Mei 06, 2012

Kami Sama Tapi Berbeda


Terik mentari tak mematahkan langkahku, apalagi hujan ah itu sih sudah biasa. Dimana lagi kalau bukan di trotoar perempatan lampu merah yang penuh debu itu. Lampu merah Buah Batu, disitulah sarang kami untuk berteduh tiap hari. Sedang apa aku dan teman-temanku disana?? Bekerja?? hmm sepertinya usiaku masih terlalu dini untuk menyandang profesi itu. Bermain?? Mana ada anak-anak yang  mau bermain ditengah-tengah mobil yang berlaju kencang. Horror, meleng-meleng sedikit nyawa melayang. Seperti nasib kucing kemarin yang tewas ditempat gara-gara menyebrang. Kepalanya sampai pecah tak berbentuk, darah yang langsung mengering karena terik matahari, ia kucing itu salah satu yang menjadi korban kejamnya jalan raya.

Dan entahlah profesi apa yang cocok untukku, yang aku tau aku pun manusia yang butuh hidup. Yang aku tau disinilah aku harus tetap bertahan.

“Dapet berapa lo barusan??” Ririz menghampiri aku dan Cucu yang baru saja turun dari angkutan umum.

“Hehe cuma seribu, lumayan. Udah makan apa lo Riz?” rasanya cacing di perutku sudah mulai ngomel-ngomel

“Jiahahaha perasaan tadi angkot yang lo naikin penuh deh dan kebanyakan isinya orang tua Dit, masa cuma dapet segitu. Baru makan roti setengah nih mau??”

“Iya, belum rezeki gw kali, padahal gw udah ngeluarin suara yang paling seksi tadi hehe.. iya ngga Cu?. Ngga deh nanti gw beli sendiri sekalian buat ade gw kinan dia juga belom makan” kataku sambil menghitung uang yang baru beberapa lembar, hasil ngamen hari ini.

Ya itulah diary hari-hariku yang semua serba di jalan, bersama beberapa anak lain yang senasib. Turun dari angkot ke angkot lain atau nunggu saat lampu merah. Hanya menjual suara dengan tepukan tangan. Iya aku dan lainnya tidak meminta, kami hanya menerima bantuan. Karena kami juga ingin punya masa depan yang lebih baik. Ngga seperti bang Poky yang kerjaanya cuma pura-pura cacat, untuk mendapat uang dan malamnya hanya berpoya-poya. Atau lucu saat melihat bang Galih yang bibirnya semakin hari semakin terlihat seksi, dengan bedak tebalnya, berlenggak lenggok, menggoda penumpang. Ya bisa dibilang mereka kehilangan jati dirinya sendiri. Tak apalah hidup ini memang keras bukan?? Dan setiap kepala harus siap saat ada benturan datang.  Siap bekerja keras untuk mempertahankan hidup. Apalagi rasanya kesenjangan sosial semakin melebarkan sayap.

Aku ingin seperti anak –anak sekolah itu. Tiap pagi membawa tas, memakai dasi dan topi merah putihnya. Menurutku betapa beruntungnya mereka. Sedangkan aku membayangkan seperti mereka saja rasanya tak pantas.  

“Aduuuh kalian disini toh gw cariin dari tadi” Yono dan Dinda datang dengan napasnya yang belum sempurna.

“Lah kalian berdua kenapa??” tanyaku melihat kedatangan kedua anak itu.

“Loh, lo emang lupa ini udah jam berapa??” Yono bersuara

“Meneketempe, seumur umur kan gw ngga punya jam!” Ririz ngeles

Yee, Ririz ngelucu. Kan hari ini ada jadwal belajar lagi sama kakak – kakak yang kemarin” Dinda mengingatkan

“Ops, gw kok kelupaan ya, ayo atuh gw bangunin Kinan dulu ya, kalian cari Devi dulu deh kayaknya dia di lampu merah depan” kataku lalu memandang kearah Ririz, rasanya aku sudah tak sabar melanjutkan belajar bareng kakak-kakak yang baik itu.

Entah mereka berasal dari mana, yang aku tau mereka semua peduli dengan kami anak-anak jalanan. Bisa dibilang kami memang berbeda dengan anak-anak yang beruntung dibalik sekolah itu. Tapi kakak-kakak itu datang menyambut kami juga dengan cara yang berbeda, berbeda dengan orang-orang yang acuh dengan kami anak jalanan. Mereka yang hanya mementingkan diri sendiri, yang sudah men judge kami sebagai anak nakal, anak liar, anak yang tidak memiliki masa depan. Padahal kami begini bukan karena kemauan tapi karena keadaan.

Kakak – kakak itu datang mengajarkan aku dan yang lainnya membaca, menulis, menggambar dan keterampilan lain. Hingga hidup kami sebagai anak jalanan, jadi lebih berwarna, tidak hanya monoton untuk ngamen mencari uang. Dan karena mereka, aku yakin bahwa kami juga memiliki masa depan. Meskipun mungkin akan jauh lebih lama dalam menggapainya.

“Eh lo pada mau kemana??” saat beriring pergi tiba-tiba Bang Farid memanggil

“Belajar lagi bang kayak kemarin” Devi mewakili

“Aku udah bisa gambar loh bang hehe..” Kinan bangga

“Owh gitu yaudah belajar yang bener lo ya pada, gw ngga mau lo kaya gw sama Dony yang makin ngga jelas ini” sambil mengelus- ngeluh kepala Kinan “Ayo Don cabuuut”

“Haha iya, salamin gw ke kakak yang cantik ya!” kata Dony sebelum keduanya melangkah ke arah terminal. Ya hanya mereka berdua yang jadi penjaga kami yang lebih kecil selama ini. Mereka sudah seperti abang kami sendiri.
***

“Ayo untuk hari ini sebelum belajar kita main game dulu yah, udah pada kumpul semua kan??” Ca Ya tampak semangat sore ini. Terlihat anak jalanan itu juga begitu semangat.

"Ka dibawah itu apa ka?? kenna deh satu kosong" Ca Ya hanya tersenyum saat dirinya berhasil di kerjai Yono.

Ada canda tawa khas mereka yang selalu menggelitik. Ya mereka terlihat masih begitu polos. Masih begitu rentan dengan arahan yang datang. Ibarat sebuah kaset kosong yang siap diisi apa saja. tapi saat kaset itu kusut akan sulit diperbaiki.

“Sssssssssst belajarnya jangan berisik ya, yang tertib ayo yang tertib. Yang ngga bandel nanti oleh kakak-kakaknya di kasih hadiah. Eh, iya yang mau nabung silahkan ke kak Keven ya..” Keven coba menenangkan. Tampak sebagian anak menuju kearahnya untuk menyetorkan sedikit uang mereka untuk ditabung.

“Kak, ajarin aku gambar lagi kak” rengek Kinan

“Iyah nanti yah sehabis kita main game. Ok sayang!!” Jawab Fitria ramah

Terlihat Funy dan Bani sedang diskusi kecil mematangkan konsep agenda yang akan berlangsung pada sore itu.

***
Seminggu sebelumnya

”Hai ade! Lagi pada istirahat yah??” Bani menghampiri salah satu anak jalanan.

“Iyah ka, ada apa yah??” jawabku yang aku pikir kakak itu mau tanya alamat.

“Kalian masih pada sekolah ngga??” kini Ca ya yang bersuara

“......” anak jalanan itu hanya geleng-geleng tak berbicara, ia hanya memandang kearah anak sekolah yang baru saja melintas.

“Kalian mau belajar baca tulis ngga??” Bani kini agak merunduk lalu menepuk salah satu pundak anak jalanan itu “Kalau kalian mau nanti kita belajar bareng, kakak-kakak ini yang akan ngajarin kalian”

Beberapa anak jalanan itu hanya melempar pandang ragu..

“Sambil bermain kok, selesai kalian ngamen pastinya. Gimana mau ngga??” Funy coba membujuk dan ikut meyakinkan.

“Diajarin gambar juga nggak ka??” kata salah satu anak jalanan polos.

“Iyaaah ada, nanti ka Pipit yang ngajarin gambar, iya kan Fit??” Funy sambil lempar senyum kearah Fitria

“Iya serius, ajakin temen-temennya yang lain yang mau belajar juga. Besok kakak tunggu di depan masjid sebelah sana yah. Gratis kok kalian ngga perlu bawa apa-apa cukup datang saja ok!” tutup Fitria

Nampak anak jalanan itu tersenyum lalu kembali berhamburan di lampu merah. Sambil berbincang-bincang senang satu sama lain.

“Ini lah misi kita sekarang guyz, dan kita mulai besok. Kalian siap ??” Keven bersuara yang setadi hanya terdiam memperhatikan sekitar lampu merah

“Siaaaaap!!”  jawab semua serentak.

***
Cerita ini didedikasikan untuk acara Charity kemarin tanggal 05 Mei 2012, di buah batu Bandung. Semoga kalian yang terlibat dalam mengajar anak-anak jalanan jadi semakin solid dan semangat. Coba lihat wajah polos mereka yang sangat membutuhkan kita untuk masa depan mereka yang lebih baik..

Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dalam cerita diatas. Maaf juga kalau ada nama yang tidak disebut khususnya anak-anak SSCB karena gw ngga apal semua hihi...

Akhir kata terima kasih guys karena udah memberikan pengalaman yang begitu berharga untuk gw pribadi kemarin.. salam hangat... 
Blog Ririz

"kami memang berbeda, tapi kami juga tak sama, tak sama hanya berpoya-poya, tak sama hanya meminta, tak sama hanya bagian dari anak liar dan anak nakal, karena kami juga memiliki masa depan yang sama, pandanglah kami dengan pandangan yang berbeda untuk arah yang positif"

104 komentar:

  1. Mengena sekali bang ujay maknanya..
    Tapi, kenapa gue harus..... *ah, sudahlah lupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan emang di situ maknanya #eaaa
      team salah fokus

      Hapus
  2. uummmmm pap, kenapa ceritanya jadi sedih begini ya? *ambil tisu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduuh nak kau salah ngambil itu bukan tisue tapi.... ah sudahlah..

      lebih terharu kalau kau ada disana nak -___-

      Hapus
  3. Indahnya saat bisa berbagi..pasti senang bgt lihat senyum tulus mereka.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah widie keceriaan mereka tidak bisa di gambarkan dan disitulah nikmatnya :-)

      Hapus
  4. Bang Ujay :') *peluk*
    btw, Galih jadi... ngondek? :O

    BalasHapus
    Balasan
    1. ssssst jangan kenceng kenceng haha...
      *gagal terharu*
      becanda ding kemarin kebetulan pas pulang bneran ada bencong satu angkot meuni horor..

      Hapus
  5. anak muda2 hebat nih yang kaya gini, tidak cuma bisa bersuara menuntut perbaikan keadaan tapi justru terjun langsung.. semangat terus ya SSCB nya, pasti akan nemuin banyak kesulitan tapi berbuat baik harus teteup berlanjuuttt :)

    BalasHapus
  6. Salut gua sob sama yang muda2 sudah punya pemikiran maju tentang anak2 jalanan. Semoga nantinya mereka bisa menjadi generasi penerus yang berguna bagi bangsa dan negaranya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaah ternyata itu nyata bukan hanya di novel novel atau film..

      Hapus
  7. Aku suka plotnya bang, entahlah, itu menyentuh banget XD Oh ya, aku mau nanya nih, kenapa judulnya pake "tapi", kenapa bukan "dan"? berbeda dan tak sama kan maknanya sama :D IMHO aja, kalo "tapi" kan utk dua hal yg berbeda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya shit pas dibaca emang rancu.. udah di ganti makasih..

      Hapus
  8. Wah inspiratif bgt, memang suka gmn gitu kalo liat org yg pura2 cacat utk dpetin duit..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa itu salah satunya yang merusak image anak jalanan.. padahal ngga semua seperti itu..

      Hapus
    2. iya, ngeselin banget ngeliat nya. suka pura2 pincang. eh giliran ada rajia lari terbirit birit.

      Hapus
    3. Hahahaha disitulah letak kreatifitas mereka #plaaak

      Hapus
  9. akh andai bisa ikutan..
    smoga apa yang udh kalian berikan kemarin tidak sia-sia dan pastinya berguna bagi mereka.. kegiatan seperti ini smoga ada sesi selanjutnya. hhhaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiiin...

      nanti ada kok di jakarta :-)

      Hapus
  10. wew -___-
    noce post !! ;)

    BalasHapus
  11. bikin buku aja kak~ keren loh ini....

    BalasHapus
  12. Walaupun masih bocah, tapi kayaknya aku pengen deh ikut acara itu.. meski udah berlalu :O

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya gpp bocah juga kalau mau ikutan :-)

      Hapus
  13. sungguh langkah dan terobosan yang patut diacungi jempol nih sobs... semoga akan semakin banyak anak-anak muda lain yang peduli akan hal-hal seperti ini...
    true story dalam bentuk fiksi, keren cara penuturannya sob! Keep going and thanks for share yaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin ya Rabb, semoga mereka langgeng dan tetap solid!

      Makasih..

      Hapus
  14. Kereen. salut gue dengan kalian-kalian! Aseli. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. TOS!
      gw juga salut sama mereka !

      Hapus
  15. Tisunya mana bang?
    *terharu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pinjemin pundak aja nih #eh..

      Hapus
  16. aaaa kereeeen bang ceritanya =) si galih sama si isal paling mendalami peran kayaknya *ngakak*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya sampe pada protes ke gw.. LOL

      Hapus
  17. cuma yang membedakan mereka dengan kita adalah pengawasan & bimbingan aja sih pada dasarnya sehingga bisa terarah mau kemana & seperti apa selebihnya sama aja kok :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang adanya perhatian dan keperdulian =)

      Hapus
  18. kok gw ma farid ma farid porsinya dikit yak......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha kalau kurang nambah aja bang =P

      Hapus
  19. ampun , ko gw pura" cacat ya .....

    omegot ...

    BalasHapus
  20. kamu itu pinter banget to kalo bikin cerita beginian,. hehhe

    BalasHapus
  21. tissue man tissue.. eh tapi gak jade sedih begitu inget si Galih yang kehilangan jati diri *LOL*

    envy banget gak bisa ikut :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiahahaha...

      Iya coba kau ikutan kau nak <----- nambahin envy

      Hapus
  22. :) . Aku suka alur-nya, jalan cerita-nya.. Kebawa perasaan juga.. Semangat ya misi SSC-nya.. Semoga sukses. Cuma bisa bantu Do'a.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiiin....

      Semoga mereka tetap solid bang.. =)

      Hapus
  23. Ini cerita SSC kan?
    Nah, aku pengen banget ngadain SSC di kotaku. Pengen ngajarin anak jalanan membaca, berhitung, menggambar dan mungkin nyanyi bareng dengan mereka. Tapi sayang, kotaku adalah kota kecil. Nggak ada sama sekali anak jalanan yang berkeliaran di jalan raya. Jadi sulit banget menemukan mereka. Mungkin mereka ada di desa, lebih tepatnya di pelosok desa, tapi aku ngak punya waktu banyak untuk menemani mereka.
    Huh, kapan ya aku bisa ikutan SSC kayak gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo coba bikin disana.. masih banyak yang memerlukan kepedulian kita =)

      Hapus
  24. Aku kira fiksi gatunya beneran
    bagus cara penyampaian pesan dari tulisannya. Suka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyah ini nyata cuma coba di buat cerpen =)

      Hapus
  25. aku.. adik yang polos dan imut. Iya kan bang? iya kan? iya kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa sih?? masa sih?? masa??

      Hapus
  26. Kenapa gua cuma jadi The Watcher buat anak-anak tsb. ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena kau yang dituakan #eh..

      Hapus
  27. gue masih belom ngerti peran gue disana sebagai apa, tapi gk papa lah yg penting gue gk di barengin ama si farid ama doni ntar ikutan rusak :D

    keren keren keren, semoga kita makin erat (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam semangat buat KK.Regional bandung :D

      Hapus
    2. Jiahaha kompak nieeee...
      Uhuk-uhuk..

      Hapus
  28. Thanks zay buat ceritanya,, keren banget :D

    Salam kopdar deh. He

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama...

      Salam kopdar juga..

      Hapus
  29. asyikkk,,,,,,mantepp dehhh

    BalasHapus
  30. liat komentarnya basith, ternyata bang uzay salah ngasi judul, ya?
    gue kira sengaja dibikin rancu gitu.

    hmm, abang bisa kepikiran bikin cerita kayak gini, ya? menyentuh sekali bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaah kemarin gw yang salah hihi..

      Hapus
  31. bingung gue komen apaan ..
    bagus bang uzay .. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. gw juga jadi bingung mau bales apaan =P

      Makasih..

      Hapus
  32. cuma mau bilang Bangga loh sama kalian yang ada untuk anak2 jalanan itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-)

      semoga mereka tetap solid dan kegiatannya nerus..

      Hapus
  33. Waah keren keren.. jadi pengen ngadain beginia di samarinda hahaa *NATO. Keren nih kalian punya kepedulian sosial yang tinggi. Jempol deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayoo adain juga disana nak..

      Hapus
  34. Subhanallah...

    terharu... juga senang dan bangga *halagh* padahal gue ga ikut apa2 yak... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ngga apa-apa setidaknya kau sudah berpartisipasi dalam harunya eaaa..

      Hapus
  35. sepertinya nama nama tokoh kenal deh. tapi entah dimana.
    sesuatu banget yah. kopdar dijadika seperti itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaah nama-namanya emang nama beneran semua yang kemarin terlibat di acaranya..

      Hapus
  36. kalimat yang terakhir nih saya suka. menyentak sekaligus bikin trenyuh.

    BalasHapus
  37. Hiji Kosong :))
    hahahh puk puk galih yg kehilangan jati diri *..*

    pas banget ceritanya bang :D
    eh salam buat nenk Ayu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiahahaha kenapa pada fokus kesitu yak...
      =P

      Iyah nanti di sampein ya...

      Hapus
  38. " bukan karena kemauan, tapi karena keadaan " :(

    Bang, saya salut dengan kalian, orang2 yang peduli dan langsung beraksi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan semua ini berlanjut =)

      Hapus
  39. wah... jadi cerita yg di atas adalah benar, baguslah kalau begitu.
    masih ada yang prihatin dengan nasib anak2 jalanan. Moga mereka berjaya.

    jadi kamu salah satu tenaga pengajar bg kanak2 itu? tahniah atas usaha murninya.

    all the best ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yufz benar mereka ada

      Alhamdulillah...

      Hapus
  40. terharu dech dan bener2 pahlawan bangsa.moga saja uluran tangan kalian pada anak jalanan itu diganti oleh Allah dgn derajat yg tinggi disisinya,Masa depan anak jalanan bisa cerah dgn uluran tangan kalian,hemmm....sayangnya gue gak bs jadi pahlawan seperti kalian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga mereka tetap solid ya..

      Hapus
  41. Tiap-tiap orang punya impian, siapapun dia, masa depan yang cerah tetap ada untuknya :) nice zay!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar ka, tinggal diri pribadi yang mengatur impian itu mau tetap terkubur atau jadi nyata,,

      Hapus
  42. Nah kan nama saya gak di sebutin...#halah kumat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ngga adalah kan itu semua nama-nama yang kemarin terlibat ka..

      Hapus
  43. hidup itu memang keras...
    sekeras batu..
    bukn..tapi sekeras besi..
    eh bukn jga...
    tapi sekeras perjuangan qt untuk meraih hidup itu sndiri..^^

    #x ini nyambung kan koment qu???
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyambung ngga yah??
      hmm.... kayaknya diatas ngga ada kata-kata keras #eh..

      Hapus
  44. greaaat! terharu bang. bacanya langsung bisa mengimajinasikannya. makasih yaa bang udah dateng bawa ayu juga ihirrr :'>

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama makasih juga atas sambutannya kemarin =)

      Hapus
  45. si Galih hahahahaha

    aku kelihatan baik ya disini :3

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)