Maret 26, 2013

AYAH, terima kasih.



Malam sedang menjamu kita dengan hidangan istimewa, berupa canda tawa mesra dengan keluarga tercinta dan istirahat sebagai makanan penutupnya.



Ketika tengah mengamati langit-langit kamar untuk mulai memejamkan mata, tiba-tiba aku teringat kejadian menarik ahad kemarin. Seketika saja ingin coba aku tulis. Singkat cerita, setelah tunai shalat maghrib di masjid, pada hari itu para jamaah shalat tidak langsung bergegas pulang ke rumah masing-masing. Mereka berduyun-duyun menuju rumah salah satu tetangga yang kebetulan mengundang selametan di rumahnya dalam rangka memberi nama buah hati pertama mereka. 

Selalu menarik jika ada selametan seperti ini, selain sebagai ajang untuk mempererat tali silaturrahmi dengan berkumpul riung bersama. Kegiatan ini juga sebagai simbol turut bahagia dan saling mendoakan kebaikan antar tetangga. Apalagi ketika melihat antusias anak-anak kecil yang tidak mau ketinggalan bapak-bapaknya. Meskipun lebih banyak bercandanya. 

Pastinya aku turut hadir di acara tersebut, sambil memangku Syafiq, si bungsu yang awal bulan depan beranjak usia lima tahun. 

Pembacaan tasbih, tahmid dan shalawat pun di mulai. Kidung-kidung doa berirama dengan penuh kekhusuan. Hingga pembacaan surah Yaasiin pun akan di mulai. Di sinilah yang selalu menarik dan sedikit (maaf) menggelitik hatiku. Ketika mushaf-mushaf Yaasiin dibagikan ke semua yang hadir. Mataku tak lepas memperhatikan uluran-uluran mushaf itu dari tangan ke tangan. Sesekali tersenyum ketika mushaf itu tanpa ragu diambil oleh anak-anak kecil, bahkan berebut (dari mulai umur sudah sekolah SD, maupun masih di bawah lima tahun). Mereka sangat antusias untuk soal ini, tentu terlepas dari sudah mahir membacanya ataupun belum, point pentingnya mushaf itu sudah benar-benar sampai di tangan mereka untuk dibaca. 

Dan yang selalu membuatku menggelitik (dengan tanpa maksud mengurangi rasa hormat) ketika sebagian mushaf itu hanya berhenti di atas sebuah gelas, hmm.. gelas yang berada di depan sebagian bapak-bapak (sebagian sudah lanjut usia) tepatnya. Rahasia kecilnya mereka bukan enggan untuk membaca surah Yaasiin, bukan pula sudah menghafal  di luar kepala sehingga tidak lagi perlu teks bacaanya. Mereka lebih memilih untuk melapadzkan surah al-ikhlas berulang-ulang, salah satu surah pendek yang sudah mereka hafal sejak lama.

Hmmm, rahasia kecilnya karena sebagian mereka itu tidak lancar membaca Al-Qur’an. Lidahnya terlalu kaku untuk mengeja alif ba ta. Hanya menghafal surah-surah pendek untuk keperluan shalat. Itu pengakuan dari salah satu mereka, sewaktu kecil aku iseng bertanya.

Hal ini menyadarkanku, bahwa memang benar pepatah mengatakan : belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air. Dan benar adanya penyesalan yang lebih banyak di hari tua ketika masa mudanya tidak dihabiskan untuk belajar dan belajar. Ini fakta, pasti kita semua pernah sesekali mendengar keluhan itu, mendengar nasihat dari orang yang lebih tua umurnya di sekitar kita. 

Aku menelan ludah melihat lebih banyak mushaf yang menganggur, merasa bersyukur sekali bisa membaca ayat-ayat Allah tanpa harus terhalang oleh kemampuan tidak bisa membacanya. Bersyukur telah dididik oleh keluarga yang mengedepankan nilai-nilai agama. Oleh sosok seorang ayah yang tegas membimbing anak-anaknya menegakkan shalat dan mengamalkan Al-Qur’an. Seorang ibu yang sewaktu kecil menggembleng anak-anaknya sewaktu habis maghrib untuk membuka IQRA bukan menonton televisi. Alhamdulillah. 

Pembacaan surah Yaasiin sudah mulai mengalun seirama. Sesekali Syafiq yang membalikkan halaman mushaf ketika halaman itu sudah selesai dibaca. Aku mengusap lembut kepalanya, yang meski masih terbata-bata sudah bisa mengeja alif ba ta.

*seketika ada rindu di sini, rindu nuansa petang dengan alunan-alunan merdu Al-Qur'an di Surau kami dulu.

   Ayah terima kasih nanda haturkan kepadamu
Yang telah mendidik dan membesarkanku bersama ibu
Ayah engkaulah guruku yang terbaik sepanjang usiaku
Yang telah membimbing masa kecilku meniti jalan Tuhanku
*Suara Persaudaraan    
 

37 komentar:

  1. Seharusnya ini postingan semalam, tapi ada yang lagi lelet jaringannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gpp emang suka begitu jaringan modemnya :P

      Hapus
  2. beuhhhhhhhhhh pertamaxnya diborong sendiri sama admin

    BalasHapus
  3. Luar biasa mas, jiwa muslim sudah tertanam sejak kecil. ketika alunan ayat suci berkumandang,lidahpun ikut melantunkan. rasanya sangatlah rugi jika di jaman sekarang tidak pandai baca al quran

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. saya malah kangen Wonder Woman koq

      Hapus
    2. Pita : buka pintunya kalau gitu :)

      Bang zach mah selalu kangen ya sama Wowo itu

      Hapus
  5. mampir bentar, di artikel Ayah terimakasih, lewat warnet ni kang...
    salam sehat selalu yah

    BalasHapus
  6. halo apa kabar Syafiq?
    salam sehat selalu yaa...
    beruntung mempunyai kakak yang menyayangimu Nak...
    semoga kelak menjadi anak yang shalih yaa..

    Bang Uz,
    Suara Persaudaraan maksudnya apa Bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah anaknya sehat bang.

      Aamiin :)

      Itu lirik nasyid bang nama grupnya suara persaudaraan,

      Hapus
  7. alhamdulillah yah, mereka masih tersadar akan pembacaan seperti itu, lain halnya dikampung sini bang, kurang pernah lihat juga kalau anak kecil ikut slametan. semoga nanti sejak mulai kecil sudah pada bisa dan terbiasa aammin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, belum ada kata terlambat untuk sebuah perubahan kecil, kebiasaan baru yang lebih baik. Semangaaaaaat

      Hapus
  8. bacanya nanti aja yaaa...

    ni refollow blog aja, soalnya postingan baru uzay gak muncul di dasborku, mungkin karna domain baru itu ya... brati sama dong nasibnya kaya punyaku, domain baru, refollow juga blogku zay.. ok..! nanti aku balik kesini lagi :p

    BalasHapus
  9. bersyukur punya keluarga yang selalu mengedepankan ajaran agama....:-)

    BalasHapus
  10. jadi inget bapak gue zay! hiks... besok nyusul ah ke ibukota! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo atuh di susul kalau gitu :D

      Hapus
  11. Seperti dikampung saja, jika ada hajatan jamaah masjid diundang semua. Saya sering tidak membaca saat musaf yasin ada ditangan, karena lampu yang kurang terang. Saya cuma menyimak dan mendengarkan :)
    Yang penting pulangnya bawa berkat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah yang menarik satu lagi ya berkatnya, di- besek hehe

      Hapus
  12. Disana ada acara selametan juga ya dalam pemberian nama si bayi.

    *oh ya kak, doaminnya dah normal kembali belum. kalau dah normal, nanti tak follow lagi. Kemarin terpaksa ane unfollow, takut kena hack dari orang yang nggak bertanggung jawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di sini bang http://www.azura-zie.com/2013/03/surat-pemberitahuan_17.html Insya Allah aman.

      Hapus
  13. ini dalem banget bang uzay.. seperti biasa, sangat berisi.. attention bapak2 ibu2 atau calon2 bapak dan ibu, jangan biarkan anak2 kita kelak di masyarakat jadi generasi yg menganggurkan mushaf2 alqur'an di rumah mereka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari mbak din sama-sama belajar mewujudkannya, di mulai dari diri dan keluarga :)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)