Juni 27, 2012

Karena Aku Berbeda (Aku Bisa) 3

“Hehe iya, kamu juga pasti sudah di luar kepala. Pasti paling besar lagi nilainya.’’ Aku tersenyum, ya minggu lalu nilaiku lebih kecil dari nilainya. Dan karena itupun aku jadi lebih semangat. Seolah tantangan yang harus aku kejar.

“Ah kamu bisa aja, ayo masuk sudah bel tuh.” Ajaknya.

Suatu saat aku akan menjajarkan posisiku denganmu Rahma. Tekadku.
***
Tiga Tahun berlalu, akhirmya aku mampu menjajarkan langkahku dengan Rahma. Aku bisa berada satu tingkat di bawahnya saat pengumuman kelulusan. Ada raut wajah bangga kini kulihat dari mata ibu saat namanya disebut sebagai orangtua murid yang menerima penghargaan dari sekolah. Karena aku berhasil menjadi peringkat kedua setelah Rahma, meskipun nilai akhir kami sama persis. Mungkin karena ia juara umum bertahan hingga posisiku jadi yang kedua. Tak apalah tidak masalah sama sekali untukku, toh dia memang hebat dan pantas di posisi pertama. Dan karena dia juga aku bisa berada di posisi sampai sekarang. Terima kasih Rahma.

“Selamat ya sayang, kamu hebat. Ibu bangga sama kamu.” ia mengusap kepalaku. “Kalau saja ayahmu masih ada, pasti dia bakalan bangga banget sama kamu Haqi.” Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Ya masih tampak wajah kehilangan setelah sebulan ayah kembali kepada Tuhan karena sudah tidak kuasa menahan sakitnya. Akupun merasa sangat kehilangan, hanya motivasi-motivasinya yang tersisa yang membuat aku selalu semangat sampai tahap ini. Kelak aku ingin menjadi seorang dokter seperti pintanya.
***
“Bu aku ingin kuliah di fakultas kedokteran boleh?” saat menerima hasil kelulusan SNMPTN di salah satu Universitas terkemuka.

“Kamu yakin Haq? Apa nggak keberatan buat kamu? Belajar kedokteran kan serba ekstra..” Ibu tampak ragu mengiyakan.

“Nggak bu, Haqi siap seberat apapun proses yang harus di jalani. Karena aku yakin aku bisa. Demi hutang janjiku kepada ayah.” Jawabku tanpa keraguan.

To be continue.. 
 

22 komentar:

  1. posisinya dengan rahma yang berurutan meski nilainya sama. ini pengarang kayaknya suka mengalah ya... tapi win-win banget. mantapp. hidup haqi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoho bisa aja si abang, suka mengalah nggak ya =D

      Hapus
  2. Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
    tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus
  3. lo, saya pikir masa masa SMA akan dikupas.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha sengaja di ringkas nanti jadi sinetron kalau gitu =D

      Hapus
    2. Kalo jadi sinetron pasti jadi sesuatu yg menginspirasi...tak seperti sinetron di tivi2 sekarang....

      Hapus
    3. hoho tapi ngga ah udah terlalu banyak sinetron =D

      Hapus
  4. loh,udah lulus aja...terus Rahma gimana bang???kirain bakal ada cinta2-an...<==otak sinetron

    BalasHapus
  5. loh koq tau2 udah eps. ke 3.. 2 nya mana? ooooh kelewatan toh :D

    BalasHapus
  6. janji adalah hutang,,dan hutang wajib dibayarkan, demikian juga dengan niat yang telah terjanjikan :)

    BalasHapus
  7. tulisan ini singkat ini berhasil bikin nyesek gegara "kehilangan" .. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf lan, ngga maksud ya, #gw tau apa yang kamu maksud.. #smile..

      Hapus
  8. Gue baca dari 4 ke 3, jadi kayak flashback gitu. xixiixix tapi tete bagus, bisa dinikmati!

    BalasHapus
  9. Lanjutttt...
    Eh itu si Hadi ckckck tete tete. :p

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)