Maret 31, 2013

Waktu yang membawa pemahaman


Semua yang sudah tertulis itu berpasang-pasangan, di sana jelas sekali kasih sayang Tuhan jika kita bisa memahaminya. Salah satunya adanya pertanyaan-pertanyaan, yang selalu menuntut jawaban-jawaban. Lalu di mana letak kasih sayang Tuhannya? Sederhana, nasihat itu tidak perlu menunggu kita mengalaminya, jawaban itu bisa kita temui dari pengalaman orang lain, belajar dari mereka-mereka yang mengalami pahitnya. Dengan memahami itu, akan terasa manis sekali untuk membentengi diri, agar tidak melakukan hal yang sama. Bukankah begitu seharusnya?


Ketika kamu merasa kuat, bisa melewati masalah-masalahmu sendiri. Memikul berat beban pikiranmu sendiri. Terus menerus menegaskan hati bahwa kamu selalu, dan akan selalu bisa melewati semua itu sendiri. Raba hatimu, sentuh palungnya. Siapa yang bicara. Siapa yang tengah berkuasa. Tubuhmu? Pikiranmu? Atau jangan-jangan itu hanya egomu sendiri yang sedang berpura-pura baik. Sangat teramat baik. Rerumputan liar saja butuh sentuhan angin untuk bisa berbagi riang. Butuh embun bening untuk bisa memanjakan pagi. Bahkan karang di lautan butuh ombak yang berderu agar ia tetap basah, tidak kering. Dan tidak ada karang yang benar-benar tegar. Semua memiliki sisi rapuhnya sendiri. Sisi yang seringkali dikuasai ego dan pemikiran sendiri. Sisi yang ingin berbagi.

Kamu tidak akan pernah merasa sendiri ketika kamu masih mau berbagi. Berbagi cerita. Berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan. Berbagi ilmu dan pengalaman. Bahkan ketika ada seseorang yang membencimu, sebenarnya ia tengah berbagi perhatian terhadapmu. Berbagi, bukan memberi. Berbagi artinya sama rasa, sepenanggungan. Sedangkan memberi tidak lain hanya memanjakan seseorang. Atau sisi buruknya malah menangguhkan semua beban.

Satu masalah selesai tidak, ada jaminan masalah-masalah lain tidak ikut berhamburan. Rasa bahagia tiba, belum ada garansinya agar rasa itu terus menerus mengalir sempurna. Coba lihat senang sedang menari-nari, meronakan wajah memerah, menyimpulkan senyum paling merekah yang ia punya. Boleh jadi beberapa menit kemudian matanya mulai sembab, diiringi pelupuk mata yang berair. Bibirnya sempurna mengatup masam. Duh aduh cepat atau lambat semua hal melewati proses perpindahan. Begitu juga rasa, siapa yang bisa tahu persis halusnya perpindahan rasa di hati seseorang. Tidak ada yang bisa menebak mana yang lebih dominan berperan. Senang, sedih. Cinta, benci. Semua begitu tipis. Kadang berputar-putar mencari posisi nyamannya Hanya kelapangan hati yang membuat perputaran itu menjadi lebih berwarna. Perpindahan itu menemukan makna.

Sampai saat kamu akan mengerti bahwa waktu jualah yang mendewasakan pemahaman seseorang, ia akan mengerti bahwa remah-remah kehidupan berasal dari hal-hal sederhana yang dulunya ia remehkan. Dari hal-hal besar yang ia tinggal begitu saja tanpa terlebih dulu mencobanya. Dan buah kegagalan yang ia lewati dengan kesabaran, kelak itu yang membuatnya lebih bijak.

2 komentar:

  1. postingan zie selalu bisa menyentuh saya...:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitukah? masih perlu belajar :)

      Hapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)