Maret 08, 2013

Dua Orang Yang Berbagi Rindu DI Bangku Kosong

Di bawah sinar rembulan aku berkawan dengan denting waktu. Kami sedang membicarakan soal pertemuan di atas bangku kosong taman rumah. Lagi-lagi aku coba membujuk waktu agar mau berbagi sedikit rahasianya itu. Tapi, waktu masih saja enggan menyebutkan kapan tepatnya aku bisa berjumpa. Berulang kali ia menasehati agar aku lebih sabar menunggu, karena waktu sudah membuat jadwal pertemuanku dengannya. Soal kapan dan di mana itu rahasia, katanya. Ah, rupanya ia masih saja usil bermain teka-teki denganku.


Malam ini aku menghelakan napas lebih lama. Ada sesuatu yang aku nikmati di setiap hembusannya. Sesuatu yang belakangan ini ku beri nama, rindu. Beruntung malam ini sepi dan sendiri tidak ikutan jahil menggoda, hanya senyap sesekali lewat. Itu sebelum seorang gadis datang dan mengambil keputusan ikut duduk di sampingku. Entah setelah itu senyap menghilang ke mana. Membiarkan aku berbagi bangku kosong berdua dengan gadis itu.
Sejenak aku menolehnya, lalu kembali tidak peduli. Sejak awal malam tadi sudah kuputuskan untuk termenung sendiri. Jadi biarlah kedua penghuni bangku kosong ini sibuk dengan pikirannya sendiri. Toh kami memang tidak memiliki kepentingan. Hanya berbagi bangku kosong yang sama. Tapi, tiba-tiba semilir angin lembut memaksaku untuk tidak diam saja. 

"Sapamu ke mana? rinduku mencarinya." Entah kenapa tiba-tiba aku berkata demikian. Mungkin aku bermaksud bertanya kepada semilir angin lembut tadi.

"Hai!" Dan entah kenapa juga gadis itu menimpalinya. Meski pandangannya tetap lurus ke depan. Atau mungkin ia hanya sedang menyapa semilir angin?

"Hai, sedang menunggu sapa juga?" Meski canggung, aku beranikan untuk bertanya.
"Gak juga!" jawabnya singkat tanpa menoleh ke arahku.

Kembali aku dengannya menikmati kekosongan.

"Memang kamu sedang menunggu sapa siapa?" Kini ku lihat ia menunduk, sambil menggerakkan ujung kakinya, menyapu rumput.

"Sapa yang membuat rindu ini lebih hangat." Aku menghela napas. Ada nada harapan di sana. "Untuk rindu yang masih saja suka bermain-main dengan jarak, sampai lupa waktu pulang."

Gadis itu tersenyum tipis, "tenang akan ada saatnya nanti ia akan kembali pulang." Yang kutangkap nada itu untuk menguatkan hatinya sendiri.

"Pasti, karena rindu miliknya nggak pernah mau sendirian."
"Tapi, apa ia benar-benar akan pulang?"

Apa aku bilang, gadis itu saja meragu. Tapi perbincangan ini jadi lebih menarik.

"Aku sudah menaburkan remah-remah roti sepanjang jalan perginya. Biar rindunya tahu jalan ketika ingin pulang."

"Apa dia menyadari hal itu?"
"Mungkin saja ketika rindu itu lapar, ia memutuskan kembali."
"Oh okay, semoga dia (segera) pulang."
"Aku harap juga seperti itu."

Aku dengan gadis itu kembali diam. Memutar pikiran masing-masing.

"Dan barangkali jarak menjadi barometer seberapa lama rindu bisa bertahan." Kata gadis itu memecah sepi lagi.

"Harusnya kita percaya, jarak hanya versi terlama dari bertemu. Sedangkan di hati tak pernah ada jarak untuk saling merindu."

Ia mengangguk setuju. Aku menelan ludah.

"Seperti halnya aku percaya, adakalanya rindu pun membutuhkan jarak untuk meredam emosinya. Lucunya, meski kadang kita tahu merindu itu lebih banyak merepotkan hati, tapi tetap saja tak peduli berapa kali ia kembali lagi. Rasa ini kembali direpotkan lagi."

"Katakan saja pada jarak yang terlalu panjang, lihat nanti pada waktunya jarak hanya bisa berkecil hati ketika tidak dibutuhkan lagi."

"Karena kita tak lagi perlu pengukur rindu, kita lebih banyak menikmati pertemuan yang di hadiahkan waktu."

Sekeliling bangku taman itu menjadi lebih hangat, seperti halnya hatiku. Aku rasa gadis itupun merasakan perubahan itu. Aku justru lebih mengasumsikan percakapan tidak sengaja ini adalah rangkaian dari permainan waktu. Tentang dua orang yang berbagi bangku taman yang sama, sama-sama ingin menikmati rindu.

*Sederhananya, dua orang yang saling merindu tapi tidak ada keberanian untuk mengakuinya lebih dulu.

#ini kutipan twit saya dengan @Helloliesa, coba dikemas ulang jadi lebih panjang.

*Geist!

17 komentar:

  1. udah jadian aja jadiaaaaan, pake ngomongin rindu segala, padahal mah pada modus mau pdkt :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini anak sok tau hmm hmm...

      Hapus
  2. rindu tak perlu diaklamasi.. kalo hati sudah sama2 merasakan, yg tak terucap pun keluar dari raut muka

    *etcieh :p

    BalasHapus
  3. hihii... cerita nyata nih kayaknya

    BalasHapus
  4. hmmm..... rindu. suatu hal yg sulit dijelaskan, hanya ketika sang perindu bertemu dengan yang dirindukannya semua teka tekinya akan terjawab

    BalasHapus
  5. sapa juga yg rindu gue? Pede bgt sih si gue ini! Gue juga pengen ketemu elu, zay! Tp entah kpn? Yah, skedar berbagi pikiran kosong, bukan saling mengosongi tapi lebih saling mengisi. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sadaaaaaaap kata-katanya :D

      Hapus
  6. saking rindunya, bicarapun susah. menyesakkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkadang memang seperti itu ya.

      Hapus
  7. Manisnya bukan main
    dua hati saling merindu
    :'))

    P.S.
    Join KEEP CALM AND WIN GIVEAWAY!
    Menangkan 2 novel, 2 komik, 1 kacamata keren dan pulsa, hanya dengan menuliskan soundtrack film favorit!

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)