Juni 06, 2012

Tak Sadar (Aku Kehilangan)

Senja itu. Saat tak kujumpai jingga dalam baris cakrawala di ufuk barat. Serasa bermimpi, kutemukan raga yang bugar di tengah dinginnya suasana Tokyo. Salju yang turun dengan indah bahkan tak mampu mengiringi langkahnya yang mengalun laksana malaikat dari langit. Sempurna, wajah tampannya diterpa sinar-sinar remang lampu jalan yang mulai hidup di tengah hiruk pikuk pejalan kaki. Ia semakin mendekat, mendekat dan hampir selangkah lagi. Ia ulurkan tangan, seisi duniapun terasa semakin lambat kecuali dirinya.

Sejenak aku terpaku, lamunanku musnah. Ia datang bukan padaku. Ia menarik tangan kekasihnya di sebelahku. Ya, dia sahabatku, wanita yang beruntung itu. Kini mereka berdua melambaikan tangannya kepadaku, akupun masih termangu tak mau mendengar kata-kata yang mereka ucapkan. Hei, apa yang terjadi? apa aku merasakan sakit?. Sambil berlalu, bayangan mereka menjauh di antara gelapnya malam yang mulai merambat. Aku menghela napas, tersadar dan kemudian mulai menunggu lagi. Tak lama, kamu datang lagi setelah kamu tunaikan tugasmu untuk mengantarnya pulang. Seperti biasa kamu jahil, kadang usil dan membuatku sejenak tersenyum seolah-olah tadi aku tidak lagi cemburu melihat kalian melangkah. Aneh! aku bahkan belum tahu apakah aku menyukaimu. Tapi kehadiranmu sempurna menumbuhkan harapanku.

Harapan itu aku kubur dalam-dalam, ya aku tahu ada hati yang lebih mengharapkanmu. Hati yang aku kenal dengan sosok seorang sahabat, karena itu hatinya aku sangat jaga. Meskipun aku tahu hati itu datang memusnahkan impian untuk memilikimu. Nyatanya aku mengagumimu dalam diam. Seperti butiran salju ini yang diam -diam meresap ke kulit, yang mulai kedinginan. Mungkin aku memang sedang bermimpi gadis yang kau genggam itu adalah tanganku. Tanpa sadar sampai kapanpun kau tak akan mampu aku gapai.

Kini, bukan aku dan kamu yang dulu menjalin ikatan persahabatan. Layaknya aku dan dia, wanitamu yang juga sahabatku. Bahkan tak ada waktu sekedar untuk bercengkrama seperti dulu kala. Saat kau bercerita tentang mimpi-mimpi yang kau ukir di atas bangku sekolah. Terkadang aku ingin mengulang waktu, kembali ke masa itu. Saat aku mencoba untuk mengenalkan dia denganmu. Betapa bodohnya aku, kadang ada perasaan ingin mengubah garis takdir pertemuanmu dengannya. Biar aku tak tersakiti seperti ini. Sakit dalam hati yang tak pernah kosong karena selalu ada namamu di dalam biliknya. Kini bilik itu bagai ruang hampa yang akan kehilangan partikel-partikel zat yang selalu mengikuti bentuk wadahnya. Dan aku tak kuasa mengisi wadah itu seorang diri.

Perlahan perhatianmu datang dan mengalir begitu saja. Sampai aku terlena dan mulai menerka-menerka bahwa kamu ada rasa denganku. Tapi kini ia mengalir bukan untuk mengisi, rasanya semua yang menghanyutkan itu akan segera pergi dan berlabuh kehatinya. Ia bagai air yang akan hilang walau kucoba untuk menggenggamnya dengan erat. Jangan! tolong jangan kau siksa aku dengan perasaan ini. Perasaan yang kau tinggal begitu saja tanpa kau peduli bagaimana aku mencoba menguburnya. Tidak hanya sepihak darimu, darinya pun aku tahu, bahwa memang rasa itu telah tumbuh diantara kalian. Dia bahkan lebih pantas denganmu. Lalu apa yang harus kulakukan? Mencoba bertahan atau memusnahkan perasaan yang tak terungkap semenjak kita bertemu lima tahun yang lalu! Atau aku harus merebutmu darinya?. Tidak! akupun tak ingin menghancurkan harapan yang di milikinya terhadapmu. Lantas aku akan mencoba untuk mencintainya, orang yang kau bilang sahabat karibmu semenjak kuliah. Aku akan mencoba mencintai orang itu seperti maumu, seperti saranmu. Bukankah begitu? Mari kita coba permainan ini. Seperti kesepakatan kita!. Meskipun aku tak tahu bayanganmu akan segera hilang setelah kehadirannya. Sahabat yang kau kenalkan itu. Aku harap ia tak hanya menjadi pelampiasan semata.

Aku masih termenung di bawah pepohonan pinggir jalan, melihat dia dan dia bergandengan tangan lalu bayangannya semakin jauh dan buram. Aku teringat pertemuan singkat itu lima tahun yang lalu, ketika sedang menikmati secangkir teh manis dibawah sinar rembulan di pinggir sebuah danau. Ada harapan tulus suasana ini akan abadi sampai selamanya. Namun tiba-tiba seseorang menghampiri kita berdua, ya dia yang kini tangannya kamu genggam. Perkenalan kamu dengan dia pun terjadi, siapa sangka perkenalan itu adalah awal hatiku terluka, semua harpan dan impian yang aku rangkum selama lima tahun itu musnah seketika. Ketika sebulan kemudian kamu berubah, hubungan yang tak pernah ada ikatan ini usai secara sepihak yang aku tidak paham alasannya.

Tapi lambat laun aku paham ternyata kamu menjauhiku karena telah dekat dengan dia, sahabatku sendiri. Entah aku harus marah dan menyalahkan siapa. Dia tidaklah bersalah, karena akulah yang mengundangnya masuk ke kisah cerita kita. Mungkin memang aku yang bersalah, yang tidak pernah jujur dengan perasaanku kepadamu. Aku yang bersalah telah membiarkan harapan tentangmu tumbuh subur tanpa ada celah yang ku siapkan untuk rongga saat aku terluka..

***

Pertemuan singkat itu.

“Hei Muri pa kabar? Wah bisa kebetulan ketemu di sini hehe..” Ariani menyapa sahabat lamanya saat sedang menikmati secangkir teh  di sebuah kafe di pinggir danau dengan Zie.

“Hei Arin! “ keduanya saling berpeluk dengan akrabnya. “Waah kemana saja kamu, mentang-mentang sudah sukses kayaknya sampai lupa sama gw ckckck” lanjut Amuri.

“Hoho, sorry-sorry waktu itu hape gw hilang. Dan gw nggak sempat simpan kontakmu. Maaf! Sekarang lanjut kemana nih Mur?” Ariani tampak bersalah. Memang karena dialah, persahabatan itu sedikit ada jarak. Padahal sebelumnya mereka berdua bersahabat baik.

“Eheeem!” suara Zie memecah suasana nostalgia itu.

“Eh iya, kenalin nih Mur. Ini Zie dan Zie ini Amuri.” Tampak keduanya berjabat tangan.

“Haloow Zie salam kenal. Oia maaf nih gw masih harus jalan, kapan-kapan kita sambung lagi ya.” Amuri pamit.


- Diam-diam mengagumi, diam-diam mencintai, diam-diam kehilangan.-

NB : Masih ingat postingan Senam Jari & Otak? itu loh yang merangkai kata MIMPI, MUSNAH, HARAPAN. Nah ini rangkaian yang dibuat Youko dan gw. cuma lebih diperluas aja jalan ceritanya ^.^

 

78 komentar:

  1. Diam-diam mengagumi. Diam diam mencintai. Diam diam kehilangan..

    DAlem banget bang.. :P.
    pernah ngerasaiin jadi dia #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi ada yang curcol lagi =D

      Hapus
    2. hihihi..
      abis yang ditulis dari kemarin pas mulu..#dalem

      Hapus
    3. hihi mana katanya mau ngasih curhatan yang mau di bikinin cerpen?? =D

      Hapus
    4. hadeh... masih inget aja nih bang sama yang itu.. :P
      Malu -___-

      << lagi ngulang baca cerita dari awal LAGI.

      Hapus
  2. wahhh, manteb nih sobat...
    panjang banget nih yah, gua baca setengah aja dulu yak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lompat2 juga gpp :P

      Hapus
    2. Dayat ----> asal balik lagi yee Janji??

      Yang tukang lompat-lompat cieee...

      Hapus
    3. wah mau koment jadi ketawa dulu. suruh dateng lagi malah, heheh.

      ceritanya mantap nie, tentang pemuja.. ya sayang endingnya ga bahagia.

      Hapus
    4. waahaha, mau lompat kemana yak ???? ke jurang yah mba ??

      wahaha,, nih gua mampir lagi zay :D

      Hapus
    5. asyiiik udah di baca kan?

      Hapus
  3. gw lg puyeng, ga bnyk komen deh, narasinya manis bgt. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. minum obat boy puyeng mah jangan keluyuran =D

      Hapus
  4. gw lg puyeng, ga bnyk komen deh, narasinya manis bgt. :)

    BalasHapus
  5. hadew..semakin buatku galau bang,,

    BalasHapus
  6. akhir-akhir ini baca postingan abang bikin hati tambah miris..HIDUP GALAU ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiah jangan galau bang, dinikmati sajalah =D

      Hapus
  7. Dan gue gak bisa diam kalo mampir kesini, ngebaca tulisan elo! Pengennya pengen, pengen dan pengen! Pengen nulis kayak elo! ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau gitu silahkan jingkrak-jingkrak atau panjat pohon kalau ngga mau diem #eh..

      Hapus
  8. Jalan ceritanya masih sedikit kabur sob. Terutama nama tokohnya. Kayaknya perlu baca yang senam jari dulu kang uzay.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoho oke bang makasih kritikannya untuk perbaikan kedepan =)

      Hapus
  9. weleh-weleh... udah nyampe tokyo bang???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah balik lagi malah haha...

      Hapus
  10. Panjang bgt sob. Mending jadiin 2 part tuh. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf yo kalau kepanjangan, makasih kunjungannya..

      Hapus
  11. Aduhh sumpah bingung mo ngomong apa cerita itu gue banget bang ujay #huaaaaa haduhhh nafas jadi nyesekk,kepala sampek sakit,gondok di leher tapi memang begitulah semua sudah berakhir gue gak bisa mengulang waktu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuuuh efeknya jadi banyak begitu Noer? hehe.. ya jadikan itu kenangan yang berharga pernah di posisi itu..

      Hapus
    2. Memang sungguh Terlalu... :'(

      Hapus
    3. hahaha sabar pasti ada gantinya kok =)

      Hapus
  12. kisah seperti ini banyak kejadiannya. entah dengar sendiri atau dari kaset. Jalinan itu memang tak pasti. yang pasti, yang diridhai Allah adalah setelah menikah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya kalau udah syah akan lebih berpahala..

      Hapus
  13. kutipan dia atas persis caritanya seperti pengalaman gwa masih muda .. T_T betapa terlukanya saat dikenalin sama calon pendamping sang idaman hati ... T_T

    postingan senam jari dan otak? gwa ga tau apa ga inget ya .. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba lirik kesana biar jelas antara ngga tau ama lupa hehe...
      makasih udah berbagi kisahnya =)

      Hapus
  14. Kata Tokyo di para 1 cukup buat membawa saya ke angan-angan dulu. pinter banget penulis mengajak berimajinasi. para 2 dan seterusnya, serasa di Tokyo beneran. keren, salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah pernah kesana ya bang? atau sempat tinggal juga?

      Hapus
  15. hadeuh... jadi inget, gue pernah diem2 suka ma seseorang, tp gue kagak pengen dia tau, akh... udeh akh...males inget2 lagi :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. si mpok punya kisah tersendiri juga nih, share dong =)

      Hapus
  16. paragraf ke 6 : dia dan dia berpegangan tangan. koq dia nya 2x ?? ciee template baru nih :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut-ikutan yang punya templete baru juga =D

      Hapus
  17. serasa dejavu baca tulisan ini #malahcurcol

    btw rmh barunya bikin adem ^^v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe dikira gw malah panas mata Anggi. ternyata ngga ya. makasih tanggapannya.

      Hapus
  18. Saya ga bisa diam2 suka. Kalo suka mesti ngomong langsung ._.

    BalasHapus
  19. ohh bang jadi muri ni dia suka zie kan? nnti jadi zie itu karakternya kak ade kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini kan ceritanya ada tiga orang, Zie dan Airin sahabatan dari dulu, Airin juga sahabatan sama Amuri, tapi sempat terpisah. suatu hari mereka bertiga bertemu dan Amuri pun kenalan sama Zie, Airin sudah terbiasa dapat perhatian dan akrab dengan zie meskipun hatinya masih ragu ada rasa suka atau tidak, dan zie hanya menganggap teman. tapi tanpa di sadari Airin, Zie dan Amuri semakin dekat dan jadian. Airin merasa kehilangan kebersamaan Zie yang sekarang lebih bersama Amuri. suatu hari Zie dan Amuri disini maksudnya Zie dan Amuri yang jalan bergandengan tanpa ada yang tau si Airin sakit akan perasaannya sendiri.

      kira-kira begitu sinopsisnya.

      Hapus
  20. no coment ah.
    dari tadi blogwalking isinya galau semua.

    semangat cah.
    noh ada yang nunggu di depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah ini lucu loh ngga galau. baca deh.. =D

      Hapus
  21. ah... gue kangen baca tulisan lu bang :) haha
    gue sering pulang malem, di sekolah lagi banyak kegiatan =,= jadi jarang BW

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoho kemana saja kau nak, kirain sudah lupa kesini =,=

      Hapus
  22. wah, bingung aku mbacanya. Alur sama tokohnya bener2 membuatku bingung. Wajibkah hukumnya utk membaca senam jari dan otak dulu, agar paham sama cerita di atas?

    #bacanya kapan2 saja ya bang (kalo inget sih, diingatkan deh ya) maklum, udah nguantuk nih, huhuhu...
    :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi kalau bingung ayo pegangan.. ada sinopisinya kok itu di kolom komentar.

      oke-oke ngga apa-apa.. =)

      Hapus
    2. aku baca sinopsis di kolom komen aja ya.
      hehe.
      :)

      Hapus
  23. Makanya sob,,, kalo suka buruan bilang cinta wahahhahaa...

    Takut keburu di sabet sama temen dekat :D

    Eh, baru dicat ya sob rumahnya... Pangling euy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya iya ayo teriak teriak biar ngga diem..

      iya bukan lo ya yang kemaren berbae hati ngecatin rumah gw? =D

      Hapus
  24. paling gak enak diam-diam mencintai..apalagi kalo ujung²nya hrus khilangan
    tulisanny bgus zay, tapi pas dtengah sdikit muter-muter... :?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe emang gw juga ngerasain itu terlalu banyak pengulangan kalimat yak jadi kesannya memang muter-muter.

      Hapus
    2. smoga berikutnya lebih kereeen zay
      :D

      Hapus
    3. sippo mudah-mudahan =)

      Hapus
  25. Kunjungan pagi bang. Met beraktifitas. :D

    BalasHapus
  26. Ohh masyaAllah dari tiga kata bisa menjadi postingan yang menarik. Kesimpulannya diam-diam itu menyakitkan ya? hohoho :D

    --------------
    kenapa tiba-tiba bertanya tentang menggurui? apa ada orang yang mengkritik uzay? postingan uzay itu selalu punya quote di tiap akhirnya. sama sekali tidak menggurui. menekankan mungkin iya. hanya saja, tanpa sadar untuk bebeapa orang yang sensitif, bisa berkesan menjadi menggurui. tapi tak ada yang salah dengan hal itu. yang perlu diperhatikan adalah kata-kata yang uzay sampaikan tetap lembut, sopan dan tegas :) bersemangatlah uzay!

    coba uzay buat postingan pendapat tentang satu hal :) aku pengen lihat cara pandang uzay ^^ hohoho

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak selamanya menyakitkan sih ka, kalau didasari rasa ikhlas dalam hal itu. =)

      nanti ulasannya di email lagi yak makasih jawabannya =)

      Hapus
  27. Dalem....
    banget...
    penghayatannya..
    -____-
    Jadi ikut kebawa suasana

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi jangan galau ya Puji ini cuma fiksi =)

      Hapus
  28. Gimana rasanya, dia yang kamu cintai malah menggenggam tangan sahabatmu. Sakitkah? Pastinya. Aku pernah ngerasain lho, Zay. Hehehe...

    Makanya, jangan dipendam, sakit sendiri kan :)

    BalasHapus
  29. emang hoho
    ada yg curcol :-D

    BalasHapus
  30. Pertama : Uzay rumah baruuu..hureee..cakep zay, lebih simple :)
    kedua : ceritanya panjang ye.. :P
    ketiga : Diam2 mengagumi, diam2 mencintai, diam2 kehilangan <-- sakit sendiri
    sering banget #ehh #curcol :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya emang pake templete bawaan blogger yang simple
      pendek kok kalau udah dibaca mah..=d
      hihi dia ikutan curcol =d

      Hapus
  31. salam kenal... suka postingannya, berurutan dan mudah dicerna :) *emang bakmi? hehehe

    yang bisa dipetik, kalo suka ya bilang suka, kalo ga mau ya dipaksa, kalo mau pergi ya diiket... hehehehe *kumat

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe bisa sajo mbak =D
      oke salam kenal juga yah makasih udah berkunjung...

      ayo diiket =P

      Hapus
  32. "diam-diam mengagumi.. Diam-diam mencintai.. Diam-diam kehilangan.."

    daleeeem..
    saia tunggu crita kolaborasiinya yooo.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. silahkan dibaca versi yang lain =)

      Hapus
  33. maap bang baru bisa baca
    ini yang MImpi-Musnah- Harapan itu ya bang... kesian banget dah si Airin. Mantep ni sambungannya. Cuma di tengah-tengah cerita jadi susah ditangkap maksud ceritanya abisnya ada pengulangan pola pikir yang mimpi-musnah-harapan tadi hhhe.. but thanks bang dah dilanjutin kisahnya si Airin ini. Pasti lebih seru lagi kalo ada pihak keempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih padahal udah berlembar-lembar kau baru baca =(

      Iyaaa ini kan berlanjut karena kata-katamu juga yang yahud =)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)