Maret 05, 2016

ARAH PULANG

“Terima kasih.” Ucap Rinai tulus. Menghampiri Deras yang sedang duduk bersila di bawah pohon jambu air. Ia sedang membuat sebuah sketsa untuk keperluan organisasinya.

"Untuk?" Jawab Deras tanpa perlu menengok ke arah seseorang yang baru datang. Ia sudah tahu itu Rinai, dari wangi parfum yang lebih dulu menyentuh hidungnya.

"Untuk segala bentuk perhatian, pengertian dan peringatanmu selama ini." Rinai mengambil posisi duduk di samping Deras. Sambil menyodorkan botol minuman. "Haus?"

Deras meletakkan sketbook dan pensilnya ke pangkuan. Mengambil botol minuman itu, langsung menikmatinya. Putik-putik bunga jambu air berwarna merah muda dan putih berguguran tertiup angin. Beberapa helai menyelip di antara rambut-rambut Rinai yang tergerai lurus.

“Jangan kebanyakan terima kasih.” Deras meletakkan botol minuman itu, menggantinya dengan buku sketbooknya tadi.

“Kenapa?” Rinai merapikan ujung rambut yang menyentuh kelopak mata. Menyelipkannya di sela-sela telinga.

“Memberikan ucapan terima kasih itu artinya baru saja mendapatkan sesuatu yang mengharuskan kita merasa perlu menghargainya. Saat itulah terima kasih biasanya disebutkan.”

“Ada yang salah dengan itu?” Rinai membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Agak menyerong membentuk siku segitiga.

“Tentu saja tidak.” Mata Deras tetap fokus ke lembar kertas.

“Lalu?” Rinai menopang dagunya dengan telapak tangan, lebih memperhatikan Deras di sampingnya.

“Kita dianjurkan untuk lebih banyak memberi daripada menerima. Memberi kasih bukan terima kasih.”

"Termasuk untuk urusan cinta?"

Deras mengerutkan dahi. Gantian dia yang tidak mengerti.

"Kamu pernah mengingatkanku, tentang perasaan yang seperti burung, bebas terbang ke mana saja sesuka hatinya. Tapi seekor burung pun harus selalu tahu arah sarang yang sebenarnya, perasaan itu harus selalu tahu arah pulang ke hati yang benar-benar ia cintai. Ke tempat yang benar-benar mencintainya." Rinai mengulang dengan baik kalimat-kalimat yang pernah disampaikan oleh Deras dulu. Ketika ia galau karena perasaan-perasaan yang berlalu lalang di sekitar hatinya.

"Lalu?" Deras sejenak menoleh.

"Sekarang aku tahu arah pulang yang benar." Rinai berujar mantap sedikit mengangguk.

"Oh.... ke mana?"

"Di sini. Di tempat ini." Rinai tersenyum penuh arti.

Deras ikut tersenyum menghargainya. Hati Deras sudah lama menunggu seseorang pulang.

Putik-putik bunga pohon jambu air semakin banyak yang berguguran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jejakmu akan sangat berarti dan tak akan pernah sia-sia :)