Maret 05, 2013

Dunia dan Saus Cabai

"Le lihat dunia itu kecil." Sambil menunjukkan replika dunia sebesar bola kasti, berwarna biru langit yang suka dimainkan anaknya. "Bisa kamu genggam erat-erat, kamu guncangkan keras-keras. Atau saat kamu sudah siap untuk kehilangannya, kamu bisa lemparkan jauh-jauh sampai hilang di pandangan mata."

Syauqi kecil mengangguk pelan seakan mengerti perkataan bapaknya.

"Dunia juga punya kubu-kubu, seperti petakan sawah yang bisa ditumbuhi berbagai macam tanaman. Manusia tinggal memilih mau menanam benih apa, sesuai keinginannya, dan berharap masa panennya akan berhasil. Pandai-pandai lah kamu memilih mana yang baik dan mana yang nggak seharusnya kamu pilih. Niscaya kamu akan selamat Le."

"Tapi Pak, kenapa ibu suka melarang ini itu, padahal Uqi memilih yang lebih Uqi suka." Syauqi kecil merasa ini waktunya mencari pembelaan bapaknya.

Kardiman tersenyum simpul. "Begini saja, sekarang bapak ibaratkan pilihan itu seperti semangkuk sayur bayam dan sebotol saus cabai. Bapak mengerti kamu memang nggak suka makan sayuran, kata kamu pahit, padahal kamu belum pernah mencobanya Le. Dan kamu paling nggak bisa kalau makan tanpa saus, bisa-bisa kamu nggak makan seharian. Ibumu marah karena takut kamu sakit perut kebanyakan makan saus, tapi tetap saja kamu lebih memilih saus. Itulah pilihan, kamu belum tahu mana yang sebenarnya baik atau mana yang cuma obsesi kemauanmu semata. Tapi pada akhirnya kamu juga yang merasakan dampaknya, kamu yang menanggung semuanya, orang lain nggak bisa berbuat apa-apa. Makanya ibumu banyak menasehati, karena ibumu lebih tahu mana yang lebih baik untuk anaknya. Ibumu tahu sayuran lebih baik, lebih sehat, cuma kamu belum menyadari itu. Saus juga baik, bapak juga suka makan pakai saus, selagi nggak berlebihan. Kelak kamu mengerti Le, apa yang dilarang orang tuamu itu baik. Dan nasihatnya itu suatu saat menjadi obat manis untuk anaknya. Nggak ada orang tua yang mau melihat anaknya celaka."

"Begitu juga kamu melihat dunia. Kelak ketika kamu besar, kamu akan menemukan ladang hijau yang tumbuh subur pohon bayam, tapi keberadaannya tinggal satu petak. Karena di sekitarnya sudah dibangun beraneka ragam gedung yang menjanjikan kesenangan, yang memiliki banyak permainan. Orang-orang yang melihat ladang itu akan bilang, kolot, ketinggalan zaman, bukan tempat yang asyik untuk berkumpul. Seperti itulah gambaran umat islam akhir zaman, anak-anak kecilnya akan sulit diarahkan untuk mempelajari Al-Qur'an, remajanya akan malas berkumpul riung menghidupkan masjid-masjid, untuk shalat berjamaah, bershalawat bersama, membaca sejarah-sejarah para Nabi. Kaki mereka akan enggan untuk melangkah ke tempat yang jelas-jelas lebih bermanfaat untuk mereka."

"Ladang bayam itu seperti acara pengajian yang kemarin Uqi ke sana sama bapak ya? Yang banyak orang-orang pakai baju koko sama peci itu. Yang banyak teman-teman Uqi juga."

"Iya seperti mereka." Kardiman tersenyum senang Syauqi bisa menanggapi. "Sebaliknya Le, sebagian orang tua lebih bangga melihat anak-anaknya berprestasi di sekolah, pintar bicara bahasa asing, pandai mengoperasikan komputer, memainkan alat musik, menghafalkan nyanyian-nyanyian, tanpa didukung dengan pendidikan agamanya. Remajanya lebih suka nongkrong di jalan, berkumpul menyaksikan konser-konser musik, menghabiskan waktu mereka untuk bermain dan bersenang-senang, tanpa mereka sadar bahwa hidup di dunia itu singkat. Sangat-sangat singkat."

"Berarti Syauqi nggak boleh bisa seperti mereka Pak? Syauqi lihat di TV, mereka jadi terkenal Pak."

"Boleh saja Le. Bapak kan sudah bilang dunia itu kecil, bisa kamu genggam, bisa kamu guncang kalau kamu mau. Yang nggak boleh itu kamu menjadi kecil karena dunia. Kamu terlena dengan permainannya. Seperti sebotol saus cabai ini, tergantung kamu yang menggunakannya. Cukup sekedar tahu saja kalau ada yang seperti itu, untuk bahan pembelajaran hidup, dan biar kamu nggak dibilang ketinggalan zaman. Boleh kamu memasukinya, tapi nggak kebablasan dan tahu waktu kapan akan berhenti."

"Selalu ingat pesan bapak Le, ambil setiap pilihan yang ada dengan bijak. Pandai memilah-milah mana sahabat yang mengajak kebaikan, mana yang cuma membawa kemaslahatan. Sebab, kelak kita semua akan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, teman berkumpul kita ketika di dunia. Dua hal yang membuatmu selamat dunia akhirat Le, Ridha Rabbmu dan Rindu Rasulmu. Empat R itu yang harus selalu kamu pegang erat. Karena nggak ada lagi penghalang kalau Allah sudah Ridha, dan hanya Rasulullah sebaik-baiknya pemberi syafaat di akhirat kelak. Sosok idola sesungguhnya yang bisa menyelamatkan kita. Selalu kamu ingat itu, bagaimana pun keadaanmu kelak. Makanya jangan sampai salah memilih idola dalam hidup."

Syauqi mengangguk-angguk memahami nasihat bapaknya. Ia mengukir senyum, melukis wajah bapaknya yang arif, sabar, tenang dan selalu terlihat tegar dalam ingatannya.

 *Geist!
 

22 komentar:

  1. Hidup adalah penuh dengan pilihan, kadang yang tampak manis belum tentu baik untuk kita atau bahkan sebaliknya. Kita yang mengatur kehidupan atau kehidupan yang mengatur kita.
    I like it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju bang, harus pandai pandai melihat dari segi yang lebih positif :D

      Hapus
  2. asyiiik. muncul juga sekarang tokoh Pak Kardiman dan Syauqi-nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar lebih bermanfaat bang daripada cuma ada di folder nggak keluar-keluar hehe

      Hapus
  3. jangan sampai memilih idola dalam hidup. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilihan idola cuma satu untuk selamanya, Rasulullah SAW.

      Hapus
  4. Kalau saya sih fokus ke SAUS CABAI nya aja. Dalam artian yang sebenarnya Saus cabai atau saus Sambel memang top. Sambel botol kata orang. Soal merek boleh bebas. Tapi saya pernah icip icip sambel dari Lampung juga tidak kalah pedasnya. Huaaaaa malah komen soal kuliner sih hiheiheiheiheiheiee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha emang jagonya akang satu ini kalau soal icip icip makanan. Sip kang pengetahuan soal sambal saya meningkat satu oktaf

      Hapus
  5. wah.. namanya ky nama suamiku -_______-

    syauqie

    :D

    BalasHapus
  6. saya suka makan cabai juga nih

    BalasHapus
  7. Salute banget kalau punya bapak seperti Kardiman ini, berjiwa besar dan penuh kearifan., tiodak asal melarang tapi diiringi dengan kebijaksanaan dalam ungkapan. Keren ^_^)b

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapak kita masing-masing jauh lebih dari sosok kardiman di fiksi ini, dari semua hal. Pasti begitu kan? :)

      Hapus
  8. hidup itu pilihan...dan hanya dua piliha yang ada. jalan kebenaran atau jalan kesesatan...dan semoga kita tidak salah memilih :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, jalan yang lebih baik tentunya.

      Hapus
  9. ya, dunia itu kecil... apalagi manusia, sungguh tak pantas menyombongkan diri

    BalasHapus
  10. 4R : Ridha Rabbmu dan Rindu Rasulmu. jangan lupa juga dengan ridha orang tua. Nasihat yang bagus sekali..

    BalasHapus
  11. Bapaknya Syauqi bikaj sekali, entar nurun ke Syauqinya :D

    BalasHapus

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)