Juni 27, 2012

Karena Aku Berbeda (Aku Bisa) 4

tujuh tahun berlalu
“Permisi dok, ini hasil laboratorium bapak Gany, pasien ruangan melati no 10.” Seorang suster menghampiri ruang kerjaku menyerahkan berkas.

“Oke Sus, segera saya ke sana.” Jawabku singkat sambil mulai membaca hipotesis hasil lab.

Pasien            : Gany Hidayat
Umur              : 35 Tahun
Ruang             : Melati
No                : 10
Dokter spesialist : Haqi Rizaki. Sp. P
Hasil             : Negatif

Aku tersenyum ketika membaca namaku tertera di sana. Haqi Rizaki, seorang dokter spesialist paru yang memiliki kedua tangan dan kaki cacat. Yang dulu untuk menulis saja bersusah payah. Menaiki tangga berjam-jam. Kini ada untuk mereka yang dulu menatapku iba. Aku lihat frame foto ayah di ruangan kecilku. Aku tersenyum. Ku rasakan kehadiran kasih sayangnya. Motivasinya. Terima kasih ayah.

“Jangan lupa bekal siangnya di makan ya =)” sebuah pesan singkat Rahma mengingatkanku. Ya dia gadis manis, smart dan selalu jadi juara umum itu, kini jadi tempatku berpulang. Setia menungguku di rumah.

Sesungguhnya ada banyak hal yg kusesali di masa lalu. Tapi ketika orang bertanya, apakah aku menyesal menentang orang tuaku? Dengan tegas aku jawab tidak. Karena aku tahu niatku mulia. Kepada ayahku tercinta, apa kau melihatku dari sana? Lihat yg aku persembahkan untukmu ayah.

The end.. 

26 komentar:

  1. manis sekali...
    rahma, sudah saya duga. karena dia tokoh wanita yang selalu diungkap penulis.
    selamat buat haqi dan rahma

    dan untuk penulisnya sendiri, kisahkan juga doong..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduuuh kisah penulis ngga ada yang manis untuk di bagi bang hehe.. terima kasih apresiasinya.. :)

      Hapus
    2. ahhh-hhh setuju sama zach~
      kisah uzay lebih dinantikan :D
      sesuatu yang nyata itu lebih ketar-ketir loh ^^

      Hapus
    3. hehe insya allah kak ^.^

      Hapus
  2. hemm aku setujuh sama cerita di atas, jngn pernah sesali apah yg kita lakukan.....
    semoga niat baik soba, akan selalu di kenang....
    saya yakin pasti ayah sobat jg bangga atas keputusan yg sobat lakukan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiip insya allah haqi pun berpikiran demikian ;)

      Hapus
  3. AAAAA...
    ceritanya sudah selesai dengan akhir yang bahagia :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus dong kalau nggak nanti lani galau lagi #eh..

      Hapus
    2. kenapa harus bawa kata" itu lagi bang? -___-.

      Hapus
    3. haha kabuuuuuuuur..... :P

      Hapus
  4. ini tamatnya bahagia kan ya bang??kok ika malah pengen nangis?? -___-"
    huuuuuft...ceritanya manis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan nangis ikaaa nanti tambah jeleek ;D

      Hapus
  5. =) << ini ganggu deh kayaknya. Di dalam sastra nggak ada kode kayak gitu. Kalau mau ngasih tahu dia tersenyum, ilustrasikan dengan kata-kata, Men!
    Keep writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. itukan ceritanya sms di, emang nggak boleh juga yak?

      Hapus
    2. Gatau deh boleh apa gak, tapi setau gue kalo sms ga perlu dikutipin, Zay, hurufnya dimiringin aja. Apa kabar lo?

      Hapus
    3. Oh gitu.. okelah kalau gitu..

      Hapus
  6. Hebat ya blogger sekarang tulisan-tulisannya luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah termasuk anda juga seorang blogger kan?

      Hapus
  7. sedih bercampur bangga... ehm, mantap cerita berbumbu motifasinya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe alhamdulillah, terima kasih apresiasinya...

      Hapus
  8. bener kata pa zach, maniss.. suka, btw ini kenapa blogmu agak lambat ya? tp bw ke yang lain cepat @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak tau kak, snownya udah di hapus, apa masih berat? #padahal ngga ada widgetnya -_-

      Hapus
  9. bagus... ending yang memuaskan pembaca... :)

    BalasHapus
  10. Wah, jadi nikah tho sama Rahma terakhirnya... :D

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)