Maret 28, 2013

hati yang menawarkan garansi kebahagiaan




Pada perjumpaan yang tak lepas dari rencana Tuhan, semoga kelak digenapkan menjadi kebersamaan.

Kenyataan sudah terlelap, harapannya masih terjaga. Meminta waktu mengulang semua.

Pada memori hati ada file-file kenangan lama yang tersimpan rapi. Hendak di ulang tapi tak lagi berputar semua.

Jika bertemu adalah rumus memecahkan kode rindu. Mari mendekat, kita selesaikan persoalan itu.
Adakalanya hembusan angin begitu lembut menyentuh bibir telinga. Aku sampai memejamkan mata menikmatinya. Ada rindu di sana.

Ah rindu selalu bertemu, mereka punya cara sendiri untuk menyapa. Raga yang kadang malang, lebih banyak menunggu.

Kalau jarak merupakan versi terpanjang untuk bertemu. Bisakah kamu sekat likunya dengan memberitahukan kabarmu? Itu saja dulu, aku rindu. 

Namanya muara kisah, tempat semua cerita-cerita berlayar membawa harapannya. Namanya muara kisah, tempat para penari luka melenggokkan ketegarannya di atas batu kenyataan. Di sana berkubang jutaan airmata bahagia berwarna merah delima. Bertetangga dengan airmata sesak berwarna putih pucat. Sebagian warna itu membentuk gradasi baru, mirip abu-abu mewakili rasa yang tak juga disapa kepastian. Untuk sudut hati yang menunggu pembuktian.

Namanya bukit kepastian. Ilalang pengharapan meliuk-liuk disapa angin lembut. Butiran bening embun terlempar ke sana kemari, sampai meleleh disengat mentari. Sebuah hipotesa alam, isyarat nuansa hati. Ratusan capung jarum beterbangan mencari sumber air kelegaan. Belalang bukit resah, rerumputan tidak lagi berkrolofil, terlalu sulit mencari kedamaian. Batang ilalang menguning. Bunga-bunga liar tidak lagi bermekaran, kupu-kupu hitam termenung mendendangkan harmoni elegy. Waktunya kembali dilupakan. Meneguk pahit ketidakpastian. 

Namanya pohon melupa, tumbuh dari benih-benih kehilangan. Pohon melupa ini sudah mulai menjulang menatap masa depan. Rantingnya pernah patah diterjang kenangan. Semoga tidak lekas tumbang ditebas rindu. Pohon melupa ini tumbuh disirami air penerimaan. Dengan pupuk terbaik, pengurai kebiasaan. Di atas tanah subur kebaikan Tuhan. Beruntung ia mendapat cukup cahaya matahari, sebagai aroma terapy ketegaran. Selalu diterpa angin sejuk yang membawa janji pergantian yang lebih baik dari Tuhan. 

*aku termenung menikmati rindu di bawah pohon itu. Mencoba memilih hati yang menawarkan garansi kebahagiaan. Agar pohon itu selamanya hanya ada dipikiran.

2 komentar:

  1. wah...rindu pada sapa yah...??
    *mendadak kepo

    bagus walau saya sedikit bingung...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga bingung udah nulis apa :D

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)