelahnya.
Maka Bulan Dzulhijjah kini itu tentang, kita yang hidup di zaman tanpa Rasulullah SAW. secara fisik, akan tetapi telah sempurna agamanya.
Maka, Dzulhijjah itu sepatutnya tentang menjaga amanah dengan sebaik mungkin. Dengan menunaikan shalatnya (sebagai identitas seorang muslim). Dan terus perbaiki shalatnya (menjaga tiang agama). Karena itu adalah landasan dasar menjadi muslim yang patuh, muslim yang sempurna.
@azurazie_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)