April 16, 2012

Terbentur Di Dinding Restu


“Maaf!”

Hanya kata singkat itu yang mampu di ucapkan faris. Pikirannya sedang kusut, berada di antara dua pilihan yang sulit. Ingin Bertahan, tapi dirinya sudah tau ending yang akan terjadi. Dan akan ada hati yang berharga, selalu menangis karenanya. Pilih berakhir disini, tapi sejatinya dia yang memulai cerita ini. Dia yang membuka pintu lebar-lebar kisah tiga tahun silam. Waktu yang cukup lama, untuk membina dan mempertahankan hubungannya dengan Naswa. Dan jika pilihan kedua ini ia ambil, sudah tentu ada hati yang akan tersakiti.

“Mungkin ini memang jalan yang terbaik Naswa, dan aku ngga mau membuatmu semakin berharap lebih. Sudah cukup aku menyakitimu, aku ngga ingin kamu kecewa!!”

“Bukannya kamu yah yang dari awal memberi harapan itu Ris?? dan tiga tahun...” belum sempat Naswa menuntaskan katanya.

“Iyaaah, cukup Naswa, aku tau aku yang salah. Dan tiga tahun memang bukan waktu yang singkat. Aku terima kalau akhirnya kamu benci dan marah. Setidaknya itu mungkin lebih baik dan adil buat kamu, dibanding kita terus paksakan hubungan kita, tapi kamu akan jauh lebih kecewa nantinya. Karena harapan itu kamu sendiri sudah tau mungkin ngga akan terwujud. Dan aku akui nyatanya aku yang kalah..” Faris lesu mengutarakan kata yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya.

“Aku memang tidak lagi berharap Ris, hmmm.. aku..” airmata tertahan dan tampak tegar itu, kini mulai luluh menetes “aku hanya lagi berdoa, semoga saat kecewanya datang, rasanya ngga terlalu sakit!!”
******

“Ris, sebelum kita melanjutkan hubungan ini lebih dari sekedar teman, aku ingin banyak cerita dengan kamu. Aku mohon setelahnya kamu ngga akan berpikiran macam-macam tentang ku, apalagi menjadi iba. Tapi keputusan ditanganmu, untuk tetap melanjutkan niatmu menjadikan aku kekasihmu. Atau berubah pikiran, itu sama sekali tidak masalah untukku. Yang penting aku ngga mau kamu menyesal dengan keputusanmu sendir!!” setelah kegiatan sosial di sebuah desa tempat tinggal mereka, Naswa sedikit kaget dengan pernyataan Faris yang meminta dirinya menjadi lebih dari teman. Memang Naswa akui, dia pun kagum dan sudah lama memperhatikan Faris. Terlebih Faris menjabat sebagai ketua di kegiatan sosial yang Naswa sedang ikuti. Tidak bisa dipungkiri rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta, dan ternyata Faris pun merasakan hal yang sama dengannya.

“Mau cerita apa Naswa??, aku memang sudah jatuh cinta denganmu dan akan coba nerima kamu apa adanya!!” Faris kagum dengan sosok Naswa yang istiqomah dalam berhijab. Tutur kata yang lemah lembut dan sopan. Bisa dibilang banyak pemuda lain yang kagum juga dengan pribadi Naswa.

“Shuuut!! Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu, nanti kamu menyesal. Kamu kan belum tau latar belakang dan siapa aku..” Naswa tersenyum, hatinya deg-degan sebab ini kali pertama dirinya mau berbagi cerita kehidupannya dengan orang lain.

“Baiklah !! aku akan jadi pendengar yang baik hehe..”

“Aku ini berasal dari keluarga yang bisa dibilang kurang sehat Ris, bapakku meninggal saat aku masih kecil dan ibuku yang harusnya membesarkan dan melindungi aku dan kedua adikku, malah nikah dengan seorang non muslim dan pergi meninggalkan kami, dan ikut suaminya keluar pulau semenjak aku masih dibangku SMP!” Faris terlihat tertegun mendengar cerita Naswa.

“Entah aku harus mengutarakan perasaan apa saat itu, mau benci tapi dia adalah ibuku sendiri. Sampai sekarang aja berarti sudah lebih dari empat tahun dia tidak menanyakan kabar anak-anaknya. Aku sih udah ngga mau peduli tapi aku kasihan sama adik-adikku yang masih pada sekolah. Masih butuh kasih sayang dan perhatian orang tua. Makanya aku usahakan bekerja untuk menghidupi mereka. Aku ingin mereka berhasil ngga seperti kakaknya ini.” Faris semakin tersentuh mendengar kisah Naswa, dia ngga nyangka, dibalik ketegaran Naswa selama ini, ada luka dan kesedihan yang mungkin kalau Faris yang mengalami ngga akan setegar Naswa. Faris semakin kagum dengan gadis yang ia cintai.

“Selama ini aku tinggal bersama nenek dan anak-anaknya. Ya mungkin kamu juga udah pernah dengar cerita paman-pamanku seperti apa. Makanya aku takut banget adik-adikku nanti terjerumus ngga bener seperti mereka. Apalagi adik-adikku dua-duanya cowok. Sekarang aja udah banyak ngelawannya kalau lagi dinasehati!,” ada isak tangis diakhir cerita Naswa. “ya aku tau kamu seperti lentera diantara mereka Naswa, karena kamu memang berbeda.” dalam hati Faris bergumam.

“Maaf kalau kamu harus tau cerita itu semua Faris, aku hanya ngga mau kamu menyesal telah memintaku. Aku harap ini kamu jaga, karena seperti yang udah aku bilang ini ceritaku yang pertama dengan orang lain. Sebelumnya aku hanya bercerita tentang masalah-masalahku dengan yang memberi ujian. Sekarang keputusan ada ditanganmu.” Naswa sangat dewasa diusianya, mungkin karena faktor keadaan menjadikan ia pribadi yang tegar.

Semenjak hari itulah akhirnya Faris memutuskan tetap meminta Naswa untuk menjadi kekasihnya. Faris semakin kagum dengan pribadi Naswa yang tegar. Dan ia berjanji akan berbagi suka dan duka bersama. Naswa pun percaya, bahwa Faris benar-benar tulus mencintainya.
******

“Faris ngga inget pesan mamah dulu?? Kenapa sih susah banget dibilangin orang tua??”

Faris tertegun, ini bukan pertama kalinya dia harus bentrok argument dengan sosok ibunya sendiri. Mungkin sudah bosan karena lagi-lagi yang dibahas masalah yang sama.

“Dari awal mamah bilang, kamu boleh deket sama cewe manapun, tapi jangan pernah dekat sama dia!!”

“Apa yang salah sih sama dia mah?? Anaknya baik, rajin shalat, puasa senin kamis dan istiqomah berhijab. Dan Faris sayang dia mah. Apa ini adil buat dia?? cuma gara-gara mamah ngga suka!!” lagi-lagi Faris harus membantah nasihat ibunya. Demi keteguhan hatinya, dan menganggap apa yang udah ia pilih benar dengan tidak memandang sebelah orang lain.

“Apa harus mamah ceritakan tentang keluarganya, biar mata hati kamu terbuka Faris??, tapi mamah ngga mau membuka aib orang lain. Mamah lebih tau apa yang kamu belum tau!! Hikz.. hikz..” Ini yang selalu disesali Faris, airmata mulia itu selalu menetes dari mata Ibunya. Hanya karena sifat keras kepala dan pendiriannya.

“Aku tau mah, aku tau dan mungkin lebih tau dengan apa yang mamah tau, karena dia sendiri yang menceritakan semua. Maaf untuk saat ini aku belum bisa ninggalin dia sesuai kemauan mamah!!, sekali lagi maaf..”
******

“Sudaah, tinggalin aku Faris. Mamah kamu benar, sejatinya seorang ibu menginginkan pendamping anaknya yang terbaik. Dan kamu berhak mendapatkannya lebih dari aku..”ada rasa sedih bercampur bimbang dalam diri Naswa. Dia tidak ingin karena dirinya Faris dan Ibunya selalu bertengkar dan bertengkar, hanya karena dirinya. Tapi disisi lain dua tahun bersama Faris, memberikan semangat baru, ada teman berbagi keluh kesah, bertukar pikiran. Khawatir tentang adik-adiknya yang sudah semakin remaja. Adik yang masih tergolong labil dan mudah terpengaruh. Terlebih besar dari keluarga dan lingkungan yang kurang sehat. Dan adanya Faris dalam keseharian Naswa, merubah sedikit kekhawatiran itu. Ada rasa nyaman dan terasa ada yang memberi sedikit perlindungan yang selama ini tidak ia dapat dari orang tuanya.

“Ngga!!, Faris ngga akan menyerah, ini ngga adil untuk kamu, kita berusaha dan terus berdoa. Masa sih pada waktunya ibuku ngga luluh hatinya.”

“Tapi kenapa yah, mamahmu sebegitu ngga sukanya dengan Naswa??, apa salah aku, jika dilahirkan dikeluarga ini?? kalau boleh memilih dari dulu, Naswa udah lama keluar dari keluarga ini, Naswa juga capek Ris. Hampir tiap malem melihat kelakuan paman-paman yang ngga bener, maboklah, berjudilah. Mereka bukannya memberi contoh buat adik-adik Naswa, tapi sebaliknya. Naswa juga malu Ris, tapi apa yang bisa Naswa lakuin?? Sedangkan ibu, Naswa udah benar-benar benci dengan dia, ibu yang ngga bertanggung jawab, ibu yang tega.. Hikz-hikz..” tangisan itu pecah. Keluar semua luapan emosi dan unek-unek yang selama ini tertahan dibenak Naswa.  

“Shuuuut, kamu ngga boleh seperti itu, bagaimanapun ia tetap ibu kamu. Kamu kan ngga tau disana ibumu sendiri perasaannya seperti apa. Kamu harus tetap kuat untuk adik-adikmu. Kamu ngga sendiri.., jadilah selalu pelita diantara mereka. Faris yakin kamu bisa, kamu kuat menghadapinya.”
******
“Faris, harus dengan kata apa mamah minta kamu untuk ninggalin dia??, apa kamu mau bayi yang dalam kandungan mamah ini lahir tanpa seorang Ibu??,” lagi-lagi Faris harus menyaksikan cairan bening itu menetes dari kedua bola mata ibunya. Faris merasa jadi anak paling durhaka didunia. Tapi harus bagaimana lagi. Hampir tiga tahun hubungan ini masih terpisah didinding restu sang Ibu. Memilih keduanya teramat sulit buat Faris, bukan karena siapa yang paling istimewa, tentu untuk itu Ibunya lah yang jauh lebih istimewa, tapi karena keduanya memang memiliki peranan tersendiri untuk hidup Faris. Seperti makan buah simalakama. Dan rasanya buah pahit itu sudah termakan oleh Faris. Kalau seandainya ada pilihan ketiga, rasanya Faris lebih memilih dipanggil yang Maha pemberi kehidupan, daripada menyakiti dua hati yang sangat Faris sayang. Hati yang sellu ingin Faris jaga dan tidak disakiti.    

“Ris sampai kapan pun mamah ngga akan restuin kamu dengannya. Kamu boleh memilih pendamping hidupmu yang jauh lebih jelek dari dirinya asalkan bukan dia. meskipun memang dia manis dan berhijab.” Memang terlihat kesehatan Ibunya kadang terlihat menurun, terlebih calon adik dalam kandungan sang ibu sudah semakin besar. Tapi entah yang dilakuin Faris ini benar atau tidak. Apa ini yang namanya cinta buta, ah Faris tidak mengerti dengan peran yang sedang ia mainkan. Yang ia tau, prinsip yang ia pegang benar, untuk tidak memandang seseorang dengan kacamata sendiri. Prinsip seorang laki-laki yang baik akan mendapat pendamping hidup yang baik pula. Tapi bagaimana pun kerasnya hati Faris, Ibu adalah tetap yang utama. Dan Faris semakin bingung dengan langkah yang harus ia ambil. Ketika kisah terbentur di dinding restu.
******

NB : Ini Fiksi ye, So jangan ngebully gw lagi okey!!..

44 komentar:

  1. hahaha... baru mau ngebully eeh udah di kasih note huu..

    ah Faris.. kamu ga boleh begitu, untuk sementara mengalahlaah sama mamahmu, turutin aja dulu kemauannya sampai dede mu lahir, habis itu minta neng Naswa baik2in mamahmu, yaa x aja mamah berubah pikiran..

    btw, based on true story nih kayanya dududu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih-makasih sarannya. andai mereka memang nyata...
      XD

      UUB ----->> ujung-ujung Bully -___-

      Hapus
    2. kalo komen saran itu mah cuma basa basi aja, intinya yg di bawah itu :D

      Hapus
    3. Untungnya yang dibawah cuma sekilas dibacanya =P

      Hapus
  2. waduh.

    ini namanya GALAU. BIMBANG. DILEMA.
    masihkah ada pilihan?
    sanggupkah memilih?

    *terbawa mellow*

    hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muhehe selalu ada pilihan dihal tersulit juga, bukan kah diam juga termasuk pilihan??

      Hapus
  3. yakinlah sob itu yang terbaik.. jangan putus asa seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia bang nanti disampein ke tokohnya haha..

      Hapus
  4. lama ga mampir ke blog ini. gimana kabarnya bang bro? :D

    BalasHapus
  5. ujian terberat -_-, berasa de ja vu ke tiga tahun silam pas baca ini
    :3

    nice story :3 ada typo di dengar menjadi dengan :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke Kakak udah di benerin maksih koreksinya..

      Hapus
  6. te2p dri kmren2,,,
    backsound ny yg pling bsa mnarik prhtian gw...
    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti tulisannya jelek yak -__-

      Hapus
  7. Numpang belajar menempatkan tanda baca, Kang.
    Thank's.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah lo gw juga pengen belajar XD

      Hapus
  8. Halaaah dibawahnya dikasih note jangan dibully deh ahaha bagus fiksinya.
    Bang ujay rajin banget nulis fiksi, envy nih envy -___-
    kalo aku gak bisa sesering ini kegiatan & ruwetnya sekolah ngehambat imajinasi.
    Pengen belajar dong sama abang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiah bisa aja nih syfa. ini juga diselingin sambil kerja kok :-P

      ayo sama sama belajar.. hehe

      Hapus
  9. aduuuh ceritanya galau terus nih.. jadi kebawa galau u,u *ups hahahaha
    good story kaaak :D

    BalasHapus
  10. zay, bikin yang non-fiksi dong :D ayo ayo~ aku pengen tahu kalau uzay bikin kisah nyatanya

    oh yaa, dapat award dariku nih :) dan yuk lihat pengumuman pemenang giveaway the fairy and me
    http://www.nurmayantizain.com/2012/04/pemenang-giveaway.html
    thank you ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe insya allah ka Maya cause ngga ada yg spesial yg bisa di ceritain. betewe awardnya udah diambil tadi siang. makasih ka maya :-)

      Hapus
  11. hmm...aduh, kenapa gue yang gregetan ya...bang, ceritanya kok sinetron banget T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muhehehe ada korban sinetron..
      untungnya bukan telenovela ye bang XD

      Hapus
  12. Gue jadi tambah penasaran bang, apa yang mama nya Faris ketahui tentang Naswa ye.. hmm... ape bakal ada lanjutannye? ^_^ <--jawab woii

    btw..tadi ada yang salah tuh masa ada nama KANWA kan harusnya NASWA :D lagi ngantuk ye bang ngetiknye :p hihihiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muhehe iya gw typo mpok.. terpukau dengan pesona Kanwa #alibi...

      Ngga ah, cukup sampai disitu aja, udah kebanyakan cerbung gw, yang lain juga belum kelar haha.. kalau mau diterusin monggo ^.^

      Hapus
    2. hahaha...alibi yang masuk akal :p #ngeekkk

      nggak akh, tulisan lo kan lebih yahud bang, kalo gue yang nerusin bise2 ancur EYD nye :D

      Hapus
    3. Asyiiik pas sasaran :P #Uhuk

      Ah, suka gitu deh, ngga suka ah, pokonya ngga suka jangan pernah berkata seperti itu lagi #ftv selasa..
      EYD gw juga masih ancuur -___-

      Hapus
  13. Inilah kisah dimana cinta memang harus memilih. Keren.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha alhamdulillah kalau nangkep ceritanya bang =)

      Hapus
  14. Wah susah juga kalau mendapat rintangan seperti itu. Apalagi itu adalah restu sang ibu. Jadi penasaran, kenapa sang ibu nggak suka dengan naswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti sulit bang, dan sang ibu pasti punya alasan tersendiri kenapa ngga suka.. XD

      Hapus
  15. Yaaa... kok sad ending sih? Jangan nyerah gitu dong Faris, kan kasihan Naswa. Aduuuh... so touchy deh kata-katamu.

    Memang, seperti katamu di postingan MIMPI, MUSNAH, HARAPAN ya. Seperti makan buah simalakama kalau orang tua menentang (ups, di kolom komentarku tentunya)

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaah sebelum postingan yang 3 kata itu, cerita ini emang udah ada di draf tapi belum finish. pas banget kebeneran kau bikin kalimat yang kearah sana haha..

      Hapus
  16. he..he...hee.. Wah jadi ingat masa lalu gue yg dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuuh masa sih bang?? ternyata ada yang pernah ngalamin cerita diatas XD

      Hapus
  17. wah memang ini sering terjadi, terbentur dinding restu. ceritanya bagus, kaya filem india. si cowo kekeh mempertahankan si cewe karena tau sebenarnya ia cwe baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muhehe tadi ada yang bilang kaya sinetron sekarang kaya film india haha... LOL

      Hapus
  18. terharu aku bang... :(
    sumpah tersentuh.... :(

    BalasHapus
  19. cinta kadang harus melewati tebing yg sangat tinggi...
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat terjatuh akan terasa sakit +)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)